Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 29 - Malam Penuh Cahaya


__ADS_3

"Hey! Hey! Hey! Hey!" ucap Para Penduduk Pria yang saling merangkul dengan mengikuti irama musik. Kaki yang ditendang-tendangkan ke depan dengan salah satu tangan memegang gelas.


Alunan musik dengan indah dimainkan oleh para pemusik. Viol (biola) yang digesek, trumpet dan flute yang ditiup, serta tamborin yang ditabuh menjadi empat instrumen yang menghiasi malam penuh bintang.


Para pemuda dan pemudi dengan indah menari mengikuti irama; mengelilingi api unggun besar di tengah kota. Suasana yang sangat meriah, suasana yang tak pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Semua orang benar-benar berpesta seperti tak ada beban pikiran sama sekali.


Empat raja yang hadir dalam pesta tersebut duduk di atas panggung yang berada di dekat pusat kota.


"Reynald, aku tak pernah menyangka ada alat yang bisa menghasilkan suara seindah ini!" ucap Raja Calma yang kagum dengan alat musik ciptaan Reynald.


Keempat instrumen musik yang saat ini sedang dimainkan, merupakan ciptaan Reynald. Sesaat setelah diberi tahu bahwa akan ada pesta di malam hari, Reynald langsung membuat empat alat musik. Ia juga dengan cepat memilih empat orang (pelayan di Kerajaan Orgulla serta tiga bawahan Ratu Cleo (Jabari, Berenike, dan Khepri) untuk memainkan keempat alat musik ciptaannya.


"Bukankah alat-alat itu baru saja kauciptakan? Lantas mengapa empat orang itu bisa langsung memainkannya hingga seindah ini? Apakah keempat alat itu memang mudah untuk dimainkan?" tanya Raja Calma memegang dagu dengan penasaran.


"Pertama-tama saya menunjukkan keempat instrumen tersebut kepada orang-orang yang ada di kerajaan. Lalu, keempat orang tersebutlah yang memiliki ketertarikan tertinggi terhadap empat alat musik ciptaan saya."


"Oh! Jadi sebenarnya kau tak tahu tentang apakah mereka punya bakat atau tidak, hanya murni bertaruh saja?" ucap Raja Orgulla yang sejak awal ikut menyimak pembicaraan Raja Calma dan Reynald.


"Y-ya ... bisa dikatakan seperti itu ..." jawab Reynald yang hatinya tertusuk oleh ucapan Raja Orgulla.


"Entah berdasarkan pertaruhan atau tidak, tapi keempat orang itu benar-benar punya bakat. Reynald, apakah kau bisa membuat empat alat itu untuk kubawa pulang ke kerajaanku?" tanya Ratu Cleo yang matanya sejak awal berbinar-binar bangga melihat ketiga bawahan kepercayaannya memainkan alat musik dengan sangat menawan.


"Tak kusangka kalau Sarah bisa memainkan alat yang baru dikenalnya dengan sebaik itu .... Yah, sudah kuputuskan! Aku akan menjadikannya Kepala Musik di kerajaanku!" ucap Raja Orgulla menyilangkan tangan dengan bangga.


"Hanya ada satu alasan yang menjelaskan ini semua. Tak peduli seberapa besar bakat mereka, untuk bisa memainkan seindah ini dengan waktu secepat ini .... Reynald, engkau memiliki bakat yang luar biasa sebagai seorang pengajar, ya," ucap Raja Erdovarte memuji kegemilangan Reynald.


Ketiga raja lainnya mengangguk setuju; mengapresiasi kegemilangan Reynald dalam mengajari keempat pemusik hebat itu.


"Terlepas dari alat musik dan keempat pemusik hebat itu ... malam ini benar-benar luar biasa," ucap Raja Erdovarte.


Ketiga raja lainnya tersenyum setuju.


Reynald melihat ke arah bulan lalu memeriksa kecepatan angin. Setelah memastikan semuanya, ia meminta izin kepada keempat raja.


"Yang Mulia sekalian, bisakah Anda beranjak dari tempat duduk Anda sekalian?"


Permintaan Reynald yang secara tiba-tiba membuat keempat raja kebingungan. Namun, mereka mengiyakan permintaan Reynald tanpa bertanya apa-apa.


Reynald mengangkat tangan kanan lalu melambaikannya; memberi isyarat untuk Fidel yang sedang melihat dari pinggir sungai menggunakan teropong.


"Itu tanda dari Tuan Reynald. Mari kita nyalakan!" ucap Fidel yang menutup teropongnya.


"Oke!" jawab Felipe dan Gulnan bersamaan.


Keduanya mengeluarkan api kecil menggunakan sihirnya. Lalu, api kecil itu didekatkan sumbu-sumbu petasan yang sudah dipersiapkan.


Setelah percikan api muncul dari semua sumbu kembang api yang ada, ketiganya berlari menjauh mencari tempat yang lebih aman.


Piuu!


Satu per satu petasan mulai terbang ke langit malam.


"Yang Mulia, saya persembahkan kepada Anda sekalian ... festival kembang api."


Jeder! Jeder! Jeder!


Kembang api satu per satu meledak dengan indah di langit malam penuh bintang. Suara ledakan kembang api yang cukup keras menyita perhatian semua orang, bahkan membuat para pemusik menghentikan permainannya. Seperti sebuah bunga yang baru saja mekar, semua orang terpana melihat keindahannya.


"Ini ... benar-benar indah ..." ucap Ratu Cleo dengan kedua tangan disatukan dan pupil mata yang melebar penuh ketakjuban.


Semua orang yang menyaksikan akan sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Ratu Cleo. Mereka yang berpasangan, saling merangkul mesra dengan senyuman lembut. Anak-anak yang ada terpukau dan melompat-lomapt gembira ketika kembang api pecah di langit.


Reynald ... apakah ini salah satu dari banyak hal yang harus kamu lakukan? Hmm! Sudah kuduga kalau kau memang luar biasa! batin Isadora dengan tersenyum senang melihat indahnya kembang api.


Para anggota Die Acht Viende yang saat itu sedang berbincang dengan Isadora dan para petinggi lainnya juga terpukau dengan keindahan kembang api.

__ADS_1


Fidel, Felipe, dan Gulnan yang berada di pinggiran sungai terkagum-kagum dengan apa yang baru saja mereka lakukan dan ciptakan.


"Tuan Reynald memang hebat! Beliau bisa menciptakan bunga yang bersinar di malam hari!" ucap Fidel dengan sangat bersemangat.


"Ya! Ya! Tak kusangka kalau benda-benda itu bisa menghasilkan sesuatu yang seindah ini!" ucap Felipe yang diikuti anggukan kepala Gulnan.


Di malam itu, tak ada satu pun yang bisa mengalihkan pandangannya dari indahnya kembang api. Tak ada satu pun ... kecuali mereka yang sedang bersembunyi di dalam kegelapan.


"Baiklah, aku mengerti," ucap Bestruger yang ada di kamar pribadinya menggunakan sihir Lialinson.


Sihir Lialinson ia tutup. Matanya ia pejamkan sejenak lalu ia buka kembali. Ia melihat ke arah jendela kacanya; ke arah kembang api yang terus-menerus meledak.


"Nikmatilah malam ini, wahai Yang Terpilih ..." ucap Bestruger memicingkan mata dengan menyeringai lalu tertawa.


***


Pagi hari telah tiba. Pagi hari yang merupakan saat di mana ketiga raja akan kembali ke kerajaannya masing-masing. Keempat raja berpamitan, begitu pula dengan para petinggi bahkan para prajuritnya. Kedekatan yang dijalin dalam waktu yang singkat, sesuatu yang tak pernah terbayang sedikit pun di benak mereka.


Disatukan oleh permintaan, dikukuhkan oleh persatuan.


"Isadora," ucap Reynald mengajak bersalaman.


Isadora melihat tangan Reynald yang disodorkan kepadanya dengan wajah sedih. Reynald tersenyum menahan sedih ketika melihat Isadora. Namun, yang namanya perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Dan bagi Reynald, perpisahan ini hanyalah sementara. Setidaknya, itulah yang ada di pikirannya.


Isadora mengangkat tangan kanannya, pelan dan ragu. Ia berniat menjabat tangan Reynald, namun tiba-tiba ....


Kedua mata Reynald melebar. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Waktu serasa berjalan pelan. Bunga-bunga berguguran indah di sekitarnya.


Isadora memeluknya dengan sedikit menitikkan air mata.


"Berjanjilah bahwa kita akan bertemu kembali!" ucap Isadora memeluk mesra nan hangat Reynald.


Reynald mengembalikan keseimbangannya. Ia tersenyum dan kemudian membalas pelukan hangat Isadora.


"Ya ... tentu saja."


"K-kau tahu, i-itu hanyalah pelukan persahabatan! Ka-karena kau sudah pu-punya tunangan, ja-jadi jangan salah sangka!" ucap Isadora menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya dengan pipi merah.


Reynald tersenyum lebar.


"Isadora, terima kasih."


Isadora yang mendengar hal tersebut, menurunkan kedua tangannya dan menatap wajah Reynald. Ia kemudian menggelengkan kepalanya, tersenyum, dan berkata, "Hm~hm ... akulah yang seharusnya berterima kasih. Untuk menyelamatkanku, untuk mempertemukanku kembali dengan ayahku, dan untuk dapat bertemu dengan pahlawan dan sosok yang kucintai."


Reynald yang sudah tahu tentang perasaan Isadora, tetap terkejut mendengar akan pengakuan Isadora. Keduanya tertawa kecil.


"Kalau begitu, aku permisi dulu, Tuan Putri."


"Ya, hati-hati, Pahlawan."


Reynald memalingkan wajahnya; melihat ke arah keempat raja berkumpul. Keempat raja melihat Reynald dengan tersipu malu. Mereka seperti nostalgia kembali ke masa muda mereka, walau sebenarnya Ratu Cleo masih terhitung muda.


"Ekhem, yah ... sekuat apa pun seorang Reynald, ia masih seorang remaja," ucap Raja Calma sedikit menggoda Reynald.


"Hm ... kupikir pendampingmu hanya akan ada satu .... Yah, namanya Pahlawan bebas mau punya istri berapa," ucap Ratu Cleo. Ia tiba-tiba terpikirkan suatu ide jenius! "Oh, kalau begitu--!"


"Tidak boleh," sela cepat Raja Orgulla, Erdovarte, dan Calma dengan serentak dan ketus.


Ratu Cleo seperti mendapat serangan telak yang membuatnya tersungkur ke tanah. "Oi! Aku bahkan belum memberi tahu apa yang aku pikirkan!"


"Tidak, tanpa kau beri tahu pun kami sudah tahu. Kau berencana menjadi salah satu istrinya Reynald, bukan?" ucap Raja Calma yang diikuti anggukan dari Raja Orgulla dan Erdovarte.


Wajah Ratu Cleo memerah. Dirinya tersipu malu. Ia memalingkan wajahnya dengan sedikit judes. "Hmph!"


"Walau begitu ..." ucap Raja Orgulla yang kemudian merangkul Reynald. "Kalau kau memang tertarik dengan Putriku, maka katakan saja! Aku pasti akan mendukung hubungan kalian 1000%!"

__ADS_1


Reynald melirik ke belakang. Isadora yang mendengar semua percakapan raja dan merasakan lirikan mata Reynald, memalingkan wajahnya dengan malu-malu. Kedua pelayan pribadi Isadora sekaligus dua pelayan yang saat itu berada di gazebo tersenyum dan tertawa karena rencana pendekatan Isadora dan Reynald berjalan mulus.


Yes! batin kedua Pelayan Wanita.


Raja Orgulla melepaskan rangkulannya. Reynald kembali berdiri dan berhadapan dengan keempat raja. Suasana yang sebelumnya penuh candaan kini menjadi serius. Keempat raja tersenyum begitu pula dengan Reynald.


"Reynald, Yang Terpilih, sang Pahlawan ... terima kasih," ucap Raja Orgulla menepuk pundak Reynald.


Reynald memejamkan matanya dan menukuk sekilas.


Sorakan tiba-tiba terdengar dari telinga kirinya. Ia membuka matanya; melihat ke arah kirinya.


"Tuan Reynald! Terima kasih!"


"Ya! Tanpa Anda, kami tidak mungkin selamat!"


"Hidup Yang Terpilih, hidup sang Pahlawan!"


Dengan meninju langit, para prajurit serentak menyorakkan kalimat yang sama.


"Hidup Yang Terpilih, hidup sang Pahlawan!"


"Hidup Yang Terpilih, hidup sang Pahlawan!"


"Hidup Yang Terpilih, hidup sang Pahlawan!"


***


Reynald telah berada di dalam kereta kuda yang sama dengan Raja Erdovarte. Melambaikan tangan dari jendela kereta kuda ke arah Isadora. Isadora pun terus melambaikan tangan hingga Reynald tak lagi kelihatan. Ketika Reynald tak lagi kelihatan, tangisan yang selama ini ia bendung tak lagi tertahankan.


Dengan bersandar di pelukan ayahnya, ia menangis sekencang-kencangnya. Raja Orgulla memeluk putrinya dan mencium kepala atas putrinya.


Di dalam kereta kuda, Raja Erdovarte bertanya.


"Nak Reynald, perubahan apa saja yang engkau rasakan sejak tak dapat lagi menggunakan sihir?"


"Seperti ... ada sesuatu yang hilang, Yang Mulia."


"Begitu, ya .... Lalu kesehatanmu, apakah ada yang bermasalah sejak tak dapat menggunakan sihir?"


"Tidak, Yang Mulia. Dari segi kesehatan dan fisik, saya merasa tak ada perubahan."


"Hm, syukurlah kalau begitu ...." Raja Erdovarte tersenyum.


Kereta kuda terus berjalan.


"Nak Reynald, kisah heroikmu sudah tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru benua bahkan dunia. Kamu, seperti lambang dari sebuah kemenangan dan kedamaian. Seandainya ada sesuatu menimpa dirimu, maka orang-orang akan terjatuh dalam kepanikan dan kehancuran. Oleh karena itu, saya mohon, berhati-hatilah."


Reynald menganggukkan kepala. Ia tersenyum senang karena apa yang disampaikan oleh Raja Erdovarte, seperti seorang ayah yang sedang menasihati anaknya. "Ya, akan saya ingat nasihat Anda, Yang Mulia."


Raja Erdovarte tersenyum mendengar jawaban Reynald. "Dan satu lagi ...."


Reynald menelan ludah. Ia tak tahu apa lagi yang akan disampaikan oleh Raja Erdovarte. Namun, ia bisa merasakan aura yang jauh lebih serius dari seorang Raja Erdovarte.


"Kalau kamu menikah, jangan lupa undang aku, ya."


Swoosh~ Tubuh Reynald berubah menjadi batu dengan ukiran wajah datar.


Tawanya pun memecahkan tubuh batunya dari dalam.


"Hahaha, tentu saja, Yang Mulia. Saya berjanji bahwa Anda adalah orang pertama yang akan saya undang!"


Keduanya saling tersenyum. Tanpa mengetahui bahwa "para iblis" telah mengawasi mereka dengan segala rencana busuknya.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2