
Pedang api di tangan kanan menyala. Air hujan turun namun tak menyentuh, hanya mengelilinginya. Reynald duduk tegap di atas kudanya dengan gagah. Cahaya matahari seolah-olah hanya ingin menyorotnya.
Pemandangan itu, membuat semua orang yang melihat seakan-akan sedang ditampar kenyataan. Tamparan yang berkata "Lihatlah, lihatlah dengan jelas! Dialah Yang Terpilih!"
Orang-orang yang berdoa pun teralihkan dengan pemandangan Reynald yang begitu gagah dan mempesona.
Deg .. deg ... jantung Luria berdegup kencang. Begitu pula dengan Dumida dan gadis-gadis yang ada di tempat tersebut.
***
Hujan telah berhenti, pedang api di tangan Reynald telah padam. Para warga yang masih selamat berkumpul di luar pintu masuk desa, berhadapan dengan anggota Die Acht Viende.
"Terima kasih karena sudah menyalamatkan kami, Pangeran." Ketua Desa membungkuk.
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kami datang tidak tepat waktu." Bestruger memasang wajah bersalah.
"Ah, tidak. Jangan begitu, Pangeran. Anda dan teman-teman Anda telah menyelamatkan kami. Seandainya Anda sekalian tidak ada, maka tamatlah sudah nasib kami." Ketua Desa merasa lebih dan lebih bersalah.
Bestruger mengepalkan tangannya. "Kami akan mengirimkan bantuan untuk membangun kembali desa ini. Sampai saat itu tiba, para prajurit akan datang dan membuat kamp sementara."
"Te-terima kasih banyak, Pangeran. Kebaikan Anda, tidak akan kami lupakan!" Ketua Desa memegang kedua tangan Bestruger.
"Ya, sama-sama." Bestruger tersenyum tulus.
Setelah mengucapkan salam dan menyelesaikan misi, Bestruger memimpin anggota Die Acht Viende untuk kembali ke ibu kota kerajaan.
Tak seperti ketika berangkat, Bestruger lebih banyak menukuk dan murung. Setidaknya itulah yang terlihat di mata teman-temannya. Pacuan kudanya lebih kencang dari yang lain, seperti tergesa-gesa akan sesuatu. Teman-temannya meminta untuk lebih pelan, namun ia tidak mendengarkan.
***
Die Acht Viende telah kembali. Kabar itu menyebar cepat ke seluruh orang yang sedang berada di ibu kota.
"Benarkah?! Cepat sekali!"
Adalah yang terlintas di benak setiap orang tatkala mendengar berita tersebut. Para penduduk dengan antusias menyambut kembali kedatangan Die Acht Viende.
Anggota Die Acht Viende berjalan berpasangan dua orang dengan pelan dan anggun, membuat semua warga terkagum-kagum. Sang pangeran, Bestruger, berada di paling depan, ditemani adiknya, Luria. Di belakang keduanya adalah anggota yang berasal dari anggota bangsawan.
"Pangeran, Putri, kalian luar biasa!"
"Nona Dumida! Aku harap anakku bisa sekuat dirimu!"
"Ah, Tuan Arstusen Anda tampan sekali!"
Menjawab pujian dan sorakan yang tertuju kepada mereka, Bestruger dan yang lain membalas dengan melambaikan tangan.
Namun, sorakan terhadap Bestruger dan anggota bangsawan yang lain berubah ketika dua orang terakhir muncul.
"YANG TERPILIH!"
Satu teriakan yang mengubah arus pujian dari memuji para anggota bangsawan, menjadi memuji Yang Terpilih. Semua orang menyorakkan kedatangan Yang Terpilih, melupakan kehadiran anggota Die Acht Viende lainnya.
Semua perhatian tertuju kepada Reynald.
"Ini terlalu berat ..." ucap Fidel dengan lirih.
"Tak terbiasa dengan perhatian?" tanya Reynald yang membuat terkejut dan malu Fidel.
"Te-tentu saja tidak. A-aku tidak te-terbiasa dengan perhatian? Hah! Ma-mana mungkin!" jawab Fidel yang tangannya gemetar memegang tali kekang kuda.
Dari kejauhan, Bestruger melirik ke belakang dan memicingkan matanya.
Kedelapan anggota Die Acht Viende menghadap kepada sang raja di aula kerajaan.
"Tak kusangka bahwa kalian bisa menyelesaikan tugas ini secepat ini. Kalian sungguh luar biasa," puji sang Raja.
"Terima kasih, Ayahanda," jawab Bestruger yang berlutut. "Terima kasih, Yang Mulia," jawab anggota Die Acht Viende lainnya kecuali Luria (karena Luria berkata 'Ayah', bukan 'Yang Mulia').
"Hadiah apa yang kalian inginkan?" tanya dan tawar sang Raja.
Pertanyaan Raja Erdovarte yang tiba-tiba, membuat para anggota Die Acht Viende (kecuali Reynald) terkejut.
__ADS_1
"Be-benarkah, Ayahanda?" tanya Bestruger.
"Ya, katakan saja. Ini adalah apresiasi yang pantas untuk hasil pekerjaan kalian. Katakanlah, apa hadiah yang kalian inginkan?"
Para anggota Die Acht Viende (kecuali Reynald) tersenyum senang.
"Ka-kalau begitu, aku ingin mendapatkan pedang dan kalung sihir baru. Aku ingin menjadi lebih kuat, Ayahanda," ucap Bestruger.
"Kalau saya, saya ingin mendapatkan izin memasuki ruang penelitian, Yang Mulia," ucap Erchied.
"Saya ... ingin latihan pribadi dengan Paman Grant, Yang Mulia!" jawab Dumida.
"Saya ingin diberi izin untuk melayani kerajaan seumur hidup, Yang Mulia," jawab Deastra.
Ketika para anggota Die Acht Viende satu per satu mengucapkan keinginannya, jantung Fidel berdegup dengan lebih kencang. Ia sangat senang hingga otaknya tak bisa memikirkan apa-apa karena terlalu banyak opsi yang muncul.
"Re-Reynald ... a-apa yang kau inginkan?" tanya Fidel yang gemetaran.
"... Aku ingin-" jawab Reynald.
Luria tiba-tiba berdiri. "Ayahanda, aku ingin menikah dengan Yang Terpilih, Reynald!" ucap Luria dengan lantang, dengan kedua tangan disatukan.
Ucapan Luria membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan terdiam terkejut, tak terkecuali Grant yang berada di samping sang Raja dan Reynald yang ucapannya dipotong.
Raja Erdovarte tersenyum mendengar permintaan putri kecilnya.
"Bagaimana menurutmu, Yang Terpilih?" tanya sang Raja.
"Ah, mengenai itu ...." Reynald menukuk sesaat dan memejamkan kedua matanya lalu berdiri. Ia membuka matanya dan membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri.
"Bolehkah saya mendekat kepada Anda?"
Raja Erdovarte sedikit memincingkan matanya. "Ya, silakan."
Reynald berjalan melewati para anggota Die Acht Viende yang masih berlutut dan Luria yang melihatnya dengan pupil yang seperti berubah bentuk menjadi hati.
Grant memasang senyum kaku karena ia sudah menebak apa yang akan dibisikkan oleh Reynald. Reynald pun membisikkan tentang dirinya yang "sudah bertunangan" dengan seseorang.
"Begitu, ya. Apakah kamu tidak ingin mempunyai lebih dari satu pasangan hidup?" ucap lirih sang Raja
"Mohon maaf, Yang Mulia. Tapi saya berjanji kepadanya untuk menjadi kesatria dan menjawab takdir, bukan membawa pasangan lain," jawab lirih Reynald.
Sang Raja tersenyum mendengar jawaban Reynald.
"Putriku tersayang, Luria."
"Ya, Ayahanda," jawab Luria dengan hati yang berbunga-bunga.
"Permintaanmu akan kita bahas nanti secara pribadi, karena itu menyangkut masa depan kerajaan," ucap sang Raja yang tak ingin menghancurkan muka anaknya di depan anggota Die Acht Viende lainnya.
"Baiklah, Ayahanda!"
Sang Raja sedikit menghela napas. Ia kemudian kembali membusungkan dadanya. "Lalu yang terakhir, Fidel, apa yang kamu inginkan?"
Fidel gelapagan. Ia tanpa sadar berdiri dengan gemetaran seperti sedang ada gempa di dalam tubuhnya.
"Sa-sa-sa-saya ..." ucap Fidel kaku dan gugup. Ia melihat setiap anggota Die Acht Viende (kecuali Reynald) melihatnya dengan sorot mata tidak suka. Dan tentu saja, hal itu membuatnya menjadi lebih gugup dan bahkan takut untuk menyampaikan keinginannya.
Ia yang sempat akan murung dan menukuk, melirik sekilas ke depan. Ia kemudian melihat Reynald yang seperti mengatakan sesuatu. Tak terdengar, namun ia bisa membaca gerak bibir Reynald.
Ka-ta-kan-lah.
Satu ucapan tanpa suara itu membuat keberanian yang bersembunyi di dalam diri Fidel meledak. Ia mengangkat kepalanya, membusungkan dadanya, kedua tangan ia kepalkan, gemetar di seluruh tubuhnya menghilang seketika.
Semua opsi yang ada di kepalanya terus bermunculan seperti notifikasi HP yang lama tak dibuka. Mulutnya mulai terbuka, siap menyampaikan apa yang menjadi keinginannya.
Ia teringat dengan sang adik yang selalu dibully di sekolah. Ia teringat dengan sosok sang ibu yang bekerja sebagai pembantu yang tiap harinya selalu dimarahI, dihina, dicaci maki, bahkan disiram minyak panas yang baru saja ia gunakan untuk memasak.
Ia juga teringat dengan segala bully-an yang dihantamkan kepadanya. Segala perlakuan penindasan tanpa dasar yang jelas yang ditujukan kepadanya.
Wajah penuh amarah dan tanpa ketakutan Fidel membuat Bestruger dan anggota Die Acht Viende (kecuali Reynald) ketakutan. Mereka takut kalau Fidel yang saat ini sedang tidak tenang membocorkan segala perlakuan yang "diberikan" oleh Bestruger dan yang lain kepadanya.
__ADS_1
"Saya ingin ...."
Jantung Bestruger dan yang lain berdegup dengan lebih kencang. Keringat dingin bercucuran, menelan ludah dengan ketakutan.
Amarah yang meledak, menginginkan balas dendam. Dari semua opsi yang ada di pikirannya, terdapat satu hal yang tertulis jelas di benaknya.
Pembalasan untuk semua orang yang menyakiti saya dan keluarga saya.
Namun, ketika sudah ingin mengucapkan apa yang terlintas jelas tersebut, entah mengapa ia tiba-tiba teringat dengan es batu yang diberikan oleh Reynald.
Mata yang terbakar api balas dendam padam seketika. Bibir yang ingin berucap terbata.
"Kamu ingin apa?" tanya sang Raja.
Bestruger sedikit terkejut mendengar pertanyaan sang Raja. Ia tidak bisa mengatakan apa yang ia ingin katakan.
Ia ingin agar orang-orang yang pernah menghancurkannya dan keluarganya mendapatkan balasan yang setimpal. Namun, jauh di dalam hatinya ia tidak bisa mengatakan hal yang seperti itu.
Fidel menukuk. Mengepalkan kuat kedua tangannya dan menggertakkan giginya.
Pengecut! Kau benar-benar pengecut, Fidel! Katakanlah ... katakanlah semuanya! batin Fidel.
Melihat ekspresi Fidel yang tak berani berbicara membuat Bestruger dan yang lain dapat tersenyum dan bernapas lega.
Pada akhirnya ... pengecut tetaplah pengecut batin Arstusen.
Ketika suasana sedang hening karena Fidel yang tak kunjung menyampaikan apa yang menjadi permintaannya, Reynald tiba-tiba mengutarakan permintaannya.
"Yang Mulia, kalau tidak salah, saya juga belum mengutarakan keinginan saya."
"Oh, benar. Apa keinginanmu, Yang Terpilih?"
Semua orang kecuali Fidel melihat kembali ke arah Raja Erdovarte dan Fidel.
"Saya ingin Fidel menjadi pengawal pribadi saya."
Semua orang terkejut mendengar permintaan Reynald. Mata Fidel yang sempat terpejam karena kebingungan, tiba-tiba dibuka paksa oleh ucapan Reynald.
"Yang Terpilih, Reynald, apa kamu yakin meminta hal itu?" tanya Bestruger yang sedikit panik.
"Jikalau Anda membutuhkan pengawal, maka saya siap menjadi pengawal Anda, Yang Terpilih," ucap Arstusen.
"Ada banyak orang di luar sana yang dapat menjadi pengawal Anda. Lantas, mengapa Anda harus memilih orang sepertinya?" tanya Erchied.
Para anggota Die Acht Viende tidak terima dengan permintaan Reynald.
Raja Erdovarte sedikit mengangkat tangan kanannya, menyuruh agar semua orang tenang. Para anggota Die Acht Viende kembali berlutut dan berkata, "Maafkan kami, Yang Mulia."
Sang Raja merasa ia dapat menebak maksud di balik permintaan Reynald. Ia tersenyum senang.
"Fidel, apa jawabanmu?"
Fidel mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. Seseorang yang sempat ia pandang benci, seseorang yang sempat membuat hatinya iri, tanpa ia sadari menjadi penolongnya berkali-kali.
Tawaran yang tak pernah muncul walau hanya sekilas di pikirannya, tiba-tiba menjadi jawaban atas semua pertanyaan dan keinginannya.
Fidel menegapkan tubuhnya.
"Ya, saya bersedia menjadi pengawalnya!" jawab Fidel dengan bangga.
Sang Raja tersenyum, memejamkan mata sekilas dan sedikit mengangguk. Ia kemudian memberikan pesan kepada Fidel.
"Reynald adalah orang yang berharga, tidak hanya untuk kerajaan, namun juga untuk umat manusia. Dia bukan hanya orang penting untuk saat ini, namun juga di masa depan. Menjadi pengawalnya adalah tugas dan tanggung jawab yang berat, namun kehormatan tak terhingga adalah bayarannya."
Pesan dari sang Raja membuat Fidel merinding. Namun, ia sudah membulatkan tekadnya.
"Akan saya ingat baik-baik pesan Anda!" jawab Fidel membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri.
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1