
Aku dan Milfa sampai di desa yang telah diambil oleh para vampir itu, saat tiba para vampir laki-laki segera mengelilingi kami dengan senjata di tangan mereka.
"Kau pasti dari guild, apa maumu datang kemari?" salah satunya melemparkan pertanyaan itu padaku, dia seorang pria dengan wajah dingin serta penutup mata di mata kirinya.
"Aku ingin bertemu pemimpi kalian," kataku ringan.
"Kami tidak bisa membiarkannya, terlebih kau adalah manusia."
Pria itu segera menghunuskan pedang ke arahku tapi sesaat sebelum mengenaiku seseorang lebih dulu menahannya dari samping, dia adalah wanita dengan rambut merah yang diikat bergaya ekor kuda.
"Nebula."
"Hentikan Luck, sepertinya orang ini tidak berniat buruk."
"Dia manusia, apa kau ingat bagaimana mereka membunuh saudara-saudara kita?"
"Aku ingat bahkan sekarang aku juga ingin membunuh mereka, tapi... dia sedikit berbeda," setelah mendengar perkataan si wanita, pria itu menyarungkan kembali pedangnya lalu berbalik selagi berkata ke arah kami berdua.
"Ikuti aku, jika macam-macam aku akan memenggal kepala kalian berdua."
Entah kenapa aku seperti berada di era samurai saja.
__ADS_1
Dipandu orang bernama Luck dan Nebula kami tiba di sebuah bangunan jauh di ujung desa, di sana tampak seorang wanita duduk dengan gaun sederhana yang cukup elegan, ia memiliki rambut lurus abu metalik serta mata berwarna merah delima.
Dia sedikit tersenyum menunjukkan ujung taring yang sedikit bersinar.
Luck dan Nebula duduk berlutut sementara aku masih berdiri menatapnya.
"Maafkan aku nona Nina, dia ingin bertemu Anda," suara itu berasal dari Nebula.
"Jangan khawatir, sepertinya dia punya sesuatu untuk kita, bukan begitu."
Dia menebaknya dengan tepat, jika begini aku akan lebih cepat menyampaikan keinginanku.
"Aku ingin membuat sebuah kerajaan baru dan demi itu aku ingin menjadikan kalian sebagai rakyatku."
"Seperti yang aku katakan Jason, tidak mudah membujuk mereka secara baik-baik."
"Sepertinya begitu."
Luck yang sedikit terkejut memiliki ekpresi pucat di wajahnya, tadinya aku pikir negosiasi bisa dilakukan tampak harus menunjukan kekuatan, sayangnya hal ini tidak bisa dihindari.
Nebula mendesah pelan sementara Nina yang duduk di kursinya tampak memandang dengan sedikit kecewa.
__ADS_1
"Luck kau terlalu cepat mengambil keputusan, dia menawarkan hal baik untuk kita... lagipula sepertinya dia membenci pihak gereja juga."
"Sejujurnya aku tidak membenci mereka hanya saja aku tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan."
Nina tersenyum tipis lalu melanjutkan.
"Maukah kau memaafkan perbuatannya barusan, Luck kehilangan orang tuanya saat dia kecil. Itu cukup memberi kebencian terhadap manusia."
"Aku bisa mengerti hal itu," jawabku singkat lalu melanjutkan.
"Aku ingin membuat sebuah kerajaan yang bisa melindungi semuanya entah itu penyihir atau vampir aku ingin membuat sebuah tempat dimana kalian bisa hidup tenang tanpa saling bermusuhan dengan manusia... sebelumnya penyihir dibunuh oleh pihak gereja aku tidak ingin hal itu terjadi pada kalian juga."
"Apa maksudmu?" tanya Nebula.
"Pihak gereja menargetkan kalian sebagai ancaman manusia, dalam beberapa hari mereka akan datang kemari."
"Mustahil?" Luck berkata demikian dan Milfa lah yang menegaskan.
"Itu benar, sebelumya mereka telah kehilangan kepercayaan dari seluruh kerajaan soal penyihir, demi memperbaiki nama baik mereka, mereka ingin membunuh para vampir untuk selamanya."
Luck mendecapkan lidahnya kesal.
__ADS_1
"Mereka itu apa benar pengikut Dewi?" katanya demikian.
"Sayangnya sebagian bukalah pengikut Dewi sesungguhnya, mereka adalah iblis yang menyamar," atas pernyataanku, kecuali Milfa semua orang menahan nafas dalam keterkejutan.