Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 11 - Sang Harapan


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu.


Nama Die Acht Viende dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Benu Sievaria, bahkan mulai sedikit tersebar ke benua seberang.


Misi demi misi yang diberikan, dituntaskan dengan cepat dan mudah oleh Die Acht Viende. Bahkan saking kuatnya Die Acht Viende, mereka sampai dikatakan setara dengan kekuatan sebuah negeri.


Die Acht Viende berjalan memasuki kota, disambut dengan sorakan meriah dari para penduduk seperti biasanya.


"Tuan Reynald, seperti biasa Anda luar biasa." Fidel menunggangi kuda berseberangan dengan Reynald.


"Terima kasih, kamu juga luar biasa. Mengalahkan beberapa monster tingkat D+ seorang diri."


Pada bulan ke enam tahun 817, Reynald mengusulkan kepada sang Raja tentang suatu sistem yang mengukur tingkat keberbahayaan suatu monster.


"Untuk pengklasifikasiannya, didasarkan dari tiga aspek. Yaitu: Kekuatan, Ancaman, dan Pengaruh."


Di aula kerajaan, Reynald mempresentasikan hasil penelitan dan ciptaannya di hadapan sang Raja, Grant, Albert, dan beberapa petinggi kerajaan. Semua orang dibuat takjub dengan pemikiran visioner Reynald.


"Yang Mulia, saya mendukung penuh sistem ini. Dengan adanya sistem seperti ini, kita dapat lebih mudah dalam menentukan siapa yang harus diutus," ucap Grant.


"Ya, saya juga sepakat dengan pendapat Tuan Grant, Yang Mulia," ucap Albert.


Para petinggi yang lain tak ada yang keberatan, justru menunjukkan wajah kesangatsetujuan dan keoptimisan.


Raja yang melihat tak adanya yang keberatan serta melihat bahwa yang diusulkan Reynald memang akan sangat berguna, memutuskan untuk meresmikan sistem yang diusulkan oleh Reynald. Sang Raja juga memberikan perintah kepada Grant dan Albert untuk mengajari dan menyebarkan sistem ini.


"Baik, Yang Mulia!" jawab Grant dan Albert.


"Reynald ..." ucap sang Raja menatap wajah Reynald.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Reynald yang sedang diapresiasi oleh para petinggi kerajaan.


"Terima kasih, karena telah menjadi harapan bagiku." Sang Raja tersenyum. Senyuman yang mengingatkan Reynald dengan kakeknya yang telah lama meninggal. Senyuman ... yang seperti senyuman terakhir.


Reynald merinding. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak bisa berkata apa-apa.


Bibirnya kembali menyatu, ujung bibir sedikit terangkat. Mata yang sedikit tertutup berkaca-kaca.


"Sama-sama, Yang Mulia." Reynald sedikit menunduk.


***


Seperti hari yang selalu berganti, prestasi dan apresiasi datang silih berganti. Nama dari Die Acht Viende semakin besar hingga membuat siapa saja yang mendengar namanya merinding seketika.


Setiap kedai, setiap sekolah, setiap tempat perkumpulan, setiap guild, selalu membahas tentang apa-apa saja yang telah diukir dan diraih oleh Die Acht Viende.


Hingga pada bulan ke dua belas tahun 817, Die Acht Viende diundang untuk ke suatu kerajaan.


Di dalam aula kerajaan ....


"Oh, Pangeran Bestruger. Sudah lama kita tidak bertemu," ucap seorang Raja dengan mahkota dan rambut putih. Mengenakan jubah panjang berwarna putih dengan pinggiran emas.


"Raja Orgulla, suatu kehormatan dapat dipanggil langsung oleh Anda." Bestruger membungkuk dengan tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan di dada kiri.


Raja Orgulla kemudian melihat ke beberapa orang yang ada di belakang Bestruger.


"Oh, jadi ini adalah Die Acht Viende yang terkenal itu? Tiap anggotanya benar-benar memancarkan aura yang kuat!" puji Raja Orgulla yang sebenarnya hanya basa-basi.


Para anggota Die Acht Viende (selain Bestruger) membungkuk dan menaruh tangan kanan di dada kiri.

__ADS_1


Orgulla, merupakan salah satu kerajaan terkuat di Benua Sievaria. Kerajaan Orgulla terkenal akan kekuatan militernya. Kerajaan Orgulla memiliki julukan Negeri Seribu Tentara.


Melihat jumlah Die Acht Viende yang lebih sedikit dari informasi yang ia dengar, Raja Orgulla sedikit kebingungan.


"Pangeran Bestruger, bukankah Die Acht Viende berjumlah delapan orang? Lalu, ke mana dua lainnya?" tanya Raja Orgulla.


"Benar, Yang Mulia. Kami berjumlah delapan orang. Dua anggota lainnya akan segera datan-" ucap Bestruger yang tidak selesai karena terkejut melihat ekspresi wajah Raja Orgulla.


Wajah Raja Orgulla seperti sedang melihat sesuatu yang sangat menakjubkan hingga membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya dibuat merinding dengan aura yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Ke-kekuatan macam apa ini ...?"


Ucapan Raja Orgulla yang terbata-bata membuat Bestruger, Die Acht Viende, bahkan para petinggi kerajaan yang ada di aula kerajaan tersebut terkejut. Bagaimana tidak, sosok yang selalu dipandang sebagai yang tak kenal takut, yang selalu berada di atas yang lainnya, bahkan yang terkuat dibuat merinding oleh seseorang.


Pintu diketuk. "Dua anggota Die Acht Viende meminta izin memasuki ruangan," ucap prajurit di seberang ruang aula yang tertutup.


Pintu dibuka secara perlahan (karena pintu aula berat).


Senyuman di wajah Raja Orgulla semakin melebar. Mulutnya terbuka, seperti ingin memanjatkan pujian ketakjuban. Aura yang tak pernah ia rasakan, tubuh merinding yang sudah lama tak ia rasakan.


Reynald muncul bersama dengan Fidel.


"Mohon maaf atas keterlambatan kami, Yang Mulia. Ada beberapa hal yang perlu kami tuntaskan sebelum ke sini," ucap Reynald membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri diikuti oleh Fidel.


Raja Orgulla berjalan melewati Bestruger, melewati para Die Acht Viende yang masih berlutut. Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, dengan mata berbinar kesenangan seperti anak kecil melihat mainan yang diimpi-impikannya.


"Anda ... Anda pasti Yang Terpilih!" ucap Raja Orgulla memegang kedua pundak Reynald dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Reynald yang tiba-tiba dipaksa tegap hanya bisa terkejut. Fidel melihat dengan sedikit kebingungan. Apakah benar, dia Raja Orgulla yang terkenal akan ketegasannya ...? batin Fidel.


"Be-benar, Yang Mulia ..." jawab Reynald sedikit tersenyum kaku.


"Oh, Dewa! Terima kasih ... terima kasih!" Raja Orgulla tiba-tiba memeluk Reynald dan menangis.


***


Raja Orgulla telah kembali ke singgahsananya, duduk dengan memancarkan aura yang sangat berbeda dengan ketika Reynald dan Fidel datang. Aura yang dipancarkan sekaligus menjawab keraguan Fidel mengenai ketegasan sang Raja Orgulla.


"Mewakili seluruh rakyat Orgulla, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa kedatangan kalian, Kota Industri, Truida, pasti sudah hancur. Ucapan terima kasih saja tak akan mungkin cukup, kami akan memberikan hadiah yang setimpal dengan kerja keras kalian semua.


"Oleh karena itu, selagi kami mempersiapkan hadiah, silakan menikmati segala fasilitas yang ada di kerajaan. Jangan sungkan jikalau membutuhkan sesuatu."


"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Die Acht Viende membungkuk serentak.


Setelah sang Raja menyampaikan rasa terima kasihnya, kedelapan anggota Die Acht Viende berniat pergi dari aula kerajaan. Namun, sebelum mereka pergi, sang Raja meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Reynald.


***


Di dalam aula kerajaan yang hanya tinggal Reynald dan Raja Orgulla.


"Yang Terpilih, siapakah namamu?"


"Nama saya Reynald, Yang Mulia. Sonne Reynald Einzel."


"Reynald, ya. Sebelumnya aku minta maaf karena tiba-tiba memelukmu. Aku tidak bisa menutupi rasa senang yang sangat menggebu-gebu ini."


"Tidak apa, Yang Mulia. Justru suatu kehormatan bagi saya bisa dipeluk oleh Manusia Terkuat di Benua."


"Hahaha, sekarang julukan itu sudah tak pantas lagi disematkan kepadaku!" balas Raja Orgulla tertawa memukul sandaran tangan singgahsananya. "Hah ... tak hanya kuat, tapi Anda juga pintar, ya."

__ADS_1


Reynald hanya tersenyum.


"Kembali ke inti pembicaraanku tadi. Kehadiranmu adalah alasan mengapa aku bisa sesenang ini. Kekuatan yang kau pancarkan, menjadi alasan kenapa aku sangat ingin berbicara empat mata denganmu."


"Kalau boleh tahu, ada perihal apa sehingga Anda ingin berbicara empat mata dengan saya?


"Seperti yang kau tahu, benua kita sedang dalam ancaman terbesar sepanjang sejarah."


Sepuluh tahun lalu, sebuah pulau dengan ukuran yang hampir setara dengan ukuran sebuah benua muncul ke permukaan. Pulau tersebut memiliki tanah berwarna hitam dengan langit yang selalu mendung. Ikan-ikan yang berada di sekitar pulau tersebut akan langsung mati seketika, begitu pula dengan burung yang melintasi langit pulau tersebut.


Kerajaan terdekat yang kehidupan kerajaannya sangat bergantung dengan hasil laut, mau tidak mau mencoba mengirim tim ekspedisi untuk ke pulau tersebut. Namun, belum sempat memasuki wilayah laut dari pulau bertanah hitam, kapal yang dikendarai hangus terbakar.


Kabar buruk tak berhenti sampai di situ, tak lama setelah kerajaan terdekat mengirimkan tim ekspedisi, sebuah kapal tiba-tiba muncul dari pulau bertanah hitam. Kapal yang memiliki bentuk yang tak pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Kapal yang sangat kuat hingga mampu melewati laut yang sanggup membakar kapal dari kerajaan.


Kapal melaju dengan pelan, namun memberikan kesan yang membuat orang-orang yang melihatnya merinding.


"Ko-Komandan, a-apa yang harus kita lakukan?!" tanya salah seorang prajurit yang sedang bertugas menjaga keamanan laut.


Sang Komandan menelan ludah lalu menggertakkan giginya. "Kita tidak tahu kapal itu akan menjadi musuh atau kawan. Persiapkan diri kalian untuk menghadapi peperangan dan segera ungsikan warga sekitar!"


"Ya!" jawab para prajurit yang bertugas.


Kapal dari pulau bertanah hitam berhenti di pelabuhan kerajaan, membuat semua orang yang ada ketakutan. Para warga melihat dari kejauhan, sementara para tentara yang berjumlah satu peleton memasang badan berjajar melindungi para warga.


Kapal berhenti, namun tak ada tanda-tanda akan ada yang turun.


Komandan yang sebenarnya ketakutan, berdiri di paling depan dan meneriakki kapal tersebut. "Siapa pun yang ada di kapal itu, turunlah! Beritahu asalmu dan apa tujuanmu!"


Tak ada respons apa-apa.


"Aku ulangi sekali lagi. Siapa pun yang ada di kapal, turunlah dan beritahu tujuanm-!"


Tak sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tombak melesat menembus kepala dari sang komandan. Tubuh sang komandan terjatuh ke depan, dibarengi dengan teriakan ketakutan dari para warga.


"Se-serangan! Angkat senjata kalian, lindungi warga dan kerajaan!" teriak salah seorang prajurit.


"YA!!"


Tombak kedua tiba-tiba menghujam salah satu prajurit.


"Da-dari mana serangan ini datang?!" ucap salah seorang prajurit kebingungan yang kemudian melihat bayangan kecil. Ia kemudian melihat ke langit dan menyadari adanya sesosok makhluk hitam yang memancarkan aura hitam melayang di langit.


"Da-dari atas!" teriak prajurit tersebut yang kemudian terkena hujaman tombak.


Para prajurit seketika melihat ke langit, namun ketika mereka akan melihat ke langit, tiba-tiba kapal bergerak. Membuka pintu bagian samping, menurunkan makhluk-makhluk mengerikan dengan bentuk yang beragam.


"A-apa itu ...?" ucap prajurit yang sudah pasrah ketakutan.


"GRRAHHHH!!" teriak sosok tersebut.


Pertarungan singkat dengan hasil yang jelas pun terjadi. Kekuatan satu regu seperti seekor semut di hadapan pasukan kapal hitam misterius. Pasukan Kapal Hitam Misterius tak menghentikan serangannya, mereka terus lanjut hingga memasuki daerah kota.


Membantai habis segala yang ada di hadapannya, tak terkecuali seorang bayi yang baru saja lahir. Diinjak, ditusuk, dihantam hingga tak berbentuk, bahkan dimakan.


Kerajaan benar-benar kacau. Para kesatria terhebatnya dimatikan dengan sangat cepat. Sang raja hanya bisa terduduk pasrah, meratapi kehancuran kerajaan dan kematiannya.


"Kau tahu cerita itu, bukan?" tanya Raja Orgulla.


"Ya, cerita yang disebut sebagai Awal dari Segalanya."

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2