Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 44 - Seorang Pahlawan?


__ADS_3

Francois menyeringai, percaya diri bahwa satu serangannya langsung membunuh Reynald seketika. Tapi, matanya melebar tak percaya.


"A-apa?!"


Begitu pula dengan para krunya. Dia dan krunya, terperanjat dengan mulut yang tercelangak.


Reynald menahan pisau yang dilempar dengan perisai yang ada pada tangan kanannya. Reynald menurunkan tangannya dan kemudian mencabut pisau yang menancap.


"Cairan ini ... bukankah ini racun?" ucap Reynald tanpa membalikkan badannya.


Ucapan Reynald membuat Francois dan awak kapalnya ketakutan.


"Apakah ini ... cara berduel seorang bangsawan?" Reynald melirik ke arah Francois dengan seringaian dan tatapan tajam.


Francois yang gemetar ketakutan langsung mengangkat kedua tangannya ke depan. "Di-diamlah! Wahai


Dewa Api yang mampu membumihanguskan hutan ...."


Sihir bola api, ya? Kesempatan yang pas untuk mencoba ketahanan perisaiku.


"Keluarkanlah bola api yang mampu melahap lawanku. Arredonfoga!"


Dari depan kedua tangan Francois, muncul sebuah bola api dengan besar setengah pintu. Bola api melesat ke arah Reynald.


"MATILAH!" teriak Francois dengan tersenyum kaku.


Reynald mengangkat tangan kanannya.


Byush! Perisai es milik Reynald membuat bola api milik Francois menguap. Tapi sebagai gantinya, es pada perisai miliknya langsung mencair.


"Hm ... sudah kuduga. Perisai ini tak akan cukup kuat." Reynald melihat-lihat perisainya dan menanggapi santai kejadian yang baru saja terjadi.


Berbanding terbalik dengan Francois yang matanya berkedut-kedut ketakutan dan tak percaya. Kedua tangannya gemetar, badannya sedikit mundur ke belakang. Para awak kapal yang melihat kejadian tersebut kelabakan.


"Ya, mau bagaimana lagi. Namanya juga perisai kayu." Reynald melepas perisai miliknya. "Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana ...."


Reynald menyeringai dan menjatuhkan perisainya. Ia melesat lebih cepat daripada perisai miliknya menyentuh lantai kapal.


"... cara kita menyelesaikan duel ini, bukan?"


Francois keringat dingin. Sosok Reynald berada tepat di belakangnya, merangkulnya. Suara lirih dengan pedang yang sudah berada tepat di titik vilal pada lehernya, membuat Francois tak bisa berbuat apa-apa.


Mati. Hanya kata itu yang muncul di benak Francois. O-orang ini ... ternyata dia ... masih hidup ...!


"Jadi, bagaimana aku harus mengeksekusimu, Tuan Francois Barbanegra, Adik dari Tuan Edward Barbanegra dan Tuan Drake Barbanegra?"


Francois gelagapan. "Ba-ba-ba-bagaimana ka-ka-kalau ka-ka-ka-kau membebaskanku ...? A-a-a-ku be-berjanji akan me-me-memberimu apa saja!"

__ADS_1


"Benarkah?"


"Y-y-ya! Te-te-tentu saja!" Francois melihat secercah harapan. Ia mencoba menenangkan dirinya, mengembalikan kepercayaan dirinya, dan membuat negosiasi yang sebaik mungkin.


"Kalau begitu ...."


Francois menelan ludah.


"Aku ingin kau membunuh kedua kakakmu."


Ucapan Reynald membuat Francois syok. "Ja-jangan bercanda! Ka-kaupikir aku mau mengikuti permintaan hina seperti itu?!"


Sreet ....


Seperti busur biola yang menggesek senar biola, Reynald menggesek tipis pedang miliknya ke bagian depan leher Francois.


"SA-SAKITT!!"


"Hm? Bagaimana? Mau menaati permintaanku atau harus aku akhiri duel ini?"


Napas Francois terengah-engah. Meskipun ia tak ingin mati, tapi mengkhianati keluarganya apalagi kedua kakaknya itu jauh lebih parah dari kematian.


"Bu-bunuh saja aku! A-aku tak akan mematuhi perintahmu!"


"Heh ... sejak apa aku memberi perintah? Aku hanya menanggapi tawaranmu."


Reynald memotong lengan kanan Francois dengan tanpa rasa iba.


Francois tersungkur ke depan. Berteriak dan menangis kesakitan sembari memegangi lengan kanannya yang telah putus.


"AAGGHHHH!! TOLONG! TOLONG AKU!!"


Teriakan menyedihkan sang kapten kapal membuat para awak kapal ketakutan bukan main.


"Ka-kau! Selamatkan aku! A-aku akan memberikanmu apa saja! Emas, harta? Selamatkanlah aku!" teriak sang Kapten kepada para awak kapalnya.


Meski ditawari kenikamtan duniawi, tapi tak ada satu pun yang menanggapi. Bagaimana mungkin mereka mau mengambil tawaran tersebut, sementara penghalangnya adalah neraka dunia?


Tak ada yang menolongnya, hanya melihat dengan wajah ketakutan dari kejauhan.


"Kalian ... bukankah kalian bawahanku?! Bukankah kalian rakyat jelata yang beruntung karena aku rekrut?! Tunjukkan kesetiaanmu pada Tuanmu!"


Bentakkan Francois membuat para awak kapalnya merasa gundah. Sebuah hukum yang melekat pada hidup dan diri mereka mengatakan bahwa mereka harus mematuhi perintah tuannya. Tapi, keinginan untuk hidup mereka mengatakan sebaliknya.


Satu per satu mulai memberanikan diri. Mengangkat senjatanya demi mematuhi perintah tuannya.


Dan kemudian, seorang awak kapal mengangkat pedangnya, berteriak dengan menangis mencoba menyerang Reynald.

__ADS_1


Reynald mengayunkan pedangnya dengan pelan, memotong kedua tangan sang awak kapal yang mencoba menyerangnya. Tangisan sang awak kapal terhenti sejenak. Matanya gemetar melihat kedua tangannya yang telah terputus.


"AAAGHHH!! AAGGHH!! TOLONG-TOLONG AKU!!" teriak sang awak kapal mengerang kesakitan.


Melihat Reynald yang mampu memotong tangan sang awak kapal dengan mudah, membuat para awak kapal lainnya yang sempat ingin bertindak terjatuh semakin dalam ke dalam jurang ketakutan.


Mental mereka langsung hancur hanya dengan melihat kejadian yang ada di hadapannya.


Tak bisa menggunakan sihir? Lalu mengapa bisa sekuat itu?!


Kata-kata itu terlintas seperti iklan top-up yang terus bermunculan di dalam pikiran mereka.


"Oi, Kapten Francois Barbanegra yang terhormat .... Kau tidak menepati janjimu untuk mengabulkan permintaanku, bukan? Kalau begitu ... saksikanlah!"


Reynald mengangkat kedua tangannya, berputar dengan riang seperti seorang anak kecil di taman bermain.


"Akibat dari melanggarjanjimu," ucap Reynald tepat di depan wajah Francois yang menempel pada lantai kapal.


Reynald menegakkan tubuhnya, lalu menjentikkan jari kirinya.


***


Francois yang sekarat, mulutnya tak berhenti gemetar. Ia menyaksikan sendiri pembantaian yang dilakukan oleh Everest, Shina, dan Gardieta terhadap para bawahannya.


Ia tak ingin menyaksikan pembantaian itu. Tapi .... Setiap kali ia mencoba menutup matanya, memalingkan wajahnya, Reynald yang duduk di atas punggungnya akan menusuk tubuhnya. Membuat dirinya berteriak kesakitan hingga membuka matanya. Dirinya tak akan berhenti disiksa hingga ia melihat ke arah pembantaian terjadi.


"K-kau ... mengapa kau bi-bisa sekejam ini ...? Bukankah kau ... bu-bukankah kau seorang pahlawan?!" tanya Francois yang menangis. Meratapi nasibnya yang hidupnya tinggal hitungan detik.


Reynald terdiam sesaat. Menusukkan lagi pedangnya pada tubuh Francois. Francois sudah tak punya tenaga lagi untuk berteriak kesakitan.


"Heh ... sudah kehabisan tenaga, ya? Yah, mau bagaimana lagi."


Reynald mencabut pedangnya. Ia kemudian berdiri dan membersihkan pantatnya.


"Yah, jawaban untuk pertanyaanmu simpel."


Mata Francois mulai tertutup. Ia mencoba melawan takdir dengan memaksakan kedua matanya untuk tetap terbuka. Ia melihta ke atas, ke sosok yang membawa kematian padanya.


Reynald melirik ke arah Francois. Tatapannya lebih tajam daripada pedang yang menembus tubuhnya. Senyumannya pun pudar. Hanya ada wajah penuh kemarahan yang menghiasi pandangan terakhir Francois.


"Karena aku terlahir kembali."


Francois melebarkan matanya. Ia menyadari kebodohannya. Kebodohan terbesar yang pernah ia buat. Kebodohan terbesar yang mengantarkannya pada kematian.


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2