
Setelah menghabiskan banyak waktu di penginapan akhirnya kami mengunjungi istana, awalnya para prajurit tampak terkejut dengan kedatangan kami meski begitu mereka terlihat sangat senang karena ratu mereka telah ditemukan terutama ke dua perdana menteri bernama Rosel dan Wesh.
Rosel adalah pria tua dengan rambut panjang dan jenggot yang sudah memutih sementara Wesh adalah seorang pria paruh baya berkepala plontos.
"Syukurlah Yang Mulia ratu sudah kembali, kami benar-benar sangat khawatir," yang mengatakan itu adalah Rosel lalu disusul Wesh.
"Kami telah mengerahkan banyak pasukan untuk mencari keberadaan Yang Mulia Ratu, tapi kami tidak bisa menemukan Anda."
"Jangan khawatir, berkat mereka bertiga aku bisa tiba di sini dengan selamat... aku ingin menjamu mereka dengan layak, tolong persiapkan semuanya."
"Tentu saja."
Keduanya segera mengangguk paham, menolak perjamuan hanya akan dianggap sesuatu yang tidak sopan karena itu kami memutuskan menerimanya dengan baik.
Kami dibawa ke ruangan luas yang digunakan sebagai ruang tunggu, di sini ada sofa empuk yang dimana setiap perabotannya terlihat mewah.
Rolia dan Mia tak bisa berhenti untuk melihat-lihat, terutama pada lukisan yang dipajang di dinding.
Aku bisa mendengarkan obrolan keduanya dari tempatku duduk.
"Harganya pasti sangat mahal," kata Rolia.
"Aku juga berfikir demikian, hanya saja kenapa lukisannya harus wanita telanjang."
"Hmm.. Itu, ada beberapa orang menyebutkan bentuk tubuh wanita itu adalah seni, mungkin seni seperti inilah yang dimaksud."
Jelas tidak begitu, mari anggap saja orang yang membuatnya orang mesum.
Aku menyeruput tehku dalam diam sampai sosok Catrine muncul dengan gaun gothic hitam, ia juga bahkan mengenakan topi boneka di atas kepalanya.
Sungguh keimutan yang menakutkankan.
"Apa kalian bersenang-senang?"
__ADS_1
"Tentu, terutama mereka."
Aku menunjuk keduanya yang masih menilai lukisannya.
"Kalian pasti terpesonanya dengan tubuhku?"
Kalau dilihat-lihat lukisan itu lukisan Catrine dengan tubuh normal, Rolia dan Mia terlihat terkejut sebelum memutuskan duduk di sebelahku.
"Bohong amat."
"Apanya yang bohong, dimasa depan tubuhku akan seperti itu.. aku masih dalam pertumbuhan."
"Apa aku bisa menganggapmu sebagai orang mesum."
"Aku tidak begitu, tidak aneh menaruh barang pribadi di ruangan khususku bukan."
Itu alasan kenapa tempat ini sangat nyaman.
"Aku belum sempat menanyakannya, sebenarnya setelah ini kalian akan pergi kemana?"
Aku sempat bertukar pandangan ke arah Rolia dan Mia, sebelum memutuskan untuk memberitahukan tujuan kami pada Catrine.
"Kami ingin pergi ke menara suci milik gereja Libenoal untuk menyelamatkan seseorang."
"Seseorang, jangan bilang.. kalian?"
Kami bertiga mengangguk secara bersamaan.
"Kalian benar-benar nekat yah.. kurasa kalian bukan orang jahat, karena itu aku sepenuhnya percaya pada kalian."
"Aah."
Catrine berkata dengan tatapan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Jika kalian perlu bantuan apapun, tolong beritahu aku, aku pasti akan membantu kalian semampuku."
"Terima kasih banyak."
Tak lama kemudian seorang pelayan wanita berambut panjang pirang masuk ke dalam ruangan, ia membungkuk sekali sebelum memperkenalkan dirinya
"Namaku Laura, saya adalah koki yang bertanggung jawab atas perjamuan hari ini, jika ada permintaan silahkan untuk mengutarakannya."
Pelayanan kerajaan seperti ini kah.
"Laura termasuk koki kerajaan terbaik, kalian bisa memesan apapun yang kalian suka."
"Kalau begitu aku ingin pesan daging yang sangat lezat."
"Kami juga."
"Saya akan menyiapkannya dengan cepat."
Tak perlu waktu laman untuk kami semua pergi ke meja makan, sesuai pesanan di sana hanya ada berbagai macam olahan daging yang menggiurkan.
"Jangan sungkan, makan yang banyak."
Kami dengan senang hati menerima perjamuan tersebut hingga sesuatu yang mengejutkan terjadi, tiba-tiba saja entah Rolia ataupun Mia ambruk setelah memegangi kepala mereka, bahkan Catrine juga.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku, bahkan nafasku terasa semakin lama semakin sesak, para pelayan mulai mengerumuni kami.
Laura berusaha memegangiku sebelum tumbang.
"Tuan, anda baik-baik saja.. tuan.."
Tidak salah lagi semua makanan ini beracun, suara Laura memudar seiring pandanganku yang mulai kabur dan yang kutahu selanjutnya.
Aku mati.
__ADS_1