
Ketika Lived hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba suara terompet terdengar.
"Yang Mulia Zwarla telah tiba!"
Teriakannya yang datang beriringan dengan suara terompet, membuat para penduduk yang berbaris menyambut kedatangan sang Tuan Putri langsung beralih ke menyambut kedatangan sang raja.
Sang raja datang menunggangi kuda putih. Bertubuh seperti manusia namun memiliki kumis, telinga, dan ekor seperti seekor singa. Rambutnya panjang dengan model Man Bun berwarna merah gelap.
"Salam hormat, Raja Para Imisy, Raja Zwarla XIX!" sambut Artisan berlutut, diikuti oleh para prajurit, tuan putri, dan para penduduk.
Raja Zwarla memasang badan tegap dengan tatapan tegas. Ia kemudian menyadari bahwa ada yang tak berlutut menyambutnya. Mereka yang tak berlutut, mengerubungi seseorang dengan penuh kekhawatiran.
Suasana hening tersebut menjadi gaduh karena kebisingan yang tercipta dari ketiga bawahan Lived yang mengkhawatirkan tuannya.
"Tuan Lived, apakah Anda tak apa?" tanya Shina. "Pipi Anda memerah! Anda harus segera diobati!"
"Tuan, apa yang harus ktia lakukan sekarang? Memberi perlawanan?!" tanya Gardieta yang tak terima.
"Perlawanan, ya ..." ucap Everest yang dari mulutnya keluar napas sedingin es.
Suara bising tersebut mengganggu kekhidmatan orang-orang dari Kerajaan Zwarla.
"Berdirilah," ucap Raja Zwarla.
Artisan dan yang lain berdiri. Para penduduk dan prajurit langsung memberikan lirikan tajam ke arah Lived dan rombongannya.
Benar-benar tak tahu diri! batin semua orang.
Raja Zwarla turun dari kudanya, mengundang perhatian semua orang yang awalnya terfokuskan pada Lived dan rombongannya. Ia kemudian berjalan menghampiri putrinya yang tak sanggup melihat ke wajah ayahnya. Sang raja kemudian memeluk putrinya.
"Syukurlah kaupulang dengan selamat," ucap sang Raja dengan suarasedikit dikeraskan.
Para penduduk terenyuh melihat betapa sayang dan khawatirnya raja mereka terhadap sang tuan putri.
Sang raja kemudian melepaskan pelukannya. Berjalan melewati sang tuan putri yang masih belum mengangkat kepalanya. Sang tuan putri menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan yang dikepalkan kuat.
"Artisan, siapa mereka?"
Artisan sedikit membungkuk. "Artisan mohon izin menjawab. Mereka adalah tokoh utama dalam misi penyelamatan, Yang Mulia."
Jawaban Artisan membuat terkejut semua orang, tak terkecuali sang raja dan sang tuan putri. Wajah semua orang termangu, tak percaya dengan apa yang baru telinga mereka tangkap.
"Begitu, ya. Jadi, mereka adalah pahlawan negeri, tidak, benua ini?"
"Artisan mohon izin menjawab. Benar, Yang Mulia."
__ADS_1
Para penduduk ingin protes, namun tak ada yang berani. Untuk melihat wajah sang pemimpin saja mereka keringat dingin, lalu bagaimana caranya mereka bisa protes?
Sang tuan putri menggertakkan giginya. Ia ingin menolak apa yang disampaikan oleh Artisan, tapi ia sendiri sudah melihat faktanya.
Artisan kemudian berjalan mendampingi Raja Zwarla yang hendak menemui "keempat pahlawan".
"Tuan Lived beserta pengikutnya, izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Beliau adalah Raja Zwarla XIX, pemimpin agung Kerajaan Zwarla sekaligus sosok yang dianugerahi Pendeta Tertinggi gelar Raja yang Agung."
Ketiga pengikut Lived melirik sekilas, lalu memalingkan wajahnya lagi ke arah tuannya seolah-olah tak peduli dengan siapa yang sedang ada di hadapan mereka.
. . .
"MAKHLUK BIADAB! Berani-beraninya kalian mengacuhkan Yang Mulia!"
"Tak tahu diri! Sungguh tak tahu diri!"
"Siapa kalian hingga berlagak seperti itu?! Benar-benar rendahan!"
Cacian yang sejak tadi tertahankan akhirnya kembali dilontarkan. Raja Zwarla yang tak pernah mendapatkan perlakuan "sehina" ini sebelumnya, sedikit syok dan terkejut. Artisan keringat dingin, gelagapan, bingung harus berbuat apa.
Raja Zwarla kemudian menghela napas. "Diamlah."
Hanya dengan satu kata, suasana dapat kembali sunyi.
Lived yang sejak tadi diam untuk mengamati, tersenyum. "Permisi, permisi, wahai Para Pengikutku .... Ada sosok yang begitu mulia, bermurah hati meluangkan waktunya untuk bertemu denganku."
"Suatu kehormatan untuk dapat bertemu dengan sosok yang begitu agung, Raja Zwarla XIX, Raja yang Agung, Raja Para Imisy."
Raja Zwarla memberikan ekspresi dingin. "Manusia, perkenalkan dirimu."
"Namaku Lived, Lived saja. Mereka bertiga adalah rombonganku. Kami tanpa sengaja bertemu dengan Jenderal Perang Artisan tatkala ingin berlayar."
Raja Zwarla tak senang dengan Lived. Baik gaya bicara, rangkaian kata, gerak-gerik, semuanya. Ia merasa Lived berbicara seperti sedang mengejeknya.
"Begitukah? Lalu, untuk apa kau datang kemari?"
Artisan yang mendengar pertanyaan itu langsung menyela. "Artisan mohon izin menjawab. Mengenai alasan kedatangan mereka, adalah karena permintaan pribadi saya. Mereka ditemukan di kapal yang bersebelahan dengan kapal yang menawan Tuan Putri dan yang lainnya. Oleh karena itu, mereka dibawa kemari dengan tujuan untuk--"
Raja Zwarla melirik tajam ke arah Artisan, membungkam mulut Artisan hingga membuatnya menunduk ketakutan.
"Aku mengerti. Lalu, apa imbalan yang kalian inginkan?"
Lived mengangkat kedua alisnya. "Hm ...."
Lived terdiam sesaat, memikirkan imbalan apa yang dia inginkan. Sementara Lived sedang berpikir, Raja Zwarla bertanya kepada tiga bawahan Lived, tapi ketiganya menjawba bahwa mereka tak menginginkan imbalan.
__ADS_1
Jawaban yang dianggap "sombong" oleh para penduduk, membuat para penduduk geram. Namun, ketika para penduduk sedang geram, tiba-tiba Lived menjentikkan jarinya.
"Aku sudah memutuskannya! Aku ingin akses sebebas-bebasnya dalam menggunakan perpustakaan."
Jawaban Lived membuat terkejut dan heran semua orang. Shina dan Everest memasang tatapan kosong karena tak tahu apa itu perpusatakaan, sedangkan Gardieta tersenyum tipis karena merasa sedikit bernostalgia.
Sebuah permintaan yang terdengar konyol di telinga orang biasa. Namun, sosok yang ada di hadapan Lived bukanlah orang biasa. Salah satu ujung bibir Raja Zwarla sedikit terangkat.
"Baiklah. Mulai hari ini, kalian berempat memiliki hak dalam mengakses perpusatakaan seperti aku mengakses perpustakaan."
Walau terdengar konyol dan tak berguna, tapi dapat memiliki hak yang sama dengan seorang raja tetaplah luar biasa.
Lived membungkuk dan berkata, "Terima kasih atas kemurahan Anda, Yang Mulia Zwarla XIX."
Gardieta ikut membungkuk. Shina dan Everest yang melihat Lived dan Gardieta membungkuk, ikut membungkuk. Raja Zwarla.
Raja Zwarla membalikkan badannya, berjalan kembali ke kudanya meninggalkan Lived dan ketiga bawahannya yang masih membungkuk.
Gardieta yang merasa bahwa sang Raja Zwarla tak memberikan sedikit pun rasa hormat terhadap Lived, mengangkat kepalanya dan menatap punggung Raja Zwarla.
"Tenanglah, Gardieta ... bukankah wajah bagi seorang raja untuk bertindak seperti ini?" ucap Lived yang hanya terdengar oleh Gardieta dan dua bawahannya yang lain.
"Maafkan saya, Tuan ..." jawab Gardieta yang kembali menunduk dengan menahan kesal.
Lived tersenyum, menahan tawa karena ia tak menyangka akan mengatakan apa yang barusan ia katakan. Setelah ini aku harus meminta maaf kepadanya.
Raja Zwarla telah menunggangi kudanya, begitu pula dengan Tuan Putri yang telah berada di dalam kereta kuda dengan wajah masam.
Artisan berlutut dan berteriak, "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia Zwarla XIX!" dan diikuti oleh para penduduk dan prajurit.
Raja Zwarla bersama rombongannya pun pergi tanpa membalas penghormatan dari orang-orang yang mencintainya.
Artisan berdiri, diikuti oleh para penduduk dan prajurit lainnya. Ia kemudian melihat ke belakang, memastikan apakah Lived dan rombongannya masih ada atau sudah pergi.
Artisan kemudian menghampiri Lived dan rombongannya. "Mohon maaf atas penyambutan yang buruk ini. Kalian pasti merasa tak nyaman, bukan?"
Lived seperti biasa membalasnya dengan tersenyum santai sembari melambai-lambaikan tangan ke atas dan bawah. "Tenang-tenang, yang seperti ini tak seberapa. Aku sudah menduga bahwa kedatanganku takkan disambut baik."
Artisan menyadari penggunaan kata yang diucapkan oleh Lived. Lived menggunakan kata "aku", bukan "kami".
"Kalian telah mendapatkan pengakuan dari Yang Mulia Zwarla. Maka, sudah tak perlu lagi bagi kami untuk menginterogasi Anda sekalian."
"Oh, terima kasih, terima kasih."
Artisan tersenyum dengan sedikit menghela napas. "Lalu, setelah ini kalian akan ke mana?"
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!