
Reynald terpuruk di tepi bukit berbatu. Tubuhnya bersimbah darah, kepalanya menghadap ke tanah, dengan kedua tangan serta tubuh yang lemas tak berdaya.
Melihat Reynald yang sudah babak belur, membuat semangat juang pasukan aliansi menurun secepat meteor yang jatuh ke bumi.
Satu-satunya harapan, telah dikalahkan. Seandainya sosok Kraken saja membuat mereka gemetar ketakutan, lantas bagaimana mereka bisa menghadapi sosok yang bahkan membuat Kraken seperti seekor anak kucing?
Prang .... Seorang prajurit menjatuhkan perisai dan pedangnya. Fidel melihat ke arah prajurit tersebut dengan pandangan tak terima. Prang .... Lagi-lagi suara perisai dan pedang dijatuhkan terdengar.
Satu per satu prajurit mulai menjatuhkan senjatanya. Bahkan, para pemanah ikut melakukan hal yang serupa. Para raja melihta kejatuhan mental para prajurit dengan sangat kesal, namun mereka sangat paham mengapa mental dan semangat juang para prajurit bisa hancur lebur.
"Apa tak ada cara lain?!" ucap kesal Ratu Cleo gigit jari. "Sosok itu ... dia benar-benar di luar akal sehat manusia!"
Suara senjata dijatuhkan semakin menjadi-jadi. Fidel melihat ke sekitarnya seperti seorang anak kecil yang balon kesayangannya dipecahkan. Hatinya hancur, melihat para prajurit yang ia kagumi dahulu, kini nampak seperti bunga yang telah gugur.
Tidak ... kalian tidak bisa melakukan ini! Kalian seorang prajurit, loh! Kalian adalah pedang dan perisai rakyat! Seandainya kalian menjatuhkan senjata kalian ... lantas ... lantas siapa yang akan melindungi mereka?! batin Fidel yang terlalu kecewa. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga telapak tangannya luka berbentuk ujung kukunya.
Ia kemudian melihat ke arah Grant, sosok yang menjadi gurunya. Tubuh Grant gemetaran. Keringat dingin mengalir di tubuhnya. Ia benar-benar kelelahan. Fisik dan mental.
"Guru ...."
Fidel ingin menangis. Ia tak kuat lagi. Ia merasa apa yang telah diperjuangkannya sia-sia. Garda depan telah ia terobos dengan sekuat tenaga bersama dengan gurunya. Namun, kemunculan Kraken seolah-olah mengatakan bahwa ratusan prajurit iblis yang ia terobos tadi hanyalah gerbang awal dari kekalahannya..
Lalu, sosok yang paling ia hormati dan kagumi, terkapar tak berdaya dengan bersimbah darah. Ia tak bisa apa-apa. Jarak yang terlalu jauh, lalu, jika ia ke sana ia bisa apa? Semua pikiran negatif terus memenuhi kepalanya.
"Tenanglah, Fidel. Sampai kapan pun, aku tak akan menyerah," ucap Grant yang tahu perasaan Fidel dan memegang kepala bagian atas Fidel dengan tangan kirinya.
Ucapan lembut Grant di tengah kerasnya medan peperangan membuat Fidel kembali menemukan secercah cahaya harapan di tengah gelapnya gua keputusasaan. Walau hanya secercah, namun itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, ia tahu bahwa ia tak sendirian di medang pertempuran ini.
Fidel mengelap air matanya dengan tangan kanannya.
Di tempat para raja berdiri, Raja Orgulla nampak sedang berpikir dengan sangat serius. Ia benar-benar harus memutar otak, mencari cara agar para prajurit dapat mengangkat senjatanya kembali. Ia tahu bahwa akan sia-sia dan buang-buang tenaga jikalau memikirkan cara untuk membantu Reynald. Karena ia tahu, satu-satunya cara untuk membantu Reynald, adalah dengan tak ikut campur ke dalam urusannya.
Ia, hanya bisa percaya kepada Reynald.
Raja Orgulla mengepalkan tangannya. Raja Erdovarte melihat Raja Orgulla sedang kesulitan dalam mencari jalan keluar, begitu pula dengan Raja Calma dan Ratu Cleo.
Raja Erdovarte kemudian melihat ke arah bawah, ke arah para prajuritnya yang sedang putus asa.
**Informasi tambahan: **tempat para raja dan para petinggi berdiri berada di atas sebuah tebing yang berhadapan langsung dengan pelabuhan/lautan.
Ia menyatukan kedua tangannya di belakang pinggangnya.
"Para Raja Yang Terhormat ..." ucap Raja Erdovarte.
Para raja melihat ke arah Raja Erdovarte.
"Lihatlah mata para prajurit kita."
Para raja melihat ke arah para prajuritnya.
"Apa yang sedang kalian lihat?"
__ADS_1
"Keputusasaan, ketidakberdayaan, kehancuran," jawab Raja Calma.
Ucapan Raja Calma yang seperti putus asa membuat Ratu Cleo naik pitam. "Mungkin para prajuritmu iya, namun tidak dengan para prajuritku!" bantah Ratu Cleo tak terima.
Ia kemudian melihat ke para prajuritnya dengan keoptimisan yang tinggi. Namun, ekspetasi yang terlalu tinggi membuatnya ingin bunuh diri. Semangat juang Raja Calma dan Ratu Cleo mulai menurun, bahkan mereka sempat berlutut putus asa.
"Tidak ... bukan itu yang dimaksud oleh Yang Mulia Erdovarte," ucap Raja Orgulla yang baru menyadari maksud ucapan Raja Erdovarte.
Raja Calma dan Ratu Cleo melihat ke arah Raja Orgulla.
"Lihatlah lagi, dengan lebih baik!"
Raja Calma dan Ratu Cleo melihat lagi ke arah pasukan aliansi, namun kali ini ekspetasi mereka tak terlalu tinggi. Mereka hanya ingin mencari tahu apa yang dimaksud oleh Raja Orgulla.
Dan, mereka menemukannya. Mata yang masih percaya dengan apa yang namanya kemenangan. Mata yang tak kalah dengan terjangan ombak kekalahan. Mata yang seolah-olah berkata, "Aku masih di sini. Aku akan terus berperang hingga meraih kemenangan!"
Sedikit, hanya sedikit. Mereka yang memiliki sorot mata itu hanya sedikit. Bahkan, tak ada satu pun di antara Die Acht Viende kecuali Fidel yang memiliki sorot mata itu.
Lalu, siapa mereka?
Mereka adalah para prajurit yang tahu akan namanya kematian. Mereka adalah para prajurit yang tahu akan apa yang mereka lindungi. Mereka adalah para prajurit yang tahu akan pentingnya kemenangan. Mereka adalah para prajurit, yang percaya pada para pemimpinnya.
"Alessandro, Casimiro, Edmundo ..." ucap Raja Calma yang mengenali prajurit-prajuritnya yang memiliki "mata itu".
"Jabari, Berenike, Khepri ..." ucap Ratu Cleo yang mengenali prajurit-prajurtinya yang memiliki "mata itu".
"Pepatah mengatakan bahwa di kala tersulit, akan muncul orang-orang terbaik. Nampaknya, pepatah itu benar adanya," ucap Raja Erdovarte yang kemudian tersenyum lebar hingga menutup kedua matanya.
"Confiar!" panggil Raja Calma.
"Kumpulkan pasukan yang masih bisa bertarung, lalu ikuti aku!" ucap Raja Calma.
"A-akan ke mana Anda, Yang Mulia ...?" tanya Confiar.
"Turun ke medan perang." Raja Calma berdiri, merapikan dan membersihkan pakaiannya.
Ucapan Raja Calma membuat merinding para raja dan para petinggi. Sosok yang sejak tadi pasif, ragu-ragu, kini juga memiliki "mata itu".
"Tapi, Yang Mulia-!" jawab Confiar.
"Tenanglah, Confiar, aku akan menemaninya," ucap Raja Orgulla dengan melirik ke arah Confiar.
Confiar bingung harus merespons apa. Risiko untuk membiarkan dua raja turun langsung ke medan pertempuran yang 99% prajuritnya telah hancur mentalnya, adalah hal yang sangat-sangat berisiko.
"Apa yang kau ragukan, Confiar? Tiga ... tidak, empat raja telah membuat keputusan dan kau masih saja tak mau mematuhi?" ucap Ratu Cleo yang kembali berdiri.
"Empat ...?" Confiar melihat ke arah Raja Erdovarte.
Raja Erdovarte membalas dengan senyuman.
Confiar tak bisa lagi mengelak. Ia hanya bisa mematuhi apa yang telah diputuskan oleh para pemimpin. Ia berlutut dengan tangan kanan di dada kiri.
__ADS_1
"Baiklah, akan segera saya kumpulkan," ucap Confiar yang sebenarnya berberat hati. Namun, di satu sisi, ia senang. Karena apa yang dilakukan oleh para raja, adalah apa yang menjadi harapan terakhirnya.
Hal yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia belum tumbang seperti para prajurit dan para petinggi lainnya.
Para raja menaiki kudanya masing-masing. Karisma yang sangat kuat mereka keluarkan. Seandainya mereka ada di medan pertempuran biasa, maka semangat para prajurit akan meningkat dengan sangat drastis.
Confiar memimpin dengan kudanya di depan, diikuti oleh para raja dari belakang. Kuda dipacu memasuki medan pertempuran.
"Tuan Confiar, Anda fokus saja dengan apa yang ada di depan, kami akan mengawal Para Raja dari belakang!" ucap seseorang yang itba-tiba muncul dari belakang.
Confiar mengenal baik suara itu.
"Felipe, Guinan ... ya, aku percayakan sisi belakang pada kalian!"
"Terima kasih, Tuan Confiar!" jawab Felipe dan Guinan dengan kompak.
Kuda dipacu dengan lebih cepat. Semakin dalam mereka memasuki medan pertempuran, semakin banyak pula mereka berjumpa dengan orang-orang yang masih memiliki semangat juang untuk berperang.
Yang awalnya hanya ada lima orang, kini telah berjumlah tiga belas orang. Perjalanan menuju ke barisan terdepan pasukan aliansi tidaklah mulus. Mereka beberapa kali dihambat oleh para iblis yang entah mengapa tak menyerang para prajurit yang telah putus asa.
Para prajurit iblis memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dari pasukan para raja (tiga belas orang yang masih dapat bertarung), membuat langkah demi langkah pasukan para raja semakin melambat. Hingga akhirnya, pasukan para raja diharuskan berhenti karena terkepung dari berbagai arah.
"Confiar, tukar posisi!" ucap Ratu Cleo.
Confiar mundur, bertukar posisi dengan Ratu Cleo. Ratu Cleo berada di barisan paling depan pasukan para raja.
"Wahai Dewa Matahari yang mampu menerangi dua belas dunia, aku memohon kepada-Mu, berikan hamba kekuatan yang mampu menembus segalanya. Padmaker!" ucap Ratu Cleo mengarahkan tongkat sihirnya ke arah depan.
Dari ujung tongkatnya, sebuah bola cahaya yang kemudian ditembakkan seperti sebuah kamehameha namun berwarna kuning matahari.
Para iblis yang ada di jalur bola cahaya hangus dan lenyap seketika.
"Ikuti aku!" ucap Ratu Cleo yang kemudian memacu kudanya diikuti oleh pasukan para raja.
Di saat pasukan para raja mulai bangkit, Reynald masih terkapar tak berdaya. Vlagilles menatap rendah Reynald. Ia merasa kecewa karena kesenangannya berakhir dengan sangat cepat. Ia juga kecewa karena sosok yang di hadapinya tak memenuhi ekspetasinya.
"Yang Terpilih? Apa mereka benar-benar memberikan julukan itu padamu? Jangan bercanda. Ke mana kekuatanmu yang sebelumnya?" hina Vlagilles. "Buang-buang waktu. Lebih baik aku akhiri perang ini." Vlagilles mengibaskan jubahnya ke arah Reynald lalu membalikkan badannya ke arah pasukan aliansi. Ia sedikit berjalan ke depan, berada di tepi tebing.
Vlagilles mengangkat tangan kanannya ke depan dengan telapak tangan terbuka.
"Darkness: Thousand Darkness Spears of Death."
Dari belakang Vlagilles, dari atas belakang Vlagiles, dari samping belakang Vlagilles, lingkaran sihir berwarna hitam yang tak terhitung jumlahnya muncul.
"Matilah."
Srok!
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1