Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 31 - Keluarga


__ADS_3

Makanan telah dimasak, semua orang duduk di meja makan. Reynald dan Lacheln duduk bersebelahan. Ibu Lacheln yang terus penasaran, bertanya, "Tapi Lacheln ... mengapa gerakanmu masih seperti biasanya?"


Reynald dan Lacheln memasang wajah polos dan kebingungan.


Wajah tidak tahu Reynald dan Lacheln justru membuat bingung dan heran orang-orang yang ada di meja makan, kecuali Ruhi.


"A-anu ... kalian tadi malam sudah melakukannya, kan ...?" tanya Ibu Lacheln.


Reynald dan Lacheln memalingkan wajah, lalu menganggukkan kepala dengan malu-malu secara bersamaan.


"Melakukan apa ...?" tanya Ibu Lacheln yang sudah sangat penasaran. Bohong rasanya kalau orang-orang di meja makan tak penasaran dengan apa yang terjadi tadi malam.


"Y-y-ya ... ka-kami ... sudah ti-tidur bersama ..." jawab Lacheln dengan menyentuh-nyentuhkan dua ujung telunjuknya dengan gugup dan malu.


Heh? batin semua orang kecuali Reynald, Lacheln, dan Ruhi.


"Ha-hanya tidur bersama?" tanya Yebe tak percaya dan memukul meja.


Reynald dan Lacheln menganggukkan kepala. Semua orang kecuali sepasang insan yang sedang kasmaran dan Ruhi menghela napas. Kecewa dengan fakta yang baru saja mereka dengar.


"Nampaknya kita yang terlalu berekspetasi tinggi, hahaha ..." ucap Kepala Desa dengan tertawa kaku lalu kemballi ke mode kecewa.


Heh? batin Reynald dan Lacheln yang bingung melihat ekspresi semua orang.


"Ya ... sepertinya aku belum akan menggendong cucu dalam waktu dekat ..." ucap Ibu Lacheln memegang pipi kanannya.


Cu-cucu? batin Reynald dan Lacheln yang semakin kebingungan.


"Hah ... padahal saya sudah menyiapkan diri untuk menjadi paman terhebat sepanjang masa ..." ucap Fidel yang memutar-mutar sup dengan sendoknya.


Bahkan Fidel sekali pun?! batin Reynald. Ia kemudian berpikir tentang apa yang dikecewakan oleh orang-orang yang ada di hadapannya.


Ia berpikir ... berpikir ... lalu melihat ke wajah Lacheln. Lacheln yang merasa dirinya dilihati oleh Reynald, menatap balik wajah Reynald.


"A-ada apa?" tanya Lacheln dengan sedikit gugup.


Dua orang yang sedang jatuh hati ... satu kamar ... tidur ... OH!!!! batin Reynald tertegun, merasa sangat bodoh karena baru menyadarinya.


Akhirnya dia sadar ... batin orang-orang kecuali Lacheln dan Ruhi.


***


Setelah sarapan selesai, semua orang yang ada di meja makan berniat melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Namun, Reynald secara tiba-tiba meminta waktu untuk berbicara sebentar.


Semua orang tentu mengiyakan permintaan Reynald. Semua orang melihat Reynald bersikap sedikit berbeda dari biasanya. Tatapan matanya melihat ke bawah; memikirkan sesuatu dengan sangat keras. Keragu-raguan terasa pada dirinya, tak biasanya Reynald menampakkan keraguannya.


Di tengah Reynald yang sedang bertarung dengan perasaan dan dirinya, Lacheln tiba-tiba memegang tangannya. Reynald tersentak. Ia mengangkat kepalanya; melihat ke sampingnya. Ia melihat Lacheln yang sedang tersenyum lembut kepadanya.


"Jangan ditahan sendiri, kamu punya aku, kamu punya kami. Tak perlu selamanya kamu menanggung segalanya sendiri." Tangan Lacheln yang sedang memegang tangan Reynald; mengelus pelan tangan yang sedang dipegang dengan ibu jarinya.


Reynald tercengang mendengar hal itu. Matanya berkilap menahan tangis. Ia membalas senyuman Lacheln, dan kemudian melihat ke sekitarnya. Semua orang tersenyum kepadanya dengan sangat tulus.


"Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian ...."


***


Semua orang tertegun mendengar pengakuan Reynald. Syok, terguncang, dan terpukul. Terutama Fidel. Fidel menggenggam alat makannya dengan sangat kuat hingga membengkokkannya. Yebe menggertakkan giginya kesal karena merasa tak berguna.


Kepala Desa yang duduk dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat; memandang ke bawah dengan perasaan yang tercampur aduk. Ruhi yang tak mengerti apa-apa hanya melihat bingung dan panik ke semua orang dengan wajah polosnya.


Lacheln, menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia merasa hancur karena tak bisa melakukan apa-apa untuk Reynald.


Bak pemain sepak bola terhebat sepanjang masa yang kedua kakinya diamputasi pada masa emasnya. Atlet baseball yang mampu mencetak home-run pada tiap pukulannya harus kehilangan kedua tangannya, Penyanyi dengan suara terindah yang tak lagi bisa berbicara. Begitul pulalah yang dialami oleh Reynald, seorang Pahlawan yang kehilangan kekuatannya.


Di tengah semua orang yang sedang diguncang dengan fakta yang disampaikan oleh Reynald, Ibu Lacheln datang dan memeluk Reynald dari belakang.


Semua orang tak terkecuali Reynald dibuat tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Ibu Lacheln.

__ADS_1


"Apa kau tahu, sesuatu yang membuatmu istimewa dan dipilih oleh takdir menjadi seorang Pahlawan?"


Reynald menggelengkan kepalanya.


"Kebaikan hatimu."


Jawaban Ibu Lacheln membuat mata Reynald terbuka lebar.


"Yang hilang hanya sihirmu saja, kan? Hatimu masih tetap ada, kan? Maka tak apa. Kamu masihlah Reynald yang kami kenal. Walau dunia menjauhi dan tak menganggapmu lagi, kami masih akan tetap menerimamu dengan sepenuh hati. Terima kasih sudah mau bercerita kepada kami. Terima kasih karena sudah mau percaya pada kami. Terima kasih ... karena telah mau kembali kepada kami."


Reynald merasa kepalanya basah, seperti ada air hujan yang membanjirinya. Ia kemudian melirik sekilas ke atas, dan ia melihat wajah dari Ibu Lacheln yang sedang menangis hingga terisak-isak.


Reynald tanpa sadar menitikkan air mata.


Lacheln yang melihat kasih sayan dari ibunya kepada Reynald, merasa malu. Ia menganggap seharusnya ialah  berada di posisi tersebut. Ialah yang seharusnya menenagkan Reynald, menjadi tempat Reynald bersandar. Namun, ia juga merasa senang dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.


Ia tahu, bahwa apa yang ibunya sedang sampaikan saat ini, sebagian darinya adalah apa yang ingin disampaikan olehnya kepada sosok yang dicintainya dahulu.


Ibu Lacheln melepaskan pelukannya, Ia kemudian mengelap air matanya dan memegang pundak Lacheln. Lacheln memegang tangan ibunya. Ia kemudian berdiri dan berbisik, "Terima kasih, Bu." Ibu Lacheln membalas dengan anggukan dan senyuman.


Lacheln kemudian menggantikan posisi ibunya dan memeluk Reynald dari belakang.


"Lain kali ... akulah yang pertama kali akan melakukan ini. Maaf ... karena belum bisa menjadi tempatmu untuk bersandar dari segala kelelahanmu." Peluk Lacheln dengan semakin kuat.


"Tu-Tuan Reynald!" ucap Fidel berdiri dari kursinya. "A-aku berjanji akan melindungi dan mengikutimu seumur hidupku! Jadi, tak perlu khawatir dengan tak bisanya lagi Anda dalam menggunakan sihir! Tak perlu ... tak ada yang perlu Anda khawatirkan!" teriak Fidel mengikrarkan sumpahnya dengan kedua mata terpejam menghadap ke atas.


"Ya! Aku bersumpah, bahwa aku akan menjadi pelindugmu juga!" teriak Yebe yang melakukan hal yang serupa.


Reynald tersenyum lega mendengar hal itu.


"Nak Reynald, seperti apa yang dikatakan oleh NIa (Ibu Lacheln), kamu akan selalu disambut di desa ini. Meski begitu, demi keamananmu dan orang-orang yang kamu cintai, informasi mengenai ini tak bisa kamu ceritakan kepada semua orang. Biarkanlah orang-orang terdekatmu saja yang tahu, apa kamu mengerti?" ucap Kepala Desa.


"Ya, saya mengerti. Terima kasih, Kek."


Kepala Desa membalas dengan senyuman.


***


Reynald dan Lacheln telah menyebarkan undangan pernikahannya. Keduanya juga telah direstui oleh Nia dan Kepala Desa yang menjadi perwakilan dari Ayah Lacheln.


Mereka yang diundang adalah Die Acht Viende, Para Raja Aliansi Victoria, Para Petinggi Kerajaan yang tergabung pada Aliansi Victoria, dan beberapa kenalan Reynald seperti Shelna, Felipe, dan Gulnan.


"Hoho, tak kusangka Reynald akan mengambil tindakan secepat ini!" ucap Raja Orgulla yang sedang duduk di singgahsananya; membaca undangan yang dikirim oleh Reynald. "Apakah Putri kecilku tak sakit hat- bakk!!"


Isadora dengan cepat melempar sepatu miliknya ke arah ayahnya yang belum menyelesaikan kalimatnya. "Asal Ayah tahu, aku dan Reynald adalah sepasang sahabat. SA-HA-BAT! Kebahagiaan Reynald adalah kebahagiaanku juga! Mengerti?!"


"Ba-baiklah ... Ayah mengerti ..." ucap Raja Orgulla yang tersungkur.


Reynald, selamat! Meski ini sedikit menyakit-- tidak-tidak, aku tak boleh mengatakan yang seperti itu. Intinya, selamat ... selamat ... batin Isadora yang kemudian dadanya serasa sesak dan mulai menangis.


Raja Orgulla yang tahu perasa putrinya, datang menghampiri putri semata wayangnya. Ia kemudian memeluk Isadora dan menjadi tempat bersandar Isadora yang menangis dengan sangat keras.


Di tempat lainnya, Raja Calma dan Ratu Cleo tersenyum senang membaca undangan yang dikirimkan oleh Reynald. Ratu Cleo dengan cepat langsung memerintahkan para bawahannya untuk mencari hadiah terbaik yang ada di kerajaan. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Raja Calma.


Raja Erdovarte yang sudah berusia senja dan telah melalui banyak hal dalam waktu yang singkat, tersenyum lembut ketika membaca undangan yang dikirim oleh Reynald.


"Tak kusangka hari seperti akan tiba. Hari di mana aku bisa menyaksikan putraku menikah." Raja Erdovarte mengusap tangisnya. "Sekarang, hadiah apa yang harus aku berikan?"


Hari pernikahan pun tiba. Di tengah pinggir sungai yang terdapat gazebo, Reynald berdiri bersama dengan seorang ahli agama yang disebut sebagai Saint/Pendeta.


"Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi pendeta yang menikahkan seorang Pahlawan," ucap Pendeta yang rambutnya sudah putih.


"Tidak, justru kehormatan untuk saya karena dinikahkan langsung oleh Pendeta Tertinggi," jawab Reynald membalas pujian Pendeta.


Pendeta yang akan menikahkan Reynald adalah Pendeta Tertinggi. Pendeta Tertinggi adalah sosok pendeta paling dihormati dan memiliki kedudukan tertinggi. Ucapannya seperti sebuah hukum dan perintah yang mana jikalau membantah atau tidak menaatinya, maka orang tersebut langsung dicap berdosa.


Pendeta Tertinggi bukanlah julukan, melainkan sebuah kedudukan. Mereka yang menjadi Pendeta Tertinggi, memiliki hak yang sama dengan seorang raja pada tiap kerajaannya. Yang mana artinya, di mana pun ia berada, ia adalah raja di negara/kerajaan tersebut.

__ADS_1


Ketika Reynald sedang berbincang dengan Pendeta Tertinggi, ia didatangi oleh Fidel. Fidel berkata bahwa rombongan Raja Erdovarte sudah datang. Reynald bersama dengan Pendeta Tertinggi dan Fidel, berjalan menyambut kedatangan Raja Erdovarte.


Raja Erdovarte yang baru turun dari kereta kuda bersama dengan Bestruger dan Luria, langsung disapa oleh Reynald.


"Yang Mulia, selamat datang dan terima kasih sudah menyempatkan waktunya. Begitu pula dengan kalian, Bestruger, Luria," ucap Reynald dengan membungkuk.


Bestruger dan Luria membalas dengan senyuman.


"Tak perlu seformal itu. Kedudukanmu sekarang lebih tinggi dariku. Selain itu, sebuah kehormatan bisa diundang langsung olehmu dan juga ... Pendeta Tertinggi, sudah lama tak bertemu." Raja Erdovarte berpelukan dengan Pendeta Tertinggi.


"Raja Erdovarte, sudah berapa tahun lamanya kita tidak berjumpa. Syukurlah kita masih diberi waktu untuk bertemu, hahaha."


Bestruger dan Luria langsung berlutut ketika menyadari sosok yang berada di samping Reynald.


"Mohon maaf atas ketidaksopanan kami, Pendeta Tertinggi," ucap Bestruger dan Luria bersamaan.


Pendeta Tertinggi melepaskan pelukannya. "Oh, kalian pasti Pangeran Bestruger dan Putri Luria. Waktu berjalan dengan sangat cepat, ya."


"Sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat dikenali oleh Anda," ucap Bestruger yang masih berlutut.


"Tuan Reynald," bisik Fidel yang kemudian membisikkan mengenai kedatangan Raja Orgulla.


"Aku mengerti," jawab Reynald. "Tuan Pendeta, Yang Mulia, saya izin permisi dahulu. Ada tamu yang harus saya sambut."


"Kami mengerti," ucap Raja Erdovarte dengan tersenyum mempersilakan.


Reynald bergegas berjalan menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh FIdel. Tamu yang dimaksud adalah Raja Terkuat, Orgulla. Ia telah turun dari kereta kudanya dan berjalan bersama dengan putri tercintanya, Isadora.


"Yang Mulia, terima kasih sudah datang!" ucap Reynald dengan membungkuk.


"Reynald!" ucap Raja Orgulla dengan memeluk Reynald. "Senang melihatmu mendapatkan jodoh! Tapi, sebagai seorang Pahlawan yang kedudukannya lebih tinggi dari seorang raja ... memiliki selir adalah hal yang lumr-- bakk!"


Isadora menendang pinggang ayahnya hingga suara kretek terdengar keras. Raja Orgulla tersungkur.


"Maafkan ketidaksopanan Ayahku, Reynald. Oh ya, selamat atas pernikahanmu," ucap Isadora yang datang dengan penampilannya yang sangat cantik.


Baru saja berbincang sebentar dengan Isadora dan Raja Orgulla, suara ribut-ribut tiba-tiba terdengar. "Fidel?" tanya Reynald.


"Maaf, Tuan Reynald. Saya tidak melihat kedatangannya. Raja Calma datang dari langit dengan kereta ... kuda ...?" ucap Fidel yang kebingungan.


"Dia memang menggunakan kereta kuda, tapi 'kuda'nya berbeda. Kudanya dia adalah Griffin," ucap Raja Orgulla yang mengelus-elus pinggangnya.


"Oh, begitu ya. Kalau begitu, saya mohon permisi dulu."


Raja Orgulla dan Isadora tersenyum dan mengangguk. Reynald pergi dari hadapan keduanya bersama dengan Fidel.


"Reynald! Aku pikir aku akan terlambat, syukurlah acaranya belum dimulai," ucap Raja Calma yang baru saja berbincang dengan Kepala Desa.


"Anda bisa saja, Yang Mulia. Seandainya Anda belum datang, maka acaranya akan saya undur, Yang Mulia!"


"Hahaha! Bisa saja kau! Oh ya, ini adalah hadiah darik--"


Drek! Drek! Drek!


Suara gemuruh tapakan kaki serentak terdengar dari kejauhan.


Ratu Cleo datang dengan membawa lebih dari 100 orang bersamanya. Dengan delapan belas orang menandunya yang duduk dengan anggun dan delapan belas orang lagi menandu hadiah yang akan diberikan untuk Reynald. Kedatangan Ratu Cleo yang mencolok menjadi pusat perhatian semua orang, tak terkecuali para raja dan Pendeta Tertinggi.


"Cepat, cepat, cepat! Acaranya sudah akan mulai, kita bisa terlambat kalau kalian berjalan selambat kura-kura!" ucap Ratu Cleo yang kemudian tersenyum sombong penuh percaya diri.


"Baik, Yang Mulia Cleo!" jawab serentak para prajuritnya.


Ahaha ... seperti biasa, beliau selalu yang paling mencolok ... batin Reynald dengan tertawa kaku.


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2