
Raja Orgulla tersenyum tipis dengan tatapan kosong.
"Kerajaan yang ada di cerita tersebut adalah kerajaan saudaraku, Kerajaan Vanidas."
Reynald sedikit terkejut mendengarnya. Reynald melihat wajah Raja Orgulla yang menahan air matanya.
"Dan hari itu, adalah hari terakhir aku mendengar kabar dari putriku." Raja Orgulla meremas kuat sandaran tangan singgahsananya hingga retak.
Ucapan Raja Orgulla membuat mulut Reynald dipaksa tertutup. Tak tahu harus merespons apa, hanya dapat menatap tanah dengan perasaan menyesal karena mendengarnya.
"Anakku tersayang ... putriku satu-satunya! Satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh istriku. Aku ... terkuat? Kalau aku memang terkuat maka aku bisa menyelamatkannya! Kalau aku memang yang terkuat maka saat ini dia ada di sampingku, menemaniku!"
Raja Orgulla frustrasi, melampiaskan dan menceritakan semuanya kepada Reynald.
"Dan yang lebih parah lagi ...." Raja Orgulla menatap kedua telapak tangannya yang gemetaran. "Aku dibuat takut oleh musuhku. Oleh makhluk yang telah menghancurkan hidupku!"
Reynald langsung terpikirkan oleh sosok yang diceritakan dapat melayang dan mengeluarkan tombak.
"Tapi ... ketika aku merasakan aura kekuatanmu, aku pun langsung yakin. Kalau kamu pasti bisa."
Reynald melihat wajah sang raja.
"Oleh karena itu ...." Raja Orgulla turun dari singgahsananya, berjalan mendekati Reynald.
Reynald terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Raja Orgulla di hadapannya.
"Ini adalah permintaan seumur hidupku. Tolong, aku memohon padamu, tolong ... selamatkan putriku!" Raja Orgulla bersujud di hadapan Reynald yang berlutut.
Reynald dibuat merinding. Harga diri seorang raja bahkan ia jual demi menyelamatkan putrinya.
"Yang Mulia, saya mohon angkat kepala Anda!" Reynald sedikit panik dan mencoba menegapkan badan sang Raja.
Raja Orgulla menangis. "Aku tak ingin air mata ini jatuh di hadapanmu, tapi apalah daya. Seorang Ayah tak akan kuasa menahan tangis ketika mengingat putri kecilnya."
Reynald yang masih memegang kedua pundak sang Raja, menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya.
"Yang Mulia, seperti yang Anda tahu, pulau itu adalah tempat bersemayamnya iblis terkuat, sang Raja Iblis. Untuk bertindak gegabah ke sana, akan sama saja dengan menyetorkan nyawa."
Raja Orgulla tahu akan fakta itu, tapi ia selalu mencoba untuk menyangkalnya. Dan mendengar satu-satunya harapan berkata demikian, membuat hatinya ....
"Tapi saya berjanji bahwa saya akan berusaha semampu saya untuk menyelamatkan putri Anda."
Janji yang tak terduga keluar dari mulut Reynald, membuat sinar harapan yang sempat menghilang, kembali bersinar di dalam diri Raja Orgulla.
"Yang Terpilih, katakanlah segala hal yang Anda butuhkan. Katakanlah segala hal yang Anda inginkan. Asalkan putriku bisa selamat, aku akan memberikan segalanya!" Raja Orgulla memegang kedua pundak Reynald dengan mata penuh harapan.
***
Keesokan paginya di dalam istana kerajaan, Reynald mencoba mencari tahu segala informasi yang berkaitan dengan pulau bertanah hitam. Ia pun memutuskan ke tempat di mana informasi paling banyak tersedia, perpustakaan.
__ADS_1
Satu per satu buku yang berkaitan dengan cerita Awal dari Segalanya ia baca, bahkan di dalam buku yang hanya terdapat satu kalimat yang berkaitan dengan Awal dari Segalanya.
Kemampuan membaca yang sangat cepat ia dapatkan dari sihirnya, Lightning Speed Reading.
Reynald pun menutup buku terakhir yang telah ia kumpulkan untuk diulik informasinya.
"Rumah dari sang Raja Iblis, Rediavol. Kekuatannya diperkirakan mampu meluluhlantahkan dunia hanya dalam satu malam. Memiliki hobi melawan yang kuat, membunuh yang lemah, dan menyiksa yang tak berdaya. Prajurit biasa memiliki kekuatan setara 10 orang.
"Tapi, kalau mereka memang sekuat itu, apa yang mereka tunggu selama sepuluh tah ... jangan bilang." Reynald memincingkan matanya, seakan-akan telah menebak sesuatu.
Reynald bergegas menuju ke ruang penelitian kerajaan.
Pindu diketuk olehnya dari luar.
"Hash! Siapa sih yang mengganggu ketika sedang eksperimen seperti ini!" ucap seorang peneliti yang kemudian membuka pintu dengan rambut berantakan dan muka kecut. Pintu ia buka. "Ada apa?!" ucapnya dengan judes.
"Mohon maaf mengganggu waktunya. Namun, saya ingin melihat beberapa hal yang mungkin bisa membantu saya dalam mengerjakan misi saya."
"Hah? Kaupikir kau siapa?"
"Ah, maaf lupa memperkenalkan diri. Nama saya Reynald, Sonne Reynald Einzel."
Deg .... Si peniliti seperti berubah menjadi patung yang kemudian hancur menjadi debu dan menghilang diterpa angin.
"Tu-Tu-Tu-Tuan Reynald?!!" ucap si Peneliti terkejut hingga terjungkal ke belakang. "A-a-a-a-apakah Anda benar-benar Tuan Reynald yang menemukan sistem klasifikasi monster?!
"Ah, sudah tersebar sampai kerajaan ini?"
"Ti-ti-tidak hanya kerajaan ini, tapi itu sudah tersebar ke seluruh benua ini! Bahkan berkat penemuan Anda, banyak misi yang dapat diselesaikan dengan lebih tepat dan cepat! Dan itu menimbulkan benefit yang luar biasa bagi tiap kerajaan!"
"Y-ya! Ah, mohon maaf, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Armin Tecnogia. Saya merupakan fans terberat dan terbesar Anda!"
Di mana suara judesnya tadi ...?
"Silakan, Tuan. Jangan sungkan untuk melihat-lihat."
Armin mempersilakan Reynald memasuki ruang penelitiannya.
Reynald dibuat terkejut dengan begitu banyaknya dokumen yang bertebaran, benda-benda yang tak pernah ia temukan di Kerajaan Erdovate, dan sebuah "komputer".
"Apa ini ...?" ucap Reynald yang terpaku dengan komputer.
"Ah, itu masih prototype, Tuan. Aku ingin menciptakan suatu benda yang mampu menampung semua dokumen yang aku punya. Yah, salah satu alasannya karena aku orangnya mudah teledor dan lupa, hahaha."
Ehhh!!! Tu-tunggu dulu ... barusan aku ngomong "aku", kan?! Ba-bagaimana bisa ... bagaimana bisa aku ngomong "aku" di depan Tuan Reynald?! Maskud dari Armin adalah ia seharusnya menggunakan "saya" alias lebih formal.
"Luar biasa. Tak kusangka di dunia ini ada yang dapat memikirkan hal sevisioner ini."
Pujian Reynald membuat Armin melayang hingga ke langit ketujuh.
"Be-benarkan! Semua orang berkata bahwa ini adalah hal yang tak penting! Benda sampah! Tapi ... seperti yang saya duga dari seorang Tuan Reynald!" Armin menggenggam kedua tangan Reynald dan menyatukannya, menatap wajah Reynald dengan menangis bahagia.
__ADS_1
"Y-ya ...." Reynald tersenyum kaku tak tahu harus merespons apa.
"Oh, Anda tadi bilang bahwa ada sesuatu yang ingin Anda pastikan. Apa itu?"
"Sisa pertarungan antara Kerajaan Vanidas dengan Kapal Penghancur, Triturador."
Jawaban Reynald membuat Armin merinding. Ia melepaskan genggaman tangannya, dan wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Untuk memastikan, apakah Anda sudah mendapatkan izin dari Yang Mulia?"
Reynald mengangguk.
"Baiklah, ikuti saya."
Keduanya berjalan melewati seisi ruangan menuju ke sebuah pintu yang terdapat kertas putih di depannya. "Atas nama Raja Orgullan yang Agung, aku mendapatkan izin untuk memasuki ruangan ini."
Pintu terbuka dengan sendirinya.
"Silakan." Armin menyingkir dari jalan, mempersilakan Reynald untuk masuk.
"Terima kasih." Reynald memasuki ruangan.
Di dalam ruangan, berjajar alat perang yang dipungut dari baik para prajurit yang gugur maupun dari sisi Triturador.
"Ukuran pedang, perisai, panah ... setidaknya dibutuhkan dua orang untuk bisa memegangnya," ucap Reynald melihat alat-alat perang Triturador.
Lalu, ia melihat susunan tombak berwarna hitam di ujung ruangan. Dan dengan cepat, ia dapat langsung mengetahui tombak apakah dan siapakah itu.
"Armin, apakah aku boleh menyentuh tombak ini?"
"Silakan, Tuan."
Reynald menyentuh (mengambil salah satu tombak), lalu ia mengalirkan energi sihirnya ke dalam tombak. Tombak memancarkan aura berwarna hitam.
"Wahai Dewa Yang Tahu Segala Hal, Dewa dari segala ilmu yang ada, Exypnos. Aku memohon kepada-Mu untuk memberkati hamba dengan pengetahuan akan benda ini, Anagosi."
Mata Reynald berubah menjadi biru menyala dengan teks yang muncul bergantian dengan sangat cepat di pupilnya.
Anagosi, sebuah sihir yang mampu membuat penggunanya melihat masa lalu dari suatu benda sejak awal benda itu diciptakan.
Reynald menggunakan benda itu sebagai media melihat siapakah sosok "hitam" yang dimaksud dalam cerita Awal dari Segalanya.
Sedikit lagi ...! batin Reynald yang habis melewati peperangan antara Kerajaan Vanidas melawan Kapal Triturador.
Mata Reynald sedikit melebar. Ia akhirnya dapat melihat sosok "hitam" yang dimaksud dengan jelas.
Mengenakan jubah merah panjang dengan pinggiran hitam, memiliki rambut panjang hitam hingga sepundak. Mata yang berwarna merah darah dengan dua tombak di kepala.
"Aku menemukanmu." Reynald menatap tombak yang ia pegang dan tanpa sadar menggenggamnya terlalu kuat hingga mematahkannya menjadi dua.
Tombak yang patah terjatuh dan berubah menjadi abu.
__ADS_1
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!