Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 36 - Bola Kristal


__ADS_3

Reynald membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur. Ia mencoba untuk duduk walau sempat terpeleset.


Napasnya terengah-engah, seperti habis melakukan lari marathon. Badannya benar-benar basah dengan keringatnya. Pasir-pasir menempel di sekujur tubuh bahkan wajahnya.


Reynald bersujud dengan kepala yang tak menyentuh tanah. Tangan kanannya memegang dadanya. Rasa sakit masih sedikit terasa.


Hah ... hah ... hah ... apa itu tadi ...?


Reynald mencoba menenangkan dirinya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat matahari sudah melewati puncaknya.


Berapa lama aku pingsan? Apakah beberapa jam? Atau mungkin ... hari?


Reynald menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berdiri dan mencabut tombak miliknya.


***


Di dalam hutan yang rimbun, Reynald berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ia belum mengenali sepenuhnya pulau yang saat ini ia tinggali. Ia juga tak yakin bahwa gua tempatnya tidur semalam tak ada penghuninya. Bisa jadi pula dirinya akan kembali diserang oleh hewan buas seperti harimau putih atau buaya laut. Ada terlalu banyak hal yang dapat terjadi.


Dan benar saja, ketika ia ingin memanjat pohon guna mengambil buah-buahan, tiba-tiba instingnya mengatakan ada yang menyerangnya dari belakang.


Reynald dengan cepat menghindar, berputar ke arah samping. Harimau putih menabrak pohon. Sang harimau sedikit pusing. Harimau menggelengkan kepalanya, mencoba mengembalikan kesadarannya. Namun, ia telah salah memilih lawan.


Reynald tanpa basa-basi langsung melemparkan tombak yang dipegangnya. Tombak yang dliemparkan melesat memasuki mulut sang harimau dan tersangkut di dalamnya. Harimau berteriak kesakitan, tapi semakin ia berteriak, maka ia akan semakin merasa kesakitan.


Harimau mencoba mematahkan tombak yang memasuki mulutnya. Reynald berjalan mendekati sang harimau. Harimau ketakutan, dirinya melihat malaikat kematian sudah ada di hadapannya.


Reynald berdiri di hadapan sang harimau. Ia menghela napas. Dan kemudian mencabut tombak dari mulut sang harimau.


Darah muncrat keluar hingga melimpahi sekujur tubuh Reynald. Harimau yang kehabisan darah mulai menutup matanya.


Setelah sang harimau mati, Reynald mulai menguliti sang harimau.


Ia menguliti dengan sangat hati-hati. Setelah selesai menguliti, ia mengambil beberapa bagian dari tubuh sang harimau. Ketika sedang memilah daging yang akan dibawanya, ia samar-samar melihat sesuatu bersinar.


Reynald mengambil benda tersebut dan membersihkannya dari darah yang menempel. Lalu, ia menemukan sebuah bola kristal berwarna ungu yang menyala. Tak terlalu terang, tak menyakiti mata. Bola tersebut tak terlalu besar, hanya seukuran bola pingpong.


Reynald sedikit kebingungan melihat bola kristal yang ia temukan. Ia belum pernah membaca di buku mana pun tentang bola kristal yang muncul dari dalam tubuh seekor hewan.

__ADS_1


Ia yang tak tahu apa-apa mengenai bola kristal yang ditemuinya, memutuskan untuk membawanya bersama dengan kulit harimau dan daging yang telah dipilihnya. Ia kemudian berjalan menuju ke markasnya (gua).


Matahari sudah terbenam. Beruntung, di perjalanan Reynald menemukan kayu dan beberapa daun yang telah kering. Ia kemudian terbesit ide untuk membuat sebuah obor.


Dengan menggesekkan dua buah batu, percikan api yang muncul ia arahkan ke dedaunan kering. Setelah api semakin besar, ia arahkan kayu yang ia temui tadi ke dedaunan yang sudah terbakar. Ia kemudian berhasil membuat sebuah api unggun, walaupun niat awalnya adalah membuat sebuah obor.


Dengan adanya sebuah api unggun, ia tak akan lagi kedinginan oleh malam maupun hujan. Ia juga bisa membakar daging sehingga tak keracunan seperti tadi pagi.


Di malam itu juga, Reynald mendekatkan pakaiannya, berharap besok pakaiannya telah kering. Di malam itu pula, Reynald mencoba mengotak-atik kulit harimau yang ditemukannya. Harap-harap bisa menjadi sebuah pakaian atau mungkin ... sebuah jubah.


***


Pagi hari telah tiba. Api unggun telah padam dengan sendirinya. Pakaiannya telah kering. Pasokan makanan pun telah habis.


Reynald yang beranjak dari tidurnya, mengenakan pakaiannya, mengambil tombaknya, dan berjalan keluar dari gua.


Mentari pagi mengiringi langkah kakinya. Ia berjalan menuruni bukit dan kembali memasuki hutan. Ia berjalan sembari memperhatikan bola kristal yang sedang ia pegang. Ia benar-benar penasaran dengan apa isi dari bola kristal ini, dari mana bola ini berasal, dan apa yang bisa dilakukan oleh bola ini.


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di dalam kepalanya. Dan ketika ia sedang memikirkan banyak pertanyaan, tiba-tiba ia mendengar suara keras yang tak jauh dari tempatnya.


Reynald dengan cepat langsung melesat ke arah sumber suara. Dan ketika ia sudah dapat melihat samar-samar sang sumber suara, ia langsung bersembunyi.


Reynald kehabisan kata-kata. Dua makhluk dengan ukuran yang sangat besar sedang bertarung di depan matanya.


Ti-tidak ... itu terlalu kecil untuk seekor gorila. King Kong? Ya ... itu lebih masuk akal.


Sang King Kong melayangkan sebuah pukulan yang mengenai tepat kepala T-Rex. T-Rex sedikit terhempas dan membalas dengan mengayunkan ekornya. Keduanya sama-sama sedikit terhempas hingga sedikit tergeser dari tempat mereka berdiri.


"Grrahhh!!" teriak keduanya saling menantang.


Teriakan mereka sangat keras hingga membuat burung-burung di pohon beterbangan. Hewan-hewan yang ada di sekitar pun langsung berlari ketakutan.


Keduanya berlari dengan tatapan yang membunuh. King Kong melakukan pukulan lurus dan T-Rex menghindarinya. T-Rex berniat menggigit leher King Kong namun dapat ditahan oleh King Kong. King Kong mengangkat tangan kanannya ke atas dan menghantam telak kepala atas T-Rex yang mencoba menggigitnya.


T-Rex terjatuh dan tergeret beberapa meter karena tak sempat mengerem langkahnya. King Kong yang melihat adanya kesempatan langsung melompat setinggi yang ia bisa dan mendarat tepat di perut sang T-Rex. T-Rex berteriak kesakitan ketika ditimpa oleh King Kong, tapi oleh King Kong langsung disumbat dengan hantaman bertubi-tubi ke kepala sang T-Rex.


Setelah melayangkan belasan bahkan puluhan pukulan telak, T-Rex pun gugur. King Kong yang kelelahan, duduk di atas mayat T-Rex dan kemudian terjatuh ke belakang dan tergeletak begitu saja.

__ADS_1


Mata Reynald tak bisa berhenti melebar. Ia tak menyangka dapat menyaksikan secara langsung dan nyata pertarungan dua makhluk yang dulu ia anggap khayalan belaka.


Reynald menelan ludah. Ia mengutuk dirinya karena pernah bertindak dan berpikir dengan terlalu sombong.


Perlahan-lahan, ia mulai keluar dari persembunyiannya. Berjalan, mendekati tubuh King Kong dan T-Rex yang sama-sama tak sadarkan diri.


Ketika Reynald semakin mendekat, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang aneh di genggaman tangan kanannya. Reynald membuka tangan kanannya dan melihat bola kristalnya bersinar dengan sangat terang.


Ruh T-Rex yang sama-sama tak sadarkan diri keluar dari tubuh T-Rex. Ia kemudian ditarik masuk oleh bola kristal.


Reyna melongo. Ia tak paham dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memelototi bola kristal, menggoyang-goyangkan, dan mengetuk-ngetuk. Ia sangat fokus dengan bola kristalnya untuk waktu yang cukup lama.


Dan ketika ia tidak menemukan jawaban apa-apa dan hanya kebingungan demi kebingungan yang menjumpainya, ia melirik sekilas ke arah mayat T-Rex.


Ke arah yang seharusnya terdapat mayat T-Rex.


Ke arah ... yang seharusnya terdapat mayat T-Rex.


Sebuah telur berwarna putih muncul tepat di tempat yang sama dengan mayat T-Rex. Lalu seperti seekor ayam yang memberontak keluar dari cangkangnya, cahaya berwarna ungu menyala di sela-sela cangkang yang retak.


Setelah cahaya tak lagi menyilaukan, Reynald dapat melihat apa yang ada di hadapannya. Sang T-Rex yang telah mati, kembali hidup dengan bentuk yang cukup berbeda. Tubuhnya berwarna putih dengan api ungu menyala.di ekor. Matanya putih polos dengan pinggiran ungu yang berkobar layaknya api.


Napasnya menjadi berat. Samar-samar mengeluarkan api ungu.


"Apa kau yang membangkitkanku ...?"


Suara berat yang tiba-tiba muncul membuat Reynald terkejut. Ia melihat ke sekitar, tak ada yang ia temukan. Hanya seekor King Kong yang terbaring tak sadarkan diri dan seekor T-Rex yang baru saja menetas.


Reynald hanya bisa menyimpulkan satu hal.


"Ya ... aku yang membangkitkanmu." Reynald sedikit ragu.


Sang T-Rex menghela napasnya. Ia kemudian berjalan mendekati Reynald. Reynald yang sedikit ketakutan, tanpa sadar memundurkan sedikit langkah dan tubuhnya.


T-Rex mendekatkan kepalanya ke arah Reynald. Reynald menyiapkan mental untuk segala hal yang akan terjadi.


"Berikanlah sebuah nama untukku. Lalu jalinlah kontrak denganku sebagaimana engkau telah memanggilku."

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2