
Srak!
Pedang hitam menembus dada salah seorang prajurit, membunuh sang prajurit seketika. Pedang dicabut oleh sang iblis, membuat darah muncrat dan bercucuran ke mana-mana.
Kekuatan para iblis yang tak diduga, membuat pasukan Aliansi Para Raja kesulitan.
"Pertahankan posisi, rapatkan barisan, dan tetap maju serentak!" teriak seorang petinggi Kerajaan Calma, Confiar.
"YA!!" teriak para prajurit.
Confiar, adalah seorang petinggi militer Kerajaan Calma yang terkenal akan kehebatannya dalam bertahan. Ia adalah kebalikannya Grant. Jikalau Grant adalah tombak yang mampu menembus segala pertahanan, maka Confiar adalah perisai yang mampu menepis segala macam serangan. Orang-orang berandai-andai siapakah di antara kedua jenderal hebat ini yang akan menang jikalau bertarung.
Namun, orang-orang lupa, tentang apa yang akan terjadi jikalau kedua jenderal hebat ini menjalin kerja sama.
Ya, serangan dan pertahanan yang tiada bandingnya!
"Guaagghhh!!" teriak Grant dengan mendorong kuat tombaknya hingga menembus perisai milik prajurit iblis Rediavol.
Sosok iblis yang memiliki mata hijau dengan dua tanduk di kepala, tak kuasa menahan kekuatan seorang Grant. Tombak milik Grant menembus dadanya, membuat darah hijau muncrat keluar dari mulutnya.
Grant menarik tombaknya, lalu ia berteriak, "Kalian ikuti aku! Akan aku bukakan jalan menuju kemenangan!"
"YAAA!!" teriak para prajurit yang semakin terbakar api semangat.
Fidel yang sejak awal perang dimulai selalu berada di samping Grant, benar-benar dibuat kagum dengan sikap kepemimpinan Grant yang mampu membakar semangat juang para prajurit.
Ia berkata di dalam hatinya bahwa ia tak mau kalah. Ia harus menjadi sosok yang lebih hebat dari Grant sehingga ia mampu membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi pengawal pribadi Reynald.
"Wahai Dewa Perang yang selalu memenangkan tiap peperangan, berkahilah senjata hamba dengan kekuatan tak tertandingi-Mu. Tombak penembus perisai, Disjuntor!" teriak Fidel yang kemudian menembus perisai salah seorang prajurit iblis.
Grant yang sedang fokus menembus pertahanan rapat para iblis, dibuat sedikit terkejut karena Fidel mampu menembus perisai iblis.
Perlu diketahui, perisai yang digunakan oleh para iblis memiliki ketebalan, kerapatan, dan kekuatan yang jauh lebih kuat dari perisai biasa. Bahkan, perisai para iblis dikatakan dapat menahan segala macam serangan sihir jarak jauh.
Bagus ... memang harus seperti itu, Fidel! batin Grant yang sangat senang melihat murid didikannya menjadi semakin kuat.
Di sisi lain, Die Acht Viende memimpin pasukan yang ada di sisi kiri Aliansi Para Raja. Mereka dibuat kesulitan dengan kekompakan para iblis yang maju secara bertahap seperti formasi strategi pasukan sparta, Phalanx.
Tombak yang dihunuskan ke depan, disisipkan melalui perisai bundar yang memiliki sedikit celah di salah satu sisinya. Para iblis dapat bertahan sekaligus menyerang di waktu yang bersamaan, di mana hal ini benar-benar merepotkan.
"Sial, apakah tidak ada cara untuk menembus mereka?!" bentak kesal Dumida yang tubuhnya sudah tergores beberapa kali.
"Dumida, jangan gegabah. Kita mundur perlahan, sembari mencari celah!" ucap Bestruger mengarahkan.
"Baik!" jawab Die Acht Viende.
Die Acht Viende dan pasukan aliansi di sisi kiri mundur perlahan, namun berantakan. Bestruger tidak tahu dengan apa yang harus ia lakukan.
Satu per satu prajurit yang menyebar terbunuh. Teriakan demi teriakan kematian terdengar, membuat mental para prajurit semakin turun.
Die Acht Viende yang selama ini belum pernah terjun ke pertempuran sebesar ini, hanya bisa gelagapan.
"Pasukan, buat formasi pertahanan. Yang membawa perisai, majulah ke depan lalu rapatkan barisan. Pemanah, lepaskan serangan kalian bersamaan!"
Komando yang tiba-tiba muncul membuat pasukan di sisi kiri kebingungan, terutama Bestruger. Bestruger dan para anggota Die Acht Viende lainnya melihat ke belakang. Mereka melihat Confiar turun tangan langsung dalam membantu sisi kiri pasukan aliansi.
Para prajurit sempat kebingungan, dua komando berbeda dihantamkan kepada mereka. Bestruger mengecap kesal lirih.
"Apa kalian tidak dengar?! Lakukan apa yang baru saja Tuan Confiar perintahkan!" teriak Bestruger.
"Ba-baik!" jawab para prajurit gugup.
Para prajurit di sisi kiri dengan cepat mematuhi apa yang diperintahkan oleh Confiar.
__ADS_1
Dan hasilnya pun terlihat, para iblis yang sejak tadi berhasil memukul mundur pelan, sekarang tak bisa bergerak maju lebih jauh lagi. Tombak beradu dengan perisai, menahan laju gerak para iblis.
"Pemanah, bersiaplah untuk menembak!" ucap Confiar.
Para pemanah menarik tali panah dan mengarahkannya agak ke atas.
"Wahai Dewa Panah yang anak panah-Nya mampu melesat membelah langit, berkahilah hamba dengan kekuatan anak panah-Mu. Seribu panah, Murtibart" ucap Arstusen dan para pemanah lainnya.
"Tembak!" ucap Confiar.
Ratusan ribu bahkan jutaan anak panah melesat menembus awan gelap.
"Para prajurit di garda depan ..." ucap Confiar.
Anak panah kembali menembus awan. Melesat dengan sangat cepat ke arah para iblis. Seperti hujan deras yang datangnya tiba-tiba, membuat para iblis tak siap menghadapi jutaan anak panah yang mengarah kepada mereka.
"... SERANG!!" sambung Confiar.
"YAA!!" teriak para prajurit dengan menurunkan perisai mereka dan langsung berlari menghujam para iblis yang sedang terpecah konsentrasinya.
Dumida dengan tersenyum senang seperti anak kecil di taman bermain, mengayunkan tombaknya ke sana ke mari. Membuat tubuhnya bermandikan darah hijau para iblis.
Panah telah berhenti turun.
"Para penyihir, gunakan sihir yang mampu menyerang sisi belakang pasukan para iblis!"
Para penyihir mengangguk.
"Wahai Dewa Air yang mampu menenangkan ombak setinggi langit, aku mohon kepada-Mu
untuk memberkahi diri hamba dengan air langitmu. Hujan panah es, Ice Arrow!" ucap Luria, Erchied, dan para penyihir dengan mengarahkan tongkat sihirnya ke langit.
Sebuah lingkaran sihir berwarna biru keputihan dengan ukuran yang hampir setengah dari pasukan iblis yang sedang dihadapi oleh pasukan aliansi sisi kiri muncul.
Hujan es berbentuk panah muncul dari lingkaran sihir tersebut. Membuat para iblis semakin ke bingungan karena mendapat serangan dari dua arah.
Srok!
Belati para Assassin dengan mudah melintas di leher para iblis penyihir.
Permasalahan yang ada pada sisi kiri pasukan aliansi telah mereda. Sedangkan di sisi depan dan kanan, pasukan aliansi berhasil mendominasi jalannya pertempuran.
Ketika area pertempuran antara pasukan aliansi dengan para iblis sedang memanas, Reynald dan Sosok Hitam belum bergerak sedikit pun.
Suasana hening namun dingin menyelimuti tempat Reynald dan Sosok Hitam berhadapan. Seandainya orang biasa berada di tempat tersebut, maka orang tersebut akan pingsan seketika.
Mental Reynald sedang diuji oleh Sosok Hitam.
"Yang Terpilih ... atau apa pun panggilanmu," ucap Sosok Hitam yang turun secara perlahan, berhadapan dengan Reynald dengan jarak yang cukup jauh dengan posisi Sosok Hitam yang sedikit terapung di udara.
"Dan kau ... adalah sosok yang muncul dalam penyerangan Kerajaan Vanidas 10 tahun yang lalu."
"Ahahaha, jangan engkau sebut itu sebagai penyerangan!" ucap Sosok Hitam dengan sedikit tertawa. Reynald sedikit memicingkan matanya. "Hari itu lebih pantas disebut sebagai pembantaian. Mereka benar-benar tak berdaya, kau tahu?" sambung Sosok Hitam yang membuat mata Reynald melotot murka.
Reynald tanpa sadar mengeluarkan aura miliknya yang sangat kuat hingga membuat panggung tempatnya berdiri bahkan tanah di sekitarnya dalam radius 300 meter akan retak.
Aura tersebut sangat kuat hingga membuat para raja dan petinggi kerajaan yang sedang berada di pelabuhan menyadarinya.
"Sudah mulai, ya?" ucap Raja Orgulla.
Para raja dan para petinggi kerajaan menelan ludah. Hanya bisa berharap bahwa Reynald mampu melawan sosok tersebut.
Kembali ke tempat di mana Reynald berada.
__ADS_1
Reynald menghela napasnya, mencoba menenangkan dirinya, membuat aura yang ia keluarkan menjadi surut.
"Wah, wah, wah ... benar-benar aura yang mengerikan," ucap Sosok Hitam menyeringai dengan nada sedikit merendahkan.
"Wahai iblis, jikalau kau memang sekuat itu, lantas apa yang kautunggu selama sepuluh tahun lamanya?" ucap Reynald mengepalkan kuat tangannya.
Sosok Hitam tersenyum.
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya, wahai Yang Terpilih? Dan satu lagi, aku beri kau kehormatan untuk mengetahui nama asliku, toh juga setelah ini engkau akan mati."
Kekesalan, kemarahan, dan rasa ingin membunuh Reynald semakin menjadi-jadi.
"Aku adalah sosok yang agung."
Sosok Hitam memegang dada dengan tangan kanannya.
"Raja dari para iblis yang sangat indah ini. Penguasa dari tanah hitam, Rediavol. Sosok raja iblis pertama dan satu-satunya yang mampu menjawab takdir ramalan untuk seorang raja iblis sejati Aku adalah ...."
Sosok Hitam melebarkan kedua tangan dengan telapak tangan menghadap ke langit.
"... Vlagilles Arsvutin IX."
Aura hitam menggelegar keluar dari tubuh Vlagilles. Aura tersebut sangat kuat hingga mampu membuat tanah di sekitarnya berubah menjadi warna hitam yang retak dengan aura ungu menyala dari sela-sela retakan tanah hitam.
Aura hitam itu juga terasa sampai ke pelabuhan, membuat tak hanya para prajurit yang sedang berperang merinding gemetar, namun juga raja dan para petinggi kerajaan.
Konsentrasi mereka teralihkan ke arah dari mana aura tersebut berasal.
Para iblis yang juga merasakan aura tersebut bersorak kesenangan, seolah-olah mereka tahu bahwa kemenangan sudah di depan mata.
Sial ... semangat dan mental para prajurit akan turun kalau begini caranya! batin Grant.
Raja Orgulla dengan cepat mencoba merapalkan sihir yang mampu membangkitkan semangat juang para prajurit. Namun, usahanya dibuat sia-sia. Walaupun sihir Bravura bisa ia keluarkan, namun ketakutan para prajurit tetap tak bisa ia hilangkan.
Para petinggi dan para raja gigit jari.
"Wahai Para Prajurit Pemberani, musuh kalian adalah apa yang ada di hadapan kalian. Ingatlah janji yang telah kalian ikrarkan, janji untuk meraih kemenangan!"
Para prajurit mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Orgulla, namun apa yang dikatakan oleh Raja Orgulla sama sekali tak sebanding dengan aura yang dikeluarkan oleh Raja Iblis.
Melihat semangat juang para prajurit yang tak kunjung membaik, Raja Orgulla menyimpulkan satu hal.
"Aku akan turun langsung ke medan perang."
Ucapan Raja Orgulla membuat para raja dan para petinggi lainnya terkejut dan tak terima. Membiarkan seorang raja turun langsung ke peperangan adalah risiko yang sangat tinggi.
Namun ....
"Saya setuju dengan Yang Mulia Orgulla," ucap Confiar yang baru datang dari sisi kiri pasukan aliansi.
"Confiar!" ucap Raja Calma.
"Semangat juang para prajurit dihancurkan dengan mudah oleh aura Raja Iblis. Seandainya Yang Mulia Orgulla, yang mana dijuluki sebagai Manusia dan Raja Terkuat turun tangan langsung, maka ada kemungkinan untuk mengembalikan semangat juang para prajurit walau hanya sepersekian persen."
Ucapan Confiar memang benar, namun tetap saja, membiarkan seorang raja untuk turun langsung adalah hal yang gegabah. Terutama ketika pasukan aliansi belum tahu tentang jumlah pasti dari pasukan para iblis.
Ketika para raja dan para petinggi sedang berdebat mengenai keputusan yang ingin diambil oleh Raja Orgulla, tiba-tiba tanah yang mereka pijaki bergemuruh.
"Sekarang apalagi ...?" ucap Raja Orgulla menatap ke arah laut.
Ombak di laut bergerak dengan tak wajar. Warna dari air laut pun berubah kehitaman. Langit yang semula hanya mendung tiba-tiba menyambarkan geledek yang saling balas-membalas.
Dari dalam air laut, muncul sesosok makhluk dengan ukuran di luar nalar manusia.
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!