Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 30 - Menepati Janji


__ADS_3

"Kak Reynald!!" teriak Ruhi yang menyambut kedatangan Reynald bersama dengan para penduduk desa lainnya. Ruhi melambai-lambaikan tangannya dengan sangat bersemangat.


Reynald tertawa senang mendengar suara Ruhi dari dalam kereta kuda.


Sesaat setelah ia dan rombongannya telah sampai kembali ke Kerajaan Erdovarte, ia langsung meminta izin kepada Raja Erdovarte untuk langsung menuju ke desa tempatnya berasal. Raja Erdovarte sempat menawarnya untuk beristirahat sehari, namun Reynald dengan sopan menolak tawaran tersebut.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Namun, ada janji yang harus saya tepati."


"Begitu, ya. Kalau begitu, aku tak bisa memaksa. Berhati-hatilah, bawalah Fidel untuk mengawalmu."


"Dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut, Yang Mulia." Reynald membungkuk.


Kembali ke waktu di mana Reynald sudah dekat dengan desa.


"Tuan Reynald, apakah Anda mengenal suara yang terus berteriak memanggil Anda?" tanya Fidel yang menunggangi kuda; berjejer dengan kereta kuda Reynald.


"Ah, hahaha. Dia adalah Ruhi, adik perempuan dari gadis yang sering aku ceritakan kepadamu."


"Oh, itu berarti dia adik ipar Anda?"


"Hahaha, yah ... belum, tapi tak salah juga."


Kereta kuda berhenti tepat di tengah desa. Fidel yang merupakan pengawal Reynald turun dari kudanya. Ia kemudian membukakan pintu kereta kuda Reynald.


Kaki Reynald turun dari kereta kuda; menapakkan kakinya ke tanah yang sudah lama tidak ia pijaki. Setengah tubuhnya mulai kelihatan, para penduduk semakin antusias ingin melihat sosok yang namanya bahkan lebih agung daripada raja mana pun.


"Senang rasanya bisa kembali," ucap Reynald dengan tersenyum.


"REYNALD!!" teriak para penduduk dengan serentak.


Para anak kecil dengan cepat langsung berlari menghampiri Reynald dengan mata berbinar penuh kekaguman. Ruhi berusaha untuk mengambil posisi terdepan dengan berdesak-desakan dengan anak-anak kecil lainnya.


"Ka-Kak Pahlawan! A-apakah Kakak sudah mengalahkan penjahat-penjahatnya?!"


"Ya," jawab Reynald tersenyum lembut.


"A-apakah mereka kuat?! Ba-bagaimana Kakak bisa mengalahkan penjahat yang sangat-sangaaat kuat?!"


"Hm ... karena Aku memiliki sesuatu yang harus dilindungi! Dan ketika kamu memiliki sesuatu untuk dilindungi, maka kekuatanmu akan bertambah dengan sangaaat drastis!"


Jawaban Reynald membuat para anak kecil serentak berkata "Wahhh!" dengan mulut yang terbuka lebar.


"PER-MI-SI!! KA-KAK-KU DA-N A-KU MA-U LE-WAT!!" teriak keras Ruhi hingga membuat para anak kecil menutup telinganya.


"Ruhi, kamu tak perlu berteriak seperti itu, kita pasti akan mendapat gilirannya," ucap seorang gadis dengan sangat lembut.


Suara yang telah lama tak didengarnya. Suara yang pertama kali menyambutnya. Suara yang selama ini selalu ia rindukan.


"Lacheln," ucap Reynald tersenyum bahagia melihat Lacheln yang berdiri bersama Ruhi, Yebe, Ibu Lacheln, dan Kepala Desa.


"Reynald, kamu sudah menjadi orang yang sangat hebat, ya," ucap Ibu Lacheln.


"Bibi ...."


"Ohoho ... tubuhmu juga sudah berubah. Nampak lebih berisi, dan ... nampak lebih kuat!" ucap Kepala Desa.


"Kakek ...."


"Gimana kabarmu, Rey? Apakah Tuan Pahlawan butuh pengawal tambahan?" ucap Yebe yang sedikit menyinggung Fidel.


Fidel yang merasa ucapan Yebe menyinggungnya, langsung melirik tajam ke arah Yebe. Reynald tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya.


Lacheln berjalan melewati para anak kecil yang membukakan jalan. Ia kemudian memeluk Reynald dan berkata, "Reynald, selamat datang kembali. Terima kasih sudah menepati janjimu."

__ADS_1


Ah ... apa ini ...? Mengapa hati ini benar-benar sejuk, tenang. Memang tak begitu lama ... kurang lebih hanya satu tahun saja. Tapi ... entah mengapa rasanya seperti sudah puluhan tahun lamanya.


Reynald mengangkat kedua tangannya, lalu membalas pelukan Lacheln.


"Ya ... aku pulang."


***


Di dalam kediaman Kepala Desa, tepatnya di ruang tamu, Reynald duduk dan berbincang-bincang dengan Kepala Desa dan Yebe. Di tempat itu juga ada Fidel yang selalu dengan setia dan bangga menemani Reynald ke mana pun Reynald pergi. Ia telah ditawari untuk duduk, namun ia kukuh ingin berdiri saja.


"Oh, jadi dia adalah Tuan Fidel sang Pelindung. Tak kusangka bahwa ia seumuran dengan Nak Reynald," ucap Kepala Desa sedikit terkejut.


"Daripada julukan tersebut, saya lebih senang dengan julukan yang lainnya, Tuan," ucap Fidel.


"Julukan yang lainnya?" tanya Kepala Desa.


"Ya! Tangan Kanan sang Pahlawan!" ucap Fidel dengan mata berbinar dan lengan kanan ditekuk serta dikepalkan penuh kepercayaan diri.


Kepala Desa dan Yebe terdiam melihat Fidel, sementara Reynald menutupi muka dengan malu sembari berkata di dalam hati "Sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan sungguh memalukan!!"


"Kau! Kau benar-benar keren!" ucap Yebe yang malah kagum.


Ha? batin Reynald keheranan.


"Menjadi tangan kanan seorang pahlawan ... betapa membanggakannya itu, bukan?!"


"Ya! Ya! Ternyata kau seorang pria yang memang tahu selera!" balas Fidel.


Keduanya saling merangkul. "Bagaimana, bukankah julukanku yang lain itu lebih keren?!"


"Ya! Ya! Tangan kanan ... tunggu, bukankah itu berarti dia juga membutuhkan tangan kiri?!"


Keduanya saling menatap seolah-olah baru saja menemukan ide brilian yang memecahkan persoalan selama ratusan abad.


"Namaku Fidel, wahai Tangan Kiri."


"Namaku Yebe, wahai Tangan Kanan."


Keduanya kemudian menganggukkan kepala, melepaskan jabat tangannya, dan saling merangkul dengan tertawa besar. Kedunya tanpa sadar saling bercerita sembari berjalan meninggalkan kediaman Kepala Desa.


Reynald dan Kepala Desa melihat keduanya pergi meninggalkan rumah. Ketika pintu sudah ditutup dari luar, keduanya menghela napas.


"Tak kusangka keduanya memiliki frekuensi yang sama ..." ucap Reynald.


"Hahaha, itulah pria. Seorang pria akan berkawan tanpa tahu asal-muasalnya!" ucap Kepala Desa.


***


Waktu berlalu dengan sangat cepat, Reynald menghabiskan waktunya mendengarkan cerita bersama dengan para penduduk desa lainnya. Ya, ia mendengarkan cerita. Karena Fidel-lah yang bercerita dengan sangat bersemangat.


Fidel yang bercerita dengan sangat bersemangat, penuh kekaguman, dan tanpa dilebihkan sedikit pun membuat emosi para penduduk sempat jatuh-bangun. Ia menceritakan tentang bagaimana Reynald yang berjuang sejak awal hingga akhir. Bagaimana Reynald yang sempat terpuruk hingga hampir mati. Lalu, menceritakan bagaimana hebatnya seorang Reynald hingga mampu mengalahkan tujuh musuh yang sama kuatnya dengan sosok yang bahkan tak pernah bisa disentuh sedikit pun oleh kesatria terhebat sekali pun.


Tepuk tangan yang sangat meriah menutup cerita Reynald yang disampaikan oleh Fidel.


Tepat setelah Fidel selesai bercerita, sebuah pesta hendak diadakan. Namun, cuaca yang tak mendukung, membuat pesta ditunda untuk sementara.


Langit malam menangis, entah apa penyebabnya. Reynald yang sejak awal terus-menerus dihampiri oleh para penduduk desa, akhirnya mendepatkan waktu untuk beristirahat.


Ia berbaring di atas kasurnya; mengingat kembali tentang semua hal indah yang telah terjadi setelah ia direinkarnasi ke Thavma.


Dimulai dari dirinya yang bertemu dengan cinta sejatinya, menjadi sosok Yang Terpilih, mendapatkan kenalan bahkan sahabat baru, hingga menjadi seorang pahlawan. Ia tak menyangka bahwa semua hal hebat itu berlalu hanya dalam satu tahun saja.


"Dengan begini, tugasku sudah selesai, 'kan?"

__ADS_1


Tok, tok, tok.


Suara pintu yang diketuk menyita perhatian Reynald. Ia beranjak dari kasurnya, berjalan menuju ke pintu dan membukanya.


"Lacheln!"


Lacheln berdiri di depan pintu kamar Reynald. Mengenakan piyamanya dan memeluk bantal.


"Apa kau ... sedang ada waktu luang ...?" tanya Lacheln yang tak berani menatap mata Reynald.


Reynald baru tersadar bahwa seharian ini ia telah mengabaikan Lacheln. Ia terlalu disibukkan dengan orang-orang yang mengagumi dan mengelilinginya hingga lupa dengan orang yang paling dekat dengannya.


"Masuklah," ucap Reynald dengan memberi jalan untuk Lacheln.


Lacheln yang mendengar hal itu, langsung melirik ke wajah Reynald. Ia tersenyum sangat senang, namun wajahnya ia benamkan pada bantal yang dipeluknya. Kakinya dengan manis berjalan kecil memasuki kamar Reynald.


Pintu kamar ditutup oleh Reynald.


Yebe, Ibu Lacheln, dan Fidel yang sejak tadi mengintip Lacheln dan Reynald berkata dalam hatinya, "Semangat kalian berdua!"


Ya, keduanya beranggapan bahwa Reynald dan Lacheln akan melakukan hal "itu".


***


Dengan meregangkan tubuhnya, Reynald keluar dari kamarnya. Ia yang sejak bangun tak melihat Lacheln, beranggapan bahwa Lacheln sudah memulai kegiatan sehari-harinya terlebih dahulu. Reynald pun berjalan menuju ke ruang makan, dan di sana ia melihat Ibu Lacheln dan Lacheln memasak. Fidel dan Yebe terus saling bercengkerama seperti dua sahabat yang telah saling mengenal selama seribu tahun. Kepala Desa berbincang-bincang kecil dengan Ruhi.


"Oh! Kak Reynald! Selamat pagii!" sapa Ruhi melihat Reynald yang baru bangun tidur.


"Selamat pagi, Kakek. Selamat pagi semua."


"Selamat pagi, Tuan Reynald!" ucap Fidel dan Yebe berdiri dari kursinya.


E-eh? Aku tahu dan bisa memaklumi yang Fidel. Tapi ... ada apa dengan Yebe ...? batin Reynald yang agak bingung dan kelabakan melihat tingkah dan ucapan Yebe.


"Se-selamat pagi ... Reynald ..." ucap Lacheln melihat ke arah Reynald dengan sedikit sedikit malu-malu.


Reynald hanya berani melihat sekilas ke arah Lacheln. Ketika kedua mata dua pasangan tersebut bertemu, keduanya langsung memalingkan wajah dengan serentak.


Semua orang kecuali Ruhi tahu apa yang tadi malam terjadi. Namun, mereka hanya tersenyum-senyum mencoba berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Hingga ....


"Selamat pagi, Reynald. Apakah tadi malam menyenangkan?" tanya Ibu Lacheln.


Tek ....Semua kegiatan seketika terhenti seperti sebuah film yang di-pause. Semua orang terdiam, hening. Semua orang, kecuali Ruhi yang masih polos dan Ibu Lacheln yang tersenyum sangat senang dan terus memasak dengan santainya.


"Oh ya ..." ucap Ibu Lacheln.


Reynald dan Lacheln yang wajahnya sudah memerah hingga air panas pun kalah panasnya; menelan ludah.


"Mau itu laki-laki atau perempuan, Ibu tidak masalah!"


"IBUU!!!" teriak Lacheln yang sangat malu dan memeluk ibunya.


Reynald melihat ke kanan, Fidel yang duduk dan sedang bercengkerama dengan Yebe memalingkan wajah. Ia melihat ke kiri, Kepala Desa berpura-pura tak acuh dengan mengajak main Ruhi walau terlihat kaku dan gugupnya.


Ia menampar jidatnya. Rasa malunya saat ini berada di puncak dari gunung tertinggi yang ada di dunia. Ia kemudian melirik sekilas ke arah Lacheln, dan ia melihat kalau Lacheln juga melirik ke arahnya dengan malu-malu.


Aku rasa ... aku harus lebih berhati-hati dalam memilih waktu dan tempat ....


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2