
Tumpukan pasir perlahan-lahan mulai memenuhi liang lahat. Kulit yang putih pucat dengan wajah tersenyum menjadi sosok terakhir yang dilihat oleh Reynald dari seorang Fidel.
Dengan menggunakan tangannya, Reynald perlahan-lahan menutupi kuburan Fidel. Uraian air mata yang tak bisa ia tahan menghujani wajah Fidel.
"Fidel ... maafkan aku."
Kalimat itu terus-menerus keluar dari mulutnya. Lirih, namun siapa pun yang mendengar akan langsung dibuat merinding.
Satu gundukan pasir lagi. Reynald dengan berat hati menariknya dan menutup rapi makam sahabat sekaligus orang kepercayaannya. Ia kemudian mengambil sebuah tongkat kayu yang ditemukannya di sekitar pantai.
Kain yang telah ia sobek dari pakaian Fidel diikatkan ke tongkat kayu yang ia temukan lalu ditancapkannya sebagai penanda kuburan Fidel.
Reynald mencoba berdiri. Namun tubuhnya seketika terjatuh. Ia bersimpuh di samping makam sahabatnya. Menangis dengan memegang tongkat kayu penanda makam.
"Maaf, Fidel .... Biarkan aku menangis sedikit lebih lama lagi."
***
Matahari akan segera pergi. Reynald masih berada di pulau yang sama. Ia menyusuri hutan, mencoba mencari informasi dan mencari segala hal yang sekiranya bisa membantunya untuk bertahan hidup dan menyusun rencana.
"Graum!"
Suara auman seekor harimau terdengar olehnya. Ia melihat ke arah kanan, dan melihat seekor harimau berwarna putih berloreng hitam dengan mata biru sedang menatap lapar dirinya.
Apa yang harus aku lakukan ...?
Ketika Reynald sedang berpikir, sang harimau telah melesat ke arahnya. Dengan refleknya, Reynald memutar tubuhnya ke samping, menghindari serangan langsung dari sang harimau.
Menyadari serangannya yang meleset, tepat setelah mendarat ia langsung memutar tubuhnya, menghadapkan kembali pandangannya ke arah mangsanya.
Aku masih bisa menghindari serangan seperti itu ...? Apakah itu berarti ... batin Reynald yang terkejut.
Sang harimau kembali melesat ke arahnya, dan untuk yang kedua kalinya, Reynald bisa menghindari serangan dari sang harimau.
Sudah kuduga. Walaupun aku tak lagi bisa menggunakan sihir, tapi tubuh ini ... batin Reynald melihat mengepalkan tangannya dan kemudian menyeringai.
Harimau langsung berputar tatkala serangan keduanya kembali meleset. Ia berniat untuk langsung melakukan serangan ketiga, namun ....
Tubuh harimau sedikit terdorong ke belakang dengan kepala yang menghadap ke samping. Sang harimau terkena pukulan telak di wajahnya.
Harimau menggoyangkan kepalanya ke kanan dan kiri sekilas, lalu ia kembali memfokuskan pandangannya ke arah mangsanya. Ketika pandangannya sudah kembali jelas, ia telah kehilangan jejak dari mangsanya. Ia kebingungan. Dan di tengah kebingungan itu ....
Srok!
"GRRAAUUMM!!"
Sang harimau berteriak kesakitan. Teriakannya sangat keras hingga membuat burung-burung yang sedang berada di pohon langsung beterbangan.
"Badan ini bukanlah sesuatu yang didapatkan dari sihir!" ucap Reynald dengan bangga dan menusukkan batu tajam yang dibawanya ke leher harimau.
__ADS_1
Harimau yang kesakitan menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan sekuat yang ia bisa. Reynald yang sedang dalam posisi seperti menunggangi banteng, menguatkan tusukan batunya.
Harimau berteriak dengan lebih keras.
Reynald tak mau kalah. Tangan kanan yang tak memegang batu, ia kepalkan lalu hantamkan dengan sangat kuat tepat ke atas kepala sang harimau.
Harimau melemah, tapi tenaganya seperti tak berkurang sedikit pun. Reynald yang berada di posisi yang diuntungkan tak ingin mengulur waktu. Ia kembali menghantam secara terus-menerus dengan tangan kanan dan menusuk lebih dalam dengan tangan kiri.
Kesadaran harimau mulai berkurang. Matanya mulai terkatup. Darahnya tak berhenti keluar. Rasa sakit yang ia rasakan dari dalam dan luar tubuh tak lagi dapat ditahannya.
Harimau yang lemas dan kehilangan kesadaran pun ambruk. Matanya terpejam dengan Reynald yang masih berada di punggungnya.
Napas Reynald terengah-engah. Wajah dan pakaiannya terkena cipratan darah sang harimau. Kepala Reynald menghadap ke langit yang saat itu matahari tak lagi tampak.
"Maafkan aku, wahai Harimau .... Semoga dirimu tenang di atas sana ...."
***
Cahaya bulan menyinari malam yang saat ini, langit sedang menangis. Reynald yang berniat untuk membuat api unggun, terpaksa mencari tempat berteduh. Namun, dirinya yang tak siap dengan cuaca yang tiba-tiba berubah, hanya bisa menggigil kedinginan di dalam sebuah gua.
Gua tersebut berada di atas sebuah tebing. Sebuah tebing yang berada di tengah-tengah pulau. Sebuah tebing dengan sedikit tanah di sekitarnya yang mampu menjadi pijakan untuk melihat ke sekeliling pulau.
Meski mendapat tempat yang strategis ....
Aku harus mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuh! Seandainya tadi aku langsung menguliti si harimau ... tapi tidak, tak mungkin sempat .... Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa mati karena hipotermia!
Ia melepaskan pakaiannya, membuat dirinya hampir telanjang sepenuhnya. Ia menyisakan pakaian dalam untuk menutupi ***********.
Aku tak ada pilihan lain. Jikalau pakaian itu tetap aku gunakan, maka tubuhku akan semakin gemetar. Yah, meski begitu ... ini tetap saja sangat dingin! Hujan macam apa ini?!
Reynald merasa hujan yang saat ini melanda pulau yang dihuninya agak tak wajar. Hujan yang turun benar-benar deras, bahkan sudah terhitung sebagai badai.
Hanya keajaiban yang dapat menyelamatkanku ...!
Reynald perlahan-lahan mulai menutup matanya.
***
Mata Reynald terbuka seperti layar proyektor yang ditarik lalu dilepas.
"Aku ... masih hidup ...?" ucap Reynald yang bergelung melihat ke tangannya.
Ia kemudian duduk dengan perlahan dan melihat ke arah mulut gua.
Sudah pagi ... atau siang? Aku tak tahu waktu. Tapi yang pasti, ini sudah berganti hari.
Perut Reynald keroncongan. Ia baru ingat bahwa sejak kemarin, ia belum makan apa pun. Ia teringat dengan harimau yang kemarin ia bunuh, tapi badai sedahsyat kemarin pasti sudah mengurai habis mayat harimau itu.
Dengan menghela napas dan memegang perutnya, ia berjalan keluar dari gua.
__ADS_1
Ah ... aku telanjang, ya ...? batin Reynald melihat ke bawah hanya ada pakaian dalam. Terserahlah, lagipula hanya ada aku di pulau ini.
Reynald pun mencari makanan. Ia mulai dengan mencari makanan yang termudah, yaitu buah. Walau banyak buah yang memiliki bentuk dan nama berbeda, tapi Reynald bisa membedakan mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Pengetahuan mengenai buah ia dapatkan dari banyak buku yang ia baca sejak menginjakkan kaki di Thavma.
Tak sia-sia aku membaca buku-buku itu.
Setelah memakan banyak buah dan perutnya sudah cukup terisi, Reynald memikirkan untuk membuat sebuah senjata. Ia kemudian mencari sebuah tongkat, tali, dan batu kecil dengan ujung yang tajam.
Ia menemukan sebuah tongkat di kedalaman hutan, tali di pinggir pantai, dan batu kecil di pinggir pantai pula. Tali yang ia temukan adalah tali yang sama dengan yang mengikatnya.
Setelah menemukan ketiga material yang dibutuhkannya, ia membuat sebuah tombak. Tepat di saat tombaknya jadi, ia merasakan tatapan yang sangat mencekam hingga membuatnya merinding.
Dengan perlahan dan terkaku-kaku, ia melihat ke arah laut.
Sekumpulan buaya sedang menatapnya dari permukaan laut.
Reynald menelan ludah. Ia tak pernah menyangka bahwa buaya bisa hidup di laut. Tapi ia baru ingat bahwa ini adalah dunia yang berbeda.
Reynald yang tahu bahwa dirinya tak akan menang, secara perlahan bersiap-siap untuk lari. Ia menggenggam kuat tombaknya, wajahnya masih menghadap ke arah para buaya tapi tubuhnya telah bersiap untuk lari. Ketika ia sudah menguatkan mental dan tekadnya, ia langsung berlari sekencang yang ia bisa.
Para buaya yang sejak awal telah mengincar Reynald, langsung berenang dengan sangat buas ke arah Reynald. Setelah air tak ada lagi, mereka merangkak. Tapi ....
Reynald yang akan memasuki hutan, melihat sekilas ke belakang untuk memastikan apakah para buaya bisa mengejarnya atau tidak. Dan beruntung, ia melihat ke belakang.
Para buaya tertarik ke dalam pasir. Tubuh mereka yang basah dan terlalu berat serta kaki mereka yang pendek membuat mereka tak bisa merangkak di atas pasir. Tiap kali mereka angkat kaki mereka dan mencoba bergerak, maka mereka akan kembali ke lubang yang sama dengan pasir yang malah mendorong mereka mendekati laut.
Apakah ini ... kesempatanku?
Reynald yang tadinya berniat melarikan diri, sekarang tersenyum dengan seribu rencana jahat. Para buaya yang tadi mencekam, sekarang yang tercekam. Mereka ketakutan setelah merasakan niat jahat dan melihat mulut Reynald yang selebar bulan sabit.
***
"Daging buaya ... tak kusangka rasanya seperti ini ...."
Reynald duduk di pinggir pantai dengan tombak yang berdiri tegap di sampingnya dan para buaya yang telah dibunuh, dikuliti, dan diambil dagingnya. Ia menyantap daging buaya dengan tanpa memasaknya. Bukannya tak bisa memasak, tapi semua kayu yang ada di hutan masih basah karena badai semalam.
Apa aku seharusnya tidak membunuh semuanya? Maksudku ... bagaimana caraku untuk mengawetkan daging-daging ini ...?
Ketika Reynald sedang berpikir dengan keputusannya, ia tiba-tiba merasakan sakit yang seperti menusuk jantungnya.
Reynald memegang dadanya, daging yang ia pegang terjatuh dari tangannya. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya. Darah tiba-tiba muncrat keluar dari mulutnya.
A=apa ini?! Apakah daging buaya tak boleh dimakan?! Mengapa tak ada petunjuk itu di dalam buku ...?!
Gletak ... Reynald tersungkur ke depan dengan kesadaran yang telah hilang.
---
Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Untuk saran dan kritik bisa dicantumkan pada kolom komentar. Dan sekali lagi, terima kasih!
__ADS_1