Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 21 : Kesepakatan


__ADS_3

Di aula itu tampak seorang wanita duduk di sebuah kursi kebesaran, dia menyilangkan kakinya selagi memegang sebuah senjata api di tangannya, Laura.


"Sudah kuduga kau akan datang juga?" Laura tersenyum hingga alisnya sedikit terangkat, aku hendak berjalan namun Milfa segera menghentikanku.


"Ada apa?"


"Lihat itu," atas perkataan Milfa aku melihat sebuah bayangan di belakang Laura, bayangan itu semakin lama semakin terlihat pekat kemudian sosok berjubah dengan kepala banteng muncul, seluruh badannya telah menjadi tengkorak.


"Sungguh menyebalkan, akan tetapi iblis di belakangnya itu bukan lawan yang mudah dihadapi... dia termasuk 10 iblis tingkat atas yang melayani raja iblis bernama Exlose.


"Kau rupanya Milfa, bagaimana rasanya di khianati oleh manusia yang kau lindungi, bukannya kau membenci mereka.. jika mau kau boleh bergabung dengan kami? Apapun yang kau inginkan kami akan kabulkan."


"Aku tidak tertarik dengan semua penawaran iblis lagipula kalian lah yang membuatku terkurung di menara itu "


"Tepat sekali haha Laura lebih baik kau membunuh mereka berdua sebelum berubah menjadi hal yang merepotkan."


"Baiklah."


Laura berdiri dari singgasananya selagi menyodorkan senjata api ke arah kami berdua, saat ia menarik pelatuknya kami berlarian menghindarinya.


"Aku akan lawan iblisnya, Jason hadapi wanita itu."


"Aku mengerti."


Milfa melompat ke arah Exlose lalu mencengkeram wajahnya sebelum menyeretnya menjauh.


"Apa?"


Hanya aku dan Laura yang masih tinggal di sini untuk saling bertarung, dia menembakan beberapa peluru ke arahku, selagi menghindarinya aku terus berusaha mengurangi jarak di antara kami.


"Hoh, kau sudah terbiasa melawan senjata seperti ini."


Dor.


Sebuah tembakan menghancurkan jendela di belakangku, bertepatan itu aku mengayunkan pedangku dari bawah ke atas memaksa dia mundur ke belakang.


"Jason apa kau yakin ingin melindungi dunia ini? Seharusnya kau memilih bergabung dengan raja iblis karena dialah yang akan memenangkan pertempuran ini."

__ADS_1


"Kenapa kau begitu yakin?" aku balik bertanya.


"Karena aku sudah tahu segalanya, dunia ini telah di tinggalkan oleh Dewi."


Tanda tanya besar muncul di atas kepalaku.


"Kau mungkin tidak menyadarinya akan tetapi Dewi Adela telah terkurung di suatu tempat yang menyebabkan berkahnya telah terhenti seketika, meski kami membunuh para penyihir.. sihir tidak akan hilang, penyihir akan selalu bermunculan layaknya bintang di langit.... sepertinya kau sudah mengerti maksudku."


"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?"


"Aku hanya suka bersenang-senang, meski kau tahu kau belum tentu bisa mengembalikan sihir ke dunia ini."


Aku mendecapkan lidah lalu melesat ke depan, sebelum aku tahu apa yang terjadi, sebuah peluru menembus pahaku hingga terduduk di lantai, aku mengalihkan pandanganku ke arah samping dan kulihat Laura yang lain berdiri di sana.


"Ada dua Laura."


"Itu hanya kemampuanku... Laura mendekat ke arahku lalu menendangku jatuh ke lantai, dia dengan santai berbaring di atasku.


"Apa yang kau?"


"Biar aku katakan satu hal yang penting yang bahkan belum di ketahui orang lain."


"Akulah raja iblis itu."


Seketika kebingunganku semakin bertambah.


"Raja iblis wanita."


"Raja iblis hanya semacam gelar, itu tidak mewakili jenis kelamin, tapi aku akan senang jika kau mengatakan aku ratu iblis."


"Dengan kata lain kita pernah bertemu."


"Aah, kau pernah membunuhku sekali tapi aku bisa mengembalikan jiwaku sendiri berapa kali pun kau membunuhku. dengan kata lain aku abadi... hmm, sepertinya kau telah kehilangan ingatanmu setelah kembali ke duniamu."


Itu juga yang dikatakan Milfa padaku.


"Biar aku tanya satu hal?"

__ADS_1


"Silahkan."


"Apa kau kenal dengan orang bernama Cherry?"


"Wanita itukah, dia hanya anggota guild yang kudirikan.. aku tidak terlalu mengenalnya, sama seperti guild biasanya kami hanya bertugas memberikan quest kriminal pada mereka."


Aku hanya bisa terdiam memikirkannya dan membiarkan urusan Cherry berlalu begitu saja.


Walau Laura membunuhku aku bisa kembali ke sebelum kematian, sebaliknya jika aku membunuh Laura dia akan hidup seterusnya, semuanya hanya akan berakhir sia-sia tanpa jalan penyelesaian, akan tetapi aku punya ide yang jauh lebih baik.


"Nah ratu iblis maukah kau membuat kesepakatan denganku?"


"Kau berani juga."


"Jujur saja aku juga tidak mudah mati.. jika terus begini hanya akan merepotkan."


"Aku mendengarkan."


"Jika aku berhasil mencegah seluruh rencanamu dan mengalahkanmu... kau harus menjadi budakku."


"Jika aku yang menang?"


"Aku akan menjadi budakmu, bagaimana? Dari kita bisa mengendalikan satu sama lain, bukan kesepakatan yang buruk bukan."


Laura tersenyum lalu berkata dengan nada percaya diri.


"Sepertinya menyenangkan, mari lakukan itu.. jika berhasil mengalahkanku aku tidak keberatan memberikan kesucianku padamu yang kujaga ribuan tahun."


Aku mendorong Laura menjauh untuk bisa berdiri kembali.


"Kau ini pasti keturunan succubus."


"Seperri itulah, meskipun aku tidak memiliki tanduk dan ekor."


Laura mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan pernjanjian yang kami berdua akan sepakati, kami berdua menggunakan darah sebagai pengikat.


"Aku menantikan kedatanganmu di kastilku," katanya memainkan rambut pirangnya.

__ADS_1


Laura menghilang seutuhnya, paling tidak aku menghindari sesuatu yang buruk untuk saat ini.


__ADS_2