Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 43 - Duel


__ADS_3

"Aku tak akan pernah lupa nama itu .... Aku tak akan pernah lupa wajah itu! Wajah brengsek yang bertanggung jawab atas menghilangnya Tuan Reynald," ucap Gardieta dengan meremas kencang kedua tangannya.


Mendengar hal itu, Everest dan Shina ikut memasang tatapan tajam ke arah Francois.


Prok, prok, prok, prok. Reynald tiba-tiba bertepuk tangan dengan senyuman lebar hingga matanya tak nampak.


"Luar biasa, keren sekali! Anda keturunan seorang bangsawan dan adik dari bajak laut yang sangat hebat itu?!" ucap Reynald dengan "memuji".


Francois yang jarang mendapatkan pujian tapi selalu haus pujian langsung dibawa terbang oleh kalimat Reynald. "Y-ya, aku adalah orang itu. Dan sekarang, aku akan menjadi bajak laut yang lebih hebat dari orang itu!" Francois menepuk dadanya dengan bangga.


Kru kapal yang lain mengangguk setuju dengan ucapan tuannya. Sementara itu, ketiga bawahan Reynald bingung dengan sikap tuan mereka.


"Oh, kalau begitu Anda adalah orang yang hebat, bukan?"


"Ya, tentu saja! Tak bisakah kau lihat kapal megah ini? Dan bagaimana tembakan meriam kapalku menghancurkan kapalmu?!"


"Oh, benar-benar! Anda adalah orang hebat!" Reynald mengangguk setuju dengan mata terpejam.


Francois yang melihat sikap unik Reynald, terlebih memiliki bawahan yang luar biasa kuatnya terpikirkan untuk merekrut Reynald. Ia menyeringai, merasa telah melihat emas di pelupuk mata.


"Oi, apa kau mau bergabung menjadi kruku? Akan aku berikan apa pun yang kau mau! Harta, wanita, tahta? Katakan saja! Aku, Francois Barbanegra akan mengabulkannya!"


Mendengar ajakan tersebut, Reynald memasang wajah sangat senang yang seolah-olah sangat tergoda dengan tawaran Francois. Shina melirik ke sekitarnya, para kru Francois menyeringai dengan lirikan mata licik.


"Wah, Anda benar-benar luar biasa! Bolehkah saya meminta satu hal?"


Francois tersenyum bangga. "Katakan saja!"


"Katakan pada rajamu kalau Reynald sang Pahlawan telah terlahir kembali."


Francois dan awak kapalnya kebingungan sesaat. Lalu ....


"Bahahahaha!"


Tawa pun pecah. Francois dan kru-nya tertawa terbahak-bahak. "Di mana pahlawan itu? Hahahaha!" ucap salah seorang kru.


Reynald hanya tersenyum. Namun, ketiga bawahannya berang.


"Yah, dia sudah lama mati. Sekarang namanya sudah berubah," jawab Reynald.


"Oh, benarkah? Hahahaha! Pahlawan bisa mati ternyata!" ucap awak kapal lainnya.


"Ya, dan dia akan segera kembali ke benua manusia, Sievaria."


"Hahahahaha!"


Srok!


Tawa semua orang tiba-tiba terhenti. Sebuah tangan menembus dada dari salah seorang awak kapal. Orang-orang yang semula tertawa, kini gemetar ketakutan. Semua orang kecuali Reynald dan Shina melihat ke arah yang sama.


"Kalian ini benar-benar tak tahu terima kasih, ya ..." ucap Gardieta mengeluarkan tangan dari dada awak kapal yang ditusuknya.


Para awak kapal mundur perlahan, menjauhi Gardieta yang aura membunuhnya seperti sedang mencekik mereka.


Sreeesh!

__ADS_1


Es merambat dengan cepat di permukaan lantai kapal, membuat kaki para awak kapal dan Gardieta tak bisa bergerak.


Francois membanting wajahnya, melihat ke arah Everest.


"Hah ...." Everest menghela napas dengan uap dingin keluar dari mulutnya dengan kedua sudut bagian dalam alis bertemu di satu titik.


Francois dan awak kapalnya menelan ludah. Keringat dingin mengalir dengan deras dari pelipis kepala mereka. Walau sudah ketakutan setengah mati, tapi mereka tak bisa melarikan diri.


Di saat itulah mereka baru sadar, bahwa mereka telah salah memilih lawan.


"Ada apa, Kapten Francois Barbanegra, Adik dari bajak laut terhebat sepanjang masa, Edward Barbanegra dan Drake Barbanegra?"


Ucapan Reynald membuat Francois yang mendengarnya merinding. Ia yang ketakutan, secara terkaku melihat ke arah depannya, ke arah sosok yang tadi sempat ia remehkan.


"Si-si-si-siapa kau?!" tanya Francois.


Reynald mendekatkan mulut ke telinga kanan Francois.


"Cukup katakan pada rajamu kalau sahabat lamanya telah terlahir kembali."


Francois langsung terjatuh. Tulang ekornya menghentak lantai kapal dengan kuat. Wajah syoknya tak bisa ia sembunyikan.


"K-k-kau ... tak mungkin .... Se-se-seharusnya kau sudah lama mati ...! Ba-ba-bagaimana ... bagaimana kau bisa hidup kembali?!" ucap Francois frustrasi tak bisa menerima kenyataan.


Reynald tersenyum seperti seorang iblis.


"Hidup kembali? Tidak, tidak .... Aku terlahir kembali," ucap Reynald dengan jari telunjuk yang digoyang ke kanan dan kiri.


O-orang ini ... ji-jika benar itu adalah "dia" ... bukankah seharusnya sudah lama mati?! Ka-kakakku sendiri yang mengatakannya. Tunggu ... batin Francois.


"gehahaha ...." Francois tiba-tiba tertawa.


"HAHAHAHAHA! Aku baru ingat! Kalau orang itu memang kau ... maka kau tak bisa menggunakan sihir, bukan?!"


Reynald bertepuk tangan. "Lalu?"


"Aku menantangmu untuk duel. Satu lawan satu. Seandainya aku menang, maka ketiga bawahanmu akan menjadi bawahanku."


"Kalau aku menang?"


"Kau menang? Hahahaha! Jangan mimpi! Mana mungkin orang yang tak bisa menggunakan sihir menang melawanku!"


Ucapan penuh percaya diri sang kapten membuat para bawahannya mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Ketakutan mereka mereda. Bibir yang semula gemetar, kini dapat tersenyum sombong kembali.


"Jangan mimpi bisa menang dari Bos, Pecundang!"


"Ya! Latihan seribu tahun pun kau tetap akan kalah!"


Para kru kapal mulai menyoraki Reynald. Kesombongan mereka kembali seolah-olah ketakutan mereka tak pernah terjadi.


Ketika Gardieta dan Everest ingin menghukum para bajingan itu lagi, Reynald mengangkat telunjuknya, menyuruh agar kedua bawahannya tetap tenang.


"Baiklah ... mari kita lakukan," ucap Reynald yang masih tersenyum.


Orang bodoh! Kau tak akan mungkin bisa mengalahkanku! Aku adalah salah satu lulusan terbaik akademi sihir, dan kau ... orang yang tak bisa menggunakan sihir ingin mengalahkanku?! Bah, jangan bercanda.

__ADS_1


Francois kemudian melirik ke Shina. Lidahnya bergerak menyusuri bibir atasnya.


Wanita itu ... aku tak sabar merasakannya nanti malam.


"Lalu, duelnya seperti apa?"


"Kita bertarung sampai mati!"


"Kapan dimulainya?"


Mata Francois bergerak mencari sesuatu yang bisa menjadi tanda pertarungan dimulai. Ia kemudian teringat dengan sebuah arloji di saku kanannya. Sebuah arloji pemberian kakaknya, Edward, sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-10.


Francois mengeluarkan arlojinya, membuka penutupnya dan menunjukkannya kepada Reynald.


"Kau lihat arloji ini? Ketika waktu menunjukkan pukul delapan tepat, pertarungan kita langsung dimulai."


Reynald mengangguk sekali.


"Hmph." Francois tersenyum meremehkan.


Ia kemudian memutar badannya, jubahnya sengaja ia kibaskan hingga mengenai wajah Reynald. Ketiga bawahan Reynald yang melihat hal itu langsung ingin melesat membunuh Francois. Namun, Reynald kembali mengangkat telunjuk kirinya, mencegah ketiga bawahannya bergerak.


Reynald memutar tubuhnya, berjalan menuju ke arah Shina dan Everest. Gardieta mengangkat kakinya, keluar dari es yang membekukan kakinya dengan mudah. Sementara para awak kapal masih tak bisa keluar.


"Hei, Pecundang! Suruh bawahanmu untuk melelehkan es ini!" teriak salah seorang awak kapal.


"Ya!" ucap awak kapal lainnya.


Reynald tak menjawab.


"Hei, Pecundang! Apa kau mendengarkanku?!"


Reynald masih tak menjawab. Francois yang sejak tadi mendengar bawahannya berteriak, menjadi kesal. "Oi, Pahlawan Payah, tak bisakah kau mendengarnya? Apa kupingmu sekarang sudah budeg? Sepertinya pembangkitanmu gagal, ya?"


Hinaan Francois membuat para awak kapalnya tertawa kecil.


Reynald yang wajahnya tak lagi nampak oleh siapa pun kecuali ketiga bawahannya, akhirnya menyuruh Everest untuk menghilangkan esnya.


Everest mengangkat tangan kirinya ke depan. Ia kemudian menyerap kembali semua es ke dalam telapak tangannya.


Para awak kapal yang sudah dapat bergerak kembali, berkumpul bersama kaptennya.


"Bos, apakah kau benar-benar akan berduel dengannya?" bisik awak kapal pelan.


"Apa kau tak ingat siapa diriku? Apa kau tak ingat siapakah aku?"


Jawaban Francois membuat para awak kapalnya tersenyum licik. Francois mengelap pisau kecil miliknya. Ia kemudian membuka sebuah botol kecil yang ada di saku celananya. Lalu cairan yang ada di dalam botol tersebut, ia lapiskan ke permukaan pisau kecil miliknya.


Waktu menunjukkan pukul 07.59.


Reynald berjalan masih berhadapan dengan ketiga bawahannya. Sedangkan Francois sudah menghadap ke arah Reynald dan yang lainnya, menyeringai bersama dengan para krunya.


Tepat ketika waktu menunjukkan 08.00.


Francois langsung melesatkan pisau kecil miliknya ke arah bagian belakang kepala Reynald.

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2