Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 25 - Mendominasi


__ADS_3

Pasukan Para Raja satu per satu berdiri dengan mata yang kembali melihat sinar harapan. Harapan yang sempat sirna, muncul, sirna, lalu muncul lagi. Harapan yang seperti sedang mempermainkan mereka.


Namun, harapan itulah satu-satunya yang bisa mereka percayai untuk saat ini.


"REYNALD!" teriak Pasukan Para Raja dengan sangat bersemangat.


Reynald melirik ke belakang dengan tersenyum.


Swosh! Zindia tiba-tiba sudah ada di depan Reynald. Kecepatan Zindia sangat cepat hingga tak dapat disadari oleh Pasukan Para Raja yang sedang menyorakkan nama Reynald.


"Matilah kau!" ucap Zindia dengan suara monsternya. Pedang foil ia tusukkan dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya dan jauh lebih banyak pula dari sebelumnya.


"Darkness: Unlimited Puncture!"


Tangan kanan Zindia bergerak dengan sangat cepat hingga membuat embusan angin yang sangat kuat.


Cetak!


Zindia terkejut. Wajah terkejut tak bisa ia sembunyikan. Syok, tubuhnya sedikit mundur ke belakang. Pedangnya patah, seperti sebuah lidi yang dipatahkan.


"Kau yang pertama ...." Reynald melihat ke arah Zindia dengan tatapan mata tajam.


Zindia yang takut, menelan ludah. Ia kemudian langsung melesat kembali ke barisan Tujuh Dosa Besar.


Kejadian yang nampak lama tersebut, di waktu yang sebenarnya hanya berlangsung kurang dari satu detik.


"A-apa yang terjadi?" ucap Ratu Cleo yang sama bingungnya dengan Pasukan Para Raja.


Pasukan Para Raja berhenti memanggil nama Reynald. Mereka kemudian sadar bahwa mereka telah mengalihkan perhatian Reynald hingga membuat Reynald rentan untuk diserang.


Di sisi yang lain, Zindia yang telah berjajar kembali dengan Tujuh Dosa Besar, panik dan terengah-engah.


"Oi, Zindia~ Apa yang terjadi? Kau takut? Pada makhluk rendah seperti manusia?" ucap Aptistia yang meremehkan Zindia.


"Tutup mulutmu, ******! Kau belum tahu kekuatannya saat ini!"


Balasan keras dari Zindia membuat terkejut enam Tujuh Dosa Besar lainnya. Suasana menjadi hening nan canggung. Hanya napas terengah-engah Zindia saja yang terdengar.


"Tadi kau memanggilku apa? Oi, Banci, aku bertanya padamu." Aptistia menatap Zindia dengan mata yang terbuka sangat lebar. Tatapannya seperti menarik Zindia ke dalam ilusi ketakutan yang tanpa batas.


"Aptistia, hentikan itu," ucap Vanidas.


"Kau juga sependapat dengannya, Vanidas?" Aptistia menatap ke arah Vanidas.


"Aku setuju dengan ketidaktahuanmu tentang kekuatannya (Reynald) saat ini."


Mendengar Vanidas yang ikut "merendahkannya", kekesalan Aptistia memuncak. Ia mengecap kesal dan berkata, "Kalian benar-benar meremehkan diriku rupanya .... Baiklah, akan kutunjukkan kepada kalian ... tentang kekuatan sebenarnya dari sang Ketamakan!"


Aptistia mengangkat kedua tangannya dan menekuknya. "Darkness: Gigantic Love Rabbit!" rapal Aptistia dengan senyuman seperti seorang psikopat.


Petir bergemuruh di langit. Tak seperti petir pada umumnya, petir yang menyambar berwarna pink. Cahaya pink meletup-letup dari balik awan hitam.


Dua kaki raksasa tiba-tiba muncul dari langit. Semakin lama, tubuh penuh dari raksasa tersebut semakin nampak jelas. Seekor kelinci pink muncul dengan ukuran yang saking besarnya, membuat Kraken terlihat seperti cumi-cumi biasa.


Ketika kedua kaki kelinci menyentuh permukaan laut, air di laut langsung tersentak ke awan. Mata sang kelinci berwarna merah menyala.


"MAAAAAAAP!!" teriak Kelinci Raksasa yang sangat keras hingga gelombang suaranya membuat air laut menepi sejenak dari sekitarnya.


Teriakan tersebut juga sangat keras hingga membuat gendang telinga Pasukan Para Raja seakan-akan mau pecah. Di satu sisi, teriakan tersebut juga membuat beberapa orang dari Aliansi Para Raja "tersadar".


Tatapan mata yang kosong, kembali "terisi". Cahaya yang sempat redup, kini kembali menyala. Beberapa di antara yang sadar adalah Die Acht Viende dan para petinggi kerajaan.


"Apa yang ... sedang terjadi?" ucap Bestruger yang sakit kepala. Ia kemudian melihat ke arah lautan dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat Kraken yang telah terkikis sebagian dan sosok Kelinci Raksasa ada di tengah laut.


Begitu halnya dengan mereka yang baru terbangun.

__ADS_1


Satu hal lagi, mereka juga langsung dibuat gemetaran tatkala merasakan sedikit aura dari Tujuh Dosa Besar.


"Hahahaha! Lihatlah! Ciptaan sekaligus teman terbaik dan terkuatku, Pinky!" ucap Aptistia tertawa dengan keras. "Pinky ini sangat kuat! Ia bahkan lebih kuat dari beberapa Tujuh Dosa Besar! Saking kuatnya, menghapus sebuah negara semudah mengibaskan ekorny--!"


WOOOSSHHH!!


Energi sihir berbentuk silinder dengan ukuran yang sangat besar ditembakkan. Aptistia perlahan-lahan dan dengan kaku menoleh ke arah Pinky.


Energi sihir yang ditembakkan menembus dengan mudah sebagian besar tubuh Pinky, hanya menyisakan dua kaki yang berdiri di atas permukaan laut.


Pupil mata Aptistia mengecil. "PIIINKYYY!!" teriak Aptistia dengan menangis, merengek seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.


Melihat Pinky yang dengan mudah dilenyapkan, Kelima Dosa Besar yang belum menghadapi Reynald yang Baru, langsung memasuki mode bertarung. Vanidas mengangkat tangan kanannya ke atas, mengeluarkan pedang-pedang cahaya berwarna merah gelap yang tak terhitung jumlahnya.


Keempat Dosa Besar dengan kompak melesat ke arah Reynald.


Kelimanya melakukan serangan kombinasi yang tak pernah sedikit pun terpikirkan di benak mereka, bahwa mereka akan melakukan serangan kombinasi untuk yang kedua kalinya dalam menghadapi musuh yang sama.


Vanidas membanting tangannya ke depan, membuat pedang-pedangnya melesat dengan sangat cepat.


Reynald sedikit menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri, menghindari pedang demi pedang cahaya milik Vanidas dengan mudah. Vanidas yang terkejut, memicingkan matanya dan membuat pedang-pedang sihirnya melesat dengan lebih dan lebih cepat.


Namun lagi-lagi, Reynald dapat menghindari serangan Vanidas dengan mudah.


Vanidas yang berpikir telah mengalihkan pandangan dan perhatian Reynald, tiba-tiba menghentikan serangannya. Ira yang telah sampai di dekat Reynald, mengangkat kapaknya yang hampir sebesar Pinky dan mengayunkannya.


Reynald memutar tubuhnya ke samping, menghindari serangan Ira dan mengayunkan lembut tangan kanannya ke atas, memotong kedua lengan Ira seperti sebuah pisau panas memotong mentega.


Ira berteriak kesakitan. Tanpa sadar, tubuhnya mundur ke belakang. Kedua tangannya yang telah terputus, jatuh ke laut bersamaan dengan beratnya kapak yang digenggamnya.


BYUUURRRR! Kapak yang terjatuh ke dalam air membuat sebagian air laut terangkat.


Sriing ... tak!


Sebuah tombak diayunkan miring, membelah air laut yang terangkat. Namun, oleh Reynald tombak tersebut di tahan dengan dua jari tangan kirinya.


Ia menguatkan pegangannya, otot-otot di kedua lengan bahkan wajahnya memberontak keluar. Namun, tombaknya masih belum bisa ia cabut. Vlagilles yang menyadari adiknya akan terkena serangan telak, dengan cepat melesat ke arah Igna.


Reynald yang menyadari Vlagilles melesat ke arahnya, melepaskan pegangan pada tombak Igna. Igna yang sejak tadi mencoba mencabut sekuat tenaga, tanpa sengaja mengarahkan tombaknya ke arah samping, tepat ke arah Vlagilles yang sedang mencoba menyelamatkannya.


Tombak Igna menembus dada Vlagilles.


"Vlagilles!" teriak Igna yang langsung melepaskan genggaman tombaknya dan mencoba membopong Vlagilles. Reynald yang melihat mental Igna hancur, langsung melihat ke arah bawah.


Arah di mana dirinya seperti sedang ditarik oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Kalau kau sebegitu inginnya menarikku, maka tariklah ini. Light: Little Ball."


Reynald mengarahkan ujung pedang yang ada di tangan kanannya ke bawah. Dari ujung pedang tersebut, muncul sebuah bola kecil berwarna putih keemasan.


Ukurannya yanag kecil, dengan mudah dan cepat terserap oleh tarikan kuat milik Avarus. Vanidas yang menyadari bola tersebut, terlambat untuk memperingatkan Avarus.


"Jangan telan itu, Avarus!"


Avarus yang terlambat mendengar peringatan, serta terlalu bodoh, menarik bola kecil tersebut ke dalam perutnya.


DAAAAAMMMM!!!


Ledakan yang sangat besar nan kuat terjadi. Ledakan tersebut sangat besar hingga suaranya dapat terdengar dari kerajaan tetangga tetangganya kerajaan tetangga.


Gelombang kejut yang diciptakan dari ledakan tersebut juga sangat kuat hingga mengikis habis mudah tubuh Kraken dan Pinky yang tersisa.


"Apa ... apa yang terjadi ...?" ucap Fidel membuka matanya pelan.


FIdel dan Pasukan Para Raja serta orang-orang yang sadar mulai membuka matanya. Cahaya ledakan yang sangat terang membuat mereka reflek menutupi mata mereka dengan entah lengan, pakaian, atau bahkan dilindungi oleh para bawahannya.

__ADS_1


"Fidel ... lihatlah ke sekelilingmu," ucap Grant yang ternganga.


Fidel melihat ke sekitarnya, dan ia memahami mengapa Grant bisa dibuat ternganga tak berdaya. Reruntuhan bangunan, hutan, bahkan bukit sekali pun ... rata dengan tanah. Wilayah sekitar mereka berubah menjadi dataran kosong yang seperti tempat baru yang tak pernah dijamah oleh siapa pun bahkan makhluk apa pun.'


"Ledakan macam apa itu tadi?!" ucap Dumida dengan keringat dingin.


Teriakan Dumida membuat Pasukan Para Raja terkejut. Mereka melihat ke belakang dan kemudian menyadari bahwa para prajurit satu per satu mulai "bangkit" kembali.


"Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?" tanya seorang Petinggi Kerajaan Calma khawatir kepada rajanya.


Para petinggi menghadap ke rajanya masing-masing, bertanya tentang kondisi dari para pemimpinnya. Begitu pula dengan para prajurit yang baru saja "bangkit". Mereka langsung menemui Komandan Pasukan atau para pemimpinnya.


Kebangkitan para prajurit yang tiba-tiba, membuat Pasukan Para Raja kebingungan. Namun, Raja Orgulla tak peduli akan hal itu.


"Kepada Para Prajurit yang kembali bangkit, dengarkan aku. Kita, sedang berada di ujung pertempuran besar ini. Yang Terpilih, sedang menghadapi tujuh petaka yang kekuatannya jauh berada di luar jangkauan kita. Memang memalukan, namun satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah tetap berada di dalam pelindung ini."


Ucapan Raja Orgulla membuat para prajurit sedikit kebinungan. Namun, di saat yang bersamaan menjawab banyak pertanyaan mereka.


"Bagi yang sudah kembali bangkit, kumpulkan mereka yang belum kembali bangkit di satu tempat. Obati yang terluka dan jangan ada yang keluar dari pelindung ini, apa kalian mengerti?!"


"Baik, Yang Mulia!" jawab serentak Pasukan Aliansi Para Raja.


Grant melihat ke arah Fidel, begitu pula dengan Fidel yang melihat ke arah Grant. Keduanya mengangguk. Seolah-olah telepati terjadi.


"Ayo, Fidel! Kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan!"


"Benar, Tuan Grant!"


Kurang lebih, seperti itulah arti anggukan keduanya.


Ratu Cleo bersama dengan pasukannya mulai merapalkan sihir penyembuhan kepada mereka yang terluka. Raja Calma beserta pasukannya mendirikan tenda darurat melalui sihir mereka.


"Yang Mulia ..." ucap Raja Erdovarte yang masih berada di samping Raja Orgulla.


"Hanya ini yang bisa kita lakukan ... bukan begitu, Yang Mulia Erdovarte?"


Raja Erdovarte tersenyum. "Ya ... Anda benar."


Suara lolongan seekor singa tiba-tiba terdengar dari tengah laut. Bersamaan dengan menggeloranya lolongan tersebut, gelombang kejut berwarna merah juga ikut keluar. Gelombang kejut terus menerus keluar, hingga secara perlahan seperti mencoba memecahkan pelindung yang melindungi Pasukan Aliansi Para Raja.


"AAGGGHHHH!!!"


Vanidas berteriak, mengeluarkan energi sihir merahnya yang meledak-ledak tanpa henti. Ia kemudian menatap ke arah Reynald dengan penuh kemarahan dan kebencian. Ia melesat dengan kedua tangan yang di arahkan ke belakang, mengeluarkan sepuluh cahaya merah gelap yang dilapisi listrik berwarna merah.


Vanidas mengayunkan tangannya ke depan, membuat kesepuluh pedang melesat dengan jauh lebih cepat dari sebelumnya ke arah Reynald.


Kecepatan pedang tersebut sangat cepat hingga membuat Reynald harus menangkisnya. Reynald menangkis pedang-pedang itu dengan sangat cepat.


Ia kemudian melesat ke arah Vanidas. Vanidas terkejut dengan kecepatan Reynald. Bagaimana tidak, di mata Vanidas, ia baru saja melesatkan serangan. Namun, Reynald tiba-tiba sudah menepis semuanya dan berada di hadapannya.


Reynald mengayunkan tangan kirinya ke atas, memotong tangan kanan Vanidas. Vanidas dengan cepat langsung melesat ke belakang, menjauh dari Reynald. Ia memegang tangan kanan yang sudah tercopot dan kemudian kembali memasangnya.


Di saat Vanidas mundur, Reynald mendapat serangan dari samping. Tombak melesat dengan sangat cepat, dipenuhi dendam. Igna dengan mata penuh kebencian dan kemarahan mencoba menusuk Reynald dengan cara yang kotor.


Namun, Reynald yang dapat membaca serangan tersebut menghindari serangan Igna dengan sedikit mundur ke belakang. Ia kemudian melirik, mencoba mencari Vlagilles. Ia yang menemukan Vlagilles, menyadari bahwa Vlagilles sekarat karena tombak milik Igna menembus jantung Vlagilles.


Reynald yang tak mau membuang-buang waktu, mengangkat tangan kanannya ke atas dan kemudian menusukkan pedangnya tepat ke punggung Igna yang kemudian menembus jantung dan tubuhnya.


Reynald mengeluarkan kembali pedang dari tubuh Igna.


Igna yang terkena serangan telak dan mengenai titik vitalnya, langsung sekarat. Ia tercebur ke dalam lautan dengan kondisi akan menjumpai kematian.


"Jadi, Vanidas ... hanya kau dan bocah itu yang tersisa, bukan?" ucap Reynald yang mengayunkan kuat pedang di tangan kanannya ke samping, membersihkan darah yang ada di bilah pedangnya.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2