Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 23 - Terpuruk


__ADS_3

Vanidas yang melihat ke belakang tanpa membalikkan badan; melihat ke arah rekan-rekannya bertarung. Ia kemudian menyadari betapa mendominasinya para kloning Reynald terhadap rekan-rekannya.


"Katakan sejujurnya padaku, Yang Terpilih. Apakah dirimu terus bertambah kuat seiring berjalannya pertarungan?"


Reynald sedikit terkejut mendengar pertanyaan Vanidas. Ia tak menyangka bahwa Vanidas mampu mengetahui triknya, hanya dalam hitungan menit bahkan tanpa bertarung melawannya. Sudah kuduga dia berbahaya ....


"Anda memang hebat. Tak kusangka Anda dapat menyadarinya secepat ini."


"Heh ... menarik ..." ucap Vanidas memegang dagunya. Tubuh itu ... harus aku dapatkan, batin Vanidas menyeringai.


Vanidas melesat dengan sangat cepat dengan posisi tetap berdiri tegap dengan kilatan merah yang berbayang mengikutinya.


Mata Reynald sedikit terbuka, ia tidak menyangka bahwa Vanidas dapat bergerak secepat itu. Reynald berniat mengayunkan pedangnya, namun dengan cepat Vanidas menghilang dari hadapannya, membias menjadi dua bayangan merah yang bergeser ke samping kanan dan kiri.


Ia kemudian muncul dengan jarak yang cukup jauh dari Reynald. Lalu bayangan demi bayangan dirinya bermunculan di banyak tempat, mengelilingi Reynald.


Setiap bayangan memiliki perawakan yang sama persis dengan dirinya, seperti kloning Reynald. Vanidas berdiri dengan kedua tangan di belakang. Tangan kiri yang dikepal lalu tangan kanan yang memegang pergelangan tangan kiri.


Reynald melirik ke kanan dan kiri, melihat ke setiap bayangan Vanidas.


"Bagaimana rasanya melawan banyak sosok yang seperti lawanmu, Yang Terpilih?" ucap Vanidas yang menyindir sihir kloning Reynald.


Reynald yang mendengar hal itu justru tersenyum. Ia yang sempat memasang kuda-kuda, kembali berdiri dengan cukup santai.


Vanidas yang melihat hal itu, memicingkan matanya dengan sedikit kebingungan.


"Apa kau baru saja menantangku?" ucap Reynald yang kemudian memasukkan pedang ke dalam sarungnya.


Vanidas merasa dirinya sedang benar-benar diremehkan. Urat di peilipis dan dahinya memberontak keluar. Tatapan matanya menjadi semakin tajam, benar-benar menggambarkan betapa besarnya rasa ingin membunuh di dalam dirinya.


Namun, ia dikejutkan dengan aura kuat yang tiba-tiba mengelilingi dirinya.


"Jadi bagaimana rasanya melawan banyak sosok yang seperti lawanmu ... Yang Mulia?"


Area pertarungan Reynald dan Vanidas dikelilingi oleh keenam kloning Reynald.


Mereka ... bukankah seharusnya melawan Aptistia dan yang lainnya? batin Vanidas dengan sedikit keringat yang sedikit mengalir di dahinya.


Ia melihat ke kanan dan kiri, memastikan kembali tentang prasangka terburuknya. Jangan bilang ... mereka telah dikalahkan! TIdak ... sekuat apa pun orang itu, tak mungkin bisa mengalahkan kami secepat ini.


Vanidas yang tak ingin menerima kenyataan bahwa rekan-rekannya telah dikalahkan, menatap ke arah Reynald yang sedang dikepung oleh dirinya dan bayangan-bayangannya.


Vanidas dan setiap bayangannya mengangkat tangan kanannya yang terbuka ke atas.

__ADS_1


"Darkness: Resurrection!" ucap Vanidas yang kemudian mengepalkan tangan kanannya. Dari tangan kanannya, muncul cahaya hitam berbentuk bola. Cahaya tersebut kemudian meledak dan membuat gelombang kejut yang membuat semua bayangannya menghilang.


Apa yang akan ia lakukan? batin Reynald bersiap dengan kemungkinan terburuk.


"Dirimu mungkin kuat, namun kau masih terlalu awam, wahai Yang Terpilih."


Dari langit, enam cahaya hitam berbentuk pilar muncul menembus awan. Reynald memperhatikan tiap pilar cahaya yang ada, ia sempat bertanya dalam dirinya mengapa lokasinya seperti sembarang. Lalu, ia menyadari tentang alasan mengapa lokasi cahaya tersebut sembarang.


"Kalian kembalilah ke tempat pertarungan kalian!" ucap Reynald memerintahkan para kloningnya.


Srok!


Tak sempat mengelak, para kloningnya tertusuk dari belakang. Keenam Dosa Besar telah bangkit dari kematiannya, dengan bentuk tubuh yang berbeda dari sebelumnya.


Masing-masing dari mereka telah bertransformasi sebagaimana Vlagilles bertransformasi ke bentuk "mengerikannya".


"Aura yang tidak menyenangkan ..." ucap Raja Orgulla dari bawah.


Pasukan Para Raja hanya bisa menonton dari bawah. Mereka sadar, bahwa menonton adalah cara membantu terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.


Masing-masing dari keenam Dosa Besar yang baru saja bangkit mengeluarkan aura yang sangat menggelegar hingga membuat embusan angin yang sangat kuat. Embusan angin tersebut sangat kuat hingga membuat ombak di laut menerjang tinggi seolah-olah mencoba menggapai langit.


Bukit-bukit yang ada retak dan kemudian pecah seperti sebuah piring yang dijatuhkan. Dahsyat, sangat dahsyat. Seandainya pasukan Aliansi Para Raja tak berada di dalam pelindung yang diciptakan oleh Reynald, niscaya mereka akan musnah tanpa sempat berkedip.


"Yang Terpilih ... di manakah kesombonganmu tadi?" ucap Vanidas yang ikut bertransformasi.


Aptistia, mengeluarkan dua sayap kelalawar di punggung yang menyatu dengan lengannya. Matanya yang berbeda warna berubah menjadi ungu gelap dan ungu terang.


Ira, tubuhnya menjadi tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Kapak yang ia bawa pun menjadi tiga kali lebih besar dari sebelumnya. Dua tanduk seperti badak muncul berjajar ke atas di dahinya.


Zindia, wajahnya yang tampan berubah menjadi buruk rupa. Rambut emas panjang indahnya menjadi kusut dan berantakan. Kepalanya tak bisa berhenti berputar ke kanan dan kiri dengan kaku. Jubah panjangnya berubah menjadi dua empat sayap kelalawar di bagian punggung.


Igna, tak banyak yang berubah kecuali munculnya empat sayap di punggungnya dan bola mata yang berubah menjadi merah darah dengan sklera mata berwarna hitam pekat.


Avarus, tubuhnya menjadi semakin bulat hingga seperti bola. Terdapat sebuah lubang berwarna hitam pekat di tengah perutnya.


Vlagilles masih sama seperti sebelumnya.


Reynald terdesak. Mengurus Vlagilles seorang diri saja ia kesulitan. Sekarang, ada tujuh Vlagilles yang bahkan di antaranya ada yang lebih kuat dari Vlagilles itu sendiri.


Ketika ia sedang berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba Ira melesat ke arahnya dengan kapak yang diayunkan dari bawah ke atas. Reynald yang melihat serangan tersebut langsung menghindar dengan mundur ke belakang.


Angin yang sangat kuat muncul dari bawah ayunan kapak Ira. Angin tersebut dengan kuat diembuskan hingga menembus awan dan membuat air laut terangkat membentuk sebuah jarum.

__ADS_1


Hampir saja! batin Reynald yang kemudian menyadari serangan dari belakang. Ia melirik ke belakang dan melihat Igna sudah bersiap menusukkan tombaknya ke perut Reynald. Reynald yang menyadari serangan tersebut, menjadikan tombak yang ditusukkan ke arahnya sebagai tumpuan untuknya berputar ke atas.


Tangan kirinya memegang batang tombak Igna, lalu ia berputar melewati Igna. Igna dengan cepat melihat ke belakang dan membanting tombaknya ke belakang. Reynald dengan cepat menyilangkan tangannya dan ia terhempas oleh serangan tombak Igna.


Ia yang baru terhempas langsung disambut oleh Zindia. Zindia berada tepat di samping arah ia terhempas. Ketika Reynald berada tepat di hadapannya, Zindia langsung menusuk Reynald dengan seratus tusukan lebih cepat daripada kilat.


Reynald yang lengah, terkena serangan telak dari Zindia. Tubuhnya bolong. Lebih dari enam puluh tusukkan foil Zindia menembus tubuhnya.


Mulutnya terbuka, mengeluarkan darah. Ia yang baru saja terkena serangan telak dari bagian samping tubuhnya, tiba-tiba terkena serangan telak dari atas.


Sebuah bola sihir berwarna merah muda dengan ukuran yang lebih besar dari sebuah gunung menghantam telak tubuhnya. Ia kemudian terseret oleh bola sihir merah muda ke bawah dengan kerusakan yang terus-menerus menghantamnya.


Reynald yang wajahnya menghadap ke samping, berteriak kesakitan. "AGGGHHHH!!!"


Ia ingin menangis, ingin mati. Ia kemudian melihat ke bawah dan menyadari Avarus telah ada di bawah dengan perut yang diarahkan kepadanya. Ia kemudian merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat. Sebuah tarikan yang seperti penyedot debu.


Teriakannya menjadi semakin menjadi-jadi. Tubuh yang tertarik dengan sangat kuat dari bawah, dan tubuh bagian atas yang menempel dengan bola sihir merah muda yang terus memberikan kerusakan dan kesakitan.


Rasanya seperti ditarik oleh dua hal yang sama kuatnya ke dua arah yang berbeda. Kulit bagian belakang tubuh, seperti sedang memberontak untuk melepaskan diri dari tubuhnya. Sedangkan kulit bagian atasnya secara perlahan terbakar oleh bola sihir merah muda milik Aptistia.


Belum bisa terlepas dari dua serangan yang terus menerus menggerogoti tubuh dan nyawanya, tiba-tiba ia melihat sosok Vanidas yang berdiri mengapung dari kejauhan.


Tangannya yang terbuka diangkat ke atas. Cahaya yang dibentuk seperti sebuah pedang berwarna merah muncul. Satu, dua, kemudian empat, delapan, lalu pedang-pedang tersebut muncul dengan semakin dan semakin cepat hingga tak terhitung jumlahnya.


"Yang Terpilih ... kau bertanya 'Apa kau baru saja menantangku', bukan? Maka inilah jawabanku," ucap Vanidas yang kemudian membanting tangan kanannya ke arah Reynald.


Pedang-pedang cahaya tersebut dengan cepat langsung melesat ke arah Reynald.


Ratu Cleo dan Pasukan Para Raja lainnya langsung memalingkan pandangannya tak berani melihat. Air mata menetes. Ketakutan dan kekhawatiran bersatu padu.


Fidel yang sejak tadi melihat tuan serta orang yang ia kagumi dan hormati diserang habis-habisan, menangis berteriak memanggil "Tuan Reynald". Grant yang tahu betapa sakitnya Reynald dan Fidel, merangkul Fidel dan mencoba menenangkannya. Meski begitu, air matanya tak bisa ikut tak mengalir.


"Raja Orgulla ... apakah tak ada yang bisa kita lakukan ...?" ucap Albert yang bersimpuh pasrah dengan menangis.


Raja Orgulla adalah satu-satunya orang selain Fidel yang masih melihat ke langit. Ia berdiri dengan tegap, dengan tangan yang dikepalkan. Ia ingin mencoba percaya terhadap satu-satunya harapannya. Namun di saat yang bersamaan, sebagai seorang ayah, ia ingin berkata dan berteriak "Reynald, cukup. Sudah cukup."


Namun ... ia tak bisa mengatakan hal yang akan menghancurkan harga diri seorang Reynald.


"Tidak ... tidak ada," jawab Raja Orgulla dengan menangis untuk yang ketujuh kalinya.


Di saat Pasukan Para Raja sedang benar-benar hancur, terdapat satu sosok yang sedang sangat bahagia.


"Gehahahahaha .... HAHAHAHAHA! Menakjubkan ... menakjubkan! Ohh, Yang Terpilih! Bagaimana rasanya ...? Sakit? Ahh ... kenikmatan yang tiada tara bukan? Teriakan itu ... terus ... teruslah berteriak! Teriakan itu membuat tubuh ini bergemetar!" ucap Vlagilles yang melihat dari kejauhan dengan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri.

__ADS_1


---


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2