
Sesampainya di kota kami mulai membaur dengan pejalan kaki lainnya, kota ini termasuk kota besar dimana sekelilingnya dihiasi tembok tinggi, jika mengalihkan pandangan ke tengah kota terdapat sebuah menara tinggi dimana bagian ujungnya terlihat menyentuh bagian awan.
Di sanalah penyihir terakhir Milfa dikurung.
Beberapa penjaga terlihat berkumpul untuk menjaga menaranya sementara kami mengawasi selagi bersembunyi dari balik bangunan.
"Mencoba menerobos masuk pada siang hari cukup beresiko karena itu mari menunggu sampai malam hari," kataku.
"Maksudmu kami boleh berjalan-jalan di kota sementara waktu," atas pernyataan Catrine aku mengangguk mengiyakan.
Pada akhirnya kami berempat membagi dua kelompok dimana aku akan jalan-jalan dengan Mia sementara Rolia bersama Catrine.
Semuanya ditentukan oleh batu kertas gunting
"Pastikan untuk tidak terlalu mencolok."
"Baik," balas Rolia lemas.
Aku hanya melihat punggung mereka berdua dari kejauhan sebelum aku dan Mia mencari berjalan ke arah yang lain.
Seperti kebanyakan kota besar tempat ini dipenuhi banyak pelancong, akan menyenangkan jika mereka semua penyihir namun mereka hanyalah penduduk biasa yang tunduk dengan ajaran gereja yang menuduh penyihir itu iblis atau semacamnya, padahal dari yang kudengar penyihirlah yang membuat kedamaian terjadi di dunia ini.
Mia berhenti di salah satu penjual keliling yang menawarkan permen kapas yang lembut dan manis. Aku membeli dua buah seharga dua tembaga. Walau kota besar harga di kota ini jelas terjangkau.
"Huwah... apa itu? Aku ingin makan."
"Kendalikan dirimu Mia."
"Kita datang untuk bersenang-senang kan."
__ADS_1
Dia pasti melupakan tujuan kita sesungguhnya, apa boleh buat hari ini akan kuhabiskan waktu bersama Mia.
Ada hal yang sedikit membebaniku, Apa berjalan-jalan di kota bersama seorang gadis bisa disebut kencan? Sepertinya tidak.
"Aku pesan dua puluh tusuk."
"Laksanakan."
Dia terlalu banyak memesan.
Saat waktu malam tiba kami semua berkumpul di dekat menara, terdapat sekitar lima penjaga yang tengah berjaga di sana.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Catrine.
"Mia goda mereka kemari dan kami akan memukulkannya secara bersamaan."
"Di sini kaulah yang paling bahenol."
"Entah kenapa meski kau memujiku aku tidak merasa senang," balasnya lemas meski begitu dia melakukan seperti apa yang kukatakan.
"Siapkan senjata kalian."
Kami bertiga bersiap dengan balok kayu yang cukup berat.
Mia mulai menggoda para lelaki itu dengan lekuk tubuhnya, sejujurnya itu juga cukup menggodaku.. lingkar pinggang Mia ramping serta dada yang terlihat sempurna, tidak ada keraguan lagi dia bisa menjadi model kelas atas jika ada ajang seperti itu di dunia ini.
Gang tempat kami bersembunyi cukup gelap dan merupakan tempat yang cocok untuk berbuat kejahatan.
Atas ajakan Mia, kelima penjaga itu mengikutinya dari belakang menuju arah kami, mereka masuk ke dalam kegelapan dan seketika kami semua memukulinya.
__ADS_1
"Kerja bagus."
"Baru kali ini aku puas memukuli orang lain," kata Catrine dan Rolia menambahkan.
"Boleh aku pukul lagi."
"Itu sudah cukup."
Mia terlihat memeluk dirinya cukup erat.
"Dilihat dengan penuh nafsu barusan membuatku takut."
Tidak ada yang komen tentang itu dan kami mulai bergegas masuk ke dalam menara, di dalam sana terdapat sebuah tangga berbetuk spiral yang tampak sangat jauh, aku tidak bisa membayangkan seberapa lama kami harus menaikinya meski begitu kami mulai dengan langkah pelan.
"Aku lelah sekali."
"Aku juga."
"Tubuhku sangat kepanasan."
"Bertahanlah sedikit lagi," kataku demikian dan akhirnya kami sampai di bagaian paling atas menara, ruangannya cukup kecil dimana kulihat seorang gadis terduduk di lantai dengan tangan di ikat dengan rantai dari segala arah.
Kami mendekat ke arahnya.
Pakaiannya terlihat dipenuhi noda darah yang telah mengering.
"Namamu Milfa kan?" mendengar sedikit perkataanku dia membuka mulutnya lalu mendongak ke arahku.
"Kau sudah datang, lama tak bertemu Jason."
__ADS_1