Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 0 - Pergi


__ADS_3

Reynald, seorang siswa kelas sepuluh yang akan menghadiri hari pertama sekolahnya.


Pakaian telah rapi, barang-barang telah ia bawa. Tas telah ia tenteng, doa teruntuk kedua orang tuanya telah ia panjatkan. Dengan menarik napas dalam-dalam, ia menegakkan tubuhnya.


Gagang pintu ia pegang dan berkata, "Aku pergi dulu, Ayah, Ibu," diikuti senyuman lembut dengan mata berkaca.


Pintu terbuka, ia berjalan keluar dari rumahnya.


Swoosh~


Hembusan angin lembut menerpanya. Benar-benar hembusan angin yang berbeda dengan yang biasanya ia rasakan. Ia yang sejak tadi masih menghadap ke dalam rumahnya, mulai menoleh ke apa yang ada di depannya.


Ketika ia membuka matanya dan melihat apa yang ada di hadapannya, ia dibuat tak bisa berkata-kata. Di atas sebuah bukit dengan pohon rimbun di sampingnya, ia berdiri. Menghadap ke matahari yang baru saja terbit dengan suasana asri yang membuatnya teringat masa lalu.


Masa di mana ia terakhir kali berlibur dengan kedua orang tuanya.


Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipinya. Air mata telah mengalir tanpa sepengetahuannya. Ia kemudian teringat dengan dari mana ia masuk. Ia menoleh ke belakang, dan hanya langit biru membentang luas yang ia temukan.


Ia yang panik, kembali melihat ke depan. "Di mana ... aku?"


***


Tiga puluh menit telah berlalu, Reynald masih berada di atas bukit yang sama. Ia berbaring di bawah pohon yang rimbun dengan tangan disilangkan-dijadikan alas kepalanya. Kedua kaki ia selonjorkan, kedua mata ia pejamkan.


Suasana yang saat ini ia rasakan, adalah suasana yang benar-benar ia rindukan.


Sudah satu tahun semenjak ia ditinggal oleh kedua orang tuanya.


"Reynald, kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Ibu Reynald.


Reynald kembali teringat dengan satu hari sebelum keberangkatan ayah dan ibunya. Saat itu, bulan purnama menemani mereka makan malam. Sang ayah yang membaca koran, sang ibu yang mencuci piring, dan Reynald yang membaca materi melalui iPad.


"Reynald besok ujian, Bu. Lagi pula dia juga sudah besar, nanti pulang kita bawa oleh-oleh saja," sela Ayah Reynald yang kemudian membalikkan halaman koran.


"Ya, meski begitu dia anak semata wayang kita, Yah. Atau ... bukan, ya ...?" ucap Ibu Reynald dengan nada sedikit bermain-main.


"Hahaha, apakah Reynald masih mau punya adik?" goda sang Ayah.


Reynald mengangguk. Anggukannya membuat Ayah Reynald sedikit tersedak. Anggukan tersebut juga membuat Ayah Reynald sedikit sedih.


"Ah, kalau begitu doa Reynald sudah terkabul," ucap Ibu Reynald yang membuat Reynald dan ayahnya teralihkan dari bacaan mereka.


"Ya, doanya Reynald sudah terkabul!" ucap Ibu Reynald dengan tersenyum lembut, berjalan mendekati meja makan tempat di mana Reynald dan ayahnya duduk, dan kemudian mengelus perutnya.


Mata Reynald dan ayahnya melebar. Senyuman di wajah keduanya tak bisa disembunyikan, terutama sang ayah. Reynald langsung berdiri, berjalan mendekati ibunya dan mengucapkan selamat. Sang ibu tersenyum dan membalas ucapan selamat dari Reynald.


"Tak lama lagi, Ibu akan memanggilmu 'Kakak', ya. Jadi tak sabar, hahaha," ucap Ibu Reynald mengelus pipi Reynald.


"Aya-!" ucap Reynald menoleh ke wajah ayahnya.

__ADS_1


Sang ayah menutupi matanya dengan tangan kirinya. Koran yang sedang ia baca telah ia lipat. Kacamata yang ia gunakan telah ia taruh di atas meja. Isak tangis tak bisa ditahannya. Doa yang terus dipanjatkan selama lebih dari 10 tahun, keinginan terbesar dari anak semata wayang mereka, akhirnya dapat dikabulkan.


"Rey-nald ... jadilah ... jadilah kakak yang baik untuk adikmu," ucap Ayah Reynald.


Reynald ikut meneteskan air mata. Ia kemudian menepuk dadanya. tersenyum lebar, dan menjawab dengan tegas, "Ya! Reynald akan jadi kakak terbaik yang pernah ada!"


***


Keesokan paginya, tepatnya pukul 6 pagi, Reynald berpamitan dengan kedua orang tuanya.


"Reynald, semangat ujiannya, ya!" ucap sang Ibu yang mengelus kedua pipi Reynald dan mengecup keningnya.


"Ibu, mulai hari ini kita harus membiasakan memanggilnya Kak Reynald. Ya ga, Kak?" ucap sang Ayah yang membuat Reynald tersipu malu dan sang Ibu tertawa kecil.


"Oh ya, hahaha. Kalau begitu, Ibu ulangi sekali lagi," ucap sang Ibu yang kemudian kembali mengelus kedua pipi Reynald dan mengecup keningnya. "Kak Reynald, semangat ujiannya, ya!"


Sang Ibu kemudian berdiri tegap, bersanding di samping Ayah Reynald.


"Kak Reynald, semangat ujiannya. Kalau sulit, beristirahat sejenak. Tenang adalah kuncinya," ucap sang Ayah.


"Ayah ini, mau mengucapkan salam perpisahan apa nasihat mentor?" ucap sang Ibu sedikit menggoda.


"Ahahaha .... Intinya, Kak Reynald ... Ibu dan Ayah selalu ada di samping Kak Reynald. Doa kami akan selalu menyertaimu. Kak Reynald ... ayah sayang sama kamu."


"Ibu juga. Ibu sayang sama Kak Reynald!"


Dan tanpa sadar, ia berlari dan sedikit melompat ke arah kedua orang tuanya. Tangan kanan memeluk sang Ibu dan tangan kiri memeluk sang Ayah.


"Ya! Kak Reynald juga sayang Ayah dan Ibu!" jawab Reynald dengan lembut.


Kedua orang tuanya seidkit terkejut. Namun dengan lembut pula, mereka membalas pelukan Reynald.


Tin~ Tin~


Suara taksi menglakson dari luar terdengar. Reynald melepaskan pelukannya. Reynald kemudian mengikuti sang Ayah dan Ibu dari belakang. Ia membukakan pintu untuk ibunya dan berbincang kecil dengan sang ibu. Sang ayah menaruh barang bawaan ke bagasi, dibantu oleh sang supir.


Setelah semua telah siap, sang supir menaiki taksi. Sebelum menaiki taksi, sang Ayah berhadapan dengan Reynald. Ia menyentuh kedua pundak Reynald.


"Ingat pesan Ayah ya, Nak. Jaga kesehatanmu. Ayah dan Ibu akan selalu di sampingmu dan menyayangimu."


"Ya, Reynald juga sayang Ayah dan Ibu."


Sang ibu sedikit meneteskan air mata. Sang ibu dengan cepat langsung berbalik dan mengambil selembar tisu kemudian mengelapnya.


Ayah Reynald kemudian memasuki pintu taksi depan. Jendela sisi Ayah dan Ibu Reynald duduk terbuka. Mobil taksi mulai berjalan diikuti lambaian tangan dari Ayah dan Ibu Reynald lalu dibalas oleh Reynald.


Setelah beberapa saat, taksi sudah tak lagi kelihatan. Meski begitu, lambaian tangan masih ia gerakkan walau secara perlahan mulai berhenti.


Ketika lambaian tangan telah berhenti, tangannya belum juga turun.

__ADS_1


"Hati-hati ... Ayah, Ibu. Reynald tunggu oleh-olehnya."


***


Namun, oleh-oleh yang dijanjikan kepadanya tak pernah ia dapatkan.


Ketika waktu ujian telah berakhir, tiba-tiba Wali Kelas Reynald membuka pintu dengan sedikit terengah-engah. "Reynald, ikut Bapak ke kantor sebentar."


Ucapan sang Wali membuat Reynald dan teman-temannya yang sedang bersenda gurau melepas penat terhenti seketika.


Di dalam ruang guru, para guru memejamkan mata dengan posisi sedikit menukuk. Reynald yang melihat situasi tersebut kebingungan.


"Pak ... ada apa, ya?"


"Reynald ..." ucap sang Guru yang kemudian memeluk Reynald. "Bapak harap kamu yang tabah, ya ...."


Reynald bukanlah murid yang bodoh. Di antara para siswa, ia merupakan salah satu siswa terpintar. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi baik situasi maupun rasa. Oleh karena itu, ucapan dari sang guru langsung menghantamnya dengan sangat telak.


"P-Pak ... ma-maaf ... saya tak mengerti ...."


Pelukan dari sang guru semakin kuat. "Ayah ... dan ... ibu kamu ... meninggal dalam kecelakaan pesawat."


Jawaban dari sang guru membuat Reynald lemas bukan main. Dirinya seperti berubah menjadi slime yang kemudian ditarik paksa oleh gravitasi.


Kakinya gemetar, untuk berdiri saja tidak bisa. Sang guru yang tahu betapa Reynald mencintai kedua orang tuanya, sudah mempersiapkan diri untuk membopong Reynald yang (jikalau) syok atau bahkan pingsan.


"Pak ...."


Reynald ingin mencoba menolak apa yang baru saja gurunya katakan. Namun, bibirnya tak sanggup melanjutkan apa yang ingin diucapkannya.


Air mata perlahan mulai mengalir. Giginya ia gertakkan. Napasnya terengah-engah. Tangannya meraih punggung dari sang guru. Teriakan yang belum pernah didengar oleh siapa pun ia teriakkan.


"a ... a ... Aaagh ...  AAAAGGGHHH!!"


Reynald menangis sangat keras hingga terdengar dari ruang sebelah. Tangisannya dapat membuat siapa pun yang mendengarnya meneteskan air mata walaupun tak mengerti konteksnya. Tangisan yang sangat murni. Tangisan yang membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.


Tangisan yang sangat bertolak belakang dengan tangisan kebahagiaan kedua orang tuanya ketika dirinya lahir.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Suara seorang gadis membangunkan Reynald dari mimpi masa lalunya.


"Ke-kenapa kamu menangis?!" tanya sang gadis yang sedikit panik dan khawatir. "A-apa karena aku membangunkanmu?"


Menangis? batin Reynald yang kemudian menyentuh pipinya. "Ah ... ya, aku menangis ...." ucapnya yang kemudian kesulitan menghentikan jatuh air mata di kedua pipinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2