
"Ah ...."
Reynald membuka perlahan matanya. Pandangannya kabur dan perlahan mulai jelas.
"Di mana ... ini?"
"Reynald!" ucap Lacheln yang tiba-tiba muncul di wajah Reynald.
"Lacheln, di mana ini?" tanya Reynald yang mencoba bangun.
"Di kamarmu, kata Yebe kamu pingsan setelah mengeluarkan energi sihir yang luar biasa."
Ucapan Lacheln membuat Reynald sedikit sakit kepala dan kemudian teringat dengan ia yang mengeluarkan laser sihir yang sangat kuat.
"Ah, apa ucapanku membuatmu sakit lagi?" tanya Lacheln khawatir.
"Ti-tidak ... tak apa. Oh ya, aku diminta untuk menemui kepala desa, apa kamu bisa mengantarku menemuinya?"
***
Lacheln membantu Reynald berjalan dengan memegangi tangan dan merangkulnya. Ketika keduanya keluar dari rumah, Reynald dibuat terkejut dengan empat prajurit yang menyambutnya.
"Selamat siang, Nona Lacheln. Apakah dia anak yang bernama Reynald?" tanya seorang prajurit.
Lacheln menjawab "Iya." Sang prajurit kemudian meminta izin kepada Lacheln agar ia dan para prajurit lainnya mengawal Reynald dan Lacheln menuju ke kediaman kepala desa. Lacheln bertanya kepada Reynald, "Apa kau keberatan?"
Reynald yang sedikit melamun, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lacheln. "Ah, aku tak masalah ...."
Lacheln merasa Reynald seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, ia yang tahu kondisi Reynald sedang tidak baik dan menghormati privasi Reynald, tidak mengindahkan rasa penasarannya.
Keduanya berjalan dikawal oleh empat prajurit, dilihati oleh para warga dengan wajah penuh pertanyaan namun juga kekaguman.
"Reynald, kau keren sekali! Bisa berjalan dikawal oleh para prajurit!" ucap seorang warga pria.
"Ya, dan Lacheln, kalian seperti pasangan pengantin, tahu!" ucap seorang warga wanita.
Ucapan sang warga wanita membuat wajah Lacheln memerah dan sedikit menukuk menyembunyikan wajah malunya dari Reynald. Reynald hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah lucu Lacheln.
"Sudah sampai," ucap seorang prajurit.
Reynald dan Lacheln melihat ke depan.
Keduanya menaiki anak tangga kecil memasuki kediaman kepala desa. Pintu diketuk oleh seorang prajurit. Pintu dibuka oleh prajurit lainnya. Prajurit yang membuka pintu menepi dan mempersilakan Reynald dan Lacheln untuk masuk.
Di dalam kediaman kepala desa, tepatnya di ruang tamu, kepala desa sedang duduk berhadapan dengan seorang pria yang memiliki zirah besi lebih megah dari prajurit lainnya. Mengenakan jubah merah dengan simbol emas dan dikawal oleh dua prajurit yang berdiri di samping tempat duduknya.
"Oh, Lacheln, Reynald," ucap Kepala Desa.
__ADS_1
Pria berjubah melihat ke arah Kepala Desa melihat. Ia kemudian langsung berdiri dan memperkenalkan dirinya.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Perkenalkan, nama saya Grant Lanza Soldado, saya merupakan perwakilan dari Kerajaan Erdovate." Grant menaruh tangan kanannya di dada kirinya.
Reynald melepas pegangannya Lacheln.
"Mohon maaf atas keterlambatan kedatangan saya. Nama saya Reynald, Sonne Reynald Einzel. Kalau boleh tahu, ada keperluan apa hingga Anda repot-repot turun tangan menemui saya?" Reynald sedikit membungkuk dengan menaruh tangan kanan di dada kirinya.
Perkenalan sopan dan langsung ke poin utama Reynald membuat Grant terkejut.
"Apa yang membuat Anda berkata 'turun tangan'?"
"Jubah yang Anda kenakan, bukanlah jubah biasa. Saya tidak tahu kedudukan Anda yang sesungguhnya, namun karisma yang Anda keluarkan, bagaimana para prajurit siap mengorbankan hidup demi menjaga Anda, sudah menjelaskan semuanya."
Penjelasan Reynald membuat semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut.
"Benar-benar anak yang unik, hahaha," ucap Grant dengan memegang dagu dan tertawa. Ia kemudian kembali menurunkan tangan kirinya dan menaruh tangan kanan di dada kirinya. "Izinkan saya memperkenalkan diri sekali lagi. Nama saya Grant Lanza Soldado, Jenderal Perang Kerajaan Erdovate."
Kata "jenderal perang" membuat Reynald sedikit terkejut.
"Maaf atas ketidaksopanan saya," ucap Reynald sedikit membungkuk dan menaruh tangan kanan di dada kirinya.
"Tak perlu begitu formal, kemarilah. Duduklah terlebih dahulu."
Reynald menegakkan tubuhnya dan mengangguk sembari berkata, "Dengan senang hati."
"Baik, Kakek," jawab Lacheln ramah yang kemudian pergi ke dapur.
Reynald duduk di samping Kepala Desa, berseberangan dengan Grant.
"Dengan kepintaran Anda dalam mengenali saya, saya pikir saya tak perlu menjelaskan panjang lebar."
Reynald memperhatikan dengan saksama.
"Anda, bukan berasal dari dunia ini, kan?"
Ucapan Grant membuat Reynald terkejut. Kedua matanya melebar hingga sedikit melotot tak percaya.
"Ekspresi itu, membuktikan bahwa perkataan saya benar. Anda tak perlu menyembunyikannya karena memang itulah yang tertulis dalam takdir hidup Anda."
"Maksud Anda?"
"Anda adalah sesosok yang dikirim oleh Dewa kepada kami, kepada dunia ini untuk menjadi sosok yang membawa kedamaian di dunia ini. Anda."
"... Apakah itu karena kekuatan yang saya keluarkan tadi?"
"Tadi? Oh, mungkin maksud Anda dua hari yang lalu. Ya, kami mengetahuinya dari kekuatan sihir yang Anda lepaskan saat itu."
__ADS_1
*Dua hari? Aku pingsan selama itu? batin Reynald.
"Oleh karena itu, saya diutus untuk datang ke desa ini. Saya diminta untuk membawa Anda serta melatih Anda. Kekuatan Anda seperti senjata penghancur masal. Seandainya tidak diasah oleh orang yang tepat, kekuatan Anda dapat menghancurkan segalanya. Perlu diketahui, Anda cukup beruntung karena melepaskan energi Anda ke langit."
"Seandainya tidak, maka aku akan membunuh semua orang yang ada di desa ini?"
"Tepat sekali."
Dari balik dinding, Lacheln yang membawa nampan dengan teh untuk Reynald di atasnya gemetaran. Ia yang tidak sengaja menguping kekuatan besar milik Reynald ketakutan. Bukan ketakutan karena kekuatan besar milik Reynald, tapi takut untuk berpisah dengan Reynald.
"Permisi," ucap Lacheln yang sudah mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Ia kemudian menaruh teh Reynald di atas meja.
"Terima kasih," ucap Reynald.
"Sama-sama," jawab Lacheln tersenyum.
Reynald menyadari senyuman palsu Lacheln. Namun, ia bisa menebak alasannya.
Lacheln kembali berkata, "Permisi, mohon maaf mengganggu," dan pergi dari ruang tamu menuju ke dapur.
Di dapur, Lacheln langsung memeluk ibunya yang sedang memasak. Ibunya yang mengerti mengapa Lacheln menangis, memeluk dan mengelus hangat putrinya.
"Wanita yang ramah nan cantik," ucap Grant.
"Ya, saya setuju," jawab Reynald.
Suasana sempat hening sejenak. Reynald berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Ia selalu dipertemukan dengan kata "Bagaimana kalu aku ..." dan jalan akhir yang buruk lainnya.
"Nak Reynald, jikalau itu memang takdirmu, maka laksanakanlah. Jangan biarkan keraguan menghantui keputusanmu." ucap Kepala Desa.
Nasihat Kepala Desa membuat isi pikiran Reynald jernih kembali. Segala keraguan yang ada di benaknya hilang seketika. Ia tersenyum lembut dan teringat dengan sosok kakeknya dulu yang selalu memberikannya nasihat.
"Terima kasih, Kakek."
"Oh, sudah berani memanggilku kakek rupanya. Apa itu artinya kamu akan menikahi cucuku?"
"Ah, bukan seperti itu maksud saya ...."
Keduanya saling melihat satu sama lain, lalu tawa pun pecah. Reynald yang telah berhenti tertawa melihat ke arah Grant.
"Mohon maaf membuat Anda menunggu, Jenderal."
"Jadi, apa jawaban Anda?" tanya Grant dengan tersenyum percaya diri.
"Ya, dengan senang hati saya akan ikut dengan Anda."
__ADS_1