Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 14 - Aliansi


__ADS_3

Mulut para raja terbuka, namun tak bisa berucap. Semua orang yang ada di dalam ruangan kecuali yang tadi pagi bertemu dengan Reynald dan Raja Orgulla terkejut.


"Yang Mulia Raja Orgulla, apakah Reynald ada di sampingmu?" tanya Raja Erdovarte.


Raja Orgulla sedikit mengangguk lalu menoleh ke arah Reynald.


Reynald yang mendengar permintaan Raja Erdovarte dan mengerti maksud tatapan mata Raja Orgulla, berjalan menghampiri Raja Orgulla.


Reynald berdiri di samping Raja Orgulla.


"Para Raja sekalian, beliau adalah Sonne Reynald Einzel, atau yang lebih dikenal sebagai Yang Terpilih." Raja Orgulla memperkenalkan Reynald.


Para raja memberikan ekspresi yang beragam. Ada yang terlihat biasa saja, ada yang memasang wajah seolah-olah berkata 'hm, boleh juga', ada yang bertanya-tanya dan meragukan, serta ada pula yang meremehkan.


"Reynald, apakah benar kamu telah melihat sosok itu?" tanya Raja Erdovarte.


"Seperti yang dikatakan Raja Orgulla, Yang Mulia. Saya sudah melihatnya." Reynald sedikit membungkuk dengan tangan kanan di dada kiri.


Beberapa raja tertawa, beberapa lainnya menghela napas.


Raja Orgulla dan Raja Erdovarte memasang wajah tak senang melihat para raja tertawa.


"Maaf-maaf ... saya hanya terlalu terkejut hingga tak percaya bahwa mata dari dua raja telah rabun," ucap seorang pria berambut merah pendek.


Celaan tersebut menusuk langsung harga diri Raja Orgulla dan Erdovarte.


"Apa maksud Anda, Raja Sindera?" tanya Raja Erdovarte.


"Yah, dilihat dari mana pun, orang ini tak ada hebat-hebatnya. Tubuh ramping seperti ini adalah Yang Terpilih? Tidak, tidak. Raja Erdovarte, kau pasti hanya ingin namamu tetap dikenal hingga membuat cerita palsu seperti ini, kan?"


Ucapan Raja Sindera membuat murka orang-orang dari Kerajaan Erdovarte, baik yang sedang berada di Kerajaan Orgulla maupun yang menemani Raja Erdovarte di Kerajaan Erdovarte.


Fidel yang tak terima dua orang yang paling ia hormati dihina berniat menghadap ke konferensi para raja. Namun, baru melangkah satu kaki, ia merasakan aura tak menyenangkan dari tubuh seorang Raja Orgulla, aura yang sangat kuat hingga membuatnya tak berani melangkah lebih jauh.


"Raja Sindera ... prestasi Anda sebagai satu-satunya kerajaan yang tak terkena dampak penyerangan ras iblis memanglah hebat. Tapi, seperti biasa, mulut Anda serendah harga diri Anda," ucap Raja Orgulla dengan menatap tajam Raja Sindera.


Tatapan tajam Raja Orgulla membuat Raja Sindera sedikit gemetar. Namun, ia yang ingin melindungi "muka"nya, mengelak seolah-olah ia tak ketakutan.


"Heh! Raja yang telah lama tertidur tak usah banyak gaya. Di mana saja kau selama ini? Terkuat? Jangan bercanda! Kalau kau memang yang terkuat maka kau tak akan mengalami kekalahan dalam peperangan!" balas Raja Sindera.


Para raja yang tadi tertawa dan meremehkan langsung mengambil kesempatan ini. Karena mereka tahu, Raja Orgulla akan "menghajar" mereka setelah ia menghajar Raja Sindera.


"Benar apa yang dikatakan oleh Raja Sindera. Ke mana saja Anda selama ini? Ke mana saja Anda ketika kerajaan kakak Anda dihancurkan?" ucap seorang raja berambut coklat dengan rambut sebahu.


"Ya, Anda adalah yang terkuat. Tapi itu beberapa belas tahun yang lalu. Dunia telah mengalami banyak perubahan sejak Anda tertidur lelap. Jangan pikir Anda masih menjadi yang terkuat!" ucap seorang raja yang cukup muda dengan rambut emas dengan mata biru.


Satu per satu raja yang sempat tertawa dan meremehkan mulai merendahkan Raja Orgulla. Raja Erdovarte tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya yang akan berbicara selalu dibungkam oleh cacian dari para raja.


Die Acht Viende serta orang-orang dari Kerajaan Erdovarte dan Orgulla sudah tak kuasa menahan emosinya. Kerendahan hati dari Raja dan Manusia Terkuat (Orgulla) dibayar dengan cacian. Kerendahan hati Raja Erdovarte yang membantu tiap kerajaan yang membutuhkan bantuan dibayar dengan hantaman berupa hinaan.


"Kerajaan kalian bisa hidup selama ini karena kami. Kami bersedia menjual hasil bumi, hasil kerja, serta hal-hal lainnya!" ucap seorang raja berambut hijau lumut.


Emosi Raja Orgulla semakin memuncak hingga pijakannya retak. Angin berhembus dengan kuat seperti gelombang kejut yang terus bermunculan.


Ketika konferensi sedang ribut-ributnya, Raja berambut merah, Sindera, menyeringai.


"Para Raja Bodoh sekalian, bisakah kalian menutup mulut busuk kalian?" ucap Ratu Cleo yang membuat semua raja terdiam membeku.


"Bu-busuk katamu?!" ucap Raja Berambut Coklat.


"Ratu ******, kau tak tahu sedang berbicara dengan siapa?!" ucap Raja Berambut Hijau Lumut.


"Seperti yang saya duga dari seseorang yang cantik dengan badan yang indah. Yah, hanya itu yang menjadi daya jualnya," ucap Raja Berambut Emas yang Cukup Muda.


"Kalian menyerang secara bergerombolan seperti seekor babi melihat makanan kotorannya. Tidakkah kalian sadar bahwa Raja Orgulla telah bermurah hati mengundang kalian dalam konferensi ini? Kalian tak suka? Maka pergilah!"

__ADS_1


Bentakan Ratu Cleo membuat para raja tak bisa membalas.


"Baiklah, kami akan pergi. Jangan menyesal karena telah merendahkan kami!" ucap Raja Sindera yang menyeringai merendahkan.


Para Raja menutup panggilannya hingga menyisakan tiga raja dan ratu.


Suasana hening sejenak.


"Ratu Cleo, terima kasih karena sudah angkat bicara," ucap Raja Erdovarte.


"Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Lalu, apa tujuan dari pertemuan ini?"


Raja Orgulla menarik napas, menenangkan dirinya. Ia mengangkat kepalanya, menghadap kembali ke layar hologram.


"Yang Terpilih, akan menyerang Rediavol dalam waktu dekat."


Ucapan Raja Orgulla lagi-lagi membuat terkejut Ratu Cleo, Raja Erdovarte, dan Raja Berambut Emas dengan Kumis Berjanggut.


"Reynald, apakah kau benar-benar akan menyerang ke tempat itu?" tanya Raja Erdovarte yang panik.


Reynald mengangguk.


"Terlalu berbahaya, tak peduli sekuat apa dirimu, risikonya terlalu besar!" ucap Raja Erdovarte seperti seorang ayah yang khawatir pada anaknya.


"Saya sependapat dengan Anda, Yang Mulia Erdovarte. Oleh karena itu, saya membuat pertemuan ini," ucap Raja Orgulla.


Ketiga raja mulai mendengarkan rencana yang dirancang oleh Raja Orgulla.


Setelah Raja Orgulla menjelaskan rencananya ....


"Menyatukan kekuatan seluruh kerajaan di benua? Mungkin kita dapat mengalahkan Rediavol jikalau bisa menyatukan kekuatan kerajaan di seluruh benua. Tapi, Anda sudah lihat sendiri bagaimana sombongnya babi-babi itu, bukan?" ucap Ratu Cleo.


Raja Erdovarte dan Raja Berambut Emas dengan Kumis Berjanggut mengangguk.


"Ya, tapi saya ingin mencoba segala kemungkinan. Setidaknya, saya ingin membantu pemuda ini dengan segenap kekuatan saya."


"Oleh karena itu, saya mohon ...."


Para raja yang masih terhubung dalam sihir Lialinson dibuat terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Manusia terkuat yang dulu dikenal akan pesona kekuatan tiada taranya ....


"... bergabunglah dengan kami untuk mengalahkan iblis-iblis itu!"


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bersujud memohon bantuan.


Para raja tak bisa berkata apa-apa. Para petinggi Orgulla yang tahu mengapa Raja Orgulla sampai bersujud hanya bisa memejamkan mata, menahan tangis, kesal pada diri sendiri karena tak bisa membantu Raja Orgulla hingga membuatnya harus melakukan "hal memalukan".


"Raja Orgulla, angkat kepalamu! Ini bukan dirimu yang aku kenal dulu!" ucap Ratu Cleo dengan badan yang sedikit maju dan sedikit heran.


"Sekarang, harga diri saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan dilakukan oleh pemuda ini!"


Balasan Raja Orgulla membuat mata Ratu Cleo sekilas terbuka.


"Raja Orgulla, katakan pada kami. Apa alasan hingga engkau menurunkan kepalamu?" tanya Raja Berambut Emas dengan Kumis Berjanggut.


Raja Orgulla terdiam untuk beberapa saat.


"Raja Calma ... putriku, ada kemungkinan bahwa putriku masih hidup."


Jawaban Raja Orgulla membuat Raja Calma terkejut. Putri Raja Orgulla yang sudah menghilang seputuh tahun yang lalu bersamaan dengan Kerajaan Vanidas, tiba-tiba dikatakan "masih hidup" oleh Raja Orgulla.


"Raja Orgulla, tidak, Kawanku. Bagaimana bisa kamu mendapatkan kesimpulan itu?"


"Yang Terpilih mengatakan bahwa ketika hari itu (penyerangan Triturador ke Vanidas), putriku tak terbunuh. Ia dibawa oleh para iblis."


Raja Calma sedikit terkejut. Matanya yang sempat terbuka kembali mengecil, memperhatikan Raja Orgulla yang merupakan kawan lamanya.

__ADS_1


"Kawanku, apakah engkau siap dengan bagaimanapun kondisi putrimu nanti?"


"Ya, aku siap. Karena kemungkinan sekecil serpihan kaca itulah aku bisa kembali."


Raja Orgulla masih bersujud.


Raja Calma tersenyum haru melihat kebulatan tekad dan hati teman lamanya itu. Ia berdiri dari singgahsananya.


"Atas nama harga diri dan rakyat Calma, saya, Raja Calma, berjanji untuk membantu Yang Terpilih dalam perang melawan Para Iblis di Pulau Tanah Hitam, Rediavol."


Mendengar janji dari Raja Calma, hati Raja Orgulla begetar.


Raja Erdovarte berdiri.


"Sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk membantu Yang Terpilih apa pun yang terjadi. Saya, Raja Erdovarte, berjanji untuk membantu Yang Terpilih, Sonne Reynald Einzel, dalam perang melawan Rediavol."


"Yang Mulia!" ucap Fidel lirih yang terlalu senang.


Semua pandangan tertuju pada Ratu Cleo.


Ratu Cleo memandang Reynald dengan mata yang sedikit dipicingkan.


"Yang Terpilih, tidak, Reynald 'kan namamu?" ucap Ratu Cleo dengan kaki disilangkan.


"Benar, Yang Mulia." Reynald berlutut dengan tangan kanan di dada kiri.


"Apakah bayaran yang engkau hendaki untuk peperangan kali ini?"


Pertanyaan Ratu Cleo membuat semua orang terkejut. Tak ada yang bertanya, hanya terpikirkan keegoisan masing-masing sehingga melupakan hal yang sangat penting.


Reynald tersenyum, lalu mengangkat kepalanya.


"Kedamaian, Yang Mulia."


Jawaban simpel Reynald menusuk hati semua orang yang mendengarnya. Pekerjaan paling berbahaya, misi paling berbahaya ... dibayar dengan hal yang bagi semua orang, sederhana.


"Jangan main-main denganku! Katakan yang sesungguhnya!" bentak Ratu Cleo yang tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Tapi memang benar itu yang saya inginkan, Yang Mulia."


Ratu Cleo kembali memicingkan matanya. Hatinya sedikit geram. Ia pikir Reynald akan meminta sesuatu yang sangat mewah, sangat mahal, sangat maruk. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa Reynald akan meminta dirinya.


Namun, jawaban yang keluar dari mulut Reynald benar-benar di luar ekspetasinya.


"Pfftt ... hahahaha!" Ratu Cleo tiba-tiba tertawa, membuat heran semua orang. "Menarik, kau sungguh menarik." Ratu Cleo mengelap air matanya yang akan jatuh.


"Baiklah ...." Ratu Cleo berdiri dari singgahsananya, membuat jantung semua orang berdegup kencang.


"Aku, Ratu Cleo dari Kerajaan Areiya, berjanji dengan segenap hati untuk membantu Yang Terpilih dalam peperangan melawan Rediavol."


Semua orang lantas berteriak, menyorakkan terjalinnya aliansi empat kerajaan yang sebelumnya tak pernah terjadi. Harapan yang semula hanya seperti lentera di dalam gua, kini semakin terang karena adanya obor yang mengarahkan ke pintu gua kemenangan.


"Hidup Aliansi!" teriak Grant yang sejak awal berada di samping Raja Erdovarte.


"Hidup Aliansi!" teriak semua orang yang ada dan menyaksikan pembuatan aliansi.


Semua orang benar-benar antusias, bahkan semangat Reynald ikut menggebu-gebu. Ia yang sangat senang karena mendapatkan banyak bantuan, ingin berterima kasih kepada Raja Orgulla.


"Yang Muli ...."


Reynald tak bisa melanjutkan ucapannya.


Dalam sujudnya, Raja Orgulla menangis untuk yang keenam kali sepanjang hidupnya.


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2