
Esok harinya kami mengantar Mia pergi ke kota, walau dia tidak menyukai manusia dia bilang dia ingin membeli pakaian dan senjata untuk kami berdua.
Menggunakan tudung sebagai kamuflase tidak ada siapapun yang akan menyadari bahwa Mia seorang elf.
Pertama kami mengunjungi toko jahit, rentetan pakaian beraneka ragam memenuhi setiap rak.
Aku membiarkan Mai memilih pakaian untuk Rolia sementara aku akan memilih sesuai seleraku, awalnya aku berfikir bahwa ini adalah era di masa lalu akan tetapi jelas berbeda, aku akan mengatakan bahwa aku telah berpindah ke dunia lain.
Itulah yang kuyakini sekarang.
Aku mengambil sebuah kemeja putih lengan panjang, rompi hitam serta celana panjang.
Untuk Rolia memilih sebuah gaun dimana bagian depan lebih pendek dari bagian belakang serta rok pendek dimana bagian kaos kaki sampai lutut.
"Ini terlalu berlebih, aku malah mirip seperti bangsawan," protes Rolia namun kami berdua setuju untuk mengambilnya.
Setelahnya kami mengunjungi toko peralatan, aku mengambil sebuah long sword sementara Rolia sebuah pedang yang sedikit lebih besar.
Teknik berpedang kami memang berbeda.
"Sempurna, sekarang kita bisa kembali ke rumah tapi sebelum itu apa kalian mau makan sesuatu? Aku tidak terlalu menyukai makanan manusia tapi mungkin kalian menginginkannya."
"Kurasa itu ide bagus, bagaimana menurutmu Jason?"
"Aku juga setuju."
Sudah kukatakan Mia sangat baik kan, dia selalu mengkhawatirkan kami berdua.
Kami membeli jajanan pinggir jalan berupa olahan dari daging.
__ADS_1
"Ini sangat enak," kata Mia yang mendapat anggukan Rolia, aku akan mengatakan mereka sangat akrab.
Pada sore harinya kami kembali ke hutan elf namun kami terkejut dengan sesuatu yang telah terjadi di sana, hutannya terbakar.
"Ayah."
Kami buru-buru menerobos kumpulan asap dimana seluruh rumah elf itu telah hangus, kulihat Leo tergelak di tanah dan Mia segera menghampirinya.
"Mia apa itu kau?"
"Ayah."
Leo telah kehilangan sinar di matanya.
"Larilah dari sini, para iblis telah muncul kembali."
"Iblis?"
"Tapi aku tidak ingin bersama manusia."
Leo berkata ke arahku dan Rolia.
"Maaf menyusahkan kalian berdua tapi aku mohon lindungi Mia untukku... aku tidak ingin dia kesepian."
"Kami mengerti."
Dan selanjutnya Leo menghembuskan nafas terakhirnya, hanya ada teriakan Mia sepanjang pemandangan kami sampai sebuah ledakan terjadi dari arah Pemukiman.
Api membumbung tinggi dan kulihat seorang manusia keluar dari sana jika dibilang manusia itu lebih menyerupai iblis, dia memiliki dua tanduk serta sayap dan ekor di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Namaku Ilfrit, atas kontrak yang kusetujui dengan tuanku, aku harus membunuh kalian semua."
Aku maju dua langkah ke depan selagi menarik pedangku.
"Rolia bawa Mia, aku akan sedikit mengulur waktu."
"Aku mengerti, jangan mati."
"Aku tahu."
Di saat seperti ini, Mia tidak akan bisa bertarung, membawanya mundur adalah pilihan tepat.
Aku hanya melihat kepergian keduanya dari tempatku berdiri.
"Woi, iblis... memangnya siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"Aku tidak bisa mengatakannya... yang jelas tuanku ingin memulai rencananya."
"Rencana apa?"
Aku maupun Ilfrit saling bergerak dimana kami saling menjaga jarak dalam sebuah lingkaran.
"Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku, rencana apa? Apa perburuan penyihir juga rencana tuanmu?"
"Aku tidak harus mengatakannya."
WUS.
Sebuah bola api ditembakan ke arahku hingga aku harus berguling ke samping kemudian melangkah maju.
__ADS_1
Walau aku mati paling tidak aku bisa mengulang semuanya.
"Aaaaaah," bersamaan teriakanku tubuhku tertembus sebuah tombak api dan selanjutnya semuanya menjadi gelap gulita.