Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 47 - Berlabuh


__ADS_3

Suasana di kapal Reynald sedang sangat tegang. Semua orang yang berada di atas kapal Francois sedang dievakuasi oleh para prajurit. Mereka yang dievakuasi, mengintip diam-diam ke arah kapal Reynald, penasaran dengan apa yang akan terjadi.


Suasana hening pun pecah ketika sang pria singa angkat bicara.


"Namaku Aristan Ilotskir, Jenderal Perang Kerajaan Zwarla dan juga pemimpin dari kelompok Penyelamatan Tawanan Gabungan."


"Oho, apakah mereka sangat penting hingga seorang jenderal perang harus turun tangan?"


Ucapan ringan Reynald membuat para prajurit gamang.


"Jaga ucapanmu, Manusia! Kau sedang berbicara dengan Jenderal yang Terhormat!"


Melihat tuannya yang dibentak, Shina dan kedua bawahan Reynald yang lain langsung reflek melihat ke arah yang sama. Ke arah suara yang membentak tuannya. Ketiganya memberikan tatapan yang lebih tajam daripada pedang sekali pun, membuat sang prajurit yang berang menjadi gamang.


Para prajurit lain yang sempat berang, ikut gamang walau tak melontarkan sepatah kata.


Artisan yang melihat para prajuritnya ketakutan, lawan bicara yang tetap santai walau mendengar julukan Jenderal Perang, serta mampu menundukkan salah satu alasan penyelamatan dibentuk mengambil keputusan bahwa empat sosok yang ada di hadapannya bukanlah sosok yang sembarangan.


"Pertama-tama, aku meminta kalian untuk melepaskan tuan putri terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa berbicara."


Tuan putri? batin Reynald. Ia dengan spontan melihat ke arah Imisy yang sedang ditahan oleh Shina. Heh ... jadi dia seorang tuan putri. Pantas saja harga dirinya begitu tinggi.


"Shina, lepaskan dia."


"Tapi, Tuan ...." Shina melihat ke arah Reynald dengan tatapan wajah tak ikhlas.


"Sudahlah, sudahlah. Lepaskan saja," jawab Reynald tersenyum rileks dengan sedikit melambaikan tangannya naik turun.


Shina melihat ke arah yang sedang disekapnya. "Cih." Shina kemudian melepasnya.


Sang Imisy langsung berdiri, membersihkan dan membenarkan pakaiannya. Ia kemudian berdiri berhadapan dengan Artisan. "Aku bisa melakukannya sendiri!"


"Tertangkap oleh manusia dan menjadi penyebab sebuah peperangan bukanlah hasil yang tepat dari 'bisa melakukannya sendiri', Tuan Putri."


Balasan Artisan membuat sang Tuan Putri malu. Ia kemudian memalingkan wajahnya, menggigit bibirnya, dan berjalan melewati Artisan.


Dua orang prajurit menghampirinya, namun ditolak ketus oleh sang tuan putri. Ia naik ke melompat turun dari kapal Reynald seorang diri.


Artisan yang melihatnya menghela napas. "Maafkan ketidaksopanannya. Kau pasti kerepotan dalam menghadapinya."


Reynald membalasnya dengan tawa. Sebuah tawa yang mengundang perhatian dari semua orang.


Brengsek, berani-beraninya dia tertawa seperti itu! batin para prajurit yang tak terima melihat seseorang "menertawai" pemimpin mereka.


Sudut bibir Artisan sedikit naik. "Aku sudah memperkenalkan diriku. Aku harap kau mengerti dengan apa yang harus kaulakukan."


"Oh, apakah aku belum memperkenalkan diriku? Ahahaha. Namaku Lived, bukan siapa-siapa."


Bukan siapa-siapa? Apa dia menyindirku? Atau ... batin Artisan. "Lived, ya? Nama yang unik."


Salah seorang prajurit maju, memberi hormat, dan melapor. "Jenderal Artisan, kami sudah memindahkan para tawanan ke dalam kapal penumpang. Kami siap untuk melaksanakan perintah selanjutnya."


Artisan mengangguk. "Para tawanan telah berhasil diselamatkan. Segera kembali ke kapal masing-masing!"


Semua prajurit dengan serentak kembali ke posisi siap dan menjawab, "Laksanakan!"


Para prajurit pun langsung pergi dari kapal Reynald, meninggalkan Artisan seorang diri. "Aku bisa memastikan bahwa kalian sama sekali tak terlibat dalam hal ini. Tapi, dikarenakan kalian ditemukan sedang mendekap tuan putri, maka kami harus membawa kalian."


"Oke, dengan syarat kami akan menggunakan kapal kami."


Artisan sempat terdiam sejenak. Ada potensi bahwa Lived (Reynald) dan yang lainnya melarikan diri. Tapi ....


"Aku mengerti."

__ADS_1


Artisan pergi dari hadapan Reynald, kembali ke kapalnya.


"Tuan, apakah Anda yakin mengikuti perintah mereka?" tanya Gardieta yang was-was.


"Ya, kali ini aku tak sendirian, kan?" jawab Reynald yang tahu alasan kekhawatiran Gardieta.


Jawaban Reynald membuat Gardieta tersenyum, begitu pula dengan kedua bawahannya yang lain. Sementara itu, di kapal yang lain.


"Jenderal Artisan, apakah tak apa membiarkan mereka menggunakan kapal mereka sendiri? Bukankah mereka bisa melarikan diri?" tanya salah seorang bawahan Artisan di anjungan kapal.


Untuk referensi, kapal yang digunakan sejenis kapal bajak laut.


"Tak ada jaminan bahwa mereka akan ikut dengan kita. Tapi, seandainya kita membawa paksa mereka, maka pertumpahan darah akan terjadi. Dan tugas kita adalah kembali dengan selamat."


Jawaban Artisan membuat bawahannya sedikit tertegun. Ia tak menyangka bahwa empat sosok yang ada di kapal kecil itu mampu membuat pertumpahan darah. Walau tak percaya, tapi yang berbicara adalah sosok yang paling dihormatinya.


"Baiklah, saya mengerti."


Artisan mengangguk. "Bentangkan layar, kita kembali ke kerajaan secepatnya!"


"Laksanakan!"


Armada Artisan pun mulai bergerak. Artisan memberi salam dari atas anjungan kapal kepada Reynald yang sedang berbincang santai dengan ketiga bawahannya. Reynald membalas dan mengikuti armada tersebut dari belakang.


"Jenderal Artisan, seperti kata Anda, mereka benar-benar mengikuti kita," ucap bawahan Artisan yang sempat ragu, melihat kapal Reynald mengikuti dari belakang.


Reynald yang menyadari bahwa dirinya sedang diawasi melambaikan tangan seperti seorang artis yang menyapa penggemarnya.


Melihat senyuman tersebut, para prajurit langsung memalingkan muka masam mereka.


"Mereka benar-benar ..." ucap Shina yang berjalan melewati Reynald, berniat memberi pelajaran.


"Shina, Shina, tenanglah. Jangan berbuat macam-macam dulu. Kita belum tahu kekuatan lawan kita, kan?" ucap Reynald memegang pundak Shina.


"Itu juga berlaku untukmu, Everest," ucap Reynald tanpa melirik ke samping.


Everest yang sudah dalam ancang-ancang untuk melesat, langsung menjadi kikuk dan melihat ke lantai kapal. "Maaf ...."


Gardieta yang sedang memegang kemudi tersenyum melihat Reynald dan kedua bawahan Reynald. Senyumannya menjadi pudar tatkala ia kembali melihat ke depan, ke arah Armada Artisan.


Tak boleh lengah. Aku tak boleh lengah sedikit pun. Gardieta teringat dengan sosok Grant. Ketika tak sengaja teringat dengan sosok Grant, genggaman Gardieta pada kemudi kapal menjadi lebih kencang.


Reynald yang melihat dari bawah, menyadari tatapan benci Gardieta terhadap Armada Artisan. Ia kemudian berpesan kepada kedua bawahannya agar Shina, Everes, dan Gardieta tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh dan gegabah.


"Intinya, percayalah padaku."


Shina dan Everest mengangguk. "Kami mengerti, Tuan."


***


Matahari akan segera terbenam. Armada Artisan masih berlayar tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun, begitu pula dengan kapal Reynald yang setia mengikuti dari belakang.


Setelah berlayar hampir setengah hari, Reynald dan yang lainnya melihat sebuah pulau. Sebuah pulau yaang sangat besar dengan istana yang sangat besar berada di tengah-tengahnya.


"Tuan Reynald," sambut Gardieta kepada Reynald yang baru bangun dari tidurnya.


Reynald berjalan ke bagian depan kapal. "Sepertinya kita sudah sampai," ucap Reynald meregangkan tubuhnya. "Kalian bertiga, ingatlah bahwa namaku adalah Lived. Jangan panggil aku Reynald, mengerti?"


"Kami mengerti, Tuan Reynald."


"Sudah kubilang namaku Lived."


"Kami mengerti ... Tuan Lived."

__ADS_1


Reynald mengangguk. Tak lama, kepala Artisan terlihat dari bagian belakang kapal yang ada di depan kapal Reynald.


"Kita sudah sampai di Kerajaan Zwarla."


"Kami mengerti, aku tak sabar ingin menapakkan kakiku di tanah," jawab Reynald santai yang membuat kesal para prajurit dan petinggi kelompok Penyelamatan Tawanan Gabungan.


Tak seperti yang lainnya, Artisan justru tersenyum. Ia kemudian membalikkan badannya dan bersiap-siap untuk segera turun dari kapal.


Artisan berada di depan pintu ruang kapten dan kemudian mengetuk pintu tersebut. "Tuan Putri, kita sudah sampai."


Pintu terbuka. Tuan Putri berjalan dengan wajah masam, melewati Artisan tanpa melihatnya. Artisan kembali menghela napas.


Sang Tuan Putri menaiki tangga sembari menepuk pipinya. Mencoba menghilangkan wajah masamnya dan memakai topeng tersenyumnya.


Tepat ketika ia berada di atas geladak utama, suara sambutan menghujaninya.


"Tuan Putri! Tuan Putri!" sambut para penduduk yang berada di dekat dermaga.


Seperti terdapat karpet merah, sebuah jalan dibukakan oleh para prajurit agar sang Tuan Putri dan para tawanan dapat berjalan.


Sang Tuan Putri melambaikan tangannya, membalas sapaan para penduduknya sembari berjalan dengan dikawal oleh Artisan dan para prajuritnya. Para tawanan yang diselamatkan, berjalan di belakangnya.


"Ayah!" panggil salah seorang anak kecil Demi Human melihat ayahnya berjalan di barisan para tawanan yang diselamatkan.


Sang anak kecil mencoba berlari memeluk ayahnya, namun dicegah oleh para prajurit. Sang ayah yang hendak memeluk putranya, ikut dicegah oleh prajurit lainnya. Ia kemudian mengangguk paham dan berpesan kepada putranya bahwa ia akan segera menemuinya.


Hal yang serupa juga terjadi kepada semua tawanan. Ibu, anak, saudara, kekasih, semuanya ingin segera reuni dengan orang-orang yang dicintainya. Namun, untuk beberapa alasan, para tawanan harus terlebih dahulu dibawa ke kerajaan.


Dan, suasana haru itu berubah ketika Lived dan rombongannya datang.


"Hoho! Kita disambut seperti seorang raja!" ucap Lived yang tak mempedulikan suasana.


Shina, Everest, dan Gardieta memasang tatapan dingin dan penuh kewaspadaan. Sangat berbanding terbalik dengan tuannya yang semringah seperti anak kecil melihat mainan.


Para penduduk mulai berbisik-bisik, membahas siapa sosok yang tiba-tiba muncul dan tak tahu malu itu. Namun, ketika mereka baru berbisik sepatah dua patah kata, mereka mendapatkan tatapan dingin entah dari Shina, Everest, atau Gardieta.


Para penduduk yang semula haru, kini gemetar ketakutan. Artisan yang menyadari hal itu, meminta kepada Lived agar para bawahannya tidak menakut-nakuti para penduduk.


"Ah, aku mengerti. Maaf-maaf. Kalian bertiga dengar ucapannya, kan?" jawab santai Lived yang membuat para penduduk terkejut.


Sungguh tak sopan, adalah kalimat yang terlintas di benak para penduduk. Berbicara sesantai itu kepada salah satu sosok tertinggi dan paling dihormati. Para penduduk yang semula diam ketakutan, kini melontarkan cacian ke arah Lived.


"Manusia tak tahu diri! Siapa kau hingga berani bicara seperti itu kepada Tuan Artisan?!"


"Berengsek! Jaga tutur katamu!"


"Apa orang tuamu tak mengajarimu cara berbicara yang sopan? Sungguh memalukan!"


Para penduduk mendorong dan mendesak pembatas mereka (para prajurit), membuat para prajurit yang menjadi pembatas kerepotan menahan dorongan penuh emosi dari para penduduk.


Mendengar tuannya dicaci dan dihina, Gardieta dan yang lain hendak menghabisi para penduduk saat itu juga.


Pak! Tamparan keras menghantam pipi kiri Reynald. Tamparan yang menghentikan waktu. Sang Tuan Putri dengan napas terengah-engah, alis yang menukik tajam, tatapan mata penuh emosi, menampar Lived tepat di depan semua orang.


"Tuan Putri!" ucap para penduduk yang seperti lega karena emosi mereka tersalurkan.


Ketiga bawahan Lived langsung berniat menghabisi Tuan Putri saat itu juga. Tapi, nyawa sang Tuan Putri diselamatkan oleh tangan Lived.


Lived mengangkat tangan kanan sejajar dengan telinganya.


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2