
Sosok tersebut memiliki bentuk seperti seekor gurita, namun ukurannya sangat jauh lebih besar. Kulitnya berwarna hitam dengan aura ungu di sekitar tubuhnya. Terdapat satu mata di bagian depan kepala berwarna merah darah menyala.
Mulutnya berbentuk lingkaran, berada tepat di bawah satu matanya. Hanya ada taring berwarna kuning di dalam mulut sang gurita raksasa.
"Kra ... ken ...?" ucap Ratu Cleo gemetar melihat sosok Kraken yang tiba-tiba muncul.
Kraken mengangkat kedelapan tentakel raksasanya yang masing-masing tentakelnya memiliki lebar lebih lebar dari kapal Triturador. Panjang tiap tentakelnya seolah-olah mampu membelah lautan.
Semua orang terpaku dengan tentakel-tentakel raksasa yang ditunjukkan oleh Kraken.
DEBAM! Kraken mengayunkan salah satu tentakelnya ke arah pasukan aliansi. Satu ayunannya membuat satu per dua belas pasukan aliansi gugur seketika.
Grant, Die Acht Viende, para petinggi, hingga para raja menatap tentakel yang sehabis menghantam tanah dengan mulut terbuka dan mata tak percaya.
Harapan yang sempat bersinar terang, strategi yang mulai menghasilkan, dihancurkan semuanya hanya dalam satu serangan.
"KRRAHHH!!" teriak Kraken yang membuat tanah bergetar dan mengeluarkan gelombang kejut cukup kuat hingga membuat ombak bergelombang dengan tak stabil, seperti sedang bertanding untuk membuat ombak yang paling besar.
"Dewa ... apa yang harus kami lakukan ...?" ucap Raja Erdovarte lirih yang seperti putus asa.
Di tempat Reynald dan Vlagilles berhadapan.
Dentuman yang sangat dahsyat mengundang perhatian Reynald. Ia dengan reflek melihat ke arah pelabuhan. Wajah paniknya tak bisa ia sembunyikan. Ia tahu dengan pasti bahwa serangan sedahsyat itu pasti menimbulkan korban jiwa yang banyak.
"Apa itu?" ucap reflek Reynald yang khawatir dengan pasukan aliansi.
"Ohoho ... tampaknya dia sudah datang!" ucap Vlagilles yang melihat ke arah pelabuhan dengan tersenyum dan tertawa kecil.
"Kraken ... apa aku benar?" Reynald menatap tajam Vlagilles.
"Yes! 100 untuk Yang Terpilih!" jawab Vlagilles yang tersenyum seperti sedang mengejek.
Reynald mengepalkan tangannya sekilas. Ia kemudian mendekatkan tangan kirinya ke gagang pedang yang ada di pinggang kanannya.
"Sudah tak ada lagi yang perlu kita bahas, bukan?" ucap Reynald
"Hm ... entahlah," jawab Vlagilles tersenyum lebar hingga matanya tertutup.
__ADS_1
Reynald melesat dengan kecepatan yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Ceting! Pedang Reynald beradu dengan kuku panjang nan tajam Vlagilles. Vlagilles mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya seperti garis miring. Lalu jari-jarinya ia tekuk seperti seekor harimau sehingga kuku-kuku panjangnya mampu menahan serangan Reynald.
"Hoho ... cepat juga kau ..." ucap Vlagilles yang sedikit terkejut..
Reynald menguatkan serangannya hingga mampu mementalkan Vlagilles hingga Vlagilles berputar ke belakang.
Kekuatan apa yang barusan?! batin Vlagilles terkejut. Ia kemudian mencoba untuk menyeimbangkan kembali tubuhnya di udara. Namun, belum sempat ia kembali berdiri di udara, Reynald sudah kembali datang dengan serangan yang lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.
Vlagilles mencoba melakukan pertahanan yang sama seperti yang pertama kali ia lakukan. Namun, kekuatan Reynald melampaui dirinya. Vlagilles kembali terhempas, kali ini hingga menabrak tanah hingga terseret beberapa puluh meter.
Reynald turun dari langit secara perlahan. Vlagilles yang masih terbaring di tanah menatap langit dengan mata yang terbuka lebar.
"Apa ini ... senyuman? Mengapa aku tersenyum? Sensasi apa ini? Mengapa jantung berdegup dengan begitu kencang? Ah, apakah ini yang disebut sebagai kesenangan? Ah!"
Tubuh Vlagilles mengeluarkan aura hitam keunguan. Tawa yang lirih keluar dari mulutnya. Tawa tersebut semakin lama semakin keras bersamaan dengan tubuhnya yang bangkit dari tanah.
Bagian tubuh Vlagilles mulai dari paha ke atas terangkat ke depan, seperti ada sosok yang mengangkatnya. Namun, kenyataannya tidak. Itu semua murni dari kekuatan tubuhnya. Ia menggunakan tumid kaki sebagai tumpuan untuk dapat berdiri.
Setelah berdiri, ia sedikit membungkuk ke depan. Ia memegangi dadanya yang terus berdegup dengan kencang. Senyumannya tak bisa ia sembunyikan.
Aura hitam keungunannya semakin kuat hingga meledak. Ledakkan tersebut membentuk pilar hitam dengan aura ungu yang menemebus langit mendung. Langit perlahan-lahan semakin menghitam, petir dan geledek menyambar dengan semakin kencang.
Embusan angin menjadi sangat kencang, seperti badai akan segera datang. Dingin, sangat dingin. Seandainya orang biasa yang ada di tempat itu, maka ia akan gemetar kedinginan hingga membeku.
Dahsyat, sangat dahsyat. Aura yang dikeluarkan oleh Vlagilles sangat dahsyat hingga membuat tanah yang ia pijaki hingga ke pelabuhan berubah menjadi hitam. Pepohonan, rerumputan, hingga bunga yang ada di sekitar tempat itu menjadi layu bahkan gugur menghitam seketika, seperti berubah menjadi abu yang kemudian hancur karena embusan angin.
Para prajurit gemetaran, Die Acht Viende yang ada di sisi kiri pasukan aliansi juga gemetaran. Para petinggi kerajaan tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Grant yang berada di garda depan untuk pertama kalinya merasa gemetar setelah empat puluh tahun ia berperang di medang pertempuran.
Bahkan Tuan Grant sekali pun ... batin Fidel melihat tangan Grant yang gemetar.
Tak hanya dari sisi pasukan aliansi, pasukan para iblis pun gemetaran. Satu per satu dari mereka berlutut menghadap ke arah Reynald dan Vlagilles berada. Mereka yang berlutut kemudian bersujud, lalu kembali berlutut, dan kemudian kembali bersujud.
Mereka terus mengulangi gerakan tersebut hingga membuat para pasukan aliansi kebingungan. Kraken yang semula muncul dengan gahar, seperti pembawa bencana yang tak bisa dihindarkan, berubah menjadi seperti seekor anak kucing di hadapan seekor singa yang perkasa.
Aura tersebut terus meledak-ledak hingga membuat tanah hitam yang Vlagilles pijaki retak.
__ADS_1
"Ahh! Pastikan kau bisa menghiburku, Yang Terpilih!" ucap Vlagilles yang kemudian melesat dengan sangat cepat. Ia melesat dengan sangat cepat hingga membuat Reynald terkejut.
Kuku tangan kanannya ia ayunkan menyilang. Reynald yang telat merespons serangan Vlagilles, terkena serangan kuku Vlagilles hingga terpental ratusan meter lalu menabrak kastil Kerajaan Vanidas yang telah hancur.
Ia pun menembus kastil tersebut dan masih terpental hingga terseret di tanah beberapa puluh meter.
Reynald memutar tubuhnya ke belakang, mencoba menghentikan dirinya yang terus terhempas. Ia menusukkan pedangnya ke tanah dengan posisi berlutut. Setelah beberapa saat, ia pun dapat berhenti.
Namun, belum sempat berdiri, Vlagilles telah muncul di belakangnya. Sangat dekat. Hingga napasnya dapat terasa di leher Reynald. Dingin, seperti udara malam yang terembus pelan.
Reynald yang terkejut, sempat gemetaran. Ketika ia melirik ke belakang, Vlagilles tersenyum sangat lebar hingga mulutnya seperti membentuk bulan sabit.
Reynald hendak mencabut pedang dari tanah lalu mengayunkannya ke Vlagilles. Namun, ketika pedangnya belum keluar dari tanah, Vlagilles sudah menendang Reynald dengan telak hingga membuat Reynald terpental kembali ratusan meter jauhnya.
Dentuman yang sangat keras tersebut terdengar bahkan sampai ke pelabuhan.
"Reynald ... sosok seperti apa yang sedang engkau hadapi ...?" ucap Raja Orgulla yang tanpa sadar mengeluarkan keringat dingin.
Reynald yang terpental langsung menusukkan pedangnya ke dalam tanah. Ia kemudian berputar ke samping dan bersiap untuk langsung melesat memberikan serangan balasan.
Dengan memanfaatkan momentum, ia membuat kecepatan lesatannya menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Namun, hal itu masih tidak ada apa-apanya di hadapan sang Raja Iblis. Vlagilles dengan mudah menghindari ayunan menyilang Reynald dengan sedikit memundurkan pundak kirinya ke belakang. Lalu di saat yang bersamaan, ia mengepalkan tangan kirinya dan memberikan serangan telak tepat di perut Reynald.
Serangan tersebut mengenai tepat di perut Reynald. Dengan kecepatan yang ia lesatkan lalu terhantam dengan serangan pukulan yang bergeming, badan Reynald seperti membentuk huruf C. Mulutnya mengeluarkan darah.
Vlagilles kemudian mendorong tangan kirinya ke depan. Sekali lagi, membuat Reynald terhempas hingga beberapa kilometer jauhnya.
Reynald terhempas menembus bukit. Seandainya ia tak menabrak bukit, mungkin ia bisa terhempas hingga puluhan kilometer. Bukit yang sangat tebal ditembus dengan hanya hitungan yang tak sampai satu detik.
Reynald terjungkal ke belakang, berputar berkali-kali seperti bola yang digelindingkan. Ia tak bisa melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. Pedangnya terlepas dari genggamannya.
Ia kemudian berhenti ketika menabrak bukit kedua.
Reynald yang terhempas hingga menembus bukit disaksikan langsung oleh seluruh pasukan aliansi. Semua orang tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sosok yang digadang-gadang sebagai Yang Terkuat, dihancurkan dalam waktu yang sangat singkat.
---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!