
Keesokan paginya, Reynald telah bersiap untuk pergi bersama dengan Grant dan para prajurit lainnya. Ia telah berada di depan pintu kereta kuda, berpamitan dengan Lacheln dan warga desa lainnya.
Reynald berhadapan dengan Lacheln, Ruhi, Yebe, Ibu Lacheln, dan Kepala Desa.
Lacheln terdiam dengan wajah memerah, memasang wajah sedih; memalingkan wajah dari Reynald.
"Hei, Lacheln ... bukankah semalam kalian sudah bermesraan? Apakah masih tidak cukup?" ucap Yebe agak ketus membuat Lacheln malu setengah mati.
Wajah Lacheln langsung berubah menjadi seperti sesosok iblis bermata merah yang siap membunuh Yebe saat itu juga. Yebe tersenyum kaku, memalingkan wajah tak berani melihat Lacheln lalu bersiul.
Lacheln kemudian kembali teringat dengan sosok Reynald yang ada di hadapannya. Ia kembali malu karena telah menunjukkan sosok "garang"nya di hadapan Reynald.
"Kak Reynald ... apakah Kak Reynald akan pergi ...?" ucap Ruhi dengan wajah polos menarik-narik pelan baju Reynald.
"Ya ...."
"Apa ... karena Ruhi, Kak Reynald pergi ...?" Ruhi akan menangis.
"Tentu saja tidak, Ruhi." Reynald berlutut mengelus kepala Ruhi.
"Kalau begitu, apa Kakak akan kembali?" Mata Ruhi berkaca-kaca dengan ingus yang akan keluar.
"Ya, tentu saja. Aku berjanji!" Reynald tersenyum lebar dengan mengangkat jari kelingkingnya.
Tangisan Ruhi berhenti melihat jari kelingking Reynald di hadapannya. Ia kemudian mengelap tangis dan ingusnya, lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Reynald.
"Janji, ya!" ucap Ruhi dengan tersenyum semangat.
"Ya!"
Reynald kemudian berdiri dan sedikit membungkuk kepada Ibu Lacheln dan Kepala Desa.
"Terima kasih, untuk beberapa hari ini. Mohon maaf karena belum bisa membalas apa-apa."
"Tidak, tidak .... Justru kehormatan bagi kami karena telah diberi kesempatan untuk menjadi yang pertama kali menyambut kedatangan Yang Terpilih," jawab Kepala Desa.
"Ya, dan Ruhi juga sangat senang mendapat kakak baru. Yebe juga jadi lebih hidup dari sebelumnya," ucap Ibu Lacheln menggoda Yebe.
"I-Ibu!" ucap Yebe malu.
"Hahaha, dan tentu saja ..." ucap Ibu Lacheln yang kemudian melirik Lacheln dengan senyum seribu makna.
Lacheln yang merasakan senyuman jahat ibunya semkain memalingkan wajah merahnya. Reynald dan yang lain tertawa.
"Nak Reynald, berhati-hatilah .... Berjanjilah bahwa kamu akan kembali ke sini," ucap Ibu Lacheln dengan raut muka yang berbeda dari sebelumnya. Seperit sedang menahan kesedihan mendalam, seperti sedang menghadapi ingatan masa lalu yang kelam.
Reynald menarik napas dan berkata, "Ya, aku janji, Bu."
"Oho ... sudah berani memanggilku 'ibu', ya ...?" ucap Ibu Lacheln menyentuh pipi kiri dengan tangan kirinya.
"Kemarin dia juga memanggilku 'kakek'," ucap Kepala Desa.
"Ah ... ahaha ..." tawa canggung Reynald melihat senyuman licik Kepala Desa dan Ibu Lacheln.
__ADS_1
Terakhir, Reynald menghadap ke sosok yang pertama kali menyambut kedatangannya di dunia baru. Sosok yang pertama kali menyapanya. Sosok yang memberinya "rumah" selama beberapa hari ke belakang.
"Lacheln ...."
"Berjanjilah!" bentak Lacheln yang membuat terkejut Reynald dan yang lain. "Berjanjilah bahwa kau akan kembali ...."
Ibu Lacheln, Kepala Desa, dan Yebe memahami betul maksud di balik janji yang diminta oleh Lacheln. Reynald melihat ekspresi Ibu Lacheln dan yang lain, ia merasa bahwa ada sesuatu yang mendalam di balik janji yang diminta oleh Lacheln.
Reynald menutup matanya pelan, menarik napas, dan membukanya lalu tersenyum.
"Bolehkah aku berjanji yang lain?"
Pertanyaan Reynald membuat Lacheln bingung. "A-apa?"
"Jagalah hati itu sampai aku kembali."
Ucapan Reynald membuat Yebe dan semua orang yang ada di desa tersebut terkejut hingga hening sesaat.
"Ohh! Nak Reynald! Boleh juga kau!" teriak seorang warga pria.
"Yah, padahal aku ingin menjodohkan anakku dengan Reynald kalau sudah besar, Tapi selamat, Lacheln! Kalian memang cocok!" ucap seorang warga wanita.
"Nak Reynald, aku akui keberanianmu! Kutunggu undangannya!" ucap warga pria lainnya.
Semua orang berteriak menyoraki "lamaran" dari Reynald kepada Lacheln.
"Bro, Bro ... keren sekali kau. Berarti, mulai sekarang aku memanggilmu ... hm ... apa, ya? Kak? Dek?" ucap Yebe menyenggol-nyenggol lengan Reynald.
"Ah, Kak Reynald akan menikah dengan Kak Lacheln?!" ucap Ruhi yang terlalu senang hingga menarik-narik baju Reynald terlalu kencang.
"Akhirnya aku punya menantu," ucap Ibu Lacheln menyentuh kedua pipinya dengan sangat senang.
Semua orang heboh dengan lamaran Reynald. Hingga lupa dengan jawaban yang belum diberikan oleh Lacheln.
"Lacheln, apa jawabanmu?" tanya Yebe yang sedang merangkul Reynald.
Pertanyaan Yebe membuat semua orang terdiam penasaran.
Lacheln yang sejak tadi menukuk dengan kedua tangan dikepalkan, tiba-tiba berlari dengan sedikit tergesa-gesa ke arah Reynald.
Alis semua orang terangkat, senyuman semua orang tak dapat disembunyikan. Ibu Lacheln menutup mulut dengan kedua tangannya, Yebe melepas rangkulan dan menutup mata Ruhi, Kepala Desa melotot tak percaya.
Lacheln memeluk Reynald dan mencium Reynald, tepat di bibirnya.
"OHHHHH!!" teriak semua warga desa.
***
Reynald telah berada di dalam kereta kuda. Grant telah memberi aba-aba untuk memulai perjalan kembali ke ibukota kerajaan. Reynald melambaikan tangan dari dalam kereta kuda.
Lacheln membalas lambaian tangan tersebut, begitu pula dengan Yebe dan yang lainnya.
Kereta kuda telah jalan, semakin lama semakin tak nampak.
__ADS_1
Para warga telah pergi kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing, meninggalkan orang-orang terdekat Reynald yang masih melihat kepergian Reynald.
*Hati-hati, Reynald. Kembalilah. Karena aku belum sempat mengucapkan 'aku mencintaimu' batin Lacheln.
***
Perjalan menuju ke ibukota kerajaan memakan waktu dua hari. Ketika perjalan sudah lewat satu jam, Reynald dan pasukan Grant dihadang oleh beberapa kawanan serigala berambut biru.
Serigala tersebut memiliki postur tubuh yan dua kali lebih besar dari Serigala Dire. Memiliki rambut sedikit jabrik yang membelah dari atas kepala hingga ekor membuat serigala ini disebut sebagai Blue Hair Wolf.
"Tuan Reynald, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kita dihadang oleh sekawanan Blue Hair Wolf. Namun, akan dengan cepat kami atasi," ucap Grant.
"Oh, bolehkah aku turun dan melihat aksi kalian?"
Grant tersenyum seperti ia sangat senang dengan jawaban yang diberikan oleh Reynald. "Ya, tentu saja."
Reynald turun dari kereta kudanya, melihat langsung para prajurit yang dibawa oleh Grant berhadapan dengan kawanan Blue Hair Wolf.
Salah seekor Blue Hair Wolf melompat, menerjang dari langit mencoba melewati perisai salah seorang prajurit. Namun, prajurit pemanah dengan cepat dan tepat membidik sang serigala.
Prajurit yang sedang sedikit menganggur dengan cepat membunuh serigala yang sudah tergeletak tersebut. Satu serigala mati, membuat serigala-serigala lainnya sedikit panik. Kepanikan yang hanya sepersekian detik langsung dimanfaatkan oleh para prajurit untuk memberi serangan balasan penuh kejutan.
Satu per satu serigala terkena ayunan pedang dari para prajurit. Serigala yang belum terkena serangan, langsung mundur ketakutan.
"Bagaimana, Tuan Reynald?" tanya Grant.
"Kerja sama pasukan Anda sangat hebat dan rapi."
"Hahaha, terima kasih. Tentu saja demikian. Karena mereka adalah para prajurit yang dilatih langsung oleh saya."
Perjalanan kembali dilanjutkan. Mayat serigala yang telah mati dimasukkan ke dalam sebuah kantung yang sama seperti kantung yang dimiliki oleh Yebe.
Ketika malam telah tiba, Reynald bersama Grant dan pasukannya berkemah. Memutari api unggun, Grant mulai menceritakan keadaan dunia kepada Reynald.
"Empat ratus tahun yang lalu, seorang penyihir legendaris yang disegani membuat ramalan yang mengguncangkan dunia. Beliau berkata bahwa akan ada bencana besar yang mampu menghancurkan dunia. Namun, umat manusialah yang menjadi penyebab utamanya
"Dan sekarang, ramalan beliau terbukti benarnya. Sejak seratus tahun yang lalu, para iblis mulai mendatangi dan merajalela. Mereka tanpa segan menghancurkan suatu kerajaan, yang entah apa maksud tujuannya. Mereka juga tak akan segan menumbalkan umat manusia maupun ras lainnya, kepada keyakinan mereka.
"Dan di ramalan itu pula disebutkan bahwa akan datang sesosok kesatria terhebat sepanjang masa. Sosok yang mampu membelah benua dengan satu tebasan. Sosok tersebut disebutkan akan muncul secara tiba-tiba, tanpa ada yang mengetahui sosoknya."
Reynald yang mendengar dua kalimat terakhir Grant menjadi tahu mengapa kerajaan bisa dengan percaya diri mendatanginya.
"Namun, jikalau hanya berdasarkan ramalan itu saja, bukankah tidak cukup untuk membuktikan bahwa aku adalah 'Yang Terpilih'?"
"Tentu saja. Namun, energi yang Anda keluarkan pada hari itu membungkam mulut semua orang. Tak ada yang berani menyanggah bahwa energi tersebut berasal dari Yang Terpilih."
Reynald kembali teringat dengan laser energi yang ia keluarkan hingga menembus langit.
"Satu pertanyaan terakhir."
Grant mendengarkan dengan saksama.
"Siapa musuh kita?"
__ADS_1