
"Bagaimana sekarang Jason?"
"Kita serang bersama-sama saja."
"Baiklah."
Aku dan Iren memosisikan diri dengan pedang di tangan kami, untuk Cherry sendiri bersiap dengan pisaunya sebelum dia meluncurkan dirinya ke arahku sedangkan iblis itu menyerang Iren, ia bisa menumbuhkan pedang di seluruh bagian tubuhnya.
"Iren?"
"Aku tak apa fokuslah dengan pertarunganmu sendiri."
Aku melompat ke belakang saat deretan pisau hanya menancap di tanah.
"Biarkan aku menebasmu dengan pisauku, rasanya pasti sakit."
"Jelas saja, kau harusnya mencobanya sendiri."
Aku balik menyerang dengan ayunan kuat dari pedangku hingga memaksa Cherry untuk menahannya, itu menghasilkan percikan kembang api ke udara.
"Kuat sekali, apa kau benar-benar orang yang sama seperti yang kutemui waktu itu "
"Maaf saja, aku sudah banyak berlatih selama ini."
"Baguslah, tidak seru juga membunuh orang lemah."
Cherry memutar tubuhnya kemudian menendang tubuhku mundur ke belakang, di saat yang sama dia melemparkan pisaunya ke arahku yang mana kutahan dengan pedangku.
Dalam situasi seperti ini sihirku sangat diandalkan, dari tanah yang dipijak Cherry bermunculan bayangan yang mengikatkan, setiap dia berusaha melepas ikatannya akan semakin kuat. Dibanding dia aku lebih khawatir tentang Iren.
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya yang terpojok, lawannya jelas iblis peringkat atas.
__ADS_1
"Anak kecil itu pasti akan mati oleh Helis," kata Cherry.
"Tidak akan kubiarkan."
Aku meluncur lalu menggunakan tubuhku untuk menahan pedang yang terarah pada Iren.
"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?"
Darah mengucur dari tubuhku kemudian tumbang ke bawah, Iren mendekat ke arahku.
"Kau tidak boleh mati Jason."
Iblis Helis berjalan mendekat ke arah kami berdua.
"Cepat pergilah."
"Aku tidak akan pergi, kita lebih baik mati bersama," bersamaan perkataan Iren sesuatu dijatuhkan dari langit, itu adalah sihir api yang sangat kuat yang mana menghantam Helis dan membunuhnya dalam balutan api yang membara.
"Mustahil apa ini?"
"Milfa," seperti itulah aku memanggilnya.
"Rolia memberitahuku untuk datang kemari, kalau bukan ledakan itu aku tidak mungkin bisa menemukanmu."
"Terima kasih."
"Akan kusembuhkan lukamu."
Saat Milfa berjalan ke arahku sebuah pisau menembus tubuhnya dari belakang, aku melirik ke arah Cherry yang berhasil lolos dari sihirku.
"Satu orang mati," kata Cherry senang.
__ADS_1
"Apaan ini semua."
"Kau masih hidup?"
Cherry yang terkejut menjaga jarak meski begitu sudah terlambat, sebelumnya Milfa telah mengambil satu pisau di pinggangnya yang mana ia lemparkan menembus kepala tengkorak Cherry hingga dia pun tumbang ke samping.
"Wanita yang mengerikan," kata Milfa pelan lalu mencoba menyembuhkan tubuhku.
Aku berkata ke arah Iren.
"Bagaimana dengan istananya?"
"Mereka sepertinya baru menerobos kastil."
Tak hanya menyerang guild kegelapan, kami juga menyerang istana ratu, aku ingin menyaksikan pertarungan ini sampai akhir, sayangnya aku ingin tidur sebentar.
"Jason?"
"Dia hanya kelelahan, terlalu memaksakan diri tidak baik."
Keesokan paginya aku bangun di kamar asing, tampak Milfa tertidur di sampingku dengan pulas.
"Kau sudah bangun?" suara itu bukan dari Milfa melainkan dari Iren yang muncul dari pintu yang terbuka.
"Bagaimana soal semalam?"
"Kami memenangkan perang, ratu sempat melawan tapi kami berhasil mengalahkannya."
"Begitu."
"Dengan ini kerajaan ini akan berubah menjadi lebih baik lagi."
__ADS_1
Aku tersenyum ke arahnya lalu mengelus rambut Milfa.
Aku juga memiliki kerajaan sekarang, sudah saatnya aku kembali ke sana.