
Berita mengenai terbentuknya aliansi empat kerajaan tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru benua. Orang-orang dari keempat kerajaan menjadi sangat bersemangat, seperti kobaran api yang diberi minyak.
"Raja Orgulla telah bangkit! Beliau langsung membentuk aliansi melawan Rediavol? Sungguh luar biasa! Yang Mulia Orgulla sungguh luar biasa!"
"Aku dengar, Yang Terpilih akan turun langsung memimpin pertempuran ini!"
"Be-benarkah?! Bukankah dia penemu sistem klasifikasi dan salah satu anggota Die Acht Viende yang terkenal itu?!"
"Aku dengar-dengar, dia juga telah mengalahkan banyak monster tingkat A dan S seorang diri!"
"Wah! Berita ini ... benar-benar membahagiakan!"
Ketika orang-orang dari empat kerajaan sedang sangat senang, para penduduk dari kerajaan lain mempertanyakan mengapa mereka tak tergabung dalam aliansi.
"Yang Mulia! Mengapa kita tidak ikut aliansi?! Apa Anda terlalu takut?!"
"Keluarlah, Yang Mulia! Berikan kami kejelasan mengenai semua ini!"
Raja Berambut Hijau Lumut, Raja Verde, terduduk kesal dan bingung di singgahsananya. Ia terus-menerus mendengar para rakyatnya memanggil dirinya dengan hina.
Di tempat yang lain, Raja Berambut Emas yang Cukup Muda, Raja Jeitas, mencoba menenangkan rakyatnya dari balkon kerajaan.
"Rakyatku yang aku cintai, kumohon tenang dan dengarkanlah rajamu."
"Buat apa mendengarkan pecundang yang tak berani bergabung dalam aliansi?!"
"Ya!"
Hinaan tersebut langsung menusuk dada Jeitas. Ia tak menyangka bahwa keputusannya untuk Walk-Out dari pertemuan para raja menghadirkan kemurkaan rakyatnya.
Di kerajaan paling timur, Raja Berambut Coklat, Raja Tesuris juga kewalahan dalam mengatasi amarah dari rakyatnya. Kepercayaan diri dan keangkuhannya pun muncul. Ia dengan kasar membentak rakyatnya.
"Diamlah! Apa kalian pikir kita manusia dapat mengalahkan iblis?! Jangan bercanda!"
Satu bentakan yang tanpa sadar keluar dari mulut Raja Tesuris membuat rakyatnya terdiam, menatap dengan kecewa. Bahkan, para tentara yang setengah mati menahan rakyat agar tidak mendobrak masuk kerajaan ikut tercengang mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Raja Tesuris dari balkon kerajaan.
Raja Tesuris yang sadar bahwa ia telah salah bicara, mengecap kesal dan mengibas jubahnya ke depan. Ia lalu berjalan masuk kembali ke dalam istananya.
Di kerajaan paling selatan, Raja Sindera dengan cepat mengatasi murka rakyatnya dengan mudah, bahkan ia tak sempat mendengar murka dari rakyatnya.
Mengapa? Karena ia dikenal sebagai raja bertangan dingin yang senang menyelesaikan suatu permasalahan dengan "membersihkan" masalah tersebut ke akarnya. Dengan kata lain, ia dengan mudahnya akan membunuh siapa pun yang mencoba melawan atau tidak senang dengan keputusannya.
"Hahahaha ... para raja bodoh. Mereka pikir mereka sama sepertiku? Satu kedudukan sepertiku? Hahahaha. Apakah mereka tak sadar bahwa cara kepemimpinan kita berbeda? Aku tak perlu bersusah payah mengatasi rakyat yang mengamuk seperti kalian." Raja Sindera tertawa di singgahsananya, menikmati segelas anggur ketika mendengar kabar mengenai murkanya para rakyat dari berbagai kerajaan.
Kerajaan-kerajaan yang tak tergabung dalam aliansi, semuanya mengalami hal yang sama (kecuali Sindera). Rakyat yang kecewa dengan pemimpinnya, adalah hal yang paling harus dihindari oleh seorang pemimpin. Dan mereka, para raja, telah gagal.
***
Satu pekan berlalu dengan cepat. Aliansi para raja telah berkumpul di satu titik, yaitu daerah terluar dan paling dekat dengan Pulau Tanah Hitam, Rediavol.
__ADS_1
"Kakak ..." ucap lirih Raja Orgulla yang berdiri di tanah lapang, bekas kerajaan kakaknya.
Mereka, Aliansi Empat Kerajaan berkumpul di Kerajaan yang Telah Hancur, Vanidas.
Raja Orgulla menarik napasnya dalam-dalam, membalikkan badannya, menghadap ke puluhan ribu prajurit gabungan Aliansi Empat Kerajaan. Ia berdiri di atas panggung yang sama dengan para raja dari Aliansi Empat Kerajaan, para petinggi militer Aliansi Empat Kerajaan, dan Die Acht Viende berada.
Raja Orgulla maju sedikit ke depan, bersiap menyampaikan sepatah kata untuk semakin membakar semangat para prajurit yang berapi-api.
"Tanah yang kita pijaki, menjadi saksi nyata kekejaman para iblis Rediavol. Dendam yang telah kita pendam, menjadi bukti dari amarah kita."
Nada bicara Raja Orgulla mulai meninggi.
"Masa lalu akan ketakutan yang terus menghantui akan segera menghilang. Rasa bersalah membiarkan mereka yang mati tanpa dapat berbuat apa-apa akan segera kita bayarkan. Wahai Para Prajurit pemberani ...." Raja Orgulla mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya membentuk siku-siku.
"Kemenangan bukan apa yang akan kita raih, melainkan apa yang harus kita raih. Dewa telah menjawab doa kita, mengirimkan sosok yang akan menjadi pedang dari sang Dewa. Sudah tak ada lagi hal yang harus kita tunggu ... selain sebuah kemenangan."
Para prajurit merinding. Mata mereka berkaca-kaca, teringat dengan sepuluh tahun penuh kekejaman dan penderitaan yang telah mereka lalui. Kehilangan istri, anak, keluarga, orang tua bahkan tempat tinggal.
"Reynald bukanlah satu-satunya Yang Terpilih. Kita semua adalah Yang Terpilih. Kita adalah Yang Terpilih untuk mewakilkan seluruh harapan orang-orang di benua ini. Jika Yang Terpilih adalah pedang dari sang Dewa, maka kita adalah pedang dari orang-orang di benua ini."
"Ya!!" teriak para prajurit.
"Ukirkan namamu dalam sejarah yang abadi! Angkat senjatamu dengan nyawa yang menjadi taruhannya! Raihlah kemenangan demi masa depan umat manusia!" teriak Raja Orgulla dengan menghunuskan pedangnya ke langit.
"YAAAA!!" teriak semangat juang para prajurit dengan menghunuskan senjatanya masing-masing ke langit.
"Hidup Yang Mulia, Hidup Yang Terpilih, Hidup Aliansi!"
"Hidup Yang Mulia, Hidup Yang Terpilih, Hidup Aliansi!"
"Hidup Yang Mulia, Hidup Yang Terpilih, Hidup Aliansi!"
Para prajurit yang telah terbakar api semangatnya, menunjukkan pandangan yang sudah tak takut akan namanya kematian.
Reynald dibuat takjub dengan pidato dan karisma Raja Orgulla. Saking terkagumnya, ia berkata di dalam hatinya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Raja Orgulla adalah sesuatu yang tak akan ia bisa lakukan walau berlatih selama seratus tahun.
Karena Reynald tahu, apa yang baru disaksikannya, bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dari hanya sekadar latihan.
Raja Orgulla memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya, membalikkan badan, dan berjalan mendekati Reynald. Ia kemudian memegang pundak Reynald dan berkata, "Reynald, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu. Aku ... percayakan sisanya padamu." Dan tersenyum seperti seorang ayah yang menaruh harapan besar kepada putranya.
Ucapan dan senyum Raja Orgulla menyentuh hati Reynald. Kata-kata yang sederhana, namun mengingatkannya akan sosok ayahnya. Ia seakan-akan dapat melihat sosok ayah pada diri Raja Orgulla.
"Ya ... terima kasih."
Dem ....
Jantung semua orang serasa berhenti. Langit yang cerah berubah mendung. Suasana yang semula sepanas api, kini sedingin es. Angin berhembus pelan, membuat suasana menjadi lebih mencekam.
Reynald, Raja Orgulla, dan orang-orang yang ada di atas pandung melihat ke langit.
__ADS_1
Sesosok makhluk dengan aura hitam dan pakaian hitam muncul. Sendirian. Menatap ke bawah seperti seperti sedang melihat kotoran yang tak sengaja terinjak.
"Reynald ... apakah itu makhluk yang pernah kaulihat?" tanya Raja Orgulla yang tanpa sadar menguatkan pegangan (cengkeraman) pada pundak Reynald.
Reynald tak merasakan sakit karena cengkeraman Raja Orgulla, namun ia merasakan bahwa cengkeramannya semakin kuat.
"Ya, Yang Mulia."
Raja Orgulla melepaskan cengkeramannya, membalikkan badan, lalu mengeluarkan pedang dari sarungnya. Tak berselang lama, tanah bergetar.
Reynald dan orang-orang yang ada di atas panggung melihat ke arah pelabuhan yang telah rusak. Sebuah kapal berwarna hitam telah berlabuh, disusul oleh delapan kapal yang akan segera berlabuh.
"Triturador ..." ucap lirih Reynald.
Raja Orgulla yang mendengar ucapan Reynald, menguatkan genggaman terhadap pedangnya. "Para Raja, sepertinya ktia tidak perlu repot-repot menghampiri mereka."
Raja Erdovarte, Raja Calma, dan Ratu Cleo mengerti maksud ucapan Raja Orgulla.
"Silakan, Yang Mulia Orgulla," ucap Raja Erdovarte.
Raja Orgulla mengangguk. Ia kemudian berjalan ke depan, ke tempat yang sama dengan di mana ia berpidato.
Ia melihat para prajuritnya panik, ketakutan, membuat pidato yang ia sampaikan tadi terasa sia-sia. Namun, ia tahu bahwa sudah tak ada lagi kata "mundur".
Raja Orgulla menghela napas. Ia menghunuskan pedangnya ke langit.
"Wahai Dewa Perang yang selalu memenangkan tiap peperangan,keberanian-Mu yang tanpa batas, menjadi kunci tiap peperangan. Berkahilah hamba-Mu dan pasukannya keberanian-Mu, Bravura!"
Kristal biru yang ada pada batang silang pedang Raja Orgulla menyala. Bersinar dengan sangat terang hingga membuat ketakutan para prajurit yang gemetar mulai menghilang. Bersamaan dengan itu, para petinggi militer dan Die Acht Viende (kecuali Reynald) turun dari panggung menuju ke sebelah barat para prajurit berbaris.
"Apa yang kalian takutkan? Bukankah kita telah mengikrarkan janji untuk meraih kemenangan?!" teriak Raja Orgulla yang membuat para prajurit membusungkan dada, merasa malu terhadap diri masing-masing karena sempat kembali ketakutan.
"Akan kuulangi sekali lagi. APA YANG KALIAN TAKUTKAN?!"
"TIDAK ADA!" teriak para prajurit serentak dengan menghentakan tombak dan kaki ke tanah.
"Maka ikutlah denganku menuju ke pelabuhan!" Raja Orgulla menghunuskan pedangnya ke arah pelabuhan.
"YAAA!!"
Die Acht Viende (kecuali Reynald) dan para petinggi militer lain telah berada di sebelah barat para prajurit berbaris, menunggangi kuda, dan siap memimpin para prajurit menuju ke pelabuhan.
Para raja turun dari panggung, dan kemudian menunggangi kuda mereka masing-masing.
Para raja, Die Acht Viende, dan para petinggi militer berjalan (dengan kuda), memimpin para prajurit menuju ke pelabuhan, meninggalkan Reynald sendirian di atas panggung berhadapan langsung dengan Sosok Hitam yang masih melayang di langit.
Reynald ... kami serahkan padamu! batin para Raja yang terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!