
DEBAM!
Reynald terpental hingga masuk ke dalam tanah. Senjata yang sangat besar diayunkan seperti sebuah kapas.
"Hanya segini, kah?" ucap Ira dengan menaruh kapak raksasa di pundak kanannya.
Vanidas membuka lebar matanya sekilas.
Deng ....
Reynald tiba-tiba sudah berada di depan wajah Ira. Ira yang terkejut, hendak mengayunkan kapaknya. Namun, serangan dari Reynald terlalu cepat untuk ia tahan. Reynald mengayunkan tangan kanannya tepat di wajah Ira hingga menghancurkan pelindung kepala Ira.
Ira terpental dengan sangat jauh hingga terseret di permukaan laut. Ira yang terpental membuat Ketujuh Dosa Besar terkejut. Vlagilles yang sudah menduga kekuatan Reynald tak terkejut. Di saat yang lain melihat ke arah Ira, Vlagilles menatap lurus ke arah Reynald dengan menyeringai senang.
Reynald mengangkat tangan kirinya yang terbuka ke depan.
Keenam kloning Reynald langsung melesat menyerang Keenam Dosa Besar.
"Oh ... jadi akulah bos utamanya?" ucap Vanidas dengan sedikit tersenyum.
"Entahlah, aku hanya berpikir untuk mengurusmu secara langsung," jawab Reynald yang ikut menyeringai.
Keduanya mengeluarkan auranya masing-masing. Vanidas mengeluarkan aura berwarna merah darah, sedangkan Reynald mengeluarkan aura berwarna putih berpadu hitam.
Vanidas sedikit heran melihat perpaduan warna aura milik Reynald.
"Warna aura itu ... bukankah sangat bertabrakan?"
"Akan kujawab, tapi kau berhutang satu jawaban untukku, bagaimana?"
"Mudah saja, kau pasti bertanya tujuan kami, bukan?"
"Seorang raja memang hebat."
Aura yang memancar kuat dari keduanya langsung menghilang.
"Tujuan kami adalah menghabisimu, Yang Terpilih."
"Mengapa?" Reynald sedikit memicingkan mata.
"Oh, bukankah aku hanya berhutang satu pertanyaan kepadamu?"
Reynald tersenyum. "Yah, baiklah. Sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu."
Vanidas memasang kuping, mendengarkan dengan saksama.
"Aku menguasai sihir dari dua ras yang telah lama menghilang, iblis dan malaikat. Oleh karena itu, aku memiliki dua warna aura yang bertolak belakang."
"Iblis dan malaikat? Hahahaha, memang sudah seharusnya sosok yang terpilih seharusnya memiliki kekuatan sedahsyat itu!" Vanidas tertawa sembari memegang dagu.
__ADS_1
Suasana hening sesaat.
Pasukan Para Raja yang melihat dari bawah tiba-tiba didatangi oleh dua kloning Reynald.
"Yang Mulia sekalian, para prajurit iblis telah selesai dibersihkan," lapor keduanya dengan berlutut di hadapan para raja.
Keempat raja sedikit kebingungan harus merespons apa. Raja Orgulla sedikit melangkah ke depan.
"Terima kasih, Reynald. Selanjutnya, apa yang harus kami lakukan?" ucap Raja Orgulla.
"Selanjutnya, kami akan merapalkan sihir untuk menyadarkan para prajurit dan para petinggi sekalian."
Menyadarkan? batin Pasukan Para Raja.
"Menyadarkan dari apa?" tanya Raja Orgulla.
"Pasukan Aliansi Para Raja berada di dalam sihir ilusi yang membuat mereka pupus harapan lebih dalam daripada jurang terdalam sekali pun. Mereka yang tidak terpengaruh oleh sihir ilusi, disebabkan rasa percaya mereka terhadap suatu hal atau harapan yang lebih besar dari matahari sekali pun."
Para Raja yang mendengar jawaban itu langsung melihat ke arah para bawahannya yang masih sadar. Keempat Raja tersenyum bangga terhadap para bawahannya yang masih sadar.
"Baiklah, terima kasih, Tuan Reynald. Tapi, apakah tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membantumu?" tanya Raja Orgulla.
"... Mohon maaf, Yang Mulia."
Raja Orgulla yang sudah menduga jawaban Reynald hanya bisa tersenyum pasrah.
"Ya, kami berjanji!"
Di tempat yang berbeda, keenam kloning Reynald sudah mulai bertarung dengan keenam Dosa Besar. Masing-masing kloningnya melawan satu Dosa Besar.
Vlagilles yang telah kembali pulih, dengan mudah dihempaskan oleh kloning Reynald hingga menabrak sebuah gunung di tengah laut. "Sialan, kau hanya tiruan tapi berani melawanku?!" ucap Vlagilles kesal yang hampir tertancap di permukaan gunung. Reynald tak menjawab. Wajahnya yang hanya bisa datar membuat Vlagilles semakin kesal.
Dem! Dem! Dem! Dem!
Di tempat lainnya, kloning Reynald terus beradu pukulan dengan Ira. Tiruan ... dia hanya tiruan ... tapi bagaimana dia bisa membuatku kesulitan?! batin Ira yang frustrasi karena kekuatannya disaingi.
Pukulan demi pukulan terus bertemu. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Tinjuan Reynald secara perlahan namun pasti menjadi semakin cepat.
Dak!
Satu tinjuan Reynald mengenai wajah Ira. Satu tinjuan itu, mengubah tempo pertarungan. Dak! Tinjuan kedua berhasil mengenai wajah kanan Ira. Ira mencoba memperkuat dan mempercepat serangannya, tapi hal itu sia-sia di hadapan kloning Reynald.
Dak! Tinjuan ketiga, keempat, kelima, mengenai wajah bagian kanan dan kiri Ira. Ira yang kesal, mengeluarkan auranya yang sangat kuat hingga mampu menghempas kloning Reynald ke belakang.
Di tempat lainnya, setiap serangan dari senjata foil yang digunakan oleh Zindia terus dihindari oleh kloning Reynald.
Mengapa ... seranganku tak ada yang mengenainya?! batin kesal Zindia. Wajah tampannya mulai rusak akibat amarah yang tak sanggup dibendungnya.
"Sialan! Berhenti menghindar dan terimalah seranganku!" bentak Zindia yang kemudian mempercepat serangannya.
__ADS_1
Namun, Reynald dapat menghindari serangan tersebut seperti sedang bermain dengan pemula yang baru saja memegang pedang.
Di tempat lainnya ....
"Bahahaha! Menarik ... sekarang aku mengerti mengapa Vlagilles sampai meminta bantuan kepada kami!" ucap Aptistia yang mengangkat kedua tangannya ke samping, mengeluarkan ribuan bola sihir seukuran bola basket berwarna merah muda di belakangnya. Bola-bola tersebut berjejer membentuk persegi panjang.
"Tapi ... apakah kau bisa bertahan dari serangan kali ini? Hm, hm?" ucap Aptistia tersenyum lebar yang kemudian mengayunkan kedua tangannya ke depan.
Bola-bola sihir satu per satu melesat ke arah kloning Reynald dengan sangat cepat. Kloning Reynald memegang pedang secara vertikal tepat di depan dadanya. Ia kemudian merapalkan "Wahai Dewa Air yang mampu menenangkan ombak setinggi langit, aku mohon kepada-Mu, lindungilah hamba dari segala macam serangan. Dinding tak tertembus, Water Wall!"
Reynald menghunuskan pedangnya ke depan bawah, lalu membantingnya ke atas. Dari bawahnya, air laut naik membentuk sebuah penghalang berbentuk huruf C dengan ukuran yang sangat besar. Tebalnya mampu menelan rumah, tingginya mampu menggapai burung yang sedang terbang, dan lebarnya mampu menutupi sebuah desa.
Bola-bola sihir yang ditembakkan oleh Aptistia tertahan oleh dinding air milik Reynald. Bola-bola tersebut kemudian padam dan memudar hingga akhirnya menghilang sepenuhnya. Aptistia yang terkejut karena serangannya dapat ditahan, menjadi kesal. Senyuman lebar penuh percaya diri dan merendahkan di wajahnya memudar, berubah menjadi wajah penuh kekesalan karena tahu kekuatannya telah dilampaui.
Ia mempercepat ayunan tangan kanan dan kirinya. Bola-bola ia lesatkan dengan lebih cepat, dengan lebih kuat. Namun, dinding air milik Reynald terlalu kuat untuk bola-bola sihirnya.
Ia yang terlalu kesal, mengangkat kedua tangannya ke depan. Jari-jari (kecuali jempol) di kedua tangannya dirapatkan lalu didekatkan. membentuk segetiga namun tak bersentuhan.
"Huuaahhhh!!" teriak Aptistia. Sebuah bola sihir berwarna merah muda yang seukuran bola tenis muncul tak menyentuh di depan segitiga tangan Aptistia.Bola tersebut perlahan-lahan mulai membesar dan semakin membesar.
Hingga akhirnya, ketika bola-bola sihir seukuran basketnya telah habis ia tembakkan, bola sihir yang seukuran tenis miliknya telah menjadi lebih besar daripada sebuah istana.
"Rasakan ini! Darkness: Death Pink!"
Bola itu ia tembakkan. Tak seperti bola-bola sebelumnya, bola miliknya yang sebesar istana melesat dengan tak terlalu cepat.
Kloning Reynald menatap lurus serangan yang mampu menghancurkan sebuah kota dengan mudah.
Di tempat lainnya, Igna dan Avarus bersebelahan.
"Igna, jangan menghalangi kau tahu. Aku bisa tak sengaja memakanmu, loh!" ucap Avarus melihat ke arah dua kloning Reynald dengan air liur yang mengalir.
Igna tak merespons, hanya memandang dua kloning Reynald dengan tajam.
Dengan bersamaan, Igna dan Avarus \melesat dengan sangat cepat ke arah kloning Reynald. Kedua kloning Reynald dengan cepat mengangkat senjatanya, menahan serangan dari Igna dan Avarus.
Kloning Reynald yang menahan Igna mendorong sedikit ke depan, lalu melemaskan tubuhnya dan berputar ke samping dengan bersiap mengayunkan sebuah tendangan. Igna yang terkejut, langsung merespons dengan memutar tubuhnya ke bawah, membuatnya menghadap ke langit.
Kloning Reynald yang telah berputar ke samping, melayangkan tendangan dengan ujung kakinya yang dengan telak mengenai leher bagian sampin Avarus.
Avarus yang melihat serangan dari samping, tak sempat menghindar. Ia kemudian terhempas hingga terseret permukaan laut.
Igna yang melihat rekannya terhempas, sekilas memicingkan matanya kesal. Ia yang berniat memberi serangan balasan, terkejut melihat kloning Reynald yang tadi menghadapi Avarus sudah mengayunkan lengan kanan yang dibentuk siku-siku ke wajahnya.
Siku lengan kanan kloning Reynald, menghajar tepat dada Igna dan membuat Igna terhempas hingga tenggelam ke dalam lautan.
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1