Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 8 - Misi


__ADS_3

Ketika Reynald keluar dari gereja setelah mengetahui Class-nya, ia melihat ke langit yang biru cerah dengan burung-burung terbang beriringan.


Suara bel gereja tiba-tiba berbunyi, membuat Reynald sedikit merinding karena ia baru saja masuk gereja tapi tak melihat siapa-siapa.


"Apa ... yang terjadi?"


***


Menurunkan ego akan rasa ingin tahunya, Reynald pergi meninggalkan area gereja. Ia kembali ke istana kerajaan atau lebih tepatnya perpustakaan kerajaan, duduk dan membaca buku-buku yang telah dipersiapkan olehnya namun belum sempat ia baca.


Meski telah mencoba mengalihkan rasa ingin tahunya dengan mengulik apa yang ada di dalam buku, namun "bel yang berbunyi" terus berdengung di kedua telinganya.


Ketika Reynald sedang kesulitan fokus hingga dirinya ingin berteriak sekeras-kerasnya, ia tak sengaja mendengar suara seseorang dipukuli.


"Ugh!" ucap orang yang dipukuli menahan sakit.


"Berani-beraninya kau melihat Yang Terpilih dengan tatapan seperti itu!" tendang Arstusen yang ditemani Deastra dan Dumida namun tak ikut menendang, hanya melihat saja.


Reynald melihat dari kejauhan, mengintip melalui jendela perpus yang hampir tertutupi gorden sepenuhnya.


"Menerima gelar yang sama dengan kami saja sudah songong, berani-beraninya kau menerima gelar yang sama dengan Yang Terpilih!" lanjut Arstusen dengan terus menendang orang yang telah meringkuk menahan sakit.


Pembullyan tersebut terjadi di bawah pohon di bagian belakang gedung perpustakaan. Matahari yang hampir berada di puncaknya membuat waktu tersebut menjadi waktu di mana orang-orang sedang berada di puncak kesibukan beraktivitas. Sehingga ketika pembullyan oleh "mereka yang berada di atas" terjadi, tak akan ada yang mengetahui.


Setelah menendang berkali-kali bahkan puluhan kali, Arstusen berdiri kembali dengan sedikit terengah-engah. Pakaiannya menjadi sedikit berantakan.


"Arstusen, apa kau sudah selesai?" tanya Dumida.


"Ya, begitulah." Arstusen merapikan pakaian dan dasinya.


"Tuan Arstusen, Nona Dumida, Tuan Berstruger memanggil Anda sekalian," ucap Deastra.


Setelah mendapat pesna tersebut, ketiganya pergi meninggalkan sosok yang sedang meringkuk kesakitan seperti sampah yang dibuang begitu saja.


"Agh ..." ucap yang dipukuli mencoba berdiri walau kesakitan.


"Ambilah." Reynald menyodorkan es batu yang sudah dibalut kain.


Yang dipukuli melihat ke arah orang yang menawari es. "Kau ...." Menatap dengan tatapan tidak senang.


"Fidel ... alasan dirimu dibully seperti ini karena kau bukan berasal dari keluarga bangsawan. Apa aku benar?"


Pertanyaan Reynald langsung membuat Fidel gelagapan tak bisa menjawab. Namun, harga dirinya yang tinggi membalas pertanyaan Reynald dengan bentakan. "Ya, memangnya kenapa?! Hah?!"


"Tak apa ... hanya ingin memastikan." Reynald melemparkan esnya lalu berjalan kembali ke perpustakaan.


Fidel menerima lemparan es tersebut. "Apa ini?! Kau akan meracuniku dengan ini?! Maaf saja, meskipun aku orang biasa tapi aku tidak bodoh!" Fidel berniat membanting es yang diberikan Reynald. Hal ini disebabkan karena Fidel merasakan adanya energi sihir di dalam es yang diberikan Reynald.


"Terserah padamu, tapi satu hal yang pasti aku bukanlah tipe orang yang seperti 'mereka'." Reynald mengangkat tangan kirinya dan terus berjalan menuju ke perpustakaan.


Fidel memicingkan matanya, lalu mengecap karena bingung harus bagaimana. Mempercayai lalu kembali dikhianati, atau sejak awal langsung memusuhi.


"Aghh! Bodohlah! Lagi pula seandainya ini racun, aku pasti bisa menahannya!" Fidel menempelkan es yang diberikan Reynald ke bagian perutnya yang memar.

__ADS_1


Fidel memejamkan matanya, bahkan hingga dahinya berkerut. Bersiap menghadapi hasil terburuk.


Cahaya kuning berbaur kuning muncul dari es yang ia pegang. Cahaya terang memancing matanya untuk terbuka. Perlahan dan ragu-ragu, Fidel membuka matanya.


Matanya melebar sekilas. Es yang ia dapatkan bukanlah es biasa, namun es yang telah diisi dengan mantra sihir penyembuhan.


"O-oi!" teriak Fidel mencoba memanggil Reynald.


Namun, Reynald sudah berada di dalam perpustakaan.


***


Keesokan harinya tiba. Die Acht Viende dipanggil untuk menghadap ke sang Raja.


"Hari ini, aku akan memberikan misi pertama untuk kalian. Untuk kejelasannya ... uhuk-uhuk ... akan disampaikan oleh Jenderal Grant."


Kesehatan Raja Erdovarte sudah semakin memburuk. Batuknya yang semula bisa ia tahan, sekarang dapat lepas kapan saja di mana saja. Walau segala obat telah diberikan, namun usia tidak bisa berbohong.


Keenam Die Acht Viende (selain Reynald dan Fidel) langsung sahut-menyahut menunjukkan kekhawatirannya, terutama putra ulungnya Bestuger dan putri bungsunya Luria.


Reynald tentu khawatir, namun ia dapat dengan cepat dan mudah dapat mengetahui bahwa keenam orang yang bersikap khawatir itu "palsu". Ia pun melirik ke belakang, melihat reaksi Fidel.


Reynald dibuat terkejut dengan ekspresi Fidel.


Seperti seorang anak yang sangat mencintai dan takut kehilangan ayahnya, itulah yang terlintas di benak Reynald tatkala melihat ekspresi Fidel.


Mata yang berkaca-kaca, tubuh yang ingin bergerak namun tertahan oleh sesuatu, gigi yang digertakkan dengan kedua tangan mengepal kuat. Dan pandangan ... yang benar-benar fokus kepada sang Raja seolah-olah tak ada yang lain di sekitarnya selain sang Raja.


Reynald sedikit melemaskan matanya, sudut bibir tanpa disadari sedikit naik.


Grant memejamkan mata dan membungkuk sekilas. Grant menghadap ke Die Acht Viende dan mulai membacakan misi yang akan dijalani oleh Die Acht Viende.


***


Kedelapan anggota Die Acht Viende telah menunggangi kudanya masing-masing, berjalan dengan gagah dengan disorak oleh para warga.


Misi pertama Die Acht Viende adalah membasmi kelompok Three Eyes Demon. Three Eyes Demon memiliki mata tiga yang sejajar vertikal. Memiliki tubuh besar dengan tinggi lebih dari tiga meter, badan yang gemuk berwarna merah, serta dua taring atas dan dua taring bawah yang sedikit menjulur keluar


Three Eyes Demon dilaporkan telah memasuki wilayah Kerajaan Erdovarte. Prajurit kerajaan biasa tak sanggup melawannya, bahkan kesatria kerajaan hanya mampu menumbangkan dua Three Eyes Demon walau harus membayar dengan nyawanya.


Dan sekarang, adalah waktu yang tepat untuk pembuktian apakah Die Acht Viende memang tepat untuk dibentuk atau tidak.


Kedelapan anggota telah keluar dari gerbang kerajaan. Dipimpin oleh putra mahkota kerajaan, Bestruger, mereka melesat menuju ke lokasi kejadian.


***


Setelah berkuda selama hampir setengah jam, mereka melihat kepulan asap melambung tinggi ke langit. Semakin dekat mereka dengan tempat kejadian, serpihan kayu yang terbakar terlihat di mana-mana, bahkan ada yang sampai membakar rumput hingga menumbangkan pohon.


Dan ketika mereka sampai di depan pintu masuk desa (lokasi), mereka melihat selusin Three Eyes Demon sedang menghancur-hancurkan rumah-rumah yang ada, bahkan membunuh warga desa dengan gadahnya hingga geprek.


Anggota Die Acht Viende menelan ludah. Meskipun mereka dibekali dan dirahmati kekuatan yang luar biasa, namun berhadapan langsung dengan musuh berbeda dengan latihan menghadapi musuh.


Tak seperti latihan, musuh yang ada di hadapan mereka tidak akan menahan diri. Tidak akan sungkan untuk membunuh.

__ADS_1


Bestruger gemetar, ia berniat untuk menarik tali kudanya dan mundur meminta bantuan. Ia melihat ke teman-teman satu kelompoknya, dan semuanya juga ketakutan.


Para Three Eyes Demon yang tak menghancurkan rumah, mengumpul tubuh para warga, ditumpuknya lalu ditumbuknya.


Ketika para Die Acht Viende ketakutan tak berani bergerak, seorang anak kecil masih hidup, berlari menghindari para Three Eyes Demon dengan menangis ketakutan.


"TO-TOLONG AKU! TOLONG IBUKU! TOLONG AYAHKU!" teriak anak kecil menangis menuju para anggota Die Acht Viende.


Anak kecil itu menatap langsung tiap anggota, dan tatapannya menjadi lebih lama tatkala menatap Bestruger.


Bestruger berniat memalingkan wajah, dan ketika ia akan memalingkan wajah ... dua orang melesat maju dengan memacu kudanya.


"Kau lindungi anak itu, aku akan mengurus para monster itu," ucap Reynald kepada Fidel.


"Hah?! Kenapa kau jadi memerintahku?!" balas Fidel yang kemudian menangkap sang anak ... yang mana dia tetap saja mengikuti perintah Reynald.


Reynald menghentikan kudanya, memasang tubuh melindungi sang anak yang hendak diselamatkan oleh Fidel. Dua kaki kuda depan Reynald terangkat, mengeluarkan suara yang memancing perhatian dari para Three Eyes Demon.


"Aku akan memancing para Three Eyes Demon. Kau selamatkan yang masih tersisa."


"Sial!! Kenapa lagi-lagi kau memerintahkanku?!" bentak Fidel tak terima, membantu sang anak naik ke kudanya. "Apa kau tahu di mana saja yang masih hidup?" tanya Fidel kepada sang anak.


Sang anak mengangguk dengan mencoba menarik kembali ingusnya.


"Yosh, tunjukkan jalannya!" Fidel pergi mengikuti arah yang ditunjuk oleh sang anak.


Melihat Fidel yanag sudah pergi dan para anggota lain yang masih belum berani, Reynald menjadi tak perlu menahan diri. Ia hanya perlu fokus untuk menghabisi.


"Mari kita tes ... hasil latihan selama satu pekanku."


Reynald mengeluarkan pedang dari sarungnya. Menghunuskan pedangnya ke langit, tepat di depan wajahnya.


"Wahai Dewa Perang yang tidak menyenangi kekalahan, kekuatan-Mu yang tak tertandingi, menjadi kunci kemenangan setiap peperangan. Aku mohon kepada-Mu, untuk memberkati jiwa prajurit ini. Lapiskanlah api yang lebih panas dari neraka pada pedang hamba ...."


Mantra itu! batin serentak semua anggota Die Acht Viende, tak terkecuali Fidel yang tak sengaja melihat api yang muncul menusuk langit.


"Barra Fuego Infierno!" teriak Rigla yang membanting pedangnya ke samping, lalu dengan satu ayunan menebas semua kepala Three Demon Eyes bahkan membuat bangunan yang ada di sekitar ikut terpotong.


Arah potongan Reynald menyesuaikan tinggi dari Three Demon Eyes, sehingga potongannya tidak akan melukai para warga. Namun, ia lupa untuk menghitung bahwa pedangnya juga akan memotong bangunan yang ada di sekitarnya.


Potongan rapi yang sedikit miring membuat bangunan bagian atas yang sudah terpisah, merosot pelan dan hancur ketika menyentuh tanah. Sedangkan para Three Eyes Demon yang kepala dan tubuhnya sudah terpisah, langsung terjatuh dengan darah mengucur keluar dari lehernya.


"Wahai Dewa Air yang mampu menenangkan ombak setinggi langit, aku mohon kepada-Mu untuk memberkahi diri hamba dengan air langitmu. Agua Serenida."


Walau langit masih terang, namun hujan tiba-tiba turun. Memadamkan semua api yang berkobar dan membakar baik rumah warga mau pun rerumputan dan hutan.


Mereka yang masih selamat satu per satu keluar, melihat ke langit cerah yang hujan. Semuanya menyatukan kedua tangan, berlutut, dan menangis.


"Rahmat dari para Dewa, telah datang kepada kami. Semoga jiwa yang telah pergi, mendapatkan tempat yang terbaik."


Itulah yang terlintas di benak setiap orang yang masih selamat.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2