Rebuilding The Magic World

Rebuilding The Magic World
Chapter 35 : Sebuah Duel


__ADS_3

"Jangan bilang bahwa kau yang mengembalikan sihir kembali."


"Bisa dibilang begitu, karena itulah demi mencapai keinginanku aku memerlukan bantuan kalian."


"Meskipun kami adalah vampir."


"Jika kalian tidak menyerang manusia, aku tidak masalah."


Aku dan Nina saling bertukar argumen dalam beberapa saat. Vampir tidak harus meminum darah manusia mereka bisa meminum darah hewan sebagai gantinya, lagipula mereka hanya minum darah selama tiga bulan sekali atau lebih, karenanya tidak ada ruginya membawa mereka menjadi sekutuku.


"Meskipun aku mengizinkan, para rakyatku tidak akan setuju jika harus melayani orang lemah, kau harus mengalahkanku dulu dalam sebuah duel untuk mendapatkan kepercayaan mereka, apa kau sanggup?"


Aku dan Milfa saling bertukar pandangan, jika itu Milfa aku yakin dia bisa mengalahkannya tapi jika itu diriku peluangnya hanya kecil.


Aku juga tidak bisa mundur sekarang, entah untuk kerajaanku di masa depan maupun untuk mereka semua, jika gereja datang ke sini aku tidak yakin mereka bisa bertahan.


"Baiklah, aku setuju untuk duel."


Nina tersenyum hingga ujung bibirnya melengkung ke atas.


"Mari adakan duel pada sore hari sampai saat itu, Nebula tolong bawa mereka berisitirahat di salah satu rumah kosong."


"Sesuai yang Nona inginkan, silahkan ikuti aku."


Kami mengikutinya dari belakang.


Dan benar saja rumah ini terlihat sudah lama tak ditinggali siapapun.


"Aku akan mengirim makanan ke sini, untuk duelnya, aku sendiri yang akan mengantar kalian, gunakan waktu kalian untuk beristirahat."


"Terima kasih banyak."


"Kau tidak perlu mengatakannya."

__ADS_1


Nebula lebih terlihat seperti seorang kesatria, dari setiap perkataannya diliputi sebuah tekad kuat, aku senang bisa mengenal orang seperti itu.


Aku duduk di kursi dan Milfa memperhatikan dari depanku.


"Ada yang kau pikirkan?"


"Bagaimana aku bisa mengalahkan orang itu, bagiku dia terlihat kuat."


"Kau pasti bercanda, bagimu yang dulu dia bukan apa-apa."


"Meski kau bilang begitu aku tidak bisa mengingat tetang masa laluku," balasku frustasi.


Dulu aku pernah datang sekali ke dunia ini, saat itu aku memutuskan untuk kembali ke dunia lamaku tepatnya ke masa lalu sebelum aku jadi pahlawan, dan hasilnya ingatanku malah terhapus.


Memang sulit dipercaya tapi aku pernah tinggal di sini cukup lama.


Milfa meletakkan ujung jarinya di bibir seolah mengingat masa lalu.


"Tidak ada sihir yang bisa mengembalikan ingatanmu hanya saja, seiring waktu kuharap itu kembali secepatnya."


Yang datang adalah beberapa wanita dari ras vampir, mereka semua membawa buah-buahan untuk kami.


"Kami disuruh membawa ini kemari."


"Terima kasih banyak."


"Apa kalian hanya punya buah-buahan saja?"


Aku sedikit mencolek Milfa.


"Kau tidak sopan Milfa, mereka sudah datang jauh-jauh untuk memberikan kita makanan ini."


"Maafkan kami, tapi di sini sulit untuk mendapatkan daging... hampir seluruh hewan telah diburu oleh manusia yang sebelumnya menempati desa ini."

__ADS_1


Dimana pun kau berada manusia selalu menjadi alasan utama kepunahan hewan tertentu.


"Tak apa, kami menyukai buah-buahan juga," kataku demikian.


Aku menggigit apel tersebut lalu menelannya ke dalam mulutku, sungguh melegakan bahwa apelnya tidak beracun. Aku sudah mengalami keracunan sebelumnya kuharap tidak akan terjadi lagi di masa depan.


Tapi tiba-tiba kepalaku pusing.


"Apa apel ini beracun?"


"Tuan."


Milfa mendesah pelan.


"Ini bukan apel, ini buah Nelus yang bisa memabukkan seseorang walaupun tingkat kadarnya sangat rendah, ini pertama kalinya aku melihat seseorang bisa mabuk dengan satu gigitan.


Di saat kesadaraanku mulai menghilang Milfa dan si pelayan saling bertukar kata.


"Bagaimana ini? Aku tidak berniat memasukan buahnya ke dalam sini."


Sepertinya buahnya tidak sengaja tercampur.


"Tidak apa, lagipula jarang ada orang yang mabuk setelah memakan satu buah, dalam kasus Jason ini termasuk langka."


Sepertinya aku tidak cocok dengan buah ini.


Kesadaranku menghilang seutuhnya.


Saat aku sadari semua menjadi gelap gulita sampai pemandangan itu berubah seketika menjadi sebuah pemandangan di medan perang.


Langit diselimuti awan petir sementara sekelilingnya tampak bekas pertempuran yang lebih mirip sebuah bencana.


Aku melihat diriku yang lebih tuan berdiri di sana dengan pedang besar, sementara di belakangnya tampak dua orang yang sedang terbaring di tanah.

__ADS_1


Mereka berdua seseorang yang kukenal Milfa serta satunya lagi adalah Leo ayah Mia, dan yang kami lawan adalah Raja Iblis Laura.


Ini adalah ingatanku di masa lalu.


__ADS_2