Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 2 - Sihir


__ADS_3

Matahari belum terbit, tapi Yebe sudah bersiap dengan busur dan anak panahnya. Sesuai janji Yebe kepada Ruhi semalam, ia akan berburu. Namun, sebelum ia pergi berburu, ia memutuskan untuk mengajak Reynald dalam perburuannya.


Yebe yang telah menyiapkan semua peralatannya, berniat mengetuk pintu kamar Reynald. Namun, ketika ia baru saja mau berdiri dari duduknya, suara pintu belakang rumah terbuka.


Yebe dengan reflek langsung menoleh ke arah pintu.


"Reynald!"


Reynald dengan sedikit kaku dan belum terbiasa dengan reflek gila Yebe membalas dengan sedikit mengangkat tangan kanannya dan tersenyum kaku.


"Kau mengejutkanku, apa kau mau ikut berburu?" Yebe berdiri dan menenteng peralatannya.


***


Keduanya telah memasuki hutan yang tak jauh dari desa.


"Tapi tak kusangka di desa sudah lumayan ramai ..." ucap Reynald mengikuti Yebe dari belakang.


"Ya, kah? Apakah orang-orang di negerimu dulu jarang beraktivitas pagi?"


"Hm ... ada beberapa yang beraktivitas pagi ... tapi yang bekerja sedikit. Mayoritas lebih sering bermalas-malasan di kasur."


"Heh ... kebiasaan yang tak baik, ya .... Padahal udara pagi adalah sebuah harta yang berharga."


Krish ... suara semak-semak bergoyang terdengar. Yebe dengan cepat langsung mengambil anak panah dan siap memanah. Ia juga dengan cepat memasang badan untuk melindungi Reynald.


"Tenanglah," ucap Yebe yang kemudian memejamkan mata dan menjadi sangat fokus.


Reynald menelan ludah. Ia belum pernah pergi berburu sebelumnya. Interaksi dengan binatang yang paling jauh yang pernah ia lakukan adalah memberi makan kucing liar. Dan sekarang, ia dihadapi dengan situasi di mana ia bisa terbunuh kapan saja. Dan ... ia baru menyadari hal paling penting itu sekarang.


Tenanglah, Reynald ... tenanglah ... batin Reynald dengan memegangi dadanya dan mengatur napas.


"Dia datang."


Ucapan Yebe membuat Reynald sedikit panik dan kebingungan. Dari arah semak-semak, seekor kelinci dengan bulu putih abu-abu muncul.


"Hah ..." hela napas Reynald dan Yebe. "Mari kita lanjutkan," ucap Yebe yang memasukkan busur panah ke tasnya.


Keduanya kembali melanjutkan jalan. Tak butuh waktu lama untuk keduanya menemukan mangsa yang tepat.


Yebe langsung mengambil posisi yang tersembunyi, menunjukkan perbedaannya orang berpengalaman dengan yang pertama kali.


"Reynald, kemari!" panggil Yebe pelan.


Reynald menganggukkan kepala lalu berjalan perlahan menuju ke Yebe.


"Kau lihat itu? Itu benar-benar target yang sempurna."


Reynald kemudian memperhatikan target yang dimaksud oleh Yebe.


"Rusa itu?"


Yebe mengangguk dan tersenyum sembari mempersiapkan diri untuk memanah. Reynald yang awam, hanya bisa diam sembari menyaksikan dan memperhatikan sang ahli bekerja.


Yebe menarik napas pelan, mencari ketenangan. Ia mulai merapalkan mantra sihirnya.

__ADS_1


"Dengan memohon berkah kepada Dewa Angin, lapisilah busur dan anak panahku dengan kekuatan dan berkah-Mu. Wind Arrow!"


Panah melesat dengan cepat ke arah sang rusa dan mengenai tepat di kepala sang rusa. Sang rusa mati seketika, Yebe menghela napas lega karena berhasil membunuh sang rusa dengan satu anak panah.


Keduanya keluar dari tempat bersembunyi. Reynald yang kagum dengan kemampuan berpanah Yebe tak bisa menyembunyikan sinar di kedua matanya. Yebe yang menyadari kekaguman Reynald hanya bisa tertawa kaku.


"Kau tahu, Reynald, penting bagi seorang pemburu untuk memburu mangsanya hanya dengan satu serangan." Yebe mencabut anak panahnya dan mengambil kantung kecil di pinggang kirinya yang terikat oleh sebuah tali.


"Supaya sang mangsa tak lari?"


"Itu salah satu alasannya." Yebe membuka tali tersebut dan mengarahkannya ke mayat rusa. Rusa tersedot ke dalam kantung kecil milik Yebe.


Reynald kembali dibuat terkejut dengan tas kecil yang mengisap sang rusa hingga sepenuhnya hilang dari kedua matanya.


"Alasan lainnya adalah agar kita tidak menyakiti yang diburu. Makhluk seperti mereka juga punya hati, loh."


Mulut Reynald sedikit terbuka dan mengangguk paham.


"Sekarang mari kita kembali. Tak kusangka akan secepat ini, hahaha."


"Baik."


***


Keduanya beristirahat di atas bukit tempat di mana Reynald pertama kali bertemu Lacheln. Reynald bercerita kepada Yebe kalau dia bertemu dengan Lacheln di atas bukit ini.


"Heh ... jadi kamu bertemu Lacheln di bukit ini ...." Yebe berbaring bersebelahan dengan Reynald. "Kau bilang kau berasal dari negeri yang jauh, kan? Apa kau bisa menggunakan sihir?" Yebe melirik Reynald.


Reynald menggelengkan kepalanya.


"Bolehkah?" Reynald yang bersemangat ikut bangkit dari baringnya.


"Ya, tentu saja!"


Keduanya kemudian memutuskan untuk kembali ke desa.


Sesampainya di desa, Yebe langsung pergi ke dapur, menemui Ibunya Lacheln dan memberikan hasil buruannya.


"Wah, terima kasih, ya. Tapi kenapa kamu terburu-buru?" tanya Ibu Lacheln melihat Yebe yang tergesa-gesa.


"Karena aku baru saja mendapatkan murid!" Yebe langsung berlari keluar setelah menaruh barang-barangnya.


Dari jendela dapur, Ibu Lacheln memberi pesan kepada Yebe untuk kembali sebelum jam makan malam. Ia kemudian melihat Reynald di samping Yebe dan berkata, "Ara, ternyata Reynald muridnya. Reynald, semangat latihannya!" dan melambaikan tangannya.


Reynald membalas dengan sedikit membungkuk. Yebe yang sempat heran dengan tingkah Reynald, tapi ia teringat dengan doa yang dilakukan Reynald kemarin. Yah, namanya juga orang luar, kebiasaannya pun pasti berbeda.


"Ayo!" ucap Yebe menepuk punggung Reynald.


Reynald menegakkan kembali tubuhnya dan berlari mengikuti Yebe menuju ke tempat Yebe biasa latihan.


Di tengah tanah lapang yang kosong, Yebe dan Reynald berdiri.


"Jadi, yang pertama-tama harus kamu lakukan adalah berkonsentrasi. Lalu, angkatlah satu tanganmu dengan posisi terbuka."


Reynald memejamkan kedua matanya dan mengangkat tangan kanannya.

__ADS_1


"Sekarang, ikuti ucapanku. Wahai Dewa dari segala Dewa."


"Wahai Dewa dari segala Dewa."


"Berkahilah diriku ini dengan kekuatan-Mu."


"Berkahilah diriku ini dengan kekuatan-Mu."


"Porbegin."


"Porbegin."


Dari telapak tangan kanan Reynald yang menghadap langit, muncul percikan listrik. Yebe yang memiliki insting yang tajam, langsung melompat mundur menjaga jarak.


Sebuah sinar laser berwarna emas dengan pinggiran dan garis hitam di tengahnya muncul dan menjulang tinggi ke langit. Setelah beberapa saat laser tersebut menghujam angkasa, api muncul dengan bentuk seperti sebuah per mengelilingi sinar laser milik Reynald.


Yebe tak bisa berkata apa-apa, hanya ternganga tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Wahai Dewa dari segala Dewa, berkahilah diriku ini dengan kekuatan-Mu, Porbegin," rapal Reynald sekali lagi.


Sinar laser sempat mengecil sepersekian detik, lalu kembali melebar bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Begitu pula dengan api yang ia keluarkan. Api tersebut menjadi semakin tebal hingga Yebe melihat apa yang di depannya seperti seekor naga yang melilit sebuah menara.


Ia yang terus menerus dibuat kagum baru tersadar tatkala ia melihat para warga datang menghampiri dengan panik dan ketakutan.


"Re-Reynald! Reynald!"


Mendengar teriakan Yebe, Reynald membuka matanya. Sinar dan api yang ia keluarkan seketika padam. Ia yang baru pertama kali mengeluarkan sihir langsung merasa lemas. Napasnya terengah-engah, kakinya gemetar. Ia hampir terjatuh namun dengan cepat Yebe menopangnya.


"Kau ... ternyata kau benar-benar hebat!" ucap Yebe menopang Reynald yang kehabisan energi.


"Hah ... benarkah ...? Apa ... yang baru saja aku lakukan ...?"


Para warga kemudian mengerubungi Reynald dan Yebe.


"Nak Yebe, apa yang baru saja terjadi?" tanya seorang warga desa dengan panik.


"Ya, sinar apa itu tadi?" tanya warga lainnya dengan tak kalah panik.


Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan kepada Yebe. Yebe tersenyum kaku karena bingung membalas pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut.


"Mohon jangan panik, wahai para warga."


Suara yang khas tersebut terdengar, membuat keributan yang sempat terjadi langsung menjadi hening.


"P-Pak Kepala," ucap para warga desa.


Kepala Desa alias kakek tua yang kemarin berbicara dengan Reynald menghampiri Reynald dan Yebe. Para warga dengan otomatis membukakan jalan untuk sang kepala desa lewat.


"Nak Reynald, beristirahatlah. Setelah itu, temui aku."


Reynald mengangguk pelan dan kemudian pingsan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2