
Apakah aku melakukan kesalahan?
Seorang pria memukul pipi kanan Reynald yang matanya ditutup serta tangan dan kakinya diikat mati.
Apakah aku berbuat sesuatu yang tak benar?
"Apanya yang pahlawan? Dipukul kayak gini aja kesakitan, sok-sokan ngomong ngalahin iblis!" ucap pria lainnya dengan memukul pipi kanan Reynald.
Tawa pecah setelah hinaan itu. Sebuah tawa besar yang seperti telah menunggu momen ini dari waktu yang lama.
Aku tak bisa melihat ... tapi aku tahu aku sedang dirundung.
Seorang pria lainnya menendang telak perut Reynald. Reynald akan terjatuh ke depan, tapi seseorang memegangnya dari belakang; membuat tubuhnya tak bisa terjatuh walau dihajar berkali-kali.
"Tenanglah kalian. Aku tahu tugas kita adalah memastikannya mati, tapi jangan disiksa seperti itu juga, dong .... Bukankah dia pahlawan umat manusia?" ucap seseorang dengan nada mengejek.
Kecepatan angin yang berembus ....
Tawa kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, bahkan ayunan pentungan kayu dilayangkan kepadanya hingga tak terhitung jumlahnya.
Suara ombak air laut yang saling bertabrakan ....
Kepala yang bocor, darah yang tak berhenti mengalir dari pelipis, gigi yang terlepas, serta wajah, badan, dan kaki yang biru memar. Seperti anak kecil yang sedang hujan-hujanan, tubuh Reynald bermandikan darah. Mereka terus menghantam Reynald seperti seorang anak kecil memukul pinata di hari ulang tahunnya.
Aku sudah berada di laut .... Grant ... apa maksud semua ini ...?
"Baiklah, para awak kapalku! Mari kita mulai eksekusinya!" ucap Kapten Kapal.
Eksekusi ...?
Reynald berada di atas geladak kapal, tepatnya berada di pinggiran kapal dan sedang berhadapan langsung dengan laut. Hanya ada satu penghalang, yaitu sebuah pembatas kayu yang memang didesain untuk melindungi awak kapal agar tak terjatuh ke laut.
"Tuan Pahlawan, apakah ada kata-kata terakhir?" tanya Kapten Kapal.
"Percuma saja, Bos! Mulut dia 'kan Anda sumpal dengan kain yang sehabis mengelap muntah! Dan lagi, apakah dia bisa berbicara dengan luka sebanyak itu, hahaha!"
Semua orang tertawa, tak terkecuali Kapten Kapal.
"Bahahaha! Aku hanya mencoba formalitas. Hah ... lemparkan langsung dia ke laut! Kasih makan hiu-hiu yang sudah menunggunya di bawah!"
Hiu-hiu ...?
Sekumpulan hiu berenang berputar menunggu makanan mereka datang. Hiu-hiu itu seolah-olah sudah terlatih untuk memangsa makhluk atau benda apa pun yang dijatuhkan dari kapal.
Tubuh Reynald diangkat oleh dua orang. Ia kemudian didorong hingga terjatuh ke laut.
"Selamat tinggal, Tuan Pahlawan~ Semoga harimu menyenangkan!" ucap Kapten Kapal diikuti lambaian tangan mengejek darinya dan awak kapalnya.
Byur!
Reynald tenggelam ke dalamnya lautan. Hiu-hiu yang sejak tadi sudah menunggunya, langsung berebut untuk memakannya. Darah yang terus-menerus keluar dari tubuhnya, membuat para hiu menjadi semakin dan semakin buas.
Air yang masuk ke dalam lubang hidungku .... Air yang membuat sesak napasku .... Berbeda dengan saat melawan Tujuh Dosa Besar, kali ini ... adalah laut yang sesungguhnya.
__ADS_1
Reynald yang tubuhnya diikat tak bisa melakukan apa-a
Apa yang sebenarnya terjadi ...? Mengapa aku tiba-tiba aku sudah ada di atas kapal? Mengapa aku diikat seperti seorang penjahat perang? Lalu eksekusi ... apakah aku melakukan hal yang salah? Dan Grant ... mengapa?
Kesadaran Reynald mulai menghilang. Daya pikirnya semakin menurun.
Sakit ... ini sungguh sakit. Apakah aku akan mati? Sebelum dapat memberi nama pada anakku? Tidak ... aku harus kembali. Aku ... sudah berjanji. Aku ingin kembali. Aku ingin memeluk Lacheln ... lalu tertawa bersamanya ketika menggendong buah hati kami .... Aku, ingin kembali ke rumah.
Air laut mulai memasuki tubuh Reynald, menyiksa pelan Reynald dari dalam. Luka yang terbuka membuat darahnya semakin menipis.
Lacheln ... aku minta maaf. Sepertinya, kali ini aku tak bisa menepati janjiku ....
Mata Reynald mulai terkatup.
"Tuan Reynald!"
Suara yang tak asing di telinganya tiba-tiba terdengar. Reynald tersenyum mendengar suara itu.
Suara ini ... Fidel, ya .... Tak pernah kusangka kau akan jadi suara terakhir yang kudengar ....
"Tuan Reynald, Tuan Reynald!"
Aku bisa mendengarmu, tapi aku tak bisa membalas panggilanmu. Oh ya, kalau diingat-ingat, lucu juga ya .... Bagaimana kita bertemu di awal, bagaimana kita menjadi teman dekat, bagaimana kamu menjadi tangan kananku ... hingga sekarang ... kamu menjadi suara terakhir yang aku dengar.
Reynald tiba-tiba merasa seperti ada yang memegang tubuhnya. Memeluknya dengan satu tangan dan mencoba membawanya naik ke permukaan.
Apa ... yang terjadi? Seseorang mencoba membawaku naik ke permukaan ...? Tunggu, bukankah seharusnya ada kawanan hiu di sekitarku? Bagaimana dia ....
Aku bisa bernapas lagi?! Apa yang ... apa yang terjadi ...? Suara tadi, suara barusan, orang ini ... apakah ... dia benaran Fidel?
Fidel berenang menembus ombak dengan membawa tubuh tuannya dengan satu tangan menuju ke sebuah pulau tak berpenghuni.
Dengan terpincang-pincang, ia menggendong tubuh tuan di punggungnya dan berjalan melewati pasir pantai. Napasnya terengah-engah, setiap langkahnya menjadi semakin lambat. Setelah berjalan hanya beberapa langkah, ia tersungkur ke depan.
"Tuan Reynald ... maaf fhanya bisa membawamu sempai sini ...."
Reynald mencoba berbicara, tapi sumpalan di mulutnya belum di lepas. "Uhm uhmm ahm, ahmm!"
Fidel yang mendengar itu, langsung membalikkan tubuh tuannya. Ia terkejut tatkala melihat kondisi tuannya. Ia mencabut sumpalan yang ada di mulut Reynald.
"Tuan Reynald, maafkan saya! Saya tak tahu kalau ada yang menyumpal mulut Anda!"
"Bah! Tak apa. Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Tepat setelah Reynald berterima kasih, Fidel membuka penutup mata Reynald. Cahaya matahari yang bersinar terang menusuk matanya. Reynald yang dibutakan oleh silaunya matahari; membuka tutup matanya berkali-kali.
Brak ....
Ia tiba-tiba mendengar suara seseorang rubuh tepat di sampingnya. Ia membuka matanya perlahan, melihat siapa yang rubuh di sampingnya walau sudah dapat menebaknya.
"Fidel ... Fidel! Fidel! Bangunlah, Fidel! Apa yang ... terjadi denganmu ...?" ucap Reynald dengan syok yang baru menyadari luka-luka yang ada pada tubuh Fidel.
Perut yang luka karena tertusuk anak panah, tangan kanan yang patah, serta pelipis kanan yang bocor. Reynald kebingungan. Apalagi setelah menyadari adanya perubahan pada tubuh Fidel.
__ADS_1
Ini mungkin terdengar konyol ... tapi sejak kapan Fidel berjanggut ...? Bulu di tangan dan kakinya lebih lebat, badannya menjadi lebih besar. Dan dadanya menjadi lebih bidang .... Apa yang ... sedang terjadi ...?
Reynald mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Tapi tiba-tiba Fidel sedikit mengerang kesakitan. Reynald dengan cepat mengembalikan kesadarannya. Ia baru sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada apa yang baru saja dipikirkannya.
Reynald berlutut, mencoba melepas tali yang mengikatnya dengan melebarkan paksa kedua tangannya. Ia menggertakkan giginya dengan sangat kuat hingga giginya seperti mau pecah. Saraf-saraf yang ada di kedua lengan serta kepalanya memberontak keluar. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam ke bawah.
"Hah ... tak bisa .... Benda apa yang mengikatku ...?" ucap Reynald yang kemudian melihat ke belakang walau tak menemukan apa-apa.
Tali biasa? Apakah aku sekarang selemah itu hingga bisa ditahan hanya dengan tali biasa ...?
Reynald melihat ke arah laut lalu ke ujung pantai; mencoba mencari sesuatu yang dapat memutus tali yang mengikatnya. Ia kemudian melihat sebuah batu karang dengan ujung yang tajam.
Reynald mencoba untuk berdiri. Tapi kaki yang terikat membuatnya kesulitan untuk mencari keseimbangan. Setelah beberapa saat dan berkali-kali mencoba, akhirnya ia bisa berdiri.
Ia kemudian melompat-lompat ke arah batu karang yang tadi dilihatnya. Berat, kakinya terasa sangat berat. Setiap kali ia melompat, kakinya tenggelam ke dalam pasir.
Dengan terus memaksakan tubuhnya, akhirnya ia sampai ke batu karang yang menjadi tujuannya. Ia memutar tubuhnya, menggesek-gesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke ujung batu karang.
Aku mohon berhasillah!
Srek!
Setelah menggesek cukup lama, tali yang mengikat kedua tangannya putus. Ia merentangkan kedua tangannya dan mencoba membuka tali yang mengikat kakinya.
Sial! Tali ini sama saja!"
Reynald melihat ke sekelilingnya. Ia mencari batu tajam untuk ia gunakan guna memotong tali yang mengikat kakinya.
Setelah ketemu, dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin, ia menggesek-gesekkan batu ke tali. Dan ketika tali yang mengikat kakinya sudah terputus, ia langsung bergegas menuju ke Fidel.
Reynald berlutut di samping Fidel, mencoba membangunkannya.
"Fidel, Fidel! Apa yang sedang terjadi?!"
Reynald memutar tubuh Fidel yang terbaring agar menghadap kepadanya.
"Tuan ... Reynald .... Senang dapat bertemu denganmu lagi ...." Fidel tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Ya, aku juga! Terima kasih sudah menyelamatkanku. Lukamu ... tunggu sebentar, aku akan cari cara untuk menutupinya!"
Ketika Reynald ingin beranjak dengan penuh kepanikan, Fidel tiba-tiba memegang tangan Reynald.
"Tuan ... saya memiliki satu permohonan terakhir untuk Anda ....." Fidel tersenyum dengan air mata yang tak selesai mengalir.
Ucapan Fidel menghantam keras Reynald. Lututnya ditarik paksa oleh tanah.
"Apa yang ... kaukatakan ...?"
"Tuan ... tolong ... hidupkanlah aku kembali, walau harus menjadi seorang iblis sekali pun!"
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1