Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 45 - Demi Human


__ADS_3

Setelah pembantaian selesai, Reynald mengambil arloji milik Francois yang tergeletak di lantai kapal. Ia kemudian memperhatikan arloji tersebut dan ia dibuat cukup terpukau.


"Heh ... arloji yang bagus, ya ..." ucapnya yang kemudian memasukkan arloji tersebut ke saku celananya.


Ia kemudian berjalan menuju ke dalam kabin kapal dengan diikuti oleh ketiga bawahannya.


"Mari kita lihat, apa yang bisa kita temukan?" ucap Reynald yang kemudian pintu menuju ke dalam kabin kapal dibukakan oleh Gardieta.


Keempatnya memasuki kabin kapal. Gelap, tak ada pencahayaan sama sekali kecuali dari sinar matahari yang masuk melalui pintu yang terbuka.


"Hm ... pasti ada di sekitar si-- oh, ini dia," ucap Reynald yang meraba-raba rak penyimpanan.


Reynald mengambil dan menyalakan lentera yang ditemukannya.


"Wah, wah ... lihat apa yang kita temukan di sini ..." ucap Reynald tersenyum dengan mengangkat kedua alisnya.


Demi Human, adalah salah satu ras yang ada di Thavma. Mereka memiliki badan seperti ras manusia, namun memiliki beberapa hal yang ada pada tubuh seekor hewan. Sebagai contoh, Demi Human Anjing, mereka memiliki badan seperti manusia, tapi juga memiliki telinga dan ekor seekor anjing. Bahkan, ada yang keseluruhan tubuhnya seperti seekor anjing, tapi bisa berdiri, berbicara, dan berkegiatan seperti manusia pada umumnya.


Para Demi Human yang ada menatapi Reynald dengan ketakutan dari dalam kandang mereka, dari dalam sebuah jeruji besi yang mengurung mereka.


"Pria, wanita, anak-anak .... Hm ... oh, hanya itulah yang bisa menjelaskannya," ucap Reynald memegang dagunya.


Itu? tanya ketiga bawahannya dalam batinnya.


Reynald yang menyadari kebingungan dari ketiga bawahannya berkata dengan santai, "Iya, 'itu'. Perdagangan manusia."


Ucapan Reynald membuat dada Gardieta sesak. Namun, berbeda dengannya, dua orang lainnya tak tahu apa itu perdagangan manusia.


"Gardieta, apa maksudnya perdagangan manusia?" tanya Shina.


"Perdagangan manusia adalah di mana kau memperjualbelikan hak hidup dari manusia, Demi Human, atau dari ras lainnya. Meskipun legal, tapi mayoritas dari mereka yang menjadi pembeli ... memperlakukan hak hidup budaknya dengan semena-mena," jawab Gardieta.


"Jangan panggil kami dengan sebutan itu!" teriak salah seorang Demi Human secara tiba-tiba.


Teriakan itu membuat terkejut Reynald dan yang lainnya.


"Demi Human? Setengah Manusia? Kami adalah makhluk yang seutuhnya! Kami adalah Imisy!" sambungnya dengan memukul lantai kabin kapal.


Teriakan orang itu membuat ketiga bawahan Reynald kesal. Sosok yang tak diketahui asal-usulnya dengan berani membentak tuan mereka yang terhormat.


Reynald mengangkat tangan kanannya, menyuruh ketiganya untuk tetap diam. Ia tersenyum, merasa menemukan sesuatu yang menarik.


"Heh ... jadi kalian adalah Imisy, bukan Demi Human?" ucap Reynald berjalan mendekati sosok yang tadi berteriak.


Tiap langkah Reynald diperhatikan oleh para Demi Human yang lain. Ada yang memeluk (melindungi) anaknya, ada yang ketakutan, dan ada yang memasang mata lemas pasrah.


"Ya! Kami adalah makhluk yang utuh, bukan makhluk yang setengah-setengah!"

__ADS_1


Reynald sampai di ujung kabin kapal, berhadapan langsung dengan sosok yang sejak tadi terus membentak.


"Heh ... keren, keren. Lalu, kenapa kalian bisa ada di sini?"


Pertanyaan Reynald yang dilontarkan dengan nada santai memacu emosi sosok yang ada di hadapannya. Ia langsung menerjang Reynald, namun karena ada jeruji yang menghalangi, ia hanya memegang jeruji tersebut.


Tatapannya setajam pedang, mulutnya sedikit terbuka dengan gigi yang digertakkan. Napasnya berat, tangannya meremas kuat jeruji besi yang menghalanginya.


"Sialan! Berani-beraninya kau bertanya pertanyaan seperti itu! Tentu saja ras-mu lah yang menyebabkan ini!"


Sudut bibir Reynald sedikit terangkat.


"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana kita tentukan nasib kalian dengan pertandingan?"


Pertandingan? batin semua orang yang mendengarkan.


"Permainan licik macam apa yang akan kaumainkan?!" bentak sang Imisy dengan menggedor jeruji besi yang menghalanginya.


"Licik? Tenang saja, aku bukanlah manusia yang seperti itu. Aku akan bermain dengan jujur. De-ngan ju-jur!" ucap Reynald tersenyum ramah.


Sang Imisy memasang tatapan kesal. Sebuah tatapan yang mengatakan bahwa ia ingin mengoyak wajah Reynald yang sedang tersenyum seperti mengejek dirinya.


"Bagaimana? Oh, aku belum memberikan kalian hadiahnya, ya? Maaf-maaf ...."


Reynald membersihkan tenggorokannya. Semua orang penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan oleh Reynald.


Tawaran hadiah Reynald membuat semua orang terkejut. Sebuah kapal yang lebih mahal dari sebuah desa ditawarkan secara cuma-cuma.


"Jangan bercanda! Kau pasti menawarkan kapal ini karena kapal ini sudah tak lagi bisa berlayar, bukan?!" bentak sang Imisy.


Reynald menunjuk-nunjuk sang Imisy. "Ternyata kau pintar juga, ya. Siapa namamu?"


Sang Imisy tak menjawab. Ia yang trauma dan penuh kecurigaan terhadap manusia, seperti seekor hewan yang takut melihat manusia, secara reflek memundurkan tubuhnya. Namun, wajahnya tetap ia buat garang. Harga dirinya terlalu mahal dibanding ketakutannya.


"Hm ... tak mau menjawab, ya. Hah ... tapi, kau hanya setengah pintar saja."


Ucapan Reynald lagi-lagi membuat semua orang terkejut dan kebingungan.


"Ma-maksudnya, Tuan?" tanya Shina.


"Yah, lihat saja dia. Begitu ditawari kapal ini, ia langsung mau, kan? Alasan penolakannya sih, kapal ini sudah tak bisa berlayar. Seandainya bisa, berarti dia akan menerima hadiahnya, kan? Sedangkan ... kapal ini kapal yang terkenal. Rentan terkena serangan. Seandainya mereka berlayar menggunakan kapal ini, yah ... mereka jadi santapan empuk para perompak di laut sana."


Ucapan Reynald menyudutkan sang Imisy. Ia tak menyangka bahwa Reynald dapat memikirkan semua itu. Siapa orang ini ...?


"Tuan Muda ...."


Suara bapak-bapak tiba-tiba terdengar. Reynald melihat ke samping, ke suara yang memanggilnya.

__ADS_1


"Oho ... lihat siapa yang kita temukan di sini ...."


Sang bapak yang sedang duduk bersandar, berdiri dan kemudian berjalan menghampiri Reynald. Ia kemudian berhenti tepat di antara jeruji besi yang menghalanginya.


Dan tiba-tiba ....


Kreeek!


Dengan kedua tangannya, sang bapak membuka paksa jeruji besi yang menghalanginya dengan membengkokkannya. Jeruji besi yang semakin bengkok akhirnya tercopot dan sang bapak dapat keluar dengan mudah.


Badannya pendek, tapi tubuhnya kekar. Memiliki janggut lebat dengan kacamata anti silau di dahinya.


"Aku akan menggantikan wanita itu untuk bertanding denganmu. Bagaimana?" ucap sang Dwarf.


"Tentu saja, tentu saja. Dan sepertinya ... di antara orang-orang ini, engkaulah yang paling cocok dengan pertandingan yang aku pilih!"


Sang Dwarf tersenyum percaya diri. Ia bisa merasakan energi sihir yang sangat menggelegar dari ketiga bawahan Reynald, tapi ... tak ada sedikit pun energi sihir yang keluar dari tubuh.


Semua orang terdiam, melihat secercah harapan.


Melawan orang itu, pasti akan mudah!


Begitulah pikir semua orang yang tak melihat energi sihir pada tubuh Reynald.


"Pertandingan apa pun itu, aku tak akan kalah darimu, Anak Muda. Namaku Balga, Balga sang Pemalu."


Reynald mengayunkan tangannya, mengajak berjabat tangan.


"Lived. Lived ... Lived."


Balga yang mendengar nama tersebut tertawa. Orang-orang yang ada pun ikut tertawa. Semua orang tertawa, kecuali ketiga bawahan Reynald.


Swoosh ....


Angin dingin tiba-tiba keluar, membuat semua orang merinding ketakutan.


Reynald yang masih tersenyum menoleh ke arah ketiga bawahannya. Ketiga bawahannya langsung memalingkan wajah dengan gugup.


"Maaf-maaf, mereka sedikit kurang ajar, ya? Hahahaha."


Balga yang sempat ketakutan, memasang "topeng" seperti tak ada apa-apa. Ia membersihkan kerongkongannya, dan kemudian menjawab. "Tak apa, tak apa. Kamilah yang salah karena tiba-tiba tertawa," dan menjabati tangan Reynald.


Reynald yang selalu tersenyum kemudian berkata, "Baiklah, mari kita mulai pertandingannya."


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2