
"Apa yang ...."
Reynald tak bisa berkata apa-apa. Mata dan bibirnya bergetar tak percaya. Dirinya ... mengalami kegagalan.
Telur yang seharusnya pecah dan memunculkan sosok Fidel, hanya memuncratkan cairan berwarna ungu ke sekitarnya, bahkan mengenai Reynald dan Everest.
Tak ada tubuh yang utuh di dalam cangkang telur yang pecah, hanya genangan cairan berwarna ungu dengan gumpalan daging yang tak berbentuk.
Perut Reynald mual; muntahnya ia tahan di mulutnya. Reynald membalikkan badannya, berlutut, lalu memuntahkan apa yang tak lagi bisa ditahannya.
Everest yang melihat muntah tak terkendali tuannya, khawatir. Namun, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Setelah selesai muntah, Reynald terdiam sejenak. Matanya samar-samar terbuka. Ia kemudian memukul tanah dengan gigi yang digertakkan.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Pembangkitan ini gagal! Dan yang lebih penting lagi ... apakah setelah ini Fidel masih bisa dibangkitkan?!
"Tuan ...."
Reynald melirik ke Everest.
"Apakah Anda ... baik-baik saja?"
Reynald yang mendengar hal itu menjadi sedikit kesal. Namun, kekesalannya terhenti kala ia melihat bayang-bayang Fidel pada diri Everest.
"Everest ... apa kamu tahu penyebab mengapa kamu bisa bangkit lagi ...?"
Everest yang dilontarkan pertanyaan tak bisa menjawab. "Maafkan saya, Tuan ...."
Reynald kembali melihat ke bawah. "Tak apa ...." Reynald menggigit jari. Ia kemudian berdiri dan menyerokkan kakinya menutupi genangan muntahnya.
Informasi yang ada terlalu sedikit. Aku tak bisa hanya mengandalkan spekulasi saja. Pasti ada sesuatu ... yang aku lewatkan!
Setelah menenangkan diri, Reynald berpikir tentang apa yang harus ia lakukan dengan telur pecah di hadapannya. Walaupun telur itu gagal, telur yang ada di hadapannya merupakan perwujudan dari sahabatnya.
Jikalau dibiarkan begitu saja, maka akan rawan dimakan/diminum oleh para monster dan binatang, atau mungkin tersapu angin dahsyat, atau terhempas oleh sebuah badai, atau hal-hal tak terduga lainnya. Sedangkan kalau dimasukkan begitu saja ke dalam tanah, maka cairan dan gumpalan yang ada memiliki kemungkinan untuk terbaur dengan tanah.
Reynald memikirkan banyak kemungkinan dan risiko di dalam otak kecilnya. Bahkan, saking banyaknya hipotesa yang ada, matahari terbenam lebih cepat daripada konklusinya.
"Sejak kapan ... malam tiba?"
__ADS_1
***
Dalam perjalanan menuju ke dalam gua yang menjadi markasnya, Everest menggendong telur Fidel yang pecah setengahnya. Reynald membawa setengahnya lagi yang pecah tak beraturan dengan cairan ungu yang dapat dikumpulkan.
Keduanya berjalan dalam kegelapan, namun beruntung, Everest memiliki mata yang dapat melihat dalam kegelapan.
Sesampainya di dalam gua, Reynald langsung menyalakan api unggun. Ia kemudian menyuruh Everest untuk mencari sesuatu yang tahan air, ringan, dan dapat menutupi bagian atas telur Fidel.
Everest langsung bergegas menuruni bukit, meninggalkan Reynald sendirian di dalam gua.
"Sekarang ... apa yang harus aku lakukan, Fidel? Membangkitkanmu ... apakah tak ada suatu petunjuk?"
Ketika Reynald sedang berpikir dengan menatapi bulan, tiba-tiba suara dentuman keras terdengar hingga membuat sebuah gempa kecil.
Reynald yang tergoyang langsung berlari keluar mencari dari mana arahnya datang suara tersebut. Ia kemudian melihat kepulan asap dengan beberapa pohon yang tumbang tak jauh dari bukitnya berada.
Ia kemudian memperhatikan tempat tersebut karena merasa tak asing. Dan ketika ia sedang mengingat-ngingat tempat kejadian, ia melihat seseorang muncul dengan membawa sesuatu yang ukurannya sangat besar.
"Kau ... bercanda, kan ...?"
Everest berjalan menaiki bukit dengan menyeret King Kong yang telah sekarat.
"Ada apa, Tuanku?" tanya Everest dengan wajah polos tapi seriusnya.
"Kau tak bisa membawa makhluk itu begitu saja ke atas. Makhluk itu terlalu besar untuk dibawa melalui jalan setapak."
"Benarkah begitu? Hm ... lalu, apa yang harus saya lakukan dengan ini?"
Reynald terdiam untuk berpikir sejenak.
"Apakah dia sudah mati?"
Everest menggelengkan kepala. "Belum, Tuan. Denyut nadinya masih terasa walau kesadarannya sudah mulai menghilang."
Kesadaran sudah mulai menghilang ... batin Reynald yang teringat dengan dirinya yang hampir mati tenggelam. "Tunggu sebentar ... bukankah itu makhluk yang tadi pagi kau lawan?"
"Benar, Tuan."
Sebentar ... aku baru menyadarinya. Dua makhluk ini secara tiba-tiba muncul hari ini. Lalu, dari mana asal mereka? Reynald yang penasaran kemudian bertanya, "Everest, dari manakah asalmu dan bagaimana kau bisa muncul di pulau ini?"
__ADS_1
Everest yang ditanyai hal itu kebingungan. "Saya berasal dari sebuah pulau di mana ada ribuan makhluk dengan ukuran yang sangat besar dan kekuatan yang tiada tara hidup. Di pulau tersebut, klan kami selalu bertarung satu sama lain. Dan bagaimana saya bisa sampai ke pulau ini ...." Everest tiba-tiba merasakan sesuatu seperti menyerang otaknya.
"Bagaimana saya bisa sampai ke pulau ini ...." Lagi-lagi Everest merasakan sesuatu seperti menyerang otaknya. Seperti ada sebuah jarum yang dialiri listri menusuk isi kepalanya.
Reynald yang melihat Everest seperti kesulitan dalam menyampaikan, menyuruh Everest untuk melupakannya. Everest membungkuk dengan perasaan yang tak tenang. Ia merasa tak enak hati karena tak bisa menjawab pertanyaan dari tuannya.
Reynald yang melihat Everest merasa bersalah, menjadi ikut merasa bersalah. Mengapa aku ikut merasa bersalah ...? Tunggu dulu, jikalau aku bisa membangkitkan Everest tepat setelah ia mati ....
Reynald yang menyadari sesuatu langsung menyuruh Everest untuk menaruh tubuh King Kong di tanah.
Jikalau aku langsung membangkitkannya tepat setelah kematiannya, maka seharusnya ia akan bangkit ke wujud yang sama seperti Everest. Tapi ... hanya satu percobaan berhasil bukan berarti akan pasti berhasil. Aku ... butuh semacam jaminan lagi.
Reynald seperti menemukan sebuah jalan kecil di tengah pikiran buntunya. Ia yang ingin mencoba sesuatu untuk mengobarkan api harapannya, menyuruh Everest mencari seekor harimau putih untuk dimatikan lalu dibawa ke hadapannya.
Everest mengangguk paham dan langsung bergegas pergi mencari harimau putih.
Tak butuh waktu lama, Everest kembali ke hadapan Reynald. Berlutut dengan jasad harimau putih di depannya.
"Terima kasih."
"Tak masalah, Tuanku." Everest kembali berdiri dan berjalan ke tepat samping King Kong yang napasnya mulai menipis.
Reynald mengeluarkan bola kristalnya dan mencoba membangkitkan kembali harimau putih. Bola kristal yang ada di genggamannya menyala, mematuhi perintah dan permintaan darinya. Cahaya yang sangat terang hingga membuat seseorang tak dapat melihat apa pun muncul.
Dan ketika cahaya itu sirna, sebuah telur berwarna putih sudah ada di hadapan Reynald.
"Ini dia ...."
Telur retak. Cahaya ungu muncul dari sela-sela retakan yang ada. Dan secara perlahan, retakan tersebut semakin banyak hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang hingga mengharuskan Reynald menutup matanya.
Reynald membuka matanya. Ia dibuat terkejut dengan sosok yang ada di hadapannya.
Seorang wanita dengan cakar harimau di tangan dan kaki. Memiliki sepasang kuping harimau di kepalanya. Ekor panjang di tulang ekor. Lalu, gigi taring kecil dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.
Sosok tersebut kemudian membuka matanya.
"Apakah Anda ... tuan saya?"
---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!