
Sebuah gentong kayu telah berada di tengah kabin kapal. Gardieta yang sehabis menaruh gentong tersebut, membungkuk dan berjalan melewati tuannya.
"Baiklah, mari kita mulai pertandingannya."
Para Demi Human termasuk Balga menelan ludah. Meskipun presentase kemenangan mereka hampir 100%, tapi masih ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi.
Salah satunya ... bagaimana kalau Reynald kalah? Apakah yang akan dilakukan oleh ketiga bawahannya?
Balga tak gentar, setidaknya untuk melawan Reynald. Ia kemudian melihat Reynald menaruh sikunya di atas gentong kayu.
"Apa kau ... menantungku untuk panco?" tanya Balga dengan wajah heran tak percaya.
"Hm, hm!" jawab Reynald mengangguk dengan tersenyum percaya diri.
Orang ini ... apakah dia benar-benar bodoh? batin Balga.
Dwarf, adalah salah satu makhluk yang ada di Thavma. Tinggi tubuh mereka berada di bawah rata-rata makhluk yang ada. Namun, tubuh kekar dengan tenaga besar menjadikan mereka salah satu makhluk dengan fisik terkuat yang ada di Thavma.
Dia menantang seorang Dwarf untuk beradu panco? batin sang Imisy dengan keheran-heranan.
Reynald menaruh sikutnya pada permukaan gentong. Tangannya terbuka, siap memulai pertandingan. Dwarf yang melihat Reynald begitu percaya diri tertawa kecil sembari menghela napas meremehkan. Ia kemudian menaruh sikutnya dan menerima tangan terbuka Reynald.
Keduanya telah berada pada posisi masing-masing. Tangan keduanya telah saling menggenggam kuat.
"Anak Muda, sepertinya kau terlalu sombong. Biarkan paman tua ini yang mengajarimu tentang tata krama."
"Ahahaha, dengan senang hati saya terima ajaran Anda, Paman."
Tatapan wajah Balga menjadi serius. Sudut bibir yang semula naik kini turun. Ia, benar-benar ingin memberi pelajaran untuk Reynald.
"Gardieta, hitunglah sampai tiga."
Gardieta mengangguk.
"Satu ...."
Balga mengencangkan ototnya.
"Dua ...."
Reynald tersenyum santai sementara orang-orang di sekitarnya memperhatikan pertandingan tersebut dengan sangat serius.
"Tiga!"
Balga dengan sekuat tenaga memanting lengannya ke kiri.
DAK!
Gentong kayu langsung hancur seketika. Bir yang ada di dalamnya tumpah ke mana-mana.
Balga dengan bangganya melepas genggamannya dan mengangkat kedua tangannya. Bersorak atas kemenangan mudahnya.
__ADS_1
"Sudah kubilang, bukan? Paman ini akan mengajarimu tata krama!"
Wajah Reynald menghadap ke lantai. Terdiam, membuat ketiga bawahannya panik.
"Tu-Tuan Rey--" tanya Shina.
"Haiya! Aku kalah, ya? Hahahaha. Sungguh kuat sekali paman satu ini," ucap Reynald dengan mengibas-ngibas lemas tangan kanannya.
Ucapan Reynald membuat kepala Bulga semakin besar.
"Kalau begitu, sesuai janji kami, kapal ini menjadi milik kalian." Reynald membalikkan badan dan berjalan menaiki tangga.
"Tu-tunggu dulu!" teriak Bulga.
Reynald yang sudah menaiki setengah tangga, terhenti dan melirik ke belakang.
"A-apa kau yakin? Memberikan kapal sebagus ini kepada kami?"
"Janji adalah janji, bukan?" jawab Reynald yang kemudian melanjutkan langkahnya.
Reynald telah berada di permukaan kapal, diikuti oleh Gardieta. Shina dan Everest memasang tatapan seorang pembunuh yang telah memegang pisau. Keduanya menatap tajam Balga yang sedang besar kepala.
"Apa? Bukankah aku sudah mengalahkan tuan kalian? Pergilah!" bentak Balga dengan tersenyum merendahkan.
Everest dan Shina memalingkan wajahnya. Tapi aura membunuh mereka terus-menerus menggelora. Keduanya berjalan menaiki tangga.
Setelah Reynald dan yang lainnya tak nampak lagi, Balga dan para Demi Human lainnya bersorak seolah-olah baru saja memenangkan pertempuran terbesar sepanjang sejarah.
Mereka ... manusia? Tidak .... Sepertinya, kita terlalu cepat dalam menyimpulkan.
***
Di atas permukaan kapal, Everest dan Shina protes kepada tuannya yang sengaja mengalah.
"Ahahaha, tidak-tidak, dia memang kuat, kok. Buktinya lengan kananku sampai lemas begini," ucap Reynald menunjukkan lengan kanannya yang seperti patah.
Everest dan Shina memasang wajah curiga berpadu kesal. Tuan mereka yang mereka ketahui tak selemah itu. Bahkan, keduanya yakin bahwa Reynald bisa menang dengan mudah jikalau Reynald mau sedikit berusaha.
Tapi kenapa tuan mereka yang agung harus mengalah adalah apa yang menjadi kekesalan mereka.
Keempatnya telah kembali ke kapal mereka. Setelah beberapa lama, suara gaduh terdengar dari kapal Francois.
"Apa yang mereka ributkan?" tanya Gardieta.
Reynald tersenyum. Dan tak lama, kepala Balga terlihat dari atas kapal Francois.
"Sudah kuduga kau masih di sini! Oi, Anak Muda! Bagaimana bisa kau memberikan kapal yang sudah rusak kepada kami?!"
"Oh, aku tak tahu kalau kapalnya sudah rusak! Maaf-maaf!" jawab Reynald dengan tersenyum serta tertawa.
Balga kesal, ia mencengkeram kuat pembatas kapal. Anak tak tahu diri!
__ADS_1
Sementara Balga sedang marah-marah, para Demi Human dan ras lainnya yang sudah keluar dari jeruji mereka, sedang kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan. Percuma rasanya dapat keluar dari jeruji besi, tapi ujung-ujungnya mati di tengah laut.
Dan itu semua, berjalan sesuai rencana Reynald.
"Oi, Balga. Aku akan membuat penawaran."
Balga yang mendengar itu langsung membalas dengan ketus, "Diamlah! Aku tak akan terjebak lagi oleh permainan bodohmu!"
"Oh, begitukah? Kalau begitu, selamat tinggal." Reynald melambaikan tangannya dan kemudian membalikkan badannya.
Orang-orang yang ada di atas kapal Francois, langsung berlari ke bagian belakang kapal. Berdiri bersampingan dengan Balga, melihat ke bawah ke arah Reynald dan ketiga bawahannya.
"Tu-Tuan, jangan tinggalkan kami!" ucap salah seorang Demi Human.
Satu per satu mulai memanggil Reynald dengan sebutan tuan. Reynald yang sudah mengucapkan selamat tinggal kepada Balga, telah bersiap bersama ketiga bawahannya untuk lanjut berlayar.
Orang itu ... sialan! Dia benar-benar membuatku kesal! batin Balga yang kemudian dibuat terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba melewatinya dan lompat dari kapal.
"Woa ... apa ada ombak? Tidak, ini bukan ombak," ucap Reynald yang kemudian membalikkan badannya. "Apa ada yang bisa saya bantu, Nona Imi--?"
Sebuah pukulan melesat tepat ke bagian depan muka Reynald, membuat terkejut semua orang yang ada di atas kapal Francois.
"Wanita ******, apa kau tak sadar dengan posisimu?" tanya Shina yang menahan pukulan sang Imisy hanya dengan jari telunjuk dan tengah yang diangkat.
Sang Imisy terkesiap melihat pukulannya ditahan dengan begitu mudah. Instingnya mengatakan untuk mundur. Namun, harga dirinya tak membiarkan itu.
Ia memutar tubuhnya, mencoba melancarkan tendangan dari samping. Shina yang jengkel, menggenggam kaki yang hendak menendangnya, menariknya sedikit lalu berniat untuk mengempaskannya. Namun, tepat sebelum ia melempar tubuh sang Imisy, Reynald mencegahnya.
"Shina, turunkan dia."
Suara dingin tuannya membuat Shina ketakutan. Ia langsung memutar tubuh sang Imisy dan dengan paksa membuatnya tengkurap sementara ia berlutut.
"Ma-maafkan ketidaksopanan saya, Tuan ..." ucap Shina yang tak berani menatap wajah tuannya. Ia hanya bisa menukuk dengan gugup.
Kapal lagi-lagi berguncang. Kali ini, guncangannya lebih kencang dari sebelumnya. Suara kaki bergemuruh muncul tanpa henti. Kapal tak berhenti bergoyang untuk saat yang lama.
Reynald menghela napas; memejamkan matanya.
Ketika kapal telah berhenti bergoyang, Reynald dan ketiga bawahannya telah dikelilingi oleh puluhan prajurit Demi Human.
"Jadi, kalian ini siapa?"
Para prajurit yang ada di hadapan Reynald membuka jalan. Sesosok pria dengan kepala singa, bertubuh kekar dengan tinggi lebih dari dua meter berjalan melewati jalan yang dibukakan oleh para prajurit Demi Human.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu, Manusia."
Pria Singa itu berhenti di depan para prajurit, berhadapan langsung dengan Shina yang masih menekan kepala Wanita Imisy ke lantai kapal.
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1