Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 28 - Wadah Baru


__ADS_3

Di malam yang sama dengan hari ketika sang Tuan Putri bertemu kembali dengan ayahnya, Reynald berdiri di balkon kamarnya, menatapi langit malam yang saat itu bulan dan bintang dengan indah menghiasi.


Suara pintu diketuk terdengar. Reynald melihat ke belakang dan berkata, "Silakan."


Pintu dibuka. Pelayan wanita membuka pintu, kemudian membungkuk dan menyingkir dari hadapan Reynald. Tuan Putri berdiri di depan pintu.


"Tuan Putri!" ucap Reynald terkejut dan langsung bergegas ke hadapan Tuan Putri dan hendak berlutut.


"Tu-Tuan Reynald, Anda tak perlu berlutut!" ucap Tuan Putri gugup dengan memegang pundak Reynald, mencegah Reynald untuk berlutut.


Reynald yang sedikit canggung menjawab, "Ba-baiklah ... saya mengerti." Reynald kembali berdiri, berhadapan dengan sang Tuan Putri. Tuan Putri memberi isyarat kepada pelayan wanita. Pelayan wanita pergi meninggalkan Reynald dan Tuan Putri sendirian.


Pintu ditutup dari luar.


"Ada apa sehingga Anda menemui saya di waktu malam seperti ini?" tanya Reynald.


"Sudah kubilang, bukan. Panggil saja aku dengan namaku. Dan juga, tak perlu formal kalau berbicara denganku!" ucap Tuan Putri yang sedikit ngambek.


"Ba-baiklah ... maafkan saya, Putri Isadora."


Isadora menatap mata Reynald dengan cemberut, lalu memalingkan wajah dengan berkata, "Hmph!"


"... Saya mengerti ... Isadora."


Isadora masih tak mau melihat ke arah Reynald.


"Hah ... aku mengerti, Isadora."


Isadora tersenyum dan melihat kembali ke arah Reynald. "Nah, begitu dong!"


"Jadi, ada hal penting apa sehingga membuat Isadora menemui seorang Reynald?"


"Tak ada. Aku cuma mau bertemu denganmu saja, hehe." Isadora tersenyum lebar. Reynald membalas dengan wajah sedikit kebingungan.


"Oh, ayolah ... tak semua pertemuan itu harus merupakan hal yang penting. Apa kamu tak pernah punya teman?" ucap Isadora sedikit keheranan dan kesal melihat respons kikuk Reynald.


Reynald memalingkan wajahnya, bersiul canggung nan gugup.


Heh ...? Dia ... benar-benar tak pernah punya teman ...? batin Isadora. "Ekhem, kalau begitu ... uhm ... yah ... karena kau ... karena kau sudah menyelamatkanku dan juga tak punya seorang teman ... jadi ya ... anu ...." Isadora malu untuk mengatakan niat sesungguhnya. Ia memutar-mutar ujung rambutnya. Wajah merahnya menjadi bukti nyata betapa malunya ia saat itu.


Reynald mengerti akan mengarah ke mana pembicaraan ini. Ia tersenyum kemudian berkata, "Isadora, mari kita berteman." Reynald mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.


Isadora sedikit terkejut karena Reynald tahu apa yang ia inginkan. Ia sempat sangat senang hingga senyumannya melebar. Namun, dengan cepat ia menggelengkan kepala dan menutup-nutupi senyumannya.


"Ka-karena kau tak punya te-teman ... makannya aku mau be-berteman denganmu. Jadi, jangan salah sangka, ya!" ucap Isadora yang kemudian menjabati tangan Reynald walau gemetaran.


Tsundere ... batin Reynald dengan tersenyum.


***


"Heh ... jadi kamu sudah punya tunangan ..." ucap Isadora yang berdiri bersebelahan dengan Reynald di balkon kamar Reynald.


"Ya, dan besok juga menjadi hari terakhirku di kerajaan ini."


"Me-mengapa harus terburu-buru sekali? Aku tahu kamu sudah punya tunangan, tapi tak bisakah tetap di sini untuk sesaat? Maksudku ... aku baru saja dapat kembali ke kerajaan ini, dan aku juga baru mendapatkan teman baru ...."


Heh? Ke mana hilangnya sifat malu-malu tadi?


Isadora kemudian sadar bahwa ia terlalu blak-blakan. Ia menyilangkan tangannya dan berkata, "Ma-ma-maksudku, kau 'kan baru saja melawan banyak musuh kuat. Te-tentu saja butuh istirahat yang banyak, bukan? Te-teman ... a-aku punya banyak teman, ja-jadi aku tak akan kesepian!"


Ini dia kembali ... tapi ada beberapa hal yang bocor ....


"Isadora ... terima kasih. Tapi ada banyak hal yang masih harus aku lakukan. Nanti, ketika ada waktu, aku akan mengunjungimu lagi."

__ADS_1


Isadora tersenyum mendengar ucapan Reynald. "Akan kuanggap itu sebagai sebuah sumpah. Kau keberatan?"


"Tidak, hahaha."


Keesokan harinya. Keempat raja beserta para petinggi kerajaan berkumpul di aula Kerajaan Orgulla. Keempat raja duduk berdampingan di hadapan para petinggi kerajaan. Raja Orgulla di atas singgahsananya, ketiga raja lain duduk dengan kursi mewah yang mendekati sebuah singgahsana.


"Telah ada banyak hal yang kita lalui bersama dalam waktu yang sesingkat ini. Dongeng menaklukkan Para Iblis Tanah Hitam telah kita wujudkan. Impian kita semua telah kita gapai. Sudah tak ada lagi alasan yang jelas untuk aliansi ini tetap terbentuk," ucap Raja Orgulla.


Reaksi dari para petinggi sedikit tak menyenangkan. Para petinggi seperti sangat menyangkan jikalau aliansi yang sudah dibangun dengan susah payah ini dibubarkan begitu saja. Meski begitu, mereka hanya bisa mengikuti keputusan dari rajanya masing-masing. Mereka juga mengingat jelas bahwa tujuan dari aliansi ini adalah membantu Yang Terpilih menaklukkan Rediavol.


Namun, ada beberapa hal yang tak diketahui oleh para petinggi kerajaan. Raja Orgulla dan ketiga raja lainnya sudah menyiapkan sebuah rencana.


"Oleh karena itu, kita membutuhkan sebuah wadah yang baru. Sebuah wadah yang memiliki tujuan yang baru, sebuah wadah yang mampu mengikat jiwa persatuan kita."


Ucapan Raja Calma membuat para petinggi kerajaan terkejut. Mata yang melebar dengan pikiran yang menerka-nerka. Jangan bilang Anda dan ketiga raja lainnya ....


Raja Orgulla bersama ketiga raja lainnya berdiri serentak dari tempat duduknya.


"Dan setelah berunding semalaman, kami menemukan kesepakatan bersama. Sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan, tak mengedepankan ego, dan yang terpenting ... tetap menjaga apa yang telah kita buat selama ini," ucap Raja Erdovarte.


Mendengar hal itu, semangat para petinggi kerajaan menggebu-gebu. Terkaan mereka semakin mendekati kenyataan. Mereka dengan sigap mencari gelas bagi yang belum memegang gelas. Dengan mata yang terbakar api semangat, para petinggi telah bersiap untuk mengangkat gelas mereka masing-masing.


"Aliansi yang dilahirkan dari sebuah kemenangan, Victoria!" Ratu Cleo mengangkat gelas bersamaan dengan ketiga raja lainnya.


"YAA!!" teriak Para Petinggi Kerajaan dengan sangat bersamaan. "HIDUP ALIANSI VICTORIA!"


"HIDUP YANG MULIA ...."


Para petinggi menyebutkan nama yang berbeda. Orgulla, Calma, Cleo, dan Erdovarte disebutkan secara bersamaan. Membuat suasana yang sempat meriah menjadi hening penuh kecanggungan.


"Ya ... kita harus mulai memikirkan hal-hal yang seperti ini ..." ucap Raja Calma diikuti tawa kecil dari Raja Erdovarte dan Raja Orgulla serta helaan napas Ratu Cleo.


Pesta perayaan dengan cepat langsung dipersiapkan sehingga malamnya dapat langsung dimulai. Kabar mengenai terjalinnya Aliansi Victoria pun disebarkan dengan cepat ke seluruh penjuru kota. Para penduduk yang sangat senang dan menyambut hangat aliansi tersebut, langsung menghentikan kegiatan mereka dan bahu membahu untuk menggelar pesta yang sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya.


Di dalam sebuah gazebo yang berada di tengah taman kerajaan, Isadora dengan semangat menunjukkan foto-foto lama keluarganya. Dua orang pelayan mendampingi Reynald dan Isadora, berdiri di sebalah troli pelayan, tepat di dekat


"Ya, itu adalah ayahku ketika masih muda dulu! Dan di sebelahnya adalah ibuku. Oh ya, yang membawa tombak ini adalah Paman Halcon," ucap Isadora menunjukkan album fotonya.


"Paman Halcon ...?" tanya Reynald kebingungan.


"Oh, maksudku Raja Calma. Nama asli dia adalah Halcon," jawab Isadora dengan sedikit malu karena keceplosan.


Dari kejauhan, Fidel melihat Reynald yang sedang "bermesraan" dengan Isadora. Ia sebenarnya tidak enak hati untuk mengganggu momen tersebut, namun apalah daya pesan dari Raja Erdovarte harus disampaikan.


Ia pun menghampiri Reynald dan Isadora.


"Tuan Reynald, mohon maaf mengganggu waktunya."


"Hm, ada apa, Fidel?"


"Yang Mulia Erdovarte meminta Anda untuk menemuinya di dalam ruang pribadi Raja Orgulla."


"Oh, baiklah. Isadora, aku ada panggilan dari raja. Nanti tolong ceritakan lebih banyak lagi, ya!"


"A-ah ... baiklah ..." jawab Isadora mencoba menyembunyikan kekecewaannya. Ia berpura-pura tersenyum walau terlihat jelas senyumnya kaku. Saking jelasnya, Reynald dan orang-orang yang ada di tempat tersebut membatin "Benar-benar dipaksakan ...."


Isadora, walaupun usianya mulai memasuki masa dewasa, namun minimnya komunikasi dan tak adanya teman sebaya selama 10 tahun membuat dirinya menjadi sosok yang tak terlalu pandai berkomunikasi. Ia pun tak bisa menyembunyikan kebohongan. Ketika dirinya mau berbohong, maka ia akan menampilkan wajah yang serupa dengan anak kecil usia 7 tahun ketika berbohong.


Reynald pun pergi meninggalkan gazebo bersama dengan Fidel. Isadora menyandarkan kepalanya ke atas meja; memandang Reynald dari kejauhan dengan hati yang penuh dengan tanda tanya.


"Tuan Putri, saya menyarankan Anda untuk lebih jujur pada perasaan Anda. Sosok sepertinya bukanlah sosok yang dapat Anda temui berkali-kali. Bahkan, jikalau Anda dapat bertemu dengan sosok yang sepertinya sekali lagi saja, maka Anda sudah sangat beruntung," ucap Pelayan Wanita secara tiba-tiba.


Isadora yang mendengar hal itu langsung menegapkan kembali tubuhnya dengan malu-malu. "A-a-a-apa maksudmu?!" ucap Isadora melihat ke arah Pelayan Wanita yang baru saja berbicara.

__ADS_1


"Dan kalau boleh menambahkan, wajah Anda tadi terlalu jelas. Bahkan Tuan Reynald pun saya yakin menyadarinya. Oleh karena itu, seperti yang tadi sudah disampaikan, Tuan Putri ... mengapa Anda tidak jujur pada perasaan Anda?" ucap Pelayan Wanita yang lainnya.


Isadora melihat ke Pelayan Wanita lainnya. Ia melihat keduanya memang serius dalam memberi saran.


"A-akan aku pertimbangkan ..." jawab Isadora memalingkan wajahnya dengan malu.


Kedua pelayan tersenyum gemas melihat tingkah lucu nan manis Isadora. "Terima kasih, Tuan Putri," ucap kedua Pelayan serentak.


Isadora sedikit menukuk dengan kedua tangan yang memegang dadanya. Ia merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Apa yang harus aku lakukan ...? Bukankah Reynald sudah memiliki tunangan? Aku tak ingin merusak hubungan itu ....


Di dalam ruang pribadi Raja Orgulla, keempat raja telah duduk seperti sudah menunggu Reynald dari seribu tahun yang lalu.


"Jadi ... ada apa, Yang Mulia?" tanya Reynald yang duduk dengan canggung.


Keempat raja terutama Raja Orgulla menatap Reynald seolah-olah berkata "Dari mana saja kau? Mengapa bisa kau menghilang di saat yang sangat penting?"


Reynald yang merasa ada hal besar yang ia lewatkan, dengan sedikit gagap bertanya. "A-apakah saya melewatkan sesuatu?"


Raja Orgulla berdiri. "Sesuatu katamu?! Kita baru saja membentuk aliansi dan bisa-bisanya kau tak ada di tempat?!" bentak Raja Orgulla.


Reynald melirik ke sekitar. Ia hanya melihat Raja Calma dan Ratu Cleo setuju dengan ucapan Raja Orgulla. Sementara Raja Erdovarte hanya tersenyum dengan sedikit menahan tawa


"Sebaiknya engkau memiliki alasan yang bagus, wahai Yang Ter-pi-lih." Raja Orgulla mendekatkan wajahnya dengan tatapan tajam.


"Ke-ketika saya hendak menuju ke aula kerajaan, tiba-tiba Tuan Putri Isadora menarik sata, Ia berkata bahwa ia telah mendapat izin dari Anda untuk menghabiskan waktu bersamanya."


"Oh, kalau begitu tak apa," jawab cepat Raja Orgulla yang langsung duduk dan menerima alasan Reynald tanpa ada protes sekecil pun.


Tak ada harapan ... benar-benar tak ada harapan ... batin Raja Calma dan Ratu Cleo melihat sikap Raja Orgulla yang tiba-tiba berubah drastis.


"Wahai Yang Mulia sekalian, bagaimana kalau kita langsung ke inti pembicaraannya saja?" ucap Raja Erdovarte.


Ketiga raja lainnya saling melihat satu sama lain. Reynald yang merasakan perubahan suasana secara drastis, langsung tahu bahwa akan ada sebuah pemberitahuan penting yang akan disampaikan oleh keempat raja yang ada di hadapannya.


"Yang pertama, seperti yang sudah kita bicarakan kemarin, keempat kerajaan yang tergabung dalam Aliansi Para Raja sepakat membentuk Aliansi Victoria. Namun, nampaknya ada beberapa pihak yang tak senang dengan keputusan tersebut," ucap Raja Orgulla.


"Selain itu, kami tadi sudah mencoba untuk menghubungi kerajaan-kerajaan yang ada di Benua Sievaria. Namun, tak ada respons yang kami terima dari mereka," ucap Raja Calma.


"Para Pengecut Brengsek itu ... ke mana taringnya kemarin? Tiba-tiba jadi pengecut yang bahkan anjing pun ogah makan daging busuk mereka!" ucap ketus Ratu Cleo yang kesal.


Ucapan keras Ratu Cleo membuat Reynald sedikit terperangah. Ia melihat ke arah tiga raja lainnya dan ketiga raja lainnya memalingkan wajah dengan serentak.


Raja-raja ini ....


"Ekhem, kembali ke intinya. Tidak bisanya dikontak para raja dari kerajaan-kerajaan yang ada di benua membuat kami berspekulasi ada sesuatu yang salah." ucap Raja Orgulla.


"Sesuatu yang salah?" tanya Reynald.


"Mungkin bukan sesuatu yang salah, namun lebih ke sesuatu yang dalam waktu singkat ini tidak kita ketahui. Seperti yang kamu ketahui, para raja yang tak tergabung dalam aliansi diusir oleh secara kasar oleh Ratu Cleo, bukan?" ucap Raja Calma.


"Hey!" ucap Ratu Cleo memukul meja. Raja Calma sedikit tertegun dan menjadi gugup. Raja Orgulla menahan tawa sementara Raja Erdovarte tertawa kecil melihat tingkah Raja Calma dan Ratu Cleo.


"Apa yang kami ingin sampaikan adalah, berhati-hatilah, Nak Reynald. Kita tak tahu sedang ada apa di luar sana. Kita memang telah berbuat sesuatu yang luar biasa. Dan kamu menjadi aktor utamanya. Sudah pasti akan ada pihak yang tak menyenanginya. Dan yang jadi masalah adalah, kita belum tahu 'pihak' tersebut," ucap Raja Erdovarte.


Reynald yang belum begitu paham dengan politik; mengangguk mencoba mengingat pesan yang disampaikan oleh Raja Erdovarte.


"Dan satu hal lagi ... ini mungkin sedikit mengejutkan untukmu," ucap Raja Erdovarte.


"Apakah itu, Yang Mulia?" tanya Reynald.


"Malam ini kita akan berpesta!" ucap Raja Orgulla dengan tersenyum lebar.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2