
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dengan berbagai hambatan, Reynald untuk pertama kalinya melihat ibukota kerajaan dari kejauhan.
Memiliki benteng segi delapan dengan istana kerajaan megah di tengahnya, membuat Reynald kagum tak bisa berkata apa-apa. Pemandangan yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui buku dongeng, sekarang berdiri dengan jelas di hadapannya.
"Tuan Reynald," sapa Grant.
Reynald mengedipkan matanya lalu melihat ke arah Grant. "Maaf, mungkin tak sopan, namun aku tak menyangka bahwa pemandangannya akan seindah ini."
"Hahaha, senang mendengar Anda menyukainya."
Ketika sudah mendekati gerbang masuk kerajaan, Reynald melihat ada begitu banyaknya orang mengantre masuk ke dalam kota. Ada yang mengenakan pakaian compang-camping, ada yang membawa gerobak, ada yang mengenakan pakaian petualang, ada juga yang nampak sedang protes dengan prajurit penjaga.
"Apa-apaan ini?! Aku adalah seorang bangsawan ternama! Dan dia, adalah Yang Terpilih!" ucap seorang pria berperut buncit dengan kumis imperialis menunjuk seorang pemuda dengan kedua tangan yang terbuka.
Seorang pemuda dengan pakaian khas seorang bangsawan berdiri di samping pria kumis imperialis, menaikkan rambutnya, dan tersenyum penuh percaya diri.
"Lihatlah betapa gagahnya dia! Apa kau masih ragu ..." ucap Pria Kumis Imperialis yang kemudian tak diacuhkan oleh para prajurit.
Prajurit yang tadi sedang berdebat dengan Pria Kumis Imperialis langsung berjalan melewati si pria berkulis imperialis begitu saja.
Para prajurit yang sedang bertugas dengan cepat langsung berbaris. Dengan serentak, para prajurit memberi hormat kepada Grant yang sudah datang dengan pasukannya.
Semua orang terkejut melihat Jenderal Perang sekaligus Jenderal Besar Grant yang muncul secara tiba-tiba, tak terkecuali Pria Kumis Imperialis. Ia yang melihat momen tersebut, tidak ingin menyia-nyiakannya.
"Je-Jenderal Grant, selamat pagi. Saya adalah bangsawan dari keluarga Zestore, Stechen Zestore. Saya dengan bangga ingin menunjukkan pemuda ini kepada sang Raja," ucap Stechen yang membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri.
Pemuda yang dimaksud oleh Stechen berjalan ke samping Stechen lalu membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri pula.
"Oh, Tuan Stechen. Siapakah gerangan pemuda yang berada di samping Anda?" tanya Grant yang masih ada di atas kuda.
"Dia adalah Yang Terpilih," jawab Stechen menegakkan badan dengan penuh percaya diri.
Ucapan Stechen yang lantang didengar oleh semua orang yang ada di tempat tersebut.
Grant yang mendengar hal tersebut sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum dan berkata, "Benarkah? Luar biasa. Bisakah Anda ikut kami untuk menghadap kepada sang Raja?"
"Tentu saja, Jenderal Grant! Untuk itulah saya membawanya!" jawab Stechen dengan tangan terbuka.
Prajurit membukakan gerbang, berteriak, "Buka gerbang! Jenderal Grant Lanza Soldado telah datang dengan Yang Terpilih!"
Pintu gerbang dibukakan. Para warga yang mendengar hal tersebut, heboh dan langsung berbaris seperti menyambut sebuah parade. Para warga terutama anak kecil menyoraki kedatangan Grant dengan sangat antusias.
"Jenderal Grant, Anda memang luar biasa!"
Sorakan demi sorakan yang memuji nama besar Grant terus disahutkan. Grant membalas dengan lambaian pelan namun berwibawa di atas kuda putihnya.
Stechen membuka pintu kereta kudanya. Setengah tubuhnya keluar dan berteriak, "Lihatlah, wahai Penduduk Erdovate! Jenderal Grant yang terhormat dan aku, Stechen Zestore telah membawa Yang Terpilih!"
"Ohhh!! Tuan Stechen! Anda memang luar biasa!"
Teriakan menyoraki nama Stechen ikut disenandungkan. Sorakan demi sorakan terus mengiringi jalannya Grant dan pasukannya hingga sampai di depan kastil Kerajaan Erdovate.
Di depan pintu gerbang kastil kerajaan, sang Raja berdiri dengan belasan prajurit berzirah besi perak yang mengkilau. Memiliki bulu di bagian atas helmnya seperti helm spartan, dengan perisai di tangan kiri dan pedang seukuran setengah tubuh di tangan kanan membuat mereka disegani oleh siapa pun yang melihatnya.
Kuda berhenti cukup jauh dari tempat sang Raja berdiri. Grant turun dari kudanya diikuti oleh para prajuritnya. Grant menghadap ke sang Raja dan berlutut serta menukuk, diikuti oleh para prajurit dan para warga yang ada di "parade" tersebut.
"Hormat saya, Yang Mulia."
__ADS_1
"Grant, selamat datang kembali. Aku bersyukur dapat melihatmu kembali," jawab sang Raja mendekat dan menyentuh kedua pundak Grant.
"Yang Mulia," ucap Grant tersenyum menahan tangis. "Saya telah berhasil menuntaskan misi yang Anda berikan."
"Oh, benarkah? Seperti yang aku harapkan dari seorang Grant. Jadi, di mana anak yang diramalkan itu?" tanya sang Raja yang kemudian mundur kembali ke tempat semula.
Grant berdiri. Melihat Grant yang sudah kembali berdiri, Stechen yang ikut berlutut tersenyum percaya diri. Grant melirik ke salah dua prajuritnya. Mengerti akan kode tersebut, dua prajurit yang mendapat kode dari Grant berdiri dan berlari melewati Stechen. Yang mana hal itu membuat Stechen dan pemuda yang dibawanya terkejut.
Pintu kereta kuda dibuka oleh kedua prajurit.
"Setelah melewati perjalanan selama lebih dari lima hari, kami berhasil menemukan Yang Terpilih dan membawanya ke hadapan Yang Mulia. Sambutlah, Yang Terpilih, ..."
Reynald turun dari kereta kuda.
"... Sonne Reynald Einzel!" ucap Grant dengan sangat lantang.
Para penduduk langsung berdiri dan bersorak lantang.
"Yang Terpilih!"
"Akhirnya ... akhirnya engkau muncul, Yang Terpilih!"
"Sekarang sudah aman ... sekarang sudah aman!"
Sorakan menyebut "Yang Terpilih" dibarengi dengan ucapan syukur menghiasi suasana pagi hari yang bersejarah. Reynald berjalan dengan punggung yang tegap, sangat berwibawa seperti menjadi pusat perhatian sudah menjadi kebiasaannya.
Para wanita dan gadis terpesona melihatnya, para anak kecil terkagum kepadanya. Stechen dan pemuda yang dibawanya tak bisa berkata apa-apa ketika melihatnya. Semua orang seolah-olah tersihir oleh aura dan karismanya.
"Yang Mulia, biarkan saya memperkenalkannya sekali lagi. Dia adalah Yang Terpilih, Sonne Reynald Einzel," ucap Grant melihat Reynald yang sudah mendekat.
Reynald kemudian berlutut di hadapan sang Raja dengan tangan kanan di dada kirinya.
"Reynald, Yang Mulia."
"Reynald, ya .... Selamat datang di Kerajaan Erdovate."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Berita mengenai kemunculan Yang Terpilih membuat heboh Benua Sievaria, benua yang sekarang ditinggali oleh Reynald.
Di dalam sebuah kedai ...
"Apa?! Yang Terpilih sudah muncul?!"
"Ya! Aku mendengarnya langsung dari orang-orang yang dari ibukota!"
Di dalam kamar istana kerajaan di kota lain ...
"Begitukah? Yang Terpilih sudah muncul?" ucap seorang pria berambut panjang pirang yang sedang bercocok tanam.
"Ya, Tuan. Seperti itulah kabar yang saya dapatkan dari pemberi pesan kerajaan," jawab pelayan berdiri di depan pintu.
Di desa tempat Lacheln, Yebe, dan yang lain berada. Sedang mengadakan pesta mengenai tersebarnya cerita mengenai munculnya Yang Terpilih.
"Oh! Apa kalian tahu? Cerita mengenai Reynald sudah mulai menyebar!"
"Ya! Ya! Anak itu, tak kusangka kalau dia benar-benar anak yang hebat!"
__ADS_1
"Terlebih lagi, ada yang sangat beruntung karena sudah terikat telrebih dahulu dengannya."
Semua orang melirik ke arah Lacheln. Wajah Lacheln memerah, panas mengeluarkan uap seperti air yang baru matang.
Kembali ke ibukota, Reynald sedang berada di dalam kamarnya. Hanya dalam waktu satu hari, berita mengenai dirinya menyebar seperti lampu yang dinyalakan di dalam kamar yang gelap.
"Yang Terpilih, ya ..." ucap Reynald di hadapan cermin. "Ada banyak hal yang belum aku pahami di dunia ini. Namun, satu hal yang sangat berbeda dengan dunia lama adalah adanya sihir. Adanya sihir membuat adanya makhluk-makhluk dan hal-hal yang tak pernah kupikirkan nyata di dunia lama."
Reynald mengangkat tangan kanan sebahunya dan melihat punggung tangannya.
"Sihir, ya ... sebaiknya aku cepat menguasainya."
Ketukan pintu terdengar, dibarengi dengan suara seorang pelayan wanita.
"Tuan Reynald, Anda diminta untuk datang ke lapangan latihan oleh Tuan Grant."
"Ah, aku mengerti. Terima kasih."
Pelayan wanita sedikit terkejut mendengar ucapan terima kasih dari Reynald.
Anak muda yang sopan ... batin sang pelayan.
***
Di lapangan latihan, Grant berdiri dengan pakaian yang santainya, ditemani oleh seorang pria berkacamata bundar dengan tongkat sihir yang panjang setara dengan tingginya. Meskipun itu adalah pakaian santai, namun karena dikenakan oleh Grant, kesan santai tersebut menghilang.
"Tuan Grant, mohon maaf membuat Anda menunggu."
"Apa maksud Anda? Justru saya yang seharusnya meminta maaf karena tiba-tiba memanggil Anda."
Reynald tersenyum. Ia kemudian bertanya kepada Grant mengenai sosok yang ada di sampingnya.
Grant memberi kode kepada pria yang ada di sampingnya untuk memperkenalkan diri. Pria tersebut mengerti dan mulai memperkenalkan diri.
"Nama saya Albert Palo Galilei. Saya adalah penyihir kerajaan."
"Saya Reynald, Sonne Reynald Einzel. Senang bertemu dengan Anda."
"Tidak, justru kehormatan untuk saya dapat bertemu langsung dengan Yang Terpilih."
Setelah perkenalan selesai, Grant mengambil alih arus pembicaraan.
"Seperti yang Anda baru saja dengar, beliau adalah penyihir kerajaan. Dan tujuan saya membawa beliau ke hadapan Anda adalah untuk meminta perizinan Anda agar beliau mengajari Anda mengenai segala hal tentang sihir. Bahkan pengetahuan mengenai dunia ini."
Reynald terkejut karena Grant langsung membawa pakarnya ke hadapannya.
"Itu pun jikalau Anda bersedia," sambung Grant.
"Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk mengajari saya, Tuan Albert?"
"Sebuah kehormatan yang sangat besar bagi saya untuk dapat memperkenalkan Anda dengan dunia ini. Saya juga sudah mendapat izin dari Yang Mulia."
"Kalau begitu, dengan senang hati saya terima tawarannya. Mohon bantuan untuk ke depannya, Guru."
"Hahaha, mohon bantuan ke depannya pula, Tuan Reynald."
__ADS_1