
Pada hari pertama bulan ke empat tahun 817, Raja Erdovarte memanggil delapan orang pemuda-pemudi untuk menghadap ke padanya di aula kerajaan.
Sang raja duduk di atas singgahsananya, mengenakan pakaian berjubah merah dengan simbol emas, mahkota emas dengan berlian besar di bagian depannya, dan memiliki janggut yang sudah putih semuanya. Walau usia telah senja, namun karisma dan kebijaksaannya tak pernah memudar.
Delapan orang yang dipanggil oleh sang raja telah berlutut di hadapannya. Tujuh dari mereka adalah murid sekolah kerajaan, Dominar.
Sekolah Dominar memiliki tiga tingkatan. Seperti SD, SMP, dan SMA. Namun, di Dominar tingkatan tersebut disebut sebagai Tahap Satu, Tahap Dua, dan Tahap Akhir. Tujuh siswa yang dipanggil oleh sang raja berasal dari Dominar Tahap Akhir.
"Yang Mulia, mereka adalah ketujuh murid terbaik pilihan Sekolah Kerajaan Dominar," ucap seorang guru berlutut dengan pakaian jubah bergaris biru-kuning di tepian kancing tengah jubahnya.
Ketujuh siswa berlutut dengan kepala menghadap tanah dengan tangan kanan ditaruh dada kiri.
"Dan sesuai permintaan Anda, Yang Mulia. Saya telah membawakan Yang Terpilih, Sonne Reynald Einzel ke hadapan Anda," ucap Grant yang berlutut dengan tangan kanan di dada kiri.
Ucapan "Yang Terpilih" menyita perhatian dari guru Dominar dan ketujuh siswanya. Mereka dengan refleks langsung melihat ke arah Grant, melihat ke arah Reynald yang sedang memejamkan mata.
"Sungguh kehormatan bagi kami untuk dapat bertemu dengan Yang Terpilih," ucap Guru Dominar dengan tersenyum bangga.
Reynald yang terpanggil membuka matanya dan melihat ke arah Guru Dominar. "Sungguh kehormatan pula bagi saya dapat bertemu dengan salah satu guru terbaik di Benua Sievaria, Tormenta."
Tormenta sedikit terkejut karena Reynald bisa mengetahui akan sosoknya. Namun ia teringat dengan ucapan Albert mengenai "kegilaan" Reynald terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Ia pun menebak Reynald membaca mengenai biografi dirinya di salah satu buku di perpustakaan.
Tormenta membalas dengan sedikit menukuk dan sekilas memejamkan mata. Hal yang serupa dilakukan oleh Reynald.
"Wahai Tujuh Siswa Dominar, berdirilah," ucap Raja Erdovarte.
Ketujuh Siswa Dominar berdiri.
"Wahai Reynald, Yang Terpilih, berdirilah."
Reynald berdiri.
"Umat manusia sedang dalam ancaman terbesar dalam sejarah. Bangsa Iblis telah datang. Dan dengan tanpa ampun, mereka telah memusnahkan beberapa kerajaan. Sekarang, konflik antar kerajaan telah mereda. Seluruh kerajaan di benua ini bahu-membahu untuk mengusir bangsa iblis dari tanah kita. Dan kalian berdelapan, akan menjadi perwakilan dan wajah dari kerajaan kita dalam pengusiran tersebut.
"Die Acht Viende, Delapan Penjuru Mata Angin, lakukan tugas kalian dengan sepenuh hati. Tumpahkan darah kalian demi kerajaan, demi masa depan umat manusia!"
"Baik, Yang Mulia!" jawab Die Acht Viende dengan membungkuk dan menaruh tangan kanan di dada kiri.
***
Sang raja telah pergi dari aula kerajaan, dikawal oleh Tormenta dan Grant, meninggalkan Die Acht Viende sendirian di dalam aula kerajaan.
Sebelum Grant pergi, ia menepuk pundak Reynald dan berpesan kepadanya. "Berhati-hatilah. Tak semua orang di kerajaan ini adalah orang baik."
Pesan tersebut terus menghantui pikiran Reynald hingga ia tak sadar kalau sejak tadi ia dipanggil oleh salah satu anggota Die Acht Viende.
"Yang Terpilih, apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang pemuda dengan rambut pirang bermata biru. Membawa pedang di pinggang kirinya, mengeluarkan pesona seorang idola wanita.
"Ah, maaf. Saya melamun."
"Tak apa," jawab pemuda tersebut dengan tersenyum. "Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Bestruger vi Erdovarte," ucap Bestruger dengan sedikit menukuk dan menaruh tangan kanan di dada kiri.
Pangeran?!
"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Pangeran. Nama saya Reynald, Sonne Reynald Einzel. Suatu kehormatan untuk dapat bertemu dengan Anda."
Bestruger tersenyum dan menjawab, "Tidak perlu terlalu formal begitu, Yang Terpilih. Ah, izinkan saya untuk memperkenalkan anggota yang lain."
Para anggota Die Acht Viende menghampiri.
"Yang berambut pirang panjang adalah adik perempuan saya, Luria vi Erdovarte." Reynald membungkuk sekilas, memberi hormat. Dibalas oleh Luria dengan sedikit membungkuk serta sedikit mengangkat kedua ujung roknya khas seorang putri.
__ADS_1
"Lalu yang berambut hitam adalah pendek dengan tongkat sihir di pinggang kirinya adalah anak dari Tuan Albert, Erchied Palo Galilei. Yang berambut hitam dengan tombak di punggungnya adalah Dumida Lanza Soldado, ia adalah keponakan dari Tuan Grant.
"Yang membawa panah adalah Arstusen Zesotre. DIa adalah anak dari Tuan Stechen Zestore, Anda sudah bertemu dengannya di hari pertama Anda datang, bukan?"
"Ya, dia bersama seorang pemuda."
Berstruger tidak merespons jawaban Reynald dan lanjut memperkenalkan sisa anggota yang ada.
"Yang selalu tenang seperti laut tanpa ombak adalah Deastra Sebas. Dia berasal dari keluarga Sebas yang merupakan pelayan setia kerajaan ini. Dia juga pelayan pribadi saya dan Luria."
"Lalu yang terakhir, yang mengenakan ikat kepala merah dengan rambut merah pula, adalah ...."
Nada bicara Bestruger sedikit berubah. Suaranya menjadi sedikit lebih tinggi dengan diselimuti rasa malas dalam memperkenalkannya. Seandainya Bestruger berbicara dengan orang biasa, maka orang tersebut tak akan menyadarinya. Namun, ia sedang berbicara dengan Yang Terpilih.
"Fidelida, atau Anda bisa memanggilnya Fidel."
Reynald selalu melihat wajah orang-orang sehabis diperkenalkan. Namun, kali ini ia melihat wajah yang unik. Tidak seperti oranjg-orang sebelumnya yang memasang topeng tersenyum, Fidel tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangannya. Reynald tidak tahu penyebab dari ketidaksenangan tersebut, namun ia memutuskan untuk mencari tahu.
"Baiklah, saya rasa itu sudah semua, Yang Terpilih. Untuk Class-nya: aku, Dumida, dan Fidel adalah Kesatria. Luria dan Erchid adalah Penyihir. Deastra adalah Assassin dan Arstusen adalah Pemanah. Kalau boleh tahu, apa Class Anda, Yang Terpilih?"
"Hm ... saya belu menentukannya. Apakah ada suatu cara untuk menentukannya?"
"Oh, kalau begitu, izinkan saya membantu Anda. Setelah ini, silakan menuju ke gereja kerajaan. Di dalam tempat tersebut, ada ruangan yang bernama "Class Classification"."
Reynald telah sampai di depan gereja. Ia kemudian teringat dengan sambungan ucapan Bestruger.
"Di dalam ruang tersebut terdapat sebuah bola berwarna putih yang agak besar. Anda cukup menempelkan salah satu tangan Anda dan mengalirkan energi sihir ke bola tersebut."
Ini tempatnya, ya .... Akan tetapi, apakah gereja selalu sesepi ini? batin Reynald yang tak menemukan satu orang pun sejak ia datang.
Ia pun memasuki ruang Class Classification. Ia kemudian melihat bola yang dimaksud oleh Bestruger. Ia menutup pintu dari dalam, berjalan menuju ke bola dan mendekatkan tangan kirinya ke bola putih. Reynald menghela napas lalu mengalirkan energi sihirnya.
Seketika, ruh di dalam tubuh Reynald seperti ditarik keluar oleh sesuatu. Tubuhnya terkejut dan sedikit maju ke depan. Pandangannya menjadi kabur lalu berubah menjadi putih sepenuhnya.
Suara misterius terdengar. Pandangan yang kabur memperlihatkan Reynald sesosok wanita dengan pakaian bagian atas sedikit terbuka dan mengenakan bawahan Crinoline. Sosok tersebut juga memiliki dua sayap di punggungnya serta rambut putih panjang.
"Siapakah Anda?"
"Sebagai sosok entitas yang tinggi, saya mungkin dikenal sebagai malaikat. Ada juga yang menyebut saya sebagai Dewi. Namun, saya lebih senang dipanggil sebagai Dewi."
"Dewi ...?"
"Ya, Dewi Kehidupan, Vida."
Reynald sedikit bingung. Karena ia tidak menyangka bahwa klasifikasi kelas akan sampai bertemu seorang Dewi.
"Tenang saja, ini bukan klasifikasi kelas pada umumnya."
Reynald sempat terkejut karena sang Dewi dapat membaca pikirannya. Namun, ia kembali teringat bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang Dewi.
"Apakah ini klasifikasi kelas yang spesial?"
"Hahaha, bukan begitu maksudku. Klasifikasi kelas yang biasanya terjadi, setelah mengalirkan energi sihir maka akan muncul di dalam bola putih atau yang disebut sebagai Bola Masa Depan, kelas yang sesuai dengan bakatmu. Contohnya semisal bakatmu menjadi seorang Kesatria, maka akan muncul tulisan Kesatria. Kalau kamu seorang Penyihir, maka akan muncul tulisan Penyihir," jelas Dewi Vida.
"Lalu, mengapa saya bisa sampai bertemu dengan Anda?"
"Itu karena ada hal yang perlu kamu ketahui. Yaitu mengenai dirimu di dunia yang sebelumnya."
Deng ... ucapan Dewi Vida membuat Reynald merinding.
"Tubuhmu di dunia lama, itu sudah mati."
__ADS_1
Ucapan Dewi Vida membuat otak Reynald berhenti bekerja.
"Mohon maaf, tapi saya tidak mengerti. Bukankah saya pergi ke dunia ini dengan tubuh saya?"
"Malam itu, sehari sebelum kamu memasuki dunia ini. Kamu terbunuh dalam tidurmu."
"Lalu, bagaimana saya bisa ke dunia ini?"
"Melalui mimpi yang aku rancang, kamu terbangun seperti hari biasanya. Atau mungkin hari baru, karena kamu akan bersekolah kala itu. Tapi sama saja, intinya aku rancang sebuah mimpi untukmu terbangun dan memulai kegiatan harianmu.
"Jadi, maksud Anda, saya berinkarnasi ke dunia ini melalui sebuah mimpi?"
"Tidak, mimpi itu hanya jalan yang saya buat agar kamu tidak begitu terkejut saja."
Dewi, justru saya lebih terkejut jikalau pintu rumah saya tiba-tiab terhubung dengan dunia lain ....
"Oh, begitukah? Hahaha, maaf-maaf. Aku pikir itu akan lebih masuk akal buatmu ketimbang bertemu denganku secara tiba-tiba setela kau bangun dari tidur ... atau matimu?"
Reynald memasang wajah datar karena tak percaya bahwa Dewi yang membuatnya pindah ke dunia lain sedikit "bodoh".
"Kembali ke inti pembicaraan, alasan mengapa kamu bisa bertemu denganku adalah karena kehendakku untuk memanggilmu. Aku telah menunggu momen di mana kamu menyentuh bola tersebut. Aku merancang bahwa ketika kamu menyentuh bola itu, kamu akan bertemu denganku, dan itu terjadi. Yeay!" Dewi Vida bersorak senang dengan seperti seorang anak kecil yang melihat petasan.
"...."
"Ekhem." Dewi Vida menahan malu. "Alasanku memanggilmu ke dunia ini adalah untuk menjawab doa dari para hambaku yang selalu memohon untuk dibawakan sosok yang dapat membawa kedamaian. Aku telah merahmatimu dengan kekuatan dan status yang jauh lebih tinggi dari orang-orang biasanya. Yah, meskipun tanpa kurahmati secara lebih, kekuatanmu sudah lebih tinggi dari yang lain."
"Lalu, setelah kedamaian dapat saya ciptakan, apa yang harus saya lakukan?"
"Itu terserah padamu. Tugasku hanya menjawab doa dari para hambaku." Dewi Vida tersenyum menahan sedih.
Reynald menyadari keanehan senyuman tersebut. Senyuman yang berbeda dari senyuman-senyuman Dewi Vida sebelumnya.
"Baiklah, saya mengerti."
"Baguslah. Oh, kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa datang kembali ke tempat ini. Caranya sama kok."
"Kok" ...? batin Reynald
"Heh? Apa ada yang salah dari seorang Dewi menggunakan 'kok'?"
"Tidak ... maaf," jawab Reynald yang ekspteasinya sedikit hancur.
"Kalau begitu, baguslah. Aku akan mengembalikanmu ke Thavma."
"Ya, terima kasih, Dewi."
Lingkaran sihir muncul dari bawah kaki dan atas kepala Reynald, memiliki luas lingkaran sembilan ubin lantai persegi. Cahaya berbentuk silinder muncul dari bawah dan menyambung ke lingkaran bagian atas kepala Reynald.
"Sonne Reynald Einzel, semoga kemenangan selalu merahmatimu." Dewi Vida sedikit membungkuk dan mengangkat sedikit kedua ujung Crinoline-nya.
Cahaya berbentuk silinder yang semula semi-transparan menjadi semakin terang dan kemudian membuat pandangan Reynald menjadi putih sepenuhnya.
Reynald membuka matanya cepat, seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Napasnya terengah-engah, keringat dingin bercucuran dari tubuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya, dan mencoba menenangkan tubuhnya. Ia kemudian membuka pelan matanya.
Aku ... sudah pernah mati, ya?
Reynald kemudian melihat ke Bola Masa Depan alias bola putih. Di dalam bola tersebut tertulis "Pahlawan".
---
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!