
"REYNALD! Aku datang terakhir karena disengaja. Lihatlah hadiah yang aku bawa untukmu, lebih besar daripada yang lain, bukan?!" ucap Ratu Cleo yang berhadapan dengan Reynald namun masih duduk di singgahsananya.
"Te-terima kasih, Ratu Cleo. Kedatangan yang begitu mencolok serta hadiah yang sebesar ini, hanya Anda yang bisa melakukannya." Reynald sedikit menahan malu karena tak enak dengan tamu yang lain.
"Hm, hm, hm! Mulutmu memang selalu berkata fakta dan kebenarannya!" ucap Ratu Cleo berbangga diri.
Para tamu yang semula melihat rombongan orang yang datang dengan tergeleng-geleng tak percaya ada orang yang sekejam itu, menjadi terpukau dan mewajarkannya. Reynaldl yang melihat perubahan reaksi dari orang-orang di sekitarnya menjadi sedikit kebingungan.
"Reynald, sepertinya kamu baru menyadarinya," bisik Raja Orgulla yang baru datang menghampiri.
"Benar, Yang Mulia. Saya pernah baca bahwa kecantikan Ratu Cleo tiada tara, dan saya tahu itu ketika pertama kali melihatnya. Namun, saya tak pernah menyangka bahwa pesonanya sekuat ini hingga membuat orang-orang seperti terhipnotis akan kecantikannya."
"Hm, hm, aku mengerti maksudmu. Seandainya Raja Erdovarte tidak melapisi para petinggi dan prajurit dengan sihir penangkal, maka mereka hanya akan fokus akan dirinya (Ratu Cleo)."
Heh? Sihir penangkal? Hanya untuk mengatasi kecantikan Ratu Cleo?! batin Reynald yang terkejut.
"Tapi, kecantikannya tak akan mempan untuk kita yang memiliki kesadaran tingkat tinggi."
Reynald mengangguk paham.
"Tuan Reynald," ucap Fidel yang kemudian mengingatkan bahwa acara akan segera dimulai.
***
Reynald berdiri dengan gugup di samping Pendeta Tertinggi. Tangannya tak bisa berhenti ia buka tututpkan. Semua orang yang ada tertawa kecil melihat tingkah lucu Reynald.
"Apa engkau gugup, wahai Pahlawan?" tanya Pendeta Tertinggi.
"A-ah, ya .... Aku tak tahu apa yang membuatku gugup, tapi tangan ini tak bisa berhenti gemetar, hahaha ..." jawab Reynald dengan tertawa kecil.
Pendeta Tertinggi membalas dengan senyuman.
Sebuah karpet berwarna hijau dengan garis putih di pinggirnya yang lurus mengarah ke sebuah gazebo di mana Reynald dan Pendeta Tertinggi berada. Para tamu undangan yang telah hadir, duduk di kursi yang telah disediakan.
Kursi-kursi disusun tepat di samping karpet hijau dan menghadap ke arah gazebo. Gazebo tersebut tak terlalu besar, hanya digunakan untuk pengikraran janji suci antara sepasang pengantin oleh pendeta saja. Sedangkan para tamu undangan berada di sebuah tanah yang lapang yang baru saja dibuat oleh FIdel sehari sebelum hari pernikahan tiba.
Tanah yang lapang dilapisi dengan lantai marmer berwarna putih. Langit-langit ditutupi oleh kain yang sangat besar dan tahan air. Bunga-bunga yang harum nan indah dengan berbagai warna menghiasi tempat pernikahan Reynald dan Lacheln.
Walau terkesan sederhana, namun siapa pun yang melihatnya akan langsung merasa bahwa tempat tersebut sangatlah megah dan mewah.
Ting~ suara bel terdengar. Dua burung merpati muncul dan terbang melalui karpet hijau yang akan dilalui oleh pengantin wanita.
Reynald yang mendengar suara tersebut langsung melihat ke ujung karpet hijau. Ke arah di mana sebuah pintu berwarna putih keemasan muncul.
Pintu terbuka, mengeluarkan bau yang sangat harum dan asap berwarna putih seperti asap dari nitrogen cair. Lacheln, dengan pakaian pengantinnya, menampakkan diri dengan sangat anggun dan cantik. Matanya terpejam, ia dibimbing berjalan oleh Kepala Desa yang muncul bersamanya dari dalam pintu.
Ia berjalan dengan perlan. Tiap tapakan kakinya meninggalkan wangi bunga yang tak akan pudar walau diterpa hujan badai sekali pun. Kecantikannya membuat semua orang sampai melupakan Ratu Cleo. Ia, di hari itu, merupakan wanita tercantik di dunia.
Kepala Desa dan Lacheln telah sampai di depan tangga gazebo. Kepala Desa menyuruh Lacheln untuk membuka matanya. Dengan perlahan-lahan, Lacheln membuka matanya.
Wajah yang pertama kali ia lihat adalah wajah sosok yang dicintainya sedang meneteskan air mata. Lacheln melihat ke arah kakeknya. Kakeknya tersenyum dan mengangguk.
Reynald mengulurkan tangannya, membantu Lacheln menaiki tangga.
__ADS_1
Keduanya berhadapan.
"Reynald ... mengapa kamu menangis?" tanya Lacheln menyeka air mata Reynald.
Reynald tersenyum, memegang tangan Lacheln yang sedang menyeka air matanya.
"Bagaimana mungkin aku tak menangis ketika melihat sosok yang membuat bidadari di surga turun untuk melihat wujud bidadari yang sesungguhnya?"
Ucapan Reynald membuat Lacheln tersipu malu. "Reynald ini ... bisa-bisanya menggombal di saat seperti ini ..." ucap Lacheln yang memalingkan pandangannya.
Reynald tersenyum, begitu pula dengan Lacheln yang melihat kembali ke arah Reynald dan tersenyum. Reynald kemudian melihat ke arah Pendeta Tertinggi dan mengangguk.
Pendeta Tinggi mengangguk.
"Hari ini, kita dikumpulkan di tempat yang penuh dengan kebahagiaan. Sepasang insan yang bertemu dan jatuh cinta, akan mengikrarkan janji seumur hidupnya."
Semua orang yang ada tersenyum haru mendengar hal itu. Apalagi ketika mereka melihat betapa bahagianya Reynald saat ini.
"Lacheln Morinca, Putri dari Prajurit Terhormat Romario, apakah engkau bersedia menjadi seorang istri yang menerima segala kekurangan dan kelebihan, menjaga dan merawat, serta mengikat janji suci sehidup semati?"
"Saya bersedia." Lacheln tersenyum dengan mata berkilap.
"Sonne Reynald Einzel, Pahlawan Thavma, Yang Terpilih, apakah engkau bersedia menjadi seorang suami yang menerima segala kekuarangan dan kelebihan, menjaga dan merawat, serta mengikat janji suci sehidup semati?"
Reynald memejamkan matanya. Segala kenangan yang telah Reynald buat ketika dirinya pertama kali menginjakkan kaki di Thavma hingga saat ini akan mengikat janji suci melintas dengan cepat dan jelas di pikirannya.
Kenangan demi kenangan terus bermunculan. Dan kenangan-kenangan yang terus bermunculan diakhiri dengan sosok gadis yang pertama kali ditemuinya.
"Ah, namaku Lacheln. Namamu siapa?" ucap sang gadis mengulurkan tangan yang tak memegang keranjang.
"Sonne Reynald Einzel, bersedia menjadi pasangan hidup Lacheln Morinca."
Pendeta Tertinggi menganggukkan kepala.
"Ikatlah dua hati kalian dengan sepasang cincin."
Bahkan sebelum Pendeta Tertinggi menyelesaikan ucapannya, Fidel telah berada di dekat Reynald dengan menyodorkan kotak cincin yang telah dipersiapkan.
"Terima kasih."
Fidel mengangguk dan kembali duduk ke kursinya.
Reynald membuka kotak cincinnya. Ia mengambil satu cincin dengan tangan kirinya; menatap ke wajah kekasih hatinya. Lacheln mengangkat tangan kanannya, menjulurkan jari-jarinya.
Dengan tangan kirinya, Reynald memasukkan cincin ke jari manis Lacheln. Sebuah cahaya putih keluar sekilas dari tubuh Lacheln. Walau hanya sekilas, namun semua orang melihat Lacheln seperti mengeluarkan dua sayap di punggungnya.
Lacheln mengambil cincin yang ada di kotak cincin yang sedang dipegang Reynald dengan tangan kanannya. Reynald menutup kotak cincinnya dan memegangnya dengan tangan kiri. Kemudian tangan kanannya ia julurkan.
Lacheln memegang tangan kanan Reynald, lalu memasukkan cincin yang dipegangnya ke jari manis Reynald.
Para tamu undangan tersenyum gemas dan senang. Mata para tamu undangan berkaca-kaca, bahkan tak sedikit yang menyeka dengan sebuah tangan atau sapu tangan.
"Mulai hari ini, kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Semoga, kebahagiaan selalu menyertai kalian. Silakan mencium pasangan kalian."
__ADS_1
Kedua wajah Reynald dan Lacheln mendekat. Dengan mata yang dipejamkan, bibir keduanya bertemu.
Para tamu undangan langsung berdiri, bersorak, dan bertepuk tangan dengan sangat meriah. Mereka berlomba-lomba memberi ucapan selamat kepada Reynald dan Lacheln. Bahkan, Raja Orgulla sekali pun.
"Reynald, selamat!! Reynald, SELAMAT!! REYNALD!! SELAMATT!!" ucap Raja Orgulla.
Pendeta Tertinggi berjalan pergi menuruni gazebo dengan dikawal oleh Fidel yang terus-menerus menangis bahagia. Mata Fidel dan Yebe bertemu, keduanya menunjukkan ekspresi yang serupa.
Sahabat! Kau memanglah sahabatku! Kau tahu dengan pasti perasaan bahagia ini! batin keduanya.
Piuu! Jeduar!
Sebuah kembang api diluncurkan dan meledak di langit. Walau masih pagi, warna yang muncul dari ledakan masih dapat dilihat dengan jelas.
Reynald merangkul istrinya. Keduanya melihat dengan mesra pertunjukkan yang disuguhkan oleh Felipe dan Gulnan.
Nia tak bisa berhenti menyeka air matanya. Ruhi justru dibuat kerepotan oleh Nia karena ia harus terus-menerus mencari sapu tangan untuk digunakan oleh Nia. Kepala Desa melihat ke langit yang kembang api meledak dengan indahnya.
Romario ... putrimu sudah dewasa. Ia menemukan sosok yang luar biasa. Anakku ... kamu pasti melihatnya, kan? Betapa cantiknya anakmu hari ini ... batin Kepala Desa yang kemudian menyeka air matanya.
Raja Erdovarte tersenyum dengan mata berkilapan. Reynald ... selamat. Selamat.
Ratu Cleo menyuruh para bawahannya untuk berteriak dan bertepuk tangan dengan lebih dan lebih keras lagi.
Raja Calma serasa bernostalgia ketika melihat Reynald dan Lacheln. Ia teringat dengan ketika ia melihat sahabat lamanya, Raja Orgulla mempersunting pujaan hatinya. Betapa cepatnya waktu berlalu .... Reynald, sekali lagi aku ucapkan selamat atas pernikahanmu.
Ruhi yang telah selesai membantu ibunya menyeka air mata karena para warga desa wanita lainnya menggantikan posisinya, langsung berlari menuju ke Reynald dan Lacheln.
Ia menabrakkan tubuhnya ke tengah-tengah Reynald dan Lacheln. Reynald dan Lacheln melihat ke arah Ruhi yang berdiri dengan menahan tangis.
"Ka-Kak Lacheln, Kak Reynald .... Ka-kakak 'kan sudah menikah .... A-apakah itu artinya ... a-apakah artinya ... kakak sudah tak bisa bermain dengan Ruhi ...?"
Reynald dan Lacheln saling melihat satu sama lain. Kedunya tertawa kecil. Ruhi yang polos melihat ke arah keduanya dengan bergantian dan kebingungan.
Reynald berlutut dan mengelus kepala Ruhi. "Tentu saja tidak. Aku adalah kakakmu, jadi, mana mungkin aku meninggalkan adik tersayangku."
Ruhi yang mendengar jawaban tersebut, langsung menarik ingus sekuat-kuatnya. Ia kemudian menyeka air mata yang tersisa dan tersenyum lebar.
Reynald mengulurkan kedua tangannya dan kemudian menggendong Ruhi. Ia dan Lacheln kembali melihat ke langit. Ruhi yang sangat senang dengan kembang api terus menunjuk-nunjuk tiap kembang api yang baru saja meledak.
"Lacheln ...."
Lacheln melihat ke arah Reynald. "Ada apa?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Menjaga hati sampai aku kembali."
Ucapan Reynald membuat Lacheln tersenyum sangat senang. Ia merasa dirinya sangat dihargai oleh Reynald karena Reynald selalu ingat dengan tiap kenangan kecil yang mereka buat walau hanya dalam waktu singkat.
"Ya ... sama-sama." Lacheln tersenyum lebar ke arah Reynald dengan air mata yang turun dengan bahagia.
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!