
Dua tubuh kloning Reynald yang ada di samping Reynald dengan cepat langsung menahan serangan lurus Vlagilles. Vlagilles yang menyadari serangannya ditahan, langsung melompat mundur. Namun, langkahnya sudah terbaca oleh kloning Reynald.
Kloning Reynald muncul dari belakang Vlagilles, menyerang Vlagilles dengan ayunan pedang secara horizontal yang dapat membelah tubuh Vlagilels menjadi dua. Vlagilles yang menyadari serangan tersebut terkejut, namun ia berhasil terbang menghindari serangan tersebut.
Baru saja ia terbang dua meter dari permukaan tanah, kloning Reynald yang lain telah ada di hadapannya. Kemunculan yang terus-menerus terjadi membuat pandangan Vlagilles menjadi sempit.
Kloning Reynald yang ada di hadapan Vlagilles, mengayunkan tinju yang dengan sangat telak mengenai wajah Vlagilles.
Vlagilles terhempas dengan sangat-sangat jauh menuju ke angkasa.
Namun, tubuh kloning Reynald telah bersiap di langit dengan ayunan pedangnya. Kloning Reynald memasang kuda-kuda dengan kaki yang ditekuk, tangan kiri yang bersiap menggenggam gagang pedang yang masih berada di dalam sarungnya. Matanya terpejam, merapalkan mantra sihir.
"Wahai Dewa Pedang yang mampu membelah gunung dengan satu tebasan, pinjamkanlah hamba keteguhan hati dalam setiap ayunan pedang-Mu. Tak terhindarkan, Barra Oblicua."
Ayunan pedang tersebut sangat cepat hingga Reynald hanya terlihat sekilas mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Kedua tangan dan kaki Vlagilles seketika putus, bahkan setelah putus tangan dan kaki Vlagilles terbelah dengan sangat kecil hingga kemudian hancur seperti bubur.
"AGGHHH!!"
Vlagilles berteriak kesakitan. Ia masih bisa selamat karena ketika ia tahu bahwa kloning Reynald akan menghempasnya ke langit, ia telah merapalkan sihir "Darkness: Avoid the Death". Sebuah sihir yang mampu membuat penggunanya menghindariematian dengan cara terpindahkan secara otomatis ke suatu tempat yang sebelumnya telah ditandai tatkala muncul tanda bahaya yang dapat berujung kematian.
Namun, ia tak menyangka bahwa serangan dari kloning Reynald dapat secepat itu, tidak, bahkan jikalau ia menyadari sihir itu pun ia tak akan bisa menghindari serangan yang melebih kecepatan kilat milik Reynald.
Vlagilles terpindahkan ke dalam salah satu Kapal Triturador yang sedang berlabuh. Ia terduduk dengan bersimbah darah di atas singgahsananya dengan tangan dan kaki yang terus-menerus mengeluarkan darah.
"Darkness ... Demon's Healing ..." ucap Vlagilles terengah-engah dengan badan bersandar lemas. "Orang itu ... tunggu saja ... aku akan ... segera membalasnya!" Vlagilles menggertakkan giginya dan kemudian tersenyum.
"Tapi ... sensasi ini ... ah ... sungguh sensasi yang mendebarkan!"
Reynald yang kehilangan jejak Vlagilles, langsung berniat untuk mencarinya. Ia kemudian memejamkan matanya dan merapalkan, "Wahai Dewa yang Mampu Melihat Segalanya, tunjukkanlah pada hamba di manakah sosok itu di mana. Carilah id mana sumber dari hal ini berada, Busqueda."
Dengan mengambil dan menggenggam darah Vlagilles yang tersisa di tanah, Reynald menggunakannya sebagai pemenuhan syarat penggunaan sihir Busqueda. Busqueda adalah sihir yang bisa membuat penggunanya menemukan sumber dari hal yang dipegangnya. Syarat dari menggunakan sihir ini adalah pengguna memiliki sesuatu yang berkaitan erat dengan sosok yang ingin ditemukan.
Swoosh~
Sebuah cincin tak kasat mata melebar dengan cepat dengan Reynald sebagai titik tengahnya. Cincin tersebut terus melebar hingga menemukan sosok yang berkaitan erat dengan darah yang mana sedang digenggam oleh Reynald.
__ADS_1
Ting ....
Seperti sebuah alarm yang berbunyi, di dalam pikiran Reynald ada notifikasi yang menandakan bahwa sosok yang berkaitan dengan darah yang dipegang oleh Reynald telah ditemukan. Reynald membuka matanya.
Sebuah tanda muncul di langit, memiliki bentuk semacam kristal berwarna merah. Reynald yang melihat tanda itu langsung menyadari bahwa Vlagilles berada di dalam Kapal Triturador, yang mana kapal tersebut berada di dekat tempat pasukan aliansi berperang.
"Eh, angin topan ... api? Angin topan api apa itu?" ucap Reynald yang baru menyadari adanya pusaran angin api yang sangat besar di dekat pelabuhan.
***
"Sudah sepuluh menit tapi monster itu masih saja terus berteriak!!" ucap kesal Ratu Cleo dengan membanting tongkat sihirnya.
"Ratu Cleo!" ucap Jabari, Berenike, dan Khepri bersamaan dengan panik.
"Itu tongkat sihir yang diturunkan secara turun-temurun oleh leluhur Anda! Tolong jangan dibanting seperti itu, Yang Mulia!" ucap Berenike yang panik tak tertolong.
"Biarlah! Kau tak lihat cumi-cumi panggang itu?! Sudah sepuluh menit, sepuluh menit! Itu api yang sangat panas hingga mampu membakar orang yang berada di dekatnya, dan cumi-cumi itu ... tak kunjung hangus dalam sepuluh menit?!" bentak Ratu Cleo kesal kepada Berenike.
Jabari, Berenike, dan Khepri terdiam tak berani membalas. Keringat dingin mengalir deras di tubuh mereka.
"Ma-maafkan kami ... Yang Mulia ...."
Melihat tingkah dari orang-orang Kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Cleo, Thamotep, Pasukan Para Raja tertawa kecil. Walau mereka sedang disibukkan dengan para prajurit iblis yang terus berdatangan, namun mereka dapat mengatasinya dengan cukup mudah.
"Lalu, apa-apaan itu?! Mengapa dia bisa ada dua?!" ucap Ratu Cleo menunjuk ke langit, di mana dua kloning Reynald sedang mengeluarkan serangan sihir jarak jauh yang membuat para prajurit iblis tak bisa dan tak berani mendekat.
"Hahaha, tapi dengan adanya dua Yang Terpilih, tugas kita jadi jauh lebih mudah, bukan? Lagi pula, dengan adanya dua Yang Terpilih, kita dapat beristirahat sejenak," tawa Raja Erdovarte dengan mengelus-elus janggutnya.
"Ya, saya setuju dengan Raja Erdovarte," ucap Raja Calma tersenyum.
Ratu Cleo yang kesal karena merasa tak berguna, duduk bersimpuh dengan tangan disilangkan. Mudah sih mudah ... tapi rasanya ... apa ya. Aku tak ingin mengatakannya, seribu tahun pun aku tak ingin mengatakannya. Tapi ... ah, benar-benar ... rasanya aku benar-benar tak berguna! batin Ratu Cleo menjambak-jambak rambutnya.
Pasukan Para Raja, alias sisa dari pasukan Aliansi Para Raja yang masih memiliki mata kepercayaan terhadap kemenangan, sekarang seperti sedang berada di pintu masuk ke gerbang kemenangan. Kraken yang sebentar lagi akan teratasi, para prajurit iblis yang sedang ditangani oleh dua kloning Reynald, dan Raja Iblis yang tiba-tiba tak terasa lagi auranya bahkan sempat terdengar berteriak kesakitan, menjadi tiga tanda besar bahwa kemenangan sudah ada di depan mata.
Setidaknya, itulah yang mereka (Pasukan Para Raja) percayai.
Swoosh!
__ADS_1
Angin besar tiba-tiba datang, membuat angin topan api bergetar seperti sedang adu kekuatan dengan angin yang baru saja datang.
Merasakan embusan angin yang terasa tak wajar, ditambah insting yang mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi, membuat Pasukan Para Raja yang sedang berisitrahat langsung beralih ke posisi siaga.
"Ho, ho, ho ... jadi inikah yang dimaksud Aliansi Para Raja?"
Suara misterius terdengar dari langit.
Pasukan Para Raja serentak melihat ke langit. Sesosok makhluk hitam dengan aura hitam tak menyenangkan muncul. Tak hanya satu, namun ada enam.
"Aku tak pernah menyangka, bahwa Vlagilles akan meminta bantuan. Yah, aku tahu dia lemah walau tak terlalu lemah meski masih terhitung lemah yang bukan lemah-lemah banget," ucap Sosok Wanita Misterius berambut merah panjang digerai dengan mata kanan dan kiri yang berbeda warna.
"Hm, nampaknya mereka tak terlalu kuat. Apakah kemampuan Vlagilles telah menurun?" ucap Sosok Misterius dengan badan kekar dan berzirah besi hitam perak.
"Ya, membakar Kraken saja mereka tak selesai-selesai. Aku pikir kemampuan Vlagilles memang sudah benar menurun," ucap Sosok Misterius yang nampak masih muda dengan wajah tampan.
"...." Sosok Misterius dengan masker dan mata panda tak berkomentar. Hanya melihat dengan mata malas dan lemas ke arah Pasukan Para Raja.
"Tapi sepertinya, masalah utamanya bukan ada di Aliansi Para Rajanya ..." ucap Sosok Misterius yang memiliki aura khas seorang raja. Berambut merah panjang, tatapan tegas dan dapat membuat siapa saja gentar, serta pakaian berjubah berwarna hitam bergaris merah.
Keenam Sosok Misterius yang melayang memiliki masing-masing simbol berwarna yang berbeda dengan letak yang berbeda pula.
"Dua sosok yang memiliki kemiripan hampir 100%, tidak ... mungkin memang 100%. Menarik ..." ucap Sosok Misterius Berambut Merah.
Mata Raja Orgulla seketika terbuka lebar, begitu pula dengan mulutnya. Matanya tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Gemetar, tubuhnya tak bisa berhenti gemetar. Panik. Mata yang berkaca-kaca.
Fakta yang terlihat seperti ilusi membuat ia untuk pertama kali melepas genggaman pedangnya. Pedang yang terjatuh, mengundang perhatian Pasukan Para Raja.
"Yang Mulia Orgulla, ada apa?!" tanya Grant yang langsung berdiri menjadi tameng Raja Orgulla.
"Sekarang, saya baru sadar mengapa Yang Mulia gemetar ..." ucap Albert yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Menatap ke langit dengan seperti putus asa.
Pasukan Para Raja melihat ke arah Albert yang muncul entah dari mana. Semuanya melihat ke arah Albert, kecuali Raja Calma. Raja Calma terpaku pandangannya ke langit tatkala menyadari salah satu dari enam sosok misterius yang sedang melayang di langit.
"DIa adalah ... kakak dari Raja Orgulla," ucap Raja Calma yang ikut gemetaran.
---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!