
Satu pekan telah berlalu sejak hari pernikahan. Walau sudah tak dapat menggunakan sihir lagi, Reynald masih sering membantu segala macam permasalahan yang ada baik di desa, kerajaan, maupun kerajaan lainnya dengan kepintarannya.
Dua pekan berlalu. Lacheln mulai muntah-muntah. Reynald yang curiga, langsung meminta Fidel untuk memanggil seorang Sister. Sister adalah seorang wanita religius yang melayani masyarakat dalam banyak hal, salah satunya membantu proses melahirkan. Dalam kondisi tertentu, Sister juga bisa menjadi seorang dokter.
Sister yang baru datang langsung diarahkan ke kamar mandi tempat Lacheln sedang muntah-muntah. Sister meminta untuk selain Ibu Lacheln dan dirinya, tak ada yang memasuki kamar mandi.
Reynald berdiri cemas menunggu kabar dari istrinya. Berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan tangan kiri bertopang dagu.
"Tu-Tuan Reynald, Nona Lacheln pasti baik-baik saja!" ucap Fidel yang tak tahu bagaimana cara menenangkan.
Reynald mendengar apa yang disampaikan oleh Fidel, ia juga mengerti tujuannya. Namun, ucapan itu tak cukup untuk menenangkan kegelisahannya.
"Be-benar yang dikatakan oleh Fidel, Tuan Reynald! Lacheln pasti akan baik-baik saja!" ucap Yebe yang ingin ikut membantu menenangkan.
"Benarkah? Apa kalian bisa menjaminnya?" tanya Reynald yang sebenarnya hanya ingin sedikit jahil, barangkali kegelisahannya berkurang sedikit.
. . .
Mengapa ... dua orang ini ikut mondar-mandir sepertiku ...?
Fidel dan Yebe yang semula ingin menenangkan Reynald, terjatuh ke lubang kegelisahan yang sama.
Pintu kamar mandi terbuka. Ketiganya langsung berhenti berjalan dan serentak melihat ke arah pintu.
Reynald menelan ludah. Walau dapat memprediksi apa yang akan terjadi, tapi jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang. Fidel dan Yebe yang juga penasaran memasang kuping baik-baik.
"Tuan Reynald, selamat atas hamilnya Nona Lacheln," ucap Sister yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Mata Reynald melebar, berkilap dengan kebahagiaan yang tiada taranya. Aku akan menjadi seorang ayah! Kalimat itu meledak-ledak di dalam pikirannya. Ia kemudian teringat dengan sosok ayahnya dahulu yang menangis tatkala mendengar kabar bahwa sang ayah akan memiliki anak lagi.
Dan sekarang, Reynald mengerti kebahagiaan yang dirasakan oleh ayahnya.
"Tuan Reynald akan menjadi seorang ayah!" ucap Fidel melihat ke arah Yebe.
"Itu artinya ... kita akan menjadi seorang paman!" ucap Yebe yang melihat ke arah Fidel.
Keduanya saling merangkul. Mengikrarkan sumpah untuk menjadi seorang ... dua orang paman terbaik yang pernah ada.
Sister membuka jalan, Lacheln berjalan dengan dituntun oleh ibunya.
Reynald bergerak mendekati Lacheln. Lacheln yang lemas, tersenyum bahagia dan jatuh ke pelukan Reynald.
"Lacheln ... aku akan menjadi seorang ayah!"
Lacheln mengangguk. "Ya, dan aku akan menjadi ibu, Suamiku!"
Keduanya berpelukan mesra. Ibu Lacheln tersenyum dan berkata dalam hatinya, "Sayang ... anak kita akan menjadi seorang ibu. Dan kita, akan segera memiliki cucu." Lalu mengusap air matanya.
Kabar bahagia ini dengan cepat menyebar ke telinga para penduduk desa. Reynald juga tak lupa menulis surat untuk mengabari kepada Empat Raja Aliansi Victoria mengenai istrinya yang baru saja hamil.
Para raja yang membaca surat yang dikirimkan oleh Reynald menjadi sangat bersemangat. Keempatnya dengan serentak langsung memerintahkan para bawahannya untuk mencarikan hadiah sebagai tanda ucapan selamat atas hamilnya Lacheln.
***
Dua pekan telah berlalu sejak Lacheln dikonfirmasi hamil. Reynald, mendapat surat dari Raja Erdovarte. Sebuah surat yang sangat penting hingga Grant sendirilah yang mengantarkannya.
"Benarkah, Tuan Grant?" ucap Reynald yang tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Ya, Tuan Reynald. Yang Mulia, Raja Orgulla, Raja Calma, dan Ratu Cleo kemarin bergabung dalam Konferensi Para Raja Benua Sievaria. Para raja yang selama ini berdiam diri, mengaku selama ini sedang memikirkan cara untuk meminta maaf dan berterima kasih yang tepat.
"Mereka mengaku bahwa mereka terlambat dalam menyampaikannya karena ego mereka yang tinggi. Oleh karena itu, ketika mereka mendengar kabar mengenai Anda yang tak dapat menggunakan sihir lagi, mereka sangat terpukul. Dan selama satu bulan ini, mereka mengerahkan segala upaya dengan semaksimal mungkin untuk mencari cara agar Anda dapat menggunakan sihir lagi."
__ADS_1
Reynald terbisu mendengar ucapan Grant. Ia yang telah kenal dan dekat dengan Grant, tahu dan yakin bahwa ucapan Grant bukanlah bualan semata. Dapat menggunakan sihir lagi, siapa yang tak senang?
"Sa-saya harus membicarakan ini dengan istri saya dulu. Terima kasih sudah menyampaikannya. Fidel!" ucap Reynald yang kemudian memanggil Fidel.
Dengan secepat kilat, Fidel langsung muncul di hadapan Reynald. "Ada apa, Tuan Reynald?" ucapnya dengan membungkuk.
"Tolong carikan tempat istirahat untuk Tuan Grant dan prajuritnya. Persiapkan juga untuk makan, minum, dan segala hal yang dibutuhkan."
"Dimengerti. Tuan Grant, silakan ikuti saya."
Grant tersenyum dan mengangguk. Ia tiba-tiba memegang kepala Fidel. Fidel yang terkejut, bertanya mengapa Grant tiba-tiba memegang kepalanya dengan termesem-mesem.
Grant menjawab, "Kau sudah tumbuh besar, ya."
Mata Fidel dibuat berkilapan tatkala mendengar jawaban Grant. "Te-tentu saja .... Saya harus bisa berubah, supaya menjadi sosok yang pantas untuk Tuan Reynald. Dan juga, sosok yang pantas untuk dipanggil sebagai murid sang Banteng Merah, Grant!"
Grant tertawa, begitu pula dengan Fidel. Reynald yang melihat kedekatan keduanya tersenyum sedikit iri. Ia menutup pintu dan langsung memanggil nama Lacheln dengan sedikit lantang.
Keesokan harinya, di dalam rumah Kepala Desa, Reynald duduk berhadapan dengan Grant di ruang tamu.
"Saya telah membicarakannya dengan istri saya, dan dia mendukung penuh agar saya dapat menggunakan sihir lagi."
Grant mengangguk, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Namun, ada satu hal yang ingin aku ketahui."
Ucapan Reynald mengubah atmosfer dalam ruangan. Kepala Desa yang saat itu ada di tempat, memikirkan hal serupa dengan Reynald.
Bagaimana para raja di benua tahu bahwa saya tak dapat lagi menggunakan sihir? Adalah pertanyaan yang terlintas di benaknya.
Tapi, ketika Reynald ingin bertanya apa yang terlintas di benaknya, mulutnya tak sanggup berucap. Keraguan tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Ia merasa akan sangat bodoh bila tak mempercayai ucapan Grant dan surat yang disampaikan oleh Raja Erdovarte.
"Tak apa, lupakan saja."
"Kapan kita akan berangkat?"
"Satu pekan dari sekarang. Kita akan berangkat melalui pelabuhan Kota Ibiza."
Kota Ibiza ... ini adalah kali pertamanya aku mengunjungi kota selain ibu kota kerajaan. Oleh-oleh seperti apa yang ditawarkan di kota itu, ya? Jadi tak sabar. Reynald tersenyum dan bergelora.
Hari berlalu dengan cepat. Reynald menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk bercengkerama dan bermesraan dengan istrinya. Wajar, karena ia tak tahu kapan ia bisa kembali. Bahkan, ia juga ragu untuk tak bisa hadir ketika istrinya melahirkan.
Namun, Lacheln tetap meyakinkan Reynald untuk pergi. Ia berkata bahwa dirinya akan baik-baik saja. Ia juga percaya bahwa Reynald akan kembali di hari yang sama ketika ia akan melahirkan.
Reynald yang mendengar hal itu, bertanya, "Kamu tahu dari mana?"
"Hm ... insting seorang istri dan ibu mungkin?" jawab Lacheln yang sedang berjalan berdua dengan Reynald di pinggir sungai.
Keduanya kemudian tertawa.
Hari keberangkatan pun tiba. Matahari masih belum terbit. Langit masih gelap seperti malam. Reynald berdiri berhadapan dengan keluarganya. Barang-barangnya telah dikemas oleh sang istri. Segala perlengkapan telah tergabung di dalam satu kantung. Istrinya berjalan mendekati Reynald sembari menyodorkan kantung yang telah dipersiapkannya.
"Lacheln ...." Reynald menerima kantung yang disodorkan Lacheln dengan perasaan yang sedikit gundah.
"Sayangku, aku akan baik-baik saja. Toh, ini bukan kali pertamanya kau akan pergi, kan?" Lacheln mengelus pipi Reynald dengan lembut, mencoba lagi dan lagi untuk meyakinkan Reynald walau sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ia tak ingin Reynald pergi lagi. Meski begitu, ia mencoba menahan dan melawan egonya.
Reynald memegang tangan istrinya; tersenyum melihat istrinya yang terus-menerus mencoba meyakinkan dirinya.
"Lacheln ...."
Wajah keduanya mendekat, berciuman, seolah-olah itu adalah ciuman terakhir.
__ADS_1
Bibir keduanya berpisah. Ia kemudian melihat ke arah Fidel dan Yebe lalu berkata, "Fidel, Yebe, aku percayakan Lacheln dan yang lain pada kalian."
"Ya, serahkan pada kami!" ucap Fidel dan Yebe menabuh dadanya.
Reynald tersenyum senang mendengar kepercayaan diri dua sahabatnya. Ia kemudian melihat ke arah ibu mertua yang sedang menggendong Ruhi yang masih mengantuk dengan satu tangan dan Kepala Desa.
"Ruhi, beri salam dulu sebentar ke Kakak, ya," ucap Ibu Lacheln berjalan mendekati Reynald.
Ruhi yang masih mengantuk; mengucek matanya lalu menguap. "Hati ... hati ... di jalan, Kak hooamm ... Reynald ...."
Tingkah lucu Ruhi membuat Reynald dan yang lain tertawa kecil.
Ibu Lacheln mengelus kepala Reynald dengan tangannya yang lain. Ia kemudian berpesan, "Berhati-hatilah. Ada banyak hal di dunia ini yang mungkin belum kamu ketahui. Tapi, Ibu percaya pada dirimu dan keputusanmu. Dan juga, jangan lupa bawa oleh-oleh, ya." Ibu Lacheln tersenyum dan tertawa kecil.
"Ya, saya tak akan lupa." Reynald membalas dengan senyuman. Ia kemudian melihat ke arah Kepala Desa. Kepala Desa sedikit mengangguk dengan mata yang sekilas dipejamkan.
Reynald membalas dengan gerakan yang serupa.
Ibu Lacheln mundur, berganti posisi dengan Lacheln. Lacheln kembali ke hadapan Reynald, membuat Reynald kembali gundah.
"Reynald, berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali." Lacheln memegang tangan Reynald.
Reynald merasakan tangan Lacheln yang gemetar hebat. Ia kemudian tersadar bahwa selama ini Lacheln sedang melawan egonya. Hati Reynald terenyuh.
Reynald tiba-tiba mencium kening istrinya. Lacheln yang terkejut dan tak siap dengan "serangan" Reynald tersipu malu. Matanya melebar dengan wajah yang terkejut membeku.
"Lacheln, tidak ... Istriku, berjanjilah padaku."
Lacheln memejamkan matanya sekilas, menggeleng-gelengkan kepalanya. Kesadaran yang telah kembali, langsung bertanya, "Be-berjanji tentang apa, Suamiku?"
Jantung Lacheln berdegup kencang. Walau ia telah menikah dengan Reynald hampir satu bulan, namun jantungnya terus berdegup kencang ketika Reynald menatap dalam-dalam dirinya. Ia seperti dibuat tenggelam dalam lautan cinta Reynald.
"Jagalah dirimu, juga kandunganmu." Reynald mengelus perut Lacheln.
"Ya ... aku berjanji." Lacheln memegang tangan yang memelus perutnya.
Reynald melepaskan elusannya.
"Oh ya, untuk namanya--!" ucap Reynald yang langsung dihentikan oleh Lacheln dengan menaruh telunjuk pada bibir Reynald.
"Katakan itu ketika kamu kembali, ya. Oleh karena itu, kamu harus kembali!"
Reynald yang mendengar hal itu, tertawa kecil. Ia kemudian menghela napas, berjalan mundur beberapa langkah.
Reynald sedikit melirik ke belakang, dan pintu kereta kuda telah dibukakan. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan menaiki kereta kuda. Pintu ditutup dari luar oleh salah seorang prajurit.
Keluarganya melambaikan tangan kepadanya. Reynald membalas lambaian tangan dari dalam kereta kuda.
Grant membungkuk ke hadapan keluarga Reynald. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan sedikit mengangguk ke arah Fidel. Fidel yang mengerti arti anggukan tersebut, membalas dengan anggukan yang serupa.
Tuan Grant, aku berjanji padamu untuk menjaga keluarga ini dengan hidupku! batin Fidel tatkala mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih karena sudah menerima kami selama dua hari ke belakang." Grant berjalan dan mengenakan helm tempurnya. Ia kemudian menunggangi kudanya dan memacu kudanya.
Grant yang bergerak, diikuti oleh para prajurit dan kereta kuda yang ditumpangi Reynald.
Ketika Reynald dan kereta kudanya sudah tak nampak lagi, Lacheln tersungkur dan menangis. Ibu Lacheln yang sudah menduga hal ini, langsung memeluk putrinya sembari menggendong Ruhi.
"Tak apa ... menangislah. Dua hari yang berat, ya. Hebat, kamu bisa menahannya. Tak hanya selama dua hari ini, tapi juga egomu. Ibu bangga kepadamu." Ibu Lacheln mencium kepala putrinya.
Lacheln menangis di pelukan ibunya.
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!