Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 10 - Fidel


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak peristiwa kedatangan Three Eyes Demon ke salah satu desa di Kerajaan Erdovarte.


Di dalam perpustakaan, Reynald sedang mengulik informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sosok yang disebut sebagai iblis.


"Anu ... mau sampai kapan kamu berdiri di seperti itu?" ucap Reynald yang agak risih.


Fidel yang sekarang menjadi pengawal Reynald, berdiri seperti seorang pengawal pada umumnya. Namun, posisi ia berdiri benar-benar berada di samping Reynald yang sedang membaca.


"Ak- ekhem ... saya adalah pengawal Anda. Sudah seharusnya saya selalu berada di samping Anda!" jawab Fidel dengan bangga dan cukup keras.


Penjaga perpustakaan langsung melirik tajam ke arah Reynald dan Fidel.


Reynald menghela napas lalu menutup buku yang sedang ia baca. "Mari kita pergi."


"Mau ke mana, Tuan Reynald?"


"Reynald saja. Kita akan jalan-jalan di kota. Mumpung kita sedang ada waktu luang. Toh mulai besok kita akan bekerja mati-matian."


"Oh, Anda benar." Fidel mengangguk setuju.


Reynald dan Fidel telah berada di pagar istana kerajaan.


"Yang Terpilih, hendak ke manakah Anda?" tanya penjaga gerbang.


"Hanya ingin jalan-jalan. Apa kalian ingin titip sesuatu?"


"Ti-tidak perlu sampai seperti itu, Tuan. A-akan saya bukakan gerbangnya." Prajurit yang terkejut mendengar tawaran dari Reynald langsung bergegas membukakan gerbang.


***


Sapaan selalu terhantarkan kepada Reynald. Tak sedikit pula pedagang yang memberikan Reynald dagangannya, baik itu roti, buah, aksesoris, bahkan pakaian dan permata. Saking banyaknya barang yang didapatkan oleh Reynald, Fidel sampai kesulitan dalam menenteng barang-barang yang didapatkan oleh Reynald.


"Apa kau yakin tidak perlu bantuanku?"


"Ti-tidak. Ini adalah tugas seorang pengawal!" Kaki Fidel gemetar tak kuasa menahan barang-barang yang sudah menumpuk hingga menjulang tinggi ke langit.


"Mari kita istirahat sebentar." Reynald menunjuk ke salah satu kedai.


Grek! Pintu kedai dibuka.


"Selamat datang, silakan tunggu seben- EH! YANG TERPILIH?!!" ucap pelayan wanita yang sedang membawa nampan.


Teriakan sang pelayan wanita membuat perhatian semua orang tertuju ke pintu masuk.


"Yang Terpilih! A-adakah yang bisa saya bantu? O-oh, perkenalkan. Saya adalah pemilik kedai ini," ucap seorang pria berkumis lebat menyatukan kedua tangan dengan sedikit gugup.


"Ah, kami sedang berjalan-jalan dan yah, ketika berjalan lama tentu akan haus dan lapar, bukan? Jadi kami memutuskan untuk istirahat sejenak di sini."


"Sebuah kehormatan dapat melayani Anda. Silakan, ikuti saya."


Keduanya diantarkan ke meja yang kosong. Ketika keduanya duduk, orang-orang yang sedang minum, makan, atau pun berbicara menyapa Reynald.


Setelah memesan makanan sesuai rekomendasi dari sang pemilik, Reynald melemaskan bahunya sejenak. Sementara itu, Fidel yang duduk berhadapan dengan Reynald, terengah-engah dengan kepala yang akan terkubur ke dalam meja.


"Fidel, sudah beberapa hari berlalu tapi aku belum pernah menanyakan ini. Apa alasan yang membuatmu mau menjadi pengawalku?"


Pertanyaan Reynald membuat Fidel langsung bangkit dari kuburan lelahnya. Ia mengangkat kepalanya dan menjawab, "Ya. Mungkin sedikit memalukan untuk diucapkan, tapi Anda adalah orang kedua yang saya hormati."


"Yang pertama?"


"Sang Raja." Fidel tersenyum dengan bangga.

__ADS_1


"Oho ... apakah ada cerita di baliknya?"


Fidel mulai menceritakan tentang dari mana ia berasal. Ia juga mulai menceritakan tentang kehidupannya di masa lampau sebelum bertemu dengan sang Raja.


"Saya bukan berasal dari keluarga bangsawan, apalagi kerajaan. Saya memang memiliki darah keturunan bangsawan, namun ...." Fidel kesulitan menyelesaikan kalimatnya. Reynald hanya diam mendengarkan dengan saksama.


"... namun saya adalah anak yang tak sengaja lahir."


Ucapan Fidel membuat Reynald sedikit terkejut, namun tak memberikan reaksi apa-apa.


"Ayah saya adalah salah satu bangsawan ternama. Kala itu, ibu saya bekerja sebagai pembantu di kediamannya. Dan ... saya rasa itu menjadi trauma terbesar bagi ibu saya."


"Apakah setelah "kamu" ada, ibumu berhenti bekerja?"


"Tidak .... Ibu saya pada awalnya tidak memberi tahu siapa-siapa bahwa anak yang dikandungnya adalah anak dari tuannya."


Pemilik kedai datang mengantarkan pesanan Reynald dan Fidel.


"Kalau Anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk memanggil saya atau para pelayan yang ada. Selamat menikmati, Tuan."


"Terima kasih."


Pemilik kedai pergi.


"Maaf, makanannya tiba-tiba sudah sampai."


"Ti-tidak apa, Tu- Reynald. Izinkan saya melanjutkan ceritanya."


"Silakan."


"Kabar mengenai saya yang merupakan putra dari bangsawan itu tersebar lima tahun setelah kelahiran saya. Hal itu disebabkan karena ibu saya yang hamil lagi."


Reynald sedikit kebingungan. "Orang itu lagi ...."


"Ia melihat ibumu berhubungan badan dengan bangsawan itu?"


"... Anda memang hebat." Fidel menatap sedih ke mangkuk supnya. Tangannya meremas kuat paha atasnya. Sedih, amarah, kesal, bersatu padu di dalam lubuk hatinya.


"Maaf, membuatmu menceritakan masa lalumu."


"Ta-tak apa ... karena Anda adalah teman sekaligus orang yang saya hormati, bercerita seperti ini ... bagi saya justru seperti ... ah, saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi intinya, ini seperti sesuatu yang sudah sangat lama ingin saya ceritakan, ingin seseorang mendengarkan. Oleh karena itu, saya yang seharusnya berterima kasih, bukan Anda yang memohon maaf."


Reynald memasang wajah datar.


"A-ada apa?"


"Anda, Anda terus. Terlalu formal."


"Ma-maaf ...."


Reynald tertawa melihat Fidel yang seperti anak kecil baru dimarahi. "Ah, apakah kita bisa mampir sebentar ke tempat tinggalmu?"


"Te-tentu saja! Adik saya akan sangat senang karena dapat bertemu dengan And-mu!"


Dia hampir keceplosan ... batin Reynald.


***


"Terima kasih, Tuan. Jangan sungkan untuk kembali lagi."


Setelah membayar, Reynald dan Fidel pergi menuju ke kediaaman ibu Fidel dan adiknya berada. Barang-barang yang didapatkan oleh Reynald, ia masukkan ke dalam kantung sihir yang ia baru saja dapatkan tatkala hendak pergi dari kedai.

__ADS_1


"Kantung ini benar-benar luar biasa. Apakah harganya murah hingga pak tua itu dengan senang hati memberikannya kepadaku?" Reynald melihat kagum dan melempar-lempar kecil tas kantung kecilnya.


"Tidak, harga dari kantung itu cukup mahal. Tapi menurut say-ku, harga dari kantung itu tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah Anda lakukan."


Pak tua yang dimaksud merupakan salah satu warga desa yang kemarin diserang oleh Three Eyes Demon. Kala penyerangan terjadi, ia sedang berada di luar kota. Dan ketika kembali dan mendengar desanya diserang, ia panik. Beruntungnya, keluarganya masih selamat seutuhnya. Dan sejak hari itu, ia memiliki satu harapan besar, yaitu bertemu dengan pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya dan keluarganya.


"Kita sudah sampai," ucap Fidel di depan rumah tua yang retakan dapat ditemukan di mana saja. "Silakan." Fidel membukakan gerbang, menutupnya kembali setelah Reynald masuk. Ia juga melakukan hal yang sama dengan pintu rumahnya.


"Bu, Dik, Kakak pulang!" ucap Fidel setelah menutup pintu dari dalam.


"Kaka ... KAKAK!" ucap sang adik yang sempat terdiam sejenak lalu terkejut hingga hampir terjungkal.


Ibu Fidel yang mendengar teriakan si adik, dengan cepat langsung bergegas menuju ke pintu depan. "Ada apa, Di ... Fidel! Mengapa kamu tidak memberitahu Ibu kalau kita mendapatkan tamu yang sangat penting?!"


Ibu Fidel dengan cepat langsung menghadap ke Reynald. "Tu-Tuan Muda, selamat datang di kediaman kami. Terima kasih karena sudah mau menerima anak saya sebagai pengawal Anda." Ibu Fidel sedikit membungkuk dengan nada ucapan yang sangat tulus.


"Fidel, antar Tuan Muda ke ruang tamu. Ibu akan menyiapkan cemilan dan minuman."


"Baik, Bu!"


Reynald memasuki ruang tamuh Fidel. Sebuah ruang tamuh yang tak kalah "rusak"nya dengan bagian luar rumah. Lantai maremer yang ditambal dengan kayu sudah bolong. Atap bocor serta dinding retak bahkan sedikit bolong.


Pemandangan itu membuat Reynald menjadi sangat iba kepada Fidel. Namun di satu sisi, ia merasa sangat senang karena ia tak salah dalam memilih pengawal.


Walau sudah berusia 30-an, Ibu Fidel masih sangatlah cantik bahkan tidak terlihat seperti seorang ibu beranak dua. Pesona dan nada bicara yang lembut membuat pria mana pun dapat langsung luluh hati kepadanya.


"Mohon maaf membuat Anda menunggu lama, Tuan Muda." Ibu Fidel datang membawa nampan ditemani si adik yang berjalan kaku karena takut minuman yang ia bawa tumpah.


"Terima kasih, Tante."


"Ah, tidak perlu berterima kasih, Tuan Muda. Hidangan kecil seperti ini, belumlah pantas membalas segala jasa yang telah Anda berikan pada kami."


Reynald mengerti maksud ucapan Ibu Fidel. Mengangkat Fidel menjadi pengawalnya, sama saja dengan mengangkat martabat dari keluarga Fidel. Orang-orang yang dahulu mencemooh, mengganggu, bahakn menindas tentu akan langsung sungkan dan ketakutan.


Bahkan di jalan pun, ketika Ibu Fidel sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari, orang-orang akan menyapanya. Mengatakan seberapa kagum dan salutnya mereka karena putranya, Fidel, bisa menjadi anggota Die Acht Viende bahkan pengawal pribadi Reynald.


"Kehormatan yang tak bisa dibeli dengan emas, menjadi hutang yang takkan lunas hingga akhir hayat, itulah yang diajarkan oleh ibuku!" ucap Fidel dengan bangga.


"Ya, dan Anda telah mengembalikan kehormatan kami. Oleh karena itu, kami berhutang budi kepada Anda." Ibu Fidel tersenyum hangat.


Sementara Reynald sedang berbicara dengan Fidel dan ibunya, ia merasakan tatapan kekaguman yang tak henti dari samping kirinya.


"Siapa namamu?" tanya Reynald ke adik Fidel.


"Ah, namaku Emma! E-M-M-A! Emma!" ucap Emma yang sangat senang karena akhirnya ia diajak berbicara dan bisa berbicara dengan sosok yang dikaguminya.


Melihat mata Emma yang berbinar-binar tatkala memperkenalkan diri, Fidel dengan sigap mengungkapkan bahwa Emma adalah fans beratnya Reynald.


Hal itu membuat wajah Emma menjadi semerah tomat. Ia memarahi kakaknya karena telah membocorkan rahasia yang menurutnya sebesar rahasia dunia. Emma memalingkan wajahnya dengan bibir yang dikerucutkan dan berkata, "Hmph! Aku bernci benci benci benci Kakak!"


Reynald, Fidel, dan Ibu Fidel tertawa.


Merasakan kehangatan suasana tersebut, membuat Reynald teringat ketika ia makan malam bersama Lacheln, Yebe, Ruhi, dan Ibu Lacheln.


Keluarga ... apakah aku diberi kesempatan untuk mendapatkannya? batin Reynald.


Sementara Reynald sedang menikmati kehangatan keluarga, orang-orang yang tidak menyukainya mulai berkumpul dan merancang rencana.


Di dalam ruang bawah tanah dengan kursi mengitari meja bundar, orang-orang yang telah bergabung duduk bersama. Seorang pria dengan rambut merah panjang duduk di kursi yang sedikit lebih megah, menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin dari rapat dan kelompok tersebut.


"Mari kita mulai, pertemuan pertama dari 'Meruntuhkan Yang Terpilih'," ucap pria berambut panjang berwarna merah yang kemudian menyeringai.

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2