
Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Milfa tapi kenapa dia mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengannya?
Banyak hal yang ingin kukatakan sekarang hanya saja hal itu bisa menunggu, pertama kami harus melepaskan seluruh rantai yang mengikatnya.
Dibantu Mia, Rolia dan Catrine kami masih tidak bisa melepasnya sampai sebuah suara muncul dari arah belakang kami.
"Aku tidak akan membiarkanmu melepaskannya."
Yang berdiri di sana adalah pria berjubah hitam yang membawa bola kristal di tangannya, Milfa berkata ke arah kami.
"Dia adalah petinggi dari gereja Libenoal, Lubos."
"Dengan kata lain dialah orang yang memfitnah penyihir sebagai jelmaan makhluk jahat."
"Tepat sekali... aku juga yang memerintahkan untuk memburu seluruh penyihir lalu mengeksekusinya."
Aku segera menghunuskan pedangku ke arahnya.
"Aku akan menghadapinya kalian lepaskan Milfa."
Aku segera melompat ke arah pria itu selagi mengayunkan pedangku, dia dengan santai menahannya dengan kedua jarinya.
"Heh, apa segini kekuatan dari orang yang mengalahkan Ilfrit?"
"Bagaimana bisa kau tahu?"
__ADS_1
"Aku tahu semuanya."
Dengan kata lain dia sudah mengawasi kami sejak lama, ada kemungkinan dia juga yang menyuruh iblis itu untuk menyerang pemukiman elf.
Tiba-tiba saja tubuhku terpental menabrak dinding, itu mirip sebuah medan magnet.
"Aku akan membantu," Rolia berlari untuk menyerang ke arah pria berjubah itu, sama sepertiku dia juga terpental.
"Biar aku tunjukan sesuatu yang menarik," bersamaan perkataan Lubos sebuah bola-bola api muncul di sekelilingnya.
Kami semua terkejut.
"Apa itu sihir?" tanyaku demikian.
Mustahil untuk mempercayai bahwa seorang penganut kepercayaan Dewi Abela berkata demikian.
"Kalian pasti bingung, akan kujelaskan sedikit sebelum aku membunuh kalian... sihir adalah sebuah berkah Dewi yang diturunkan pada manusia berbentuk mana, setiap manusia akan bisa menggunakan sihir jika memiliki mana tapi tidak semua orang mendapatkannya, sedangkan kami berbeda.... hanya menjalin perjanjian dengan iblis kami akan langsung diberikan kekuatan seperti ini, kekuatan yang didapat juga melebihi mana."
Aku melempar pedangku dan itu menusuk kaki Lubos, meski begitu dia masih bisa berdiri.
"Kau."
Bola api menerjang ke arahku dan aku berhasil menghindarinya dengan berguling ke samping, Lubos membuang pedangku kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rolia.
"Baiklah kalau begitu, biar aku bunuh dulu wanita ini?"
__ADS_1
"Rolia."
Bola api menerjang ke arahnya dari segala arah, sebelum hendak mengenainya Milfa berdiri di depan untuk menahannya dengan dinding air.
Ada sesuatu yang berbeda dari Milfa, tanpa dikatakan aku sudah tahu dia kehilangan kedua tangannya, aku menoleh ke arah Mia dan kulihat dia berdiri selagi memegang pedang yang meneteskan darah dari ujungnya.
Tes, tes, tes.
"Jangan pedulikan aku, cepat hancurkan kristal di tangannya," atas perkataan Milfa aku menerjang ke depan, memungut pedangku lalu mengayunkannya secara cepat yang mana memotong tangan Lubos dengan rapih, sesuai yang diinginkan Milfa aku menginjak bola itu hingga hancur.
"Akan kuhabisi kau."
Lubos yang kehilangan kesabaran berusaha membunuhku, tak tinggal diam Milfa melesat ke arahnya, dia dengan lihai menjepit leher Lubos hingga terjatuh ke lantai bersamanya.
"Tanpa tangan seperti itu, kau tidak mungkin bisa mengalahkanku."
"Kita lihat saja."
"Jangan-jangan kau?"
Tanpa ragu Milfa membuka mulutnya dan di sana sebuah lingkaran kecil muncul.
"Mustahil, kau mengeluarkan sihir dari mulutmu?"
"Aku bisa menggunakan mana semauku, selamat tinggal.." sebuah sinar ditembakan dari sana, bersamaan itu entah kepala Lubos maupun dinding di belakangnya meledak dahsyat, seketika rantai yang sebelumnya melilit tubuh Milfa juga hancur, hanya Catrine saja yang terduduk selagi menutup kedua telinganya.
__ADS_1