Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Arc 2 - Chapter 27 - Sebuah Rahasia


__ADS_3

Halo, Gaes alias Pembaca sekalian!


Terima kasih sebelumnya sudah membaca sampai chapter ini. Ga kerasa udah sampai chapter 27! 27!


Oh, ya, alasan mengapa saya tiba-tiba membuat pesan seperti ini adalah karena saya ingin mengucapkan "Selamat tahun baru!". Dan sekalian satu pengumuman lagi, seperti yang tercantum di judul chapter, kita mulai memasuki Arc 2!


Dah, itu aja sih yang mau saya sampaikan.


Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih! Selamat membaca!


Oh, ya, FYI aja, Arc 2 adalah Arc di mana Reynald, alias sang Pahlawan ... mwehehehe, tahu, kan maksud saya ....


---


"Reynald, aku tak tahu bentuk terima kasih seperti apa yang pantas untuk aku berikan kepadamu. Apakah ... apakah kau yakin tak ada sesuatu yang engkau inginkan?" tanya Raja Orgulla.


Di dalam ruang pribadi Raja Orgulla, Reynald duduk berhadapan dengan Raja Orgulla.. Ketiga Raja lainnya juga hadir di ruangan tersebut, duduk di kursi yang berbeda.


"Benar apa yang dikatakan oleh Raja Orgulla. Kedamaian yang engkau minta akan kami usahakan, namun, apakah ada sesuatu yang engkau inginkan? Katakan saja," ucap Raja Calma.


"Katakan saja, Yang Terpilih. Uang? Harta? Atau bahkan ... wanita? Katakan saja, tak perlu malu," ucap Ratu Cleo tersenyum dengan sedikit menggoda.


Reynald kebingungan harus menjawab apa. Ia yang benar-benar tak ingin apa-apa selain kedamaian, tak tahu harus berkata apa. Ia tidak ingin menyinggung perasaan ketiga raja yang sudah bermurah hati kepadanya, namun di satu sisi ia tak tahu apa yang ia inginkan.


Raja Erdovarte tersenyum melihat ketiga raja berusaha keras untuk membuat Reynald menyatakan suatu permintaan serta Reynald yang kebingungan dan tertekan. Dirinya yang sudah mengenal Reynald cukup lama tahu apa yang sedang ada di pikiran Reynald.


"Yang Mulia sekalian, tak baik untuk memaksakan kehendak kalian. Saya tahu betapa besarnya keinginan Anda sekalian untuk membalas budi kepadanya, namun apa yang Reynald inginkan bukanlah sesuatu yang bisa dibayar dengan harta, tahta, atau bahkan wanita."


Ketiga raja yang mendengar hal itu merasa malu terhadap diri mereka.


"Saya tahu apa yang Reynald inginkan," ucap Raja Erdovarte yang membuat terkejut Reynald dan ketiga raja lainnya. "Namun sebelum itu, bukankah ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan kepada kami, Nak Reynald?"


Ucapan Raja Erdovarte dengan nada yang lebih serius walau tetap tersenyum membuat ketiga raja memicingkan matanya curiga. Ketiga raja melihat ke arah Reynald yang sudah memejamkan mata sembari mencoba menenangkan diri.


"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada Anda sekalian. Sesuatu yang ... menurut saya penting." Reynald membuka matanya dan menatap satu per satu mata empat raja yang ada di dalam ruangan.


"Katakan saja. Kami siap mendengarnya," ucap Raja Orgulla.


Reynald tersenyum, menganggukkan kepala.


"Kekuatan yang saya keluarkan kemarin, untuk mengalahkan Tujuh Dosa Besar, memiliki bayaran yang sangat besar."


"Bayaran berupa?" tanya Ratu Cleo.


"Kemampuan sihir saya."


Jawaban Reynald membuat syok dan terkejut keempat raja. Mata kelimanya melebar, dengan mulut yang terbuka. Seperti sebuah pedang yang menusuk jantung, hati mereka sakit mendengarnya. Rasa bersalah menggerogoti tubuh seperti api yang dengan cepat membakar daun yang kering.


Sihir adalah sesuatu yang sangat penting di dunia ini. Sesuatu yang nilainya tak tergantikan. Sesuatu yang membangun dunia, sesuatu yang membuat dunia menjadi "berwarna".


Raja Orgulla meremas kedua lutut dengan tangannya. Giginya ia gertakkan, wajahnya menatap ke lantai. Ratu Cleo yang tak kalah kesalnya, membungkuk dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Raja Calma bingung harus merespons apa. Ia yang selama ini hidupnya bergantung pada sihir, tiba-tiba mendengar sosok yang "menyelamatkan hidupnya" tak bisa menggunakan sihir karena dirinya.


Raja Erdovarte yang mendengar hal itu, melihat ke bawah lalu memejamkan matanya.


Suasana hening, seperti berada di tengah kesunyian malam.


Reynald merasa bersalah karena memberitahukan hal tersebut. "Yang Mu--"

__ADS_1


"Reynald, tolong jangan merasa bersalah. Keputusanmu untuk memberi tahu kami sudah benar," ucap Raja Calma tersenyum lembut menahan tangis kepada Reynald.


"Benar yang dikatakan Raja Calma. Ini ... entah mengapa rasanya sangat sakit mendengar hal ini," ucap Ratu Cleo membuka kedua tangannya dan melihat ke arah Reynald dengan mata yang berkaca-kaca.


Reynald yang melihat ekspresi sedih dari kedua raja membuat dirinya merinding. Dadanya sedikit sesak. Ia tak menyangka bahwa ketidakbisaan dirinya menggunakan sihir memberikan dampak yang sangat besar pada keempat raja.


Ia kemudian melihat ke arah Raja Orgulla dan Raja Erdovarte. Kedua raja tersebut masih belu mengangkat kepalanya. Seperti tak berani untuk menatap wajahnya.


"Anda sekalian bertanya tentang apa yang saya inginkan, bukan?"


Ucapan Reynald direspons dengan pergerakan kecil dari keempat raja.


"Ketika saya datang ke dunia ini, seorang gadis dengan mata seindah matahari yang terbenam adalah sosok pertama yang aku temui. Apakah itu takdir? Saya tak tahu. Namun yang pasti, saya langsung jatuh hati kepada gadis tersebut.


"Ia kemudian memperkenalkan saya kepada warga di desa. Ia memperkenalkan saya kepada Yebe, teman sebaya saya yang keahlian memanahnya tak ada duanya. Ia juga memiliki seorang adik kecil bernama Ruhi, ketika Anda di dekatnya maka hanya keceriaan yang bisa Anda rasakan."


Reynald kemudian tersenyum, menukuk, dengan mata sedikit menutup.


"Saya akhirnya merasakan suasana yang telah lama tak saya jumpai, suasana yang telah lama saya tak rasakan. Kehangatan dalam sebuah keluarga. Saya, yang saat itu baru berjumpa dengan mereka di hari itu, dengan mudah melebur seperti sudah menjadi bagian keluarga mereka sejak lama.


"Cita rasa masakan kasih sayang seorang ibu, berbagi cerita di meja makan, dan tertawa bersama ... hal-hal yang terdengar simpel, bukan?" Reynald mengangkat kepalanya.


"Namun, itulah hal yang paling saya inginkan."


Cerita Reynald membuat keempat raja tersenyum. Keempat raja merasa tenang mendengar cerita Reynald.


"Reynald, apakah gadis itu yang membuatmu menolak putriku?" tanya Raja Erdovarte yang membuat Reynald tersedak dan ketiga raja tertawa.


"Putrimu ditolak oleh Reynald? Apakah benar? Reynald ... kau benar-benar pria yang unik! Hahahaha!" ucap Ratu Cleo tak bisa menahan tawanya.


"Kau ingin menjodohkan putrimu dengannya? Mengapa kau bisa punya pemikiran yang sama denganku?! Hahaha!" ucap Raja Orgulla menepuk punggung Raja Calma.


Reynald tersenyum senang melihat keempat raja yang telah kembali ceria.


Terima kasih, Raja Erdovarte batin Reynald.


Setelah suasana kembali tenang, keempat raja mulai berunding dengan apa yang harus mereka lakukan mulai dari sekarang.


"Setelah kita berhasil mengalahkan ancaman terbesar, tentu dampaknya akan dirasakan oleh makhluk-makhluk di seluruh dunia. Ini mungkin terdengar tak sopan, terutama untuk Reynald, tapi aku ingin bertanya tentang apa yang harus kita lakukan?" tanya Ratu Cleo.


"Kepada kerajaan-kerajaan lain? Ya, saya juga sempat memikirkan hal tersebut sebelum perang dimulai. Kita juga belum sempat menjalin kontak dengan mereka. Secara terakhir kali, kita 'berpisah' dengan mereka dengan tak menyenangkan," ucap Raja Calma yang membuat Ratu Cleo sedikit tersinggung.


Ratu Cleo memalingkan wajahnya, merasa malu dengan dirinya yang secara kasar langsung mengusir para raja pada konferensi saat itu.


"Mengesampingkan pengusiran secara kasar dan ucapan Ratu Cleo saat itu, saya setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh Ratu Cleo. Apa yang dirasakan oleh para raja itu, harga diri yang seperti diinjak-injak, adalah bayaran murah atas segala hal yang telah mereka lakukan sejak Raja Orgulla 'tertidur'," ucap Raja Calma meremas sandaran kursinya.


Reynald sekilas memicingkan sedikit matanya mendengar ucapan Raja Calma. Raja Erdovarte yang menebak bahwa Reynald akan kebingungan setelah mendengar ucapan Raja Calma, langsung menjelaskan maksud dari perkataan Raja Calma.


"Tiga puluh satu tahun yang lalu, adalah saat di mana untuk pertama kalinya, nama Leon yang Perkasa menyebar ke seluruh penjuru benua. Hanya dengan seratus orang, Leon yang Perkasa mampu mengalahkan sebuah benteng pertahanan Kerajaan Palo yang saat itu terkenal akan kekuatan pertahanannya."


Kerajaan Palo adalah kerajaan Raja Berambut Hijau.


"Leon yang Perkasa?" tanya Reynald.


"Oh, itu adalah nama asli dari Raja Orgulla dan yang Perkasa adalah julukannya," ucap Raja Erdovarte.


Reynald terkejut mendengar hal itu. Ia kemudian melihat ke arah Raja Orgulla yang sedang menahan malu mengingat seberapa narsis dan noraknya dia dahulu.

__ADS_1


"Leon yang Perkasa .... Apa kau tahu, Reynald, dulu dia dengan bangga menyebarkan dan menceritakan tentang perjalannya ke setiap orang yang ia temui. Entah itu di kedai, di Guild, atau bahkan di tengah hutan sekali pun," ucap Raja Calma. "Reynald, jika kau hidup sejak tiga pulu tahun yang lalu, kau tak akan menemukan Leon yang Pemalu seperti ini,"


Raja Orgulla dibuat tak berdaya. Dirinya benar-benar terlelap dalam masa lalu yang kelam. Untuk pertama kalinya, Reynald melihat wajah Raja Orgulla semerah buah tomat.


"Raja Erdovarte, mohon maaf sudah menyela. Anda bisa melanjutkan cerita Anda," ucap Raja Calma.


"Tidak, tidak, tak apa. Nak Reynald juga pasti ingin tahu betapa bangganya seorang Leon pada dirinya dahulu." Raja Erdovarte kemudian melihat ke arah Reynald. "Sejak saat itu, nama Leon terus melambung tinggi. Setiap misi yang ia selesaikan merupakan misi tingkat tinggi yang tak bisa diselesaikan oleh siapa pun. Julukan yang Perkasa bukanlah isapan jempol belaka.


"Setiap orang yang mencoba menantangnya akan berakhir entah mengenaskan, hancur, atau paling ringan patah tulang. Lalu, hari mengejutkan itu tiba. Leon yang Perkasa, menikah dengan tuan putri dari salah satu kerajaan terbesar di benua, Kerajaan Orgulla. Dan sisanya adalah sejarah."


Reynald mengangguk paham mendengar cerita Raja Orgulla. Reynald yang terlalu sibuk mempelajari sihir dan mempelajari sejarah dunia, melewati sejarah kerajaan-kerajaan yang ada. Ia benar-benar seperti seekor anak ayam yang baru menetas di dunia jikalau harus berhadapan dengan pengetahuan umum di Thavma.


"Baiklah, cukup dengan ceritanya. Kini, kita harus membahas tentang apa yang harus kita lakukan," sela Raja Orgulla secara tiba-tiba.


Dia pasti sudah menunggu momen ini ... batin Reynald dan ketiga raja lainnya.


"Pertama-tama, apakah kita harus merahasiakan tentang Reynald yang sudah tak mampu menggunakan sihir atau tidak. Yang kedua, tindakan apa yang harus kita lakukan terhadap kerajaan-kerajaan lain?"


Reynald sedikit bingung mengapa mereka harus melakukan sebuah tindakan terhadap kerajaan-kerajaan lain.


"Jikalau kita berdiam diri saja, maka mereka akan menganggap remeh kita. Aku tahu kau punya hati yang baik dan murni. Tapi, sebagai seorang pemimpin kerajaan dua hal itu tak akan cukup. Harga diri tetap harus dipertahankan bahkan ditinggikan," ucap Ratu Cleo yang secara tiba-tiba seolah-olah tahu bahwa Reynald sedang kebingungan.


"Benar yang dikatakan oleh Ratu Cleo. Kita setidaknya harus membicarakan hal ini dengan kerajaan-kerajaan lain. Namun, reaksi seperti apa yang akan mereka berikan ... itu lebih membingungkan dari sebuah puzzle tersulit sekali pun," ucap Raja Calma yang khawatir dan was-was.


"Untuk saat ini, pertanyaan pertama, kita memiliki dua opsi. Seandainya kita umumkan, maka orang-orang akan merasa lebih berhutang budi kepada Reynald. Seandainya ada apa-apa dengan Reynald, maka orang-orang akan lebih cepat bertindak untuk membantu Reynald. Jikalau kita tak mengumumkan, maka itu bisa mencegah adanya musuh di balik selimut," ucap Raja Erdovarte.


"Sangat jarang mendengar Anda berkata sesuatu yang sefrontal ini, Raja Erdovarte ..." ucap Ratu Cleo yang sama terkejutnya dengan dua raja lainnya.


"Nak Reynald telah mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kita semua. Dia sudah melakukan sesuatu yang mustahil untuk kita semua lakukan. Seandainya dia tak ada, maka kita semua tak akan bisa berkumpul di ruangan ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya saya bertindak tegas dalam melindungi Pahlawan kita." Raja Erdovarte melihat ke arah Reynald.


Pa-Pahlawan? batin Reynald yang terkejut dan sedikit tersipu malu mendengar julukan tersebut.


"Pahlawan, ya .... Sebuah julukan yang memang pantas disematkan kepadanya!" ucap Raja Orgulla.


"Ya ... tak ada yang bisa menyangkal julukan itu. Memang julukan yang hanya bisa disematkan kepadanya," ucap Raja Calma.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk Pahlawan kita?" tanya Ratu Cleo.


Ketiga raja diam dan berpikir. Suasana menjadi hening/


"Tak baik rasanya jikalau kita tak bertanya langsung kepada orangnya. Reynald, bagaimana menurutmu?" tanya Raja Orgulla.


Keempat raja melihat ke arahnya. Reynald sedikit berkeringat. Ia takut salah jawab.


"Saya percaya dengan keputusan Anda sekalian. Apa pun keputusan Anda sekalian, saya yakin itu yang terbaik untuk saya," jawab Reynald dengan tersenyum tulus.


Senyuman tulus Reynald dibalas dengan helaan napas dan tepukan dahi keempat raja.


Heh? batin Reynald yang kebingungan.


"Inilah mengapa kau tak pantas jadi seorang raja, Nald ..." ucap Ratu Cleo yang geleng-geleng kepala. Keempat raja mengangguk setuju dengan ucapan Ratu Cleo.


Heh ...? Apakah jawabanku salah ...?


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2