Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 26 - Sebuah Kemenangan


__ADS_3

Reynald bertatapan dengan Vanidas. Hanya mereka berdua yang masih "bisa" bertarung. Namun, perbedaan kekuatan keduanya terlalu jauh.


Yang Terpilih ... batin Vanidas sedikit tersenyum.


Reynald melempar pelan pedang di tangan kirinya ke depan. Reynald kemudian memutar tangan kanannya, dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah. Pedang yang ia lempar ke depan, mengambang pelan, sementara tangan kanan yang berputar, seperti ada bayang-bayang mengikuti pergerakan tangannya.


"Combination: Light Darkness: Anchor Hook of the Demons."


Sebuah lingkaran sihir muncul dari belakang tubuh Reynald, cukup besar hingga mampu menelan Reynald. Bingkai lingkaran berwarna putih sementara bagian dalam lingkaran berwarna hitam.


Sihir apalagi itu ...? batin Vlagilles tersenyum senang seperti orang gila, dengan mulut yang berlumuran darah.


Ratusan jangkar muncul dari dalam lingkaran sihir Reynald dan dengan cepat langsung melesat ke arah Tujuh Dosa Besar.


Vanidas yang melihat serangan tersebut, hanya dapat merespons beberapa. Namun, jumlah ratusan tak bisa diatasi hanya dengan beberapa.


Jangkar yang berbentuk seperti kail dengan cepat sedikit melewati Aptistia, lalu mengait Aptistia, dan menariknya dengan paksa. Kail menusuk bagian perut Aptistia.


"Akh!" ucap Aptistia yang sempat mau berteriak tapi tiba-tiba kehilangan suara.


Vanidas yang sudah terkait, langsung mencoba memutus rantai yang terhubung dengan kail. Ia berhasil memutus dua kail yang mengaitnya, namun puluhan jangkar kembali melesat ke arahnya. Ia mencoba terbang ke langit, menghindari jangkar-jangkar milik Reynald. Namun, sedikit demi sedikit, ia mulai terluka karena terkena ujung jangkar milik Reynald.


Ia sempat melihat ke arah rekan-rekannya. Keenam rekannya telah terkait oleh jangkar milik Reynald. Ira mencoba memberontak, Vlagilles tertawa seperti orang gila, Apitstia memukul-mukul kail yang menyangkut pada perutnya, Igna dan Avarus sudah kehilangan kesadaran, dan Zindia mencoba berteriak kesal namun suaranya tak dapat terdengar.


Semakin lama, keenamnya semakin mendekat ke lingkaran sihir milik Reynald. Reynald yang melihat keenam Dosa Besar sudah mendekat, terbang sedikit ke atas, membuat jalan lebar agar keenam Dosa Besar dapat masuk dengan mudah.


Ia kemudian melihat ke langit, ke arah Vanidas yang tak kunjung menyerah walau terus terkena serangan dari jangkar-jangkar milik Reynald.


Reynald menyipitkan matanya, dan jangkar melesat dengan lebih cepat. Menjadi lebih cepat hingga membuat kecepatan Vanidas tak ada apa-apanya.


Tangan kanan, kiri, kaki kanan, dan kiri Vanidas tertusuk lalu terkait oleh jangkar (kail) milik Reynald.


Mulutnya mengeluarkan darah. "Akh--!"


Suaranya ikut menghilang. Jangkar kelima melesat sedikit melewati tubuhnya lalu menusuk perutnya.


Ini akhirnya, ya ... batin Vanidas melihat jangkar kelima menusuk perutnya.


Seperti sedang menerima takdirnya, Vanidas membiarkan dirinya tertarik oleh kelima jangkar yang menusuk tubuhnya.


Satu per satu memasuki lingkaran sihir milik Reynald.


Avarus ... Igna ... Ira ... Zindia ... Aptistia ...


Vlagilles ... dan Vanidas.


Ketujuh Dosa Besar, telah dikalahkan. Lingkaran sihir mengecil lalu menghilang. Reynald masih menukuk, melihat ke jalur yang dilewati Tujuh Dosa Besar untuk memasuki lingkaran sihir miliknya.


Sesaat sebelum memasuki lingkaran sihir miliknya, Vlagilles tertawa seperti psikopat ke arahnya. Ia juga berkata tanpa suara, "Hahahaha! Hebat! Kau memang hebat! Sekarang ... kau akan menyaksikan iblis yang sesungguhnya!"


Lalu ia juga melihat Vanidas yang sempat melirik ke arahnya dengan menyeringai. Ia juga memperhatikan gerak bibir Vanidas. "Lindungi apa yang harus kaulindungi."


Reynald menggenggam pedangnya dengan lebih kuat. Apa maksud dua iblis itu ...?


"... Yang Terpilih!"


Reynald mendengar suara sorakan kecil dari belakangnya.

__ADS_1


"Yang Terpilih!"


Suara sorakan tersebut menjadi semakin dan semakin keras. Ia memutar tubuhnya, melihat ke arah pelabuhan yang telah rata dengan tanah. Ia tersenyum melihat orang-orang dari Aliansi Para Raja.


Lambaian dengan senyuman lebar walau tubuh penuh darah, sorakan yang tak ingin kalah keras dari yang lain, dan ucapan terima kasih membuat senyumnya tak bisa berhenti melebar.


Keempat Raja sedikit membungkukkan badannya, yang kemudian diikuti oleh Pasukan Aliansi Para Raja.


Reynald memejamkan matanya dengan sudut bibir yang tak berhenti terangkat. Ia kemudian mengangkat pedang di tangan kanannya, diikuti oleh sorakan yang luar biasa besar dan kerasnya dari Pasukan Aliansi Para Raja.


"Yang Terpilih telah berhasil mengalahkan para iblis! Kemenangan telah kita raih! HIdup umat manusia, hidup Yang Terpilih!" teriak Raja Orgulla yang menghunuskan pedangnya ke langit.


"Hidup umat manusia, hidup Yang Terpilih!" teriak Pasukan Aliansi Para Raja dengan ikut menghunuskan senjata atau mengangkat tangan yang dikepalkan ke langit.


"HIdup umat manusia, hidup Yang Terpilih!"


"HIdup umat manusia, hidup Yang Terpilih!"


Berita mengenai kemenangan Aliansi Para Raja melawan Para Iblis Tanah Hitam Rediavol tersebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru Benua Sievaria.


"Tak bisa kupercaya ... mereka benar-benar berhasil melakukannya!" ucap seorang Petualang di dalam kedai.


"Ya! Aku dengar-dengar ... cuaca buruk kemarin disebabkan oleh para iblis itu! Dan mereka ... mengalahkannya?!"


"Apa benar itu? Yang Terpilih sendirian melawan tujuh iblis yang kekuatannya mampu menghancurkan benua?!"


"Wah, aku ingin bertemu dengannya! Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya! Sekarang ... keluargaku pasti sudah tenang di sana!"


"Aku harus apa ... aku tak bisa hanya diam saja tanpa berterima kasih kepadanya, bukan?!"


"Ya! Kita harus menemui Yang Terpilih!"


Anak-anak berlarian, bermain di jalanan. Seperti seorang anak kecil yang membayangkan dirinya menjadi Power Rangers, Batman, Superman, anak-anak di Benua Sievaria membayangkan diri mereka menjadi seorang Yang Terpilih.


"Aku, akan mengalahkan para iblis itu sendirian!" ucap anak kecil yang mengenakan jubah di lehernya.


"Tidak-tidak! Akulah yang akan mengalahkan para iblis sendirian!" ucap anak kecil lainnya yang tak mau kalah.


Kebahagiaan tak datang hanya untuk para penduduk saja, namun juga untuk sang Raja yang rela bersujud demi terjalinnya aliansi.


"Putri ... ku ..." ucap Raja Orgulla yang duduk di kursi, berbicara dengan para raja dari Aliansi Para Raja, tatkala melihat ke arah pintu aula kerajaannya.


"A ... yah ...!" ucap Putri Orgulla yang tak sanggup membendung air matanya. Kedua tangannya memegang kalung yang ia kenakan, sebuah kalung pemberian terakhir dari ayahnya sebelum berpisah sepuluh tahun lamanya.


Raja Orgulla, di dalam aula yang terdapat para petinggi kerajaan dari Aliansi Para Raja serta para Raja yang tergabung pada Aliansi Para Raja, menangis untuk yang ke delapan kalinya. Ia langsung beranjak dari kursinya, berlari untuk memeluk putri kecilnya.


Raja Calma yang sedang duduk, langsung ikut berdiri dari kursinya. Ia yang sejak dulu dekat dengan sang tuan putri, sekaligus tahu seberapa rindu dan menyesal sahabatnya, merasakan kebahagiaan yang tak akan pernah terulang dalam hidupnya. Keinginan terbesarnya, kini telah terwujud.


Sang tuan putri ikut berlari menuju ke pelukan ayahnya.


Keduanya berpelukan. Wajah sang tuan putri dibenamkan dalam dada hangat sang ayah. Tangis pun pecah hingga air terjun sekali pun kalah derasnya.


"Ayah, ayah ... ayah!" ucap sang Putri yang tangisannya semakin keras.


"Maafkan Ayah, Nak ....Sekarang, Ayah tak akan melepaskanmu lagi. Tak akan. Kau sudah aman. Kau sudah pulang. Terima kasih karena sudah berjuang selama ini. Terima kasih!" ucap Raja Orgulla yang mencium kepala putrinya.


Suasana haru nan hangat pecah di dalam aula kerajaan yang dulu terkenal akan "dinginnya". Sang raja yang dulu lebih dingin dari sebuah gunung es, kini menjadi lebih hangat dari api unggun di tengah badai salju. Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Syukurlah, Leon ... kesempatan ini masih datang kepadamu," ucap Raja Calma melihat sahabatnya yang reuni dengan putrinya.


Raja Erdovarte menghampiri Raja Calma dengan menawarkan segelas anggur. Raja Calma menerima gelas tersebut dan kemudian keduanya bersulang.


Raja Orgulla menaruh dagu di atas kepala putrinya, ia kemudian melihat ke langit sembari berkata dalam hatinya, "Terima kasih, Dewa. Terima kasih, Dewa. Terima kasih, Dewa. Sayang ... putri kita selamat! Putri kecil kita kini telah tumbuh besar!"


Ia kemudian melihat ke arah pintu aula, ke arah di mana Reynald sedang berdiri.


Dengan tanpa suara, ia berkata, "Terima kasih, Reynald."


Reynald membalas dengan sedikit menukuk dan memejamkan mata.


Di saat kebahagiaan dan kedamaian meliputi Benua Sievaria, ada beberapa pihak yang tak senang. Mungkin lebih tepatnya, banyak pihak. Keberhasilan yang tak terduga, kemustahilan yang menjadi kenyataan, kemenangan yang membawa kejayaan abadi, tentu membuat iri dengki banyak pihak, terutama ... para bangsawan.


"Bagaimana mungkin aliansi kecil itu mampu menaklukkan pulau itu!" ucap seorang Raja Berambut Hijau kesal memukul lengan singgahsananya.


Para Raja di Benua Sievaria melakukan konferensi secara diam-diam melalui sihir Lialinson. Para Raja bergabung dalam konferensi tersebut kecuali Para Raja dari Aliansi Para Raja.


"Sialan! Pasti ada yang salah di sini! Tak mungkin ... tak mungkin mereka bisa memenangkan pertempuran itu!" ucap Raja Berambut Coklat.


"Saya mengerti alasan mengapa Anda murka, Yang Mulia Sujeira. Namun, begitulah faktanya," ucap seorang Raja Berambut Biru Mangkuk.


"Oh, ya? Terima kasih atas informasi yang tak berguna itu, Raja Tigela!" bentak Raja Suijeria.


"Apa maksud Anda, Raja Suijeria?!" balas Raja Tigela.


"Benar kata Raja Tigela, beliau hanya mencoba menangkan Anda! Lantas mengapa Anda marah-marah?!" bentak seorang Raja.


"Diam kau! Kau tak mengerti betapa tertekannya Kerajaannya sahabatku ini!" bentak Raja lainnya.


Konferensi pun pecah. Semua orang meneriakkan kekesalan, emosi, amarahnya. Egoisme dalam diri setiap raja meningkat drastis. Tak ada yang mau mengalah. Hanya diarahkan oleh amarah.


"Mohon tenang, wahai Para Raja sekalian," ucap Raja Muda Berambut Pirang.


Para Raja melihat ke arah sang Raja Muda dengan tatapan penuh amarah.


"Tidakkah kalian ingat, siapa yang pertama kali menentang Raja Orgulla?" sambung sang Raja Muda.


Ucapan itu membuat para raja teringat kembali dengan konferensi yang diadakan oleh Raja Orgulla. Mereka kemudian teringat dengan Raja Sindera, sosok yang pertama kali menentang aliansi serta membuat para raja lainnya melampiaskan emosi pada pertemuan tersebut.


"Raja Sinde--" ucap seorang Raja yang kemudian disela.


"Kalian sendiri yang menentang, merendahkan, serta mencaci raja tua itu tapi malah menumpahkan semua tanggung jawab kepadaku? Mencari domba hitam untuk disalahkan? Hah, Raja macam apa kalian ini?"


"Raja Sindera!" bentak Para Raja serentak.


"Kita berada di dalam kapal yang sama. Fakta itu tak terbantahkan. Kalian beradu mulut, menyalahkan satu sama lain pun tak ada gunanya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana agar nama kita tetap bersih di hadapan rakyat kita, bukankah begitu?"


Para Raja tak ada yang membantah. Mereka mengingat jelas kemurkaan rakyatnya tatkala mendengar kabar bahwa mereka tak tergabung dalam aliansi.


"Aku memiliki sebuah rencana. Sebuah rencana yang mampu membersihkan nama kita, sebuah rencana yang mampu membuat 'keberhasilan itu' menjadi sia-sia. Bagaimana?"


Tawaran Raja Sindera membuat terkejut para raja.


Raja Muda mengangkat tangan kanannya. Raja Muda yang mengangkat tangan membuat para raja saling melihat satu sama lain. Mereka bertanya-tanya dalam diri mereka tentang apa yang harus mereka lakukan. Keragu-raguan yang ada, membuat keputusan untuk mereka ambil menjadi semakin lama.


Bersihkan nama dan jaga harga diri, atau menjadi 'penjahat' dari balik layar?

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2