
"Tuan Reynald! Mengapa Anda menghancurkan benda itu?!" tanya Armin yang panik.
"Oh, maaf. Aku tak bisa menahan amarahku."
"Menahan amarah?" Armin sedikit bingung mendengar jawaban Reynald.
***
"Yang Mulia!" ucap Armin yang tergesa-gesa membuka pintu aula.
"Armin, ada apa?" tanya Raja Orgulla yang sedang berbicara dengan para petinggi kerajaan.
"Tuan Reynald ...."
***
Sang Raja Orgulla langsung bergegas menemui Reynald, ditemani oleh para petinggi kerajaan yang tadi sedang berbicara dengannya.
"Di mana Yang Terpilih?" tanya Raja Orgulla mengikuti Armin dari belakang.
"Sebelah sini, Yang Mulia," ucap Armin mempersilakan Raja Orgulla memasuki ruang penelitian kerajaan.
Di dalam ruang penelitan kerajaan, Reynald sedang berbicara dengan Fidel.
"Reynald!" ucap Raja Orgulla yang kemudian menghampiri Reynald. "Apakah kamu yakin akan pergi sekarang?"
"Tak ada alasan bagi saya untuk tidak pergi sekarang, Yang Mulia. Semakin cepat, akan semakin baik."
"Bukankah kemarin kau berkata bahwa menyerang langsung sama saja dengan setor nyawa?"
"Ya. Namun, setelah melihat langsung sosok itu ...."
Mendengar jawaban Reynald, Raja Orgulla terkejut. Karena tak ada satu pun orang yang pernah melihat sosok "itu".
"Bagaimana ... kamu bisa melihat sosok itu?" tanya Raja Orgulla keheranan.
"Saya menggunakan sihir ciptaan saya yang bisa melihat masa lalu suatu hal. Dan kemudian saya menggunakan sihir itu kepada salah satu benda yang ada di sana."
Benda yang dimaksud Reynald adalah tombak yang ada di dalam ruang peninggalan sisa pertarungan Kerajaan Vanidas dengan Kapal Triturador.
Raja Orgulla sedikit terkejut dan di saat yang bersama sedikit bingung. Karena ia tidak tahu bagaimana Reynald bisa masuk ke dalam ruang rahasia itu. Ia pun melirik tajam ke arah Armin, membuat Armin gugup dan ketakutan.
Yang Mulia ... kenapa beliau melirikku dengan seperti itu ...? batin Armin memalingkan wajah.
Raja Orgulla menghela napas.
"Yang Terpilih, tidak ... Sonne Reynald Einzel. Engkau adalah aset paling berharga umat manusia. Seandainya kau mati, maka harapan umat manusia akan pupus seketika. Aku tahu bahwa hampir di setiap tempat, para iblis menyerang. Namun, kalau memang dirimu belum siap, maka tak apa. Jangan korbankan nyawa berhargamu untuk hasil yang belum jelas."
Raja Orgulla memberikan nasihat agar Reynald tidak tergesa-gesa, agar mempersiapkan diri lebih matang.
"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Yang Mulia. Namun, jikalau saya menunggu lebih lama lagi ... saya takut saya akan menyesalinya." Reynald seperti memberi sebuah kode kepada Raja Orgulla.
Raja Orgulla yang mengerti kode tersebut, menatap wajah Reynald, dan berpikir sejenak.
"Selain aku dan Reynald, silakan meninggalkan ruangan ini." Raja Orgulla memberi perintah dengan tetap menatap wajah Reynald.
Para petinggi yang sebenarnya penasaran dengan alasan dibalik "diusir"nya mereka, mau tidak mau mematuhi perintah dari sang Raja.
__ADS_1
"Heh? Tapi ini ruang pribadiku!" ucap Armin yang didorong keluar oleh petinggi lainnya.
Reynald memberi isyarat kepada Fidel bahwa ia akan baik-baik saja. Fidel mengikuti para petinggi lainnya keluar dari ruangan.
Pintu ditutup dari luar.
"Ucapanmu yang terakhir ... apakah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya?" Raja Orgulla sedikit memincingkan matannya.
"Seperti yang saya harapkan dari seorang Raja." Reynald sedikit tersenyum. Dan kemudian, wajahnya kembali serius.
"Saya sempat membaca beberapa buku yang terkait dengan cerita Awal dari Segalanya. Dan saya menemui satu pertanyaan yang belum terjawab."
"Pertanyaan apa itu?" Raja Orgulla penasaran.
"Jikalau mereka memang sekuat itu, lantas apa yang sedang mereka tunggu?"
Raja Orgulla kebingungan mendengar maksud ucapan Reynald. Ia berpikir dengan sangat keras untuk menemukan jawaban. Dan ketika ia sedang berpikir dengan sangat keras, ia teringat dengan julukan Yang Terpilih.
Pertanyaan Reynald dan jawaban yang "ia temukan" membuat mata Raja Orgulla melebar dan tubuhnya merinding. Mulutnya sedikit terbuka, wajahnya seperti berkata "Jangan bilang ...!"
"Ya, hanya itu jawaban yang saya bisa temukan." Reynald menelan ludah dan menggenggam kuat kedua tangannya.
Mendengar ucapan Reynald yang seperti memastikan jawabannya, membuat Raja Orgulla syok hingga sedikit terhuyung, Reynald dengan cepat membantu Raja Orgulla untuk kembali berdiri.
"... yang mereka tunggu ... itu adalah kau, bukan?" ucap Raja Orgulla menatap lantai dengan memicingkan matanya serta menggertakkan giginya.
"Ya, Yang Mulia."
***
Pintu ruang penelitian terbuka, membuat para petinggi, Armin, dan Fidel yang menunggu di luar ruangan antusias. Namun, yang mereka lihat adalah perpaduan wajah sedih dan menahan amarah sang Raja Orgulla.
Raja Orgulla memejamkan matanya, mengepalkan kuat kedua tangannya. Ia kemudian membuka kedua matanya, melotot dengan wajah merah dan urat yang memberontak keluar.
"Panggil seluruh petinggi kerajaan, tak terkecuali para petinggi di bidang militer. Kontak semua raja yang ada di benua ini untuk menjalankan rapat jarak jauh."
Perintah yang begitu mendadak dari Raja Orgulla membuat para petinggi kebingungan. Sangat tergesa-gesa, seperti sedang beradu dengan waktu.
Ketika para petinggi ingin bertanya tentang mengapa Raja Orgulla begitu tergesa-gesa, Raja Orgulla langsung memotong dengan berkata, "Mereka akan tiba."
Ucapan Raja Orgulla sedikit membingungkan para petinggi kerajaan. "Mereka ... mereka siapa, Yang Mulia?"
Raja Orgulla mengeluarkan aura yang cukup kuat hingga mengeluarkan hembusan angin yang kuat dan membuat pijakan dan dinding di sekitarnya retak.
"Para iblis dari Rumah Sang Raja Iblis, Rediavol."
Ucapan Raja Orgulla membuat merinding para petinggi, tak terkecuali Fidel dan Armin.
"Apa lagi yang kalian tunggu?!" bentak Raja Orgulla.
"Ma-maafkan kami, Yang Mulia! Akan segera kami laksanakan!" ucap para petinggi.
Para petinggi langsung bergegas melaksanakan perintah yang diberikan oleh Raja Orgulla.
"Armin. aku ingin kamu membantu segala hal yang dibutuhkan oleh Reynald."
"Ba-baik, Yang Mulia." Armin sedikit gemetar dan gugup. Ini adalah kali keduanya ia melihat Raja Orgulla murka.
__ADS_1
Kembali ke beberapa saat yang lalu ....
Raja Orgulla lemas, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Jikalau ucapan Reynald memang benar, dan menurut keyakinannya memang benar, maka selama ini ia tak ada harganya di mata para iblis dari Rediavol. Harga diri yang menjadi satu-satunya alasan dia hidup, sudah tak ada lagi.
"Yang Mulia ... ada satu hal lagi yang ingin, tidak. Harus saya sampaikan pada Anda."
Raja Orgulla dengan lemas menoleh ke arah Reynald.
"Putri Anda ...."
Mata Raja Orgulla melebar, terkejut, tak percaya. Harapan yang telah pupus, ketidakadanya alasan untuk hidup, muncul seketika.
Kembali ke saat ini.
Putriku masih hidup. Ia tidak dibunuh, setidaknya sepuluh tahun yang lalu. Ia adalah gadis yang kuat! Aku yakin ... dia pasti masih bisa bertahan! batin Raja Orgulla mengepalkan tangannya.
Walau keyakinannya tak mendasar dan semua hanyalah ekspetasinya, setidaknya Raja Orgulla memiliki alasan untuk tetap hidup.
"Reynald, tidak, Tuan Reynald. Aku berjanji atas nama Orgulla dan seisinya untuk membantumu melawan para iblis yang ada. Walau nyawa kami, nyawaku, menjadi taruhannya." Raja Orgulla mengikrarkan janjinya dengan mengajak berjabat tangan Reynald.
Reynald dibuat kagum dengan perubahan sikap Raja Orgulla. Seseorang yang telah tumbang, jatuh ke jurang putus asa terdalam, dapat bangkit seketika. Tatapan mata Raja Orgulla berubah, seperti seekor singa yang terbangun dari tidur lamanya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Saya juga berjanji untuk mengerahkan seluruh kekuatan saya dalam peperangan ini." Reynald menjabat tangan Raja Orgulla.
Siang hari telah tiba.
Raja Orgulla memasuki ruang rapat dengan sangat gagah, sangat berwibawa. Pesona yang seolah-olah mengatakan "Akulah yang terkuat" yang telah lama menghilang, telah kembali.
Para petinggi yang merindukan diri raja mereka yang telah lama menghilang, menangis bahagia.
Raja Orgulla duduk di singgahsananya, punggungnya tegap dengan sorot mata tegas dan tajam.
Armin merapalkan sihir. "Wahai Dewa yang bisa menghubungkan utara dan selatan, keluarkanlah hologram penghubung antar negeri, Lialinson."
Lialinson adalah sihir yang mengeluarkan hologram berbentuk persegi panjang horizontal yang akan menampilkan wajah dua orang dengan suara yang dapat terdengar walau dari antar negeri sekali pun. (Mudahnya semacam konferensi video)
Syarat untuk dapat merapalkan sihir Lialinson adalah dengan memiliki sebuah benda berbentuk balok dengan ukiran yang dapat menyala ketika sihir dialirkan kepadanya. Benda tersebut disebut sebagai Komuna.
"Selamat siang, Para Raja dari Segala Negeri." Raja Orgulla menyambut para raja yang telah terhubung dengan sihir Lialinson.
"Raja Orgulla, ada apakah hingga engkau meminta pertemuan semendadak ini?" tanya seorang ratu dengan mahkota emas berpadu ungu dengan kulit eksotiks.
"Terima kasih sudah bertanya, Ratu Cleo. Saya akan langsung ke dalam intinya saja."
Di dalam ruangan, terdapat seluruh anggota Die Acht Viende dan para petinggi kerajaan termasuk para petinggi militer.
"Anda sekalian pasti sudah mendengar tentang keberadaan Yang Terpilih, bukan?"
Ucapan Raja Orgulla membuat mata semua raja dan ratu yang terhubung sedikit berkedut.
"Melihat dari respons Anda sekalian, maka saya dapat simpulkan 'iya'."
"Raja Orgulla, ada apa dengan Yang Terpilih?" tanya seorang raja berambut emas dengan kumis berjanggut.
"Beliau, telah melihat langsung sosok yang muncul sepuluh tahun yang lalu."
Pernyataan Raja Orgulla membuat semua raja dan orang yang ada di dalam ruangan (kecuali Fidel, Armin, dan para petinggi yang tadi pagi menemani Raja Orgulla) terkejut.
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!