Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 40 - Sebelas Tahun


__ADS_3

"Maafkan saya, Tuan ...."


Kalimat yang tiba-tiba terucap dari mulut Gardieta (Fidel).


Di dalam gua di tengah malam, dengan tubuh barunya, Gardieta bersujud di hadapan Reynald dengan kepala yang dihantamkan keras dan kuat ke tanah.


"Maafkan saya .... Maafkan saya!"


Setiap kalimatnya menjadi semakin dalam. Setiap kalimatnya seperti semakin mencekiknya. Tangan yang meremas tanah dengan sangat kuat, kepala yang terus ditanamkan.


"Maaf ...." Air mata perlahan mengalir dengan bibir yang gemetar.


Everest dan Shina yang tak tahu apa yang terjadi hanya memandang dengan wajah linglung. Sementara itu, Reynald memandang dengan mata berkaca-kaca, seperti sedang menyiapkan hati dan mental untuk mendengarkan penjelasan "maaf" dari Gardieta.


"Fi-- Gardieta ... angkat kepalamu."


Gardieta dengan kaku mengangkat tubuhnya, duduk bersimpuh di hadapan Reynald dengan wajah yang terus menghadap ke tanah.


Dia menangis? Dewa, kuatkanlah hatiku untuk mendengarkannya batin Reynald yang memiliki firasat buruk dengan menelan ludah. "Katakan padaku, apa yang terjadi selama ini?"


Gardieta meremas pahanya. Ia menghela napas dan mulai bercerita.


"Sebelas tahun telah berlalu sejak Anda pergi bersama dengan Grant."


Grant?


"Sejak hari di mana Anda dikabarkan menghilang ... saya, Yebe, Yang Mulia Erdovarte, dan orang-orang dari Aliansi Victoria langsung mengerahkan seluruh anggota dan kekuatan untuk menemukan Anda. Namun ...."


"Hasilnya nihil?"


Gardieta mengangguk.


"Anda kemudian dinyatakan meninggal. Pemakaman terbesar sepanjang masa dilaksanakan. Nyonya Lacheln dan keluarga Anda, menangis lebih keras daripada suara letusan gunung sekali pun. Saya dan Yebe di hari itu, mengikrarkan janji untuk menjaga Nyonya Lacheln dan orang-orang yang Anda sayangi walau harus mengorbankan nyawa kami.


"Hingga hari itu tiba."


Hari itu? batin Reynald yang menduga bahwa ini adalah titik awal dari cerita yang membuat Gardieta mengatakan maaf.


"Satu bulan sejak pemakaman dilaksanakan, Bajingan Bestruger melakukan sebuah kudeta berkedok penegakkan keadilan. Dia bersama dengan anggota Die Acht Viende lainnya, dibantu oleh beberapa bangsawan besar dari beberapa kerajaan, melaksanakan kudeta secara tersembunyi."


Kudeta? Apa itu artinya ....


"Yang Mulia Erdovarte ... dibunuh olehnya!" Gardieta memicingkan mata, menangis, meremas pahanya dengan sangat kuat dengan gigi yang digertakkan tak kalah kuatnya.


Kabar itu menggetarkan hati Reynald. Mulutnya dengan reflek terbuka, matanya melebar tak percaya.


"Yang Mulia kemudian diumumkan meninggal karena usia. Beliau kemudian dimakamkan tepat di samping makam Anda. Para raja di Aliansi Victoria pun hadir pada hari pemakaman itu. Hati semua orang hancur. Dua orang yang paling disayangi, meninggal dalam jangka waktu yang tak lama.


"Bajingan itu kemudian diangkat menjadi raja. Dia kemudian membuat keputusan yang mengejutkan orang-orang di benua. Dia, memutuskan bahwa Kerajaan Erdovarte mundur dari aliansi. Ketiga raja lainnya tak terima, namun dia dengan sombong dan kukuhnya mengatakan bahwa ketika dia sudah memutuskan maka tak ada yang bisa membantahnya. Kerajaan Erdovarte akhirnya mundur dari aliansi, membuat kekuatan aliansi berkurang dengan drastis.


"Tak sampai di situ, beberapa kerajaan mulai menunjukkan taringnya. Para raja mulai mengarahkan pedangnya ke Aliansi Victoria, menyudutkan aliansi. Ketiga raja yang disudutkan, dengan gemilangnya masih bisa bertahan hanya dengan bergantung satu sama lain. Namun, itu tak bertahan lama. Ketiga kerajaan yang tergabung di Aliansi Victoria ...."

__ADS_1


Reynald mengepalkan kuat tangannya. Pandangannya lurus ke depan dengan mata yang melotot.


"Ketiga kerajaan ...." Gardieta tak sanggup mengatakannya. "Ketiga kerajaan ... dihancurkan oleh kerajaan-kerajaan di benua!" Nada bicara Gardieta meninggi. Kepala Gardieta semakin menunduk ke bawah dengan air mata yang terus terjatuh dari pipinya.


Gardieta tak bisa melanjutkan. Ia menangis dengan keras di depan tuannya.


"Gardieta ... lanjutkan."


Gardieta yang mendengar hal itu, langsung membuka matanya. Ia kemudian mengusap air matanya dan kembali menegakkan tubuhnya.


"Maaf. Ketiga kerajaan tersebut hancur. Harta dan sumber daya yang ada dikeruk hingga tak tersisa. Para pria dan anak kecil dijadikan budak, para orang tua yang tak lagi dapat bekerja dibunuh, dan para wanita ...."


"Pemuas mereka?"


Gardieta mengangguk pelan.


Reynald memejamkan matanya, mengutuk dirinya karena tak bisa berbuat apa-apa. Pahlawan apa yang tak bisa menolong mereka yang membutuhkan pertolongan? Lacheln ... apa yang harus aku lakukan?


Reynald membuka matanya. Ia tiba-tiba teringat dengan istri dan keluarganya.


"Lacheln ... dan yang lainnya ... bagaimana mereka?"


Grant menggertakkan giginya. "Maaf ...."


"Katakanlah padaku!" teriak Reynald yang membuat gua retak dan bergetar.


Gardieta yang mendengar teriakan tersebut ketakutan. Napas Reynald sedikit terengah-engah. Ia kemudian menenangkan dirinya meski amarah di dalam dirinya terus meledak-ledak. "Maaf ... tolong katakan padaku. Sejujur-jujurnya. Apa yang terjadi pada Lacheln dan yang lain?"


Datang ke desa?


"Dia kemudian mengatakan bahwa dia datang untuk mempersunting istri Anda, Nyonya Lacheln."


Mata Reynald terbuka dengan lebar. Pupil matanya melebar, urat di peilipisnya memberontak keluar.


"Nyonya Lacheln dengan tegas menolak. Para penduduk desa mendukung keputusannya. Namun, tak lama setelah Bajingan itu meninggalkan desa .... Sebuah kebakaran hebat terjadi. Kebakaran yang merenggut lebih dari separuh warga desa ... termasuk Kepala Desa.


"Saya dan Fidel berinisiatif untuk membuat tempat pengungsian sementara. Namun, Bajingan itu tiba-tiba datang dan menghancurkan segalanya. Ia kemudian membawa paksa Nyonya Lacheln, Nyonya Ruhi, dan Ibunda Lacheln bersamanya. Saya dan Fidel mencoba melawan dan menyelamatkan mereka. Namun, Die Acht Viende menghalangi kami.


"Perbedaan jumlah menjadi faktor utama kekalahan kami. Tapi ... itu semua karena kami yang memang lemah."


Napas Reynald semakin terengah-engah. "Lanjutkan."


Dada Gardieta sesak. Hatinya seperti tertusuk pedang. Ia tak akan sanggup jikalau berada di posisi tuannya.


"Kami berdua ditawan dengan alasan melawan kerajaan. Kami kemudian dicap pengkhianat, dijebloskan ke penjara, dan dijatuhi hukuman mati. Namun, satu bulan sejak kami mendekam di penjara, tiba-tiba kami dibebaskan. Kami yang kebingungan, keluar dari penjara dengan pikiran Anda yang tiba-tiba kembali atau sebuah keajaiban terjadi.


"Kami kemudian disambut oleh Nyonya Lacheln di depan penjara dengan anak Anda yang sedang digendongnya. Dia tersenyum menyambut kami yang dibebaskan. Kami menangis ... karena kami tahu alasan di balik dibebaskannya kami."


Tubuh Reynald gemetar, memerah. Matanya tak sanggup lagi membendung air matanya.


"Kami kemudian diberikan perintah oleh Nyonya Lacheln untuk mencari keberadaan Anda. Pada awalnya kami menolak, namun kami dipaksa olehnya. Dia berkata bahwa hanya Anda-lah satu-satunya yang mampu menyelamatkan kami semua. Karena ia percaya, bahwa Anda akan kembali. Ia kemudian memberikan seluruh harta yang ia miliki sebagai bekal kami untuk mencari keberadaan Anda.

__ADS_1


"Kami berdua dengan berat hati melaksanakan misi yang diberikan olehnya. Kami bertiga berjanji untuk berjuang di jalan kami masing-masing. Kami berdua ... meninggalkan beliau untuk bertarung melawan Bajingan itu sendirian. Dan sejak saat itu ... saya tak lagi mendengar kabar darinya."


Suara isak tangis terdengar dari hadapan Gardieta. Gardieta mengangkat kepalanya dan untuk pertama kalinya ... ia melihat tuannya menangis.


Reynald menangis. Hatinya benar-benar hancur. Ia bisa membayangkan apa saja yang akan dilakukan oleh Bestruger terhadap istrinya. Ia mengutuk dirinya karena tak bisa hadir di samping istrinya ketika melahirkan. Ia mengutuk dirinya karena tak bisa berbuat apa-apa untuk aliansi, untuk desanya, untuk keluarganya.


Ia mengutuk dirinya yang tak mampu memenuhi janji untuk kembali kepada istrinya. Ia ... mengutuk dirinya yang belum sempat memberi nama untuk anaknya.


Reynald berdiri, dan berjalan keluar dari gua. Everest sempat ingin menemani, namun Shina mencegahnya. "Tuan kita butuh waktu untuk sendiri."


Everest tak mengerti maksud Shina. Tapi ia bisa merasakan kesedihan mendalam dari tuannya.


Di luar gua, Reynald berdiri di tepi bukit. Kepalanya menunduk, air matanya menitik dengan deras. Kedua tangannya ia kepalkan, tubuhnya gemetar, mulutnya berteriak tanpa suara.


Hingga akhirnya, ia tertawa.


"hahahaha ... hahahahaha .... HAHAHAHAHAHA!!"


Sebuah tawa yang sangat lepas. Sebuah tawa yang diselimuti duka terdalam. Sebuah tawa yang muncul ketika air mata tak lagi bisa mengalir.


Tawanya perlahan-lahan berhenti, berubah menjadi tangisan.


"HAAAAGGGGHHH!!!!!!"


Satu teriakan itu menjadi awal dari perubahan dalam hidupnya.


Ia kemudian berteriak dan berteriak dengan lebih keras. Tangisannya pecah di malam itu.


Perjuangan dan pengorbanan yang selama ini ia lakukan serasa sia-sia.


"Seandainya dunia ini akan hancur maka hancurlah! Aku sudah tak peduli lagi! Dewi, kau mendengarkanku, kan?! Kau tahu ini akan terjadi, kan?! Lantas kenapa kau masih mengirimku?!


"Apakah aku pernah melakukan dosa yang tak dapat diampuni di duniaku sebelumnya?! Apakah aku pernah melakukan dosa yang tak dapat diampuni di dunia ini?! Kalau iya, kenapa! Kenapa mereka yang tak bersalah juga harus menanggungnya?! Biarkanlah aku seorang diri yang menanggung semuanya! Seperti ketika aku menanggung semua doa yang dipanjatkan kepadamu, yang seharusnya dilakukan olehmu."


Mata Reynald menatap tajam bulan yang ada di hadapannya. Mata yang penuh dengan kebencian, penuh dengan amarah.


"Kalau memang ini adalah takdirku, maka biarlah. Aku sendiri yang akan mengubahnya."


Reynald kemudian teringat dengan cerita Grant mengenai ramalan penyihir hebat. Ia teringat dengan sesosok kesatria terhebat sepanjang masa dan bencana besar yang disebabkan oleh umat manusia.


"Sekarang aku mengerti .... Aku adalah kesatria terhebat itu. Bencana terbesar itu disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Aku mengerti .... Aku mengerti sebagaimana engkau (Dewi) mengerti!"


Reynald menunjuk ke bulan. "Engkau-lah peramal itu! Engkau sendirilah yang menyalakan api harapan para manusia, engkau sendirilah yang membuat semua skenario ini."


Reynald mengangguk pelan dengan mata melotot.


"Baiklah .... Akan kuikuti permainanmu. Aku berjanji akan menjadi bencana terbesar itu. Aku berjanji akan menjadi PENJAHAT dari cerita karanganmu. Lalu, ketika aku menyelesaikan cerita karanganmu ... maka aku akan menuliskan cerita itu dengan tinta darahmu."


"Sonne Reynald Einzel .... Berjanji untuk menjadi musuh umat manusia."


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2