
Ucapan Raja Calma membuat semua orang terkejut. Sosok yang telah lama mati, tiba-tiba muncul sebagai sebuah ancaman.
"Bukankah dia seharusnya sudah mati 10 tahun yang lalu? Lalu bagaimana dia bisa melayang di atas sana?!" ucap Ratu Cleo kesal sekaligus kebingungan.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Ratu Cleo karena tak ada yang tahu jawabannya. Namun, satu hal yang mereka ketahui: bahwa enam sosok yang ada di langit, adalah musuh mereka.
"A~hah~ lihatlah mereka .... Pasti sedang kebingungan melihatmu!" ucap Sosok Wanita Misterius dengan sedikit menghela napas dan tertawa kecil.
"Ya, begitulah .... Sepertinya juga ada adikku di antara orang-orang itu."
"Hm? Yang mana? Yang mana?" tanya Sosok Wanita Misterius dengan tangan kanan lurus menempel di jidatnya..
"Lelaki tua berambut putih dengan mahkota perak. Ia mengenakan jubah dan tentu ... yang memiliki aura terkuat di antara orang-orang di bawah sana." Vanidas sedikit menyeringai dengan mata sedikit disipitkan.
"Ohh! Aku melihatnya. Dia yang terlihat paling syok itu, kan?! Hahaha, bahkan pedangnya pun terlepas dari tangannya!"
Vanidas hanya tersenyum sembari melihat ke bawah dengan tatapan merendahkan.
***
Reynald yang sedang terbang menuju ke pelabuhan bersama dengan keenam kloningnya melihat kemirisan dari para prajurit yang seperti sudah mati. Para prajurit iblis yang tersisa sedang dibantai oleh dua kloningnya. Namun, entah mengapa para prajurit iblis tak ada yang menyentuh sedikit pun para prajurit yang sudah seperti mayat.
Ada yang aneh ... batin Reynald melihat kejanggalan yang ada.
Ketika ia sedang mengamati keanehan yang ada, ia tiba-tiba merasakan kekuatan yang bahkan lebih dahsyat dari Vlagilles. Keterkejutannya tak bisa ia sembunyikan. Ia yang merasakan kekuatan tersebut langsung mempercepat lajunya menuju ke pelabuhan.
***
"Sepertinya kita kedatangan tamu ..." ucap Vanidas melihat ke depan.
Kelima Sosok lainnya ikut melihat ke depan.
Reynald bersama dengan keenam kloningnya melesat dengan sangat cepat ke arah keenam Sosok Misterius. Ia dan keenam kloningnya kemudian berhenti tatkala sudah berhadapan langsung dengan keenam Sosok Misterius.
Pasukan Para Raja yang melihat kedatangan Reynald dapat sedikit bernapas lega. Namun, mereka lagi-lagi dibingungkan dengan banyaknya tubuh Reynald yang sedang melayang.
"Ke-kenapa ada tujuh Yang Terpilih di atas sana ...?" ucap Confiar tak bisa menyembunyikan kebingungannya.
"Ditambah dua Reynald di atas sana, berarti ada sembilan. Bagaimana mungkin Reynald bisa sampai ada sembilan?" ucap Raja Calma yang tak kalah pusingnya.
"Ahh! Kenapa kita jadi seperti orang bodoh tak berguna?!" ucap Ratu Cleo yang lagi-lagi membanting tongkatnya.
"Ratu Cleo!!" ucap Jabari, Berenike, dan Khepri bersamaan dengan panik melihat tongkat pusaka dibanting dengan mudahnya.
Ketika orang-orang sedang kebingungan, Albert dan Fidel menatap ke langit dengan mata penuh kekaguman.
"Yang Terpilih, Anda memang luar biasa! Sihir apa itu ... aku harap Anda bisa mengajarkannya kepadaku!" ucap Albert dengan kedua tangan disatukan seperti sedang berdoa.
Tuan Reynald memang hebat. Aku tak boleh kalah ... tidak, tidak ... tak mungkin aku bisa menang. Hm ... aku ... harus menjadi sosok yang pantas untuk menjadi tangan kanannya ...? Ya, itu dia. Aku harus jauh lebih berkembang dari diriku saat ini! Seperti Tuanku! batin Fidel mengepalkan tangannya dengan semangat.
__ADS_1
Di langit, Reynald dan keenam kloningnya berhadapan langsung dengan Keenam Sosok Misterius. Tak ada yang berbicara untuk sesaat, hanya saling menatap, mengukur kekuatan lawan.
Hingga akhirnya, Reynald angkat bicara.
"Apakah kalian orang-orangnya Vlagilles?"
Pertanyaan Reynald tak langsung dijawab. Mereka justru tertawa mendengar pertanyaan Reynald.
"Bahahaha! Oi, Bocah! Kau bilang kami orang-orangnya si Vlagilles? Hahahaha!" ucap Sosok Wanita Misterius.
"Sungguh tak sopan menyebut kami sebagai bawahan iblis menyedihkan itu," ucap Sosok Misterius Berzirah Hitam.
"Aku yang anggun ini menjadi bawahannya? Sungguh lawakan yang tak lucu, Buruk Rupa," ucap Sosok Misterius Berwajah Tampan.
"..." ucap Sosok Misterius Bermasker dengan tatapan mata tajam ke arah Reynald.
Reynald yang mendengar jawaban demi jawaban yang membantah, membuat dirinya dapat menyimpulkan bahwa keenam iblis yang ada di hadapannya bukanlah bawahan Vlagilles. Namun, ia masih memiliki keyakinan bahwa keenam iblis yang ada di hadapannya memiliki hubungan dengan Vlagilles.
"Lalu, siapa kalian?"
Keenam Sosok Misterius kembali diam.
"Seperti yang sudah Anda dengar dari teman-temanku, kami bukanlah bawahan Vlagilles. Kami adalah enam sosok yang dikatakan setara dengan Vlagilles. Para manusia menyebut kami dengan Tujuh Dosa Besar," ucap Vanidas.
"Tujuh Dosa Besar ...?" ucap Reynald dengan sedikit memicingkan matanya.
"Aku pernah membacanya di salah satu buku, bukankah seharusnya kalian sudah mati ratusan tahun yang lalu?"
"Mati? Oi, oi, siapa memangnya yang bisa membunuh kami? Manusia, terlalu lemah! Hahahaha!" jawab ketus Sosok Wanita Misterius dengan tertawa merendahkan.
Reynald hanya terdiam. Terlalu banyak informasi baru yang ia dapatkan.
Tujuh Dosa Besar, ratusan tahun yang lalu tepatnya ketika ras malaikat masih ada, mereka adalah ancaman terbesar makhluk-makhluk di Thavma. Tujuh Dosa Besar merupakan julukan yang disematkan pada tujuh iblis terkuat yang memimpin suatu kelompok dengan kepribadian yang berbeda-beda.
Kesombongan, Kerakusan, Kemalasan, Kemarahan, Ketamakan, Napsu, dan Iri Hati. Masing-masing dari Tujuh Dosa Besar memiliki kelompoknya sendiri-sendiri. Tidak diketahui alasan apa yang membuat mereka hidup sendiri-sendiri, namun satu hal yang pasti.
Ketika ada salah satu dari Tujuh Dosa Besar meminta bantuan, maka keenam anggota lainnya pasti akan datang memenuhi panggilan tersebut.
Kretek ... Dak!
Vlagilles menerobos keluar dengan membuat lubang di bagian dari Kapal Triturador miliknya. Ia dengan cepat melesat ke langit dan kemudian mengapung bersama dengan keenam anggota Tujuh Dosa Besar lainnya.
"Vlagilles, tidak, Napsu. Apakah kau sudah melemah hingga perlu memanggil kami?" tanya Sosok Misterius Bertubuh Kekar.
"Ira, seperti biasa kau hanya bisa marah-marah. Apa kau otak udang yang darah tinggi? Hanya bisa marah tanpa tahu penyebab lawan bicaramu kesulitan." balas Vlagilles.
"Untuk apa mendengarkan alasan dari orang lemah penuh napsu sepertimu?" balas Ira menyilangkan tangan dan mengeluarkan aura hitam tak menyenangkan.
"Tak bisakah kalian berdua diam? Mulut kotor hina kalian itu sungguh mengganggu kuping indahku," ucap Sosok Misterius Berwajah Tampan.
__ADS_1
"Seperti biasa kau hanya bisa iri, Zindia," ucap Vlagilles yang membuat Zindia (Iri Hati) tersinggung.
"Apa katamu?!" ucap Zindia yang ikut mengeluarkan aura biru gelap tak menyenangkan.
Vlagilles kemudian melihat ke arah Sosok Misterius Bermasker. "Igna, apa tak ada yang ingin kau sampaikan pada kakakmu ini?"
Igna yang sempat melirik kembali melihat ke arah yang berlawanan.
Seperti biasa kau selalu saja menghindariku ... batin Vlagilles. Ia kemudian mencari satu sosok yang menghilang.
Mencium bau Kraken bakar, membuatnya langsung tahu di manakah satu sosok lagi berada. Ia melihat ke bawah dan ia melihat Kerakusan sedang memakan Kraken yang telah terpanggang.
"Avarus ... seperti biasa hanya makan saja yang ada di pikiranmu ..." ucap lirih Vlagilles. Ia kemudian melihat ke depan, melihat ke arah Vanidas yang berdiri berdampingan dengan Sosok Wanita Misterius.
"Kesombongan ... Ketamakan ... seperti biasa kalian selalu bersama ..." ucap Vlagilles menyeringai.
"Hm? Apa ada masalah? Cemburu? Hahahaha! Perkuatlah dirimu kalau ingin memilikiku!" balas Ketamakan, Aptistia.
Vanidas hanya tersenyum mendengar ucapan Vlagilles. Ia kemudian bertanya, "Vlagilles, seandainya kau memiliki waktu sebanyak itu, lebih baik kau memperkenalkan manusia ini kepada kami."
Vlagilles kemudian melihat ke arah Reynald. Ia menyeringai, tersenyum percaya diri. Reynald yang melihat senyuman tersebut memicingkan matanya tak senang.
"Apa kalian ingat tentang ramalah ratusan tahun yang lalu? Tentang adanya sosok 'Yang Terpilih'?" ucap Vlagilles yang langsung membuat Keenam Anggota Tujuh Dosa Besar terkejut tak terkecuali Avarus yang sedang makan.
Ketujuh Dosa Besar sempat terdiam sejenak. Mata dari para anggota Tujuh Dosa Besar benar-benar fokus mengamati Reynald.
"Sekarang aku mengerti. Seandainya memang itu yang terjadi, maka wajar saja kau kewalahan," ucap Vanidas yang kemudian menyeringai.
Ketujuh Anggota Tujuh Dosa Besar mengeluarkan aura mereka masing-masing. Avarus yang sempat duduk di atas kepala Kraken, terbang ke atas, berjajar dengan para anggota Tujuh Dosa Besar lainnya.
Aura yang mengguncangkan dunia dikeluarkan oleh Ketujuh Anggota Tujuh Dosa Besar. Aura tersebut sangat kuat hingga auranya dapat terasakan dari sisi Thavma yang lain. Langit kembali menjadi semakin dan semakin gelap.
Mendung? Tidak. Langit berubah menjadi warna hitam. Tidak seperti malam yang warna langitnya tak nampak, awan di langit berubah menjadi hitam seperti sebuah arang.
Abu perlahan-lahan mulai turun dari langit. Reynald yang melihat abu tersebut langsung memerintahkan dua klon yang sedang melawan para prajurit iblis untuk membentuk sebuah penghalang berbentuk setengah bola yang melindungi seluruh Pasukan Aliansi Para Raja.
Ia juga melapisi dirinya dan keenam kloningannya dengan sebuah pelindung tak kasat mata.
Dan benar saja firasat Reynald. Abu tersebut sangat panas hingga dapat membuat tubuh Kraken yang tak bisa dibakar oleh serangan kombinasi empat raja, tembus dan terbakar dengan sangat mudah seperti pisau yang dipanaskan dihunuskan ke sebuah sponge.
Abu tersebut juga sangat panas hingga dapat membuat air laut mendidih. Ikan-ikan yang ada di dalam laut seketika naik kepermukaan dengan tak bergerak sedikit pun.
Awan hitam yang ada secara perlahan mulai retak, menunjukkan warna merah yang menyala. Reynald yang tak tahu apa yang akan terjadi, hanya bisa menyusun rencana demi rencana untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
Namun, ketika ia sedang berpikir keras tentang apa-apa saja yang harus ia lakukan, Ira tiba-tiba muncul di hadapannya dengan kedua tangan yang siap mengayunkan kapak sebesar sebuah truk Belaz 75710 di atas kepalanya.
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1