Reincarnation Hero Become Villain

Reincarnation Hero Become Villain
Chapter 24 - Kekuatan


__ADS_3

"Latihan dengan Tuan Grant tak akan cukup untuk membuatku berkembang. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Reynald pada dirinya dengan berbaring terlentang di atas kasur.


Hari ini, Reynald menjalani latihan pertamanya dengan Grant, Jenderal Perang Kerajaan Erdovarte. Reynald yang kelelahan, kembali pulih berkat sihir dari sang pelayan wanita, Shelna Sebas.


Reynald kemudian berbaring menghadap ke kanan, melihat bulan yang cahayanya menembus jendela kamar.


"Hah ... betapa enaknya menjadi bulan. Tak perlu mengeluarkan cahaya sendiri, cukup memantulkannya dari matahari," ucap Reynald yang kembali terlentang dengan kedua mata yang dipejamkan.


Reynald tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke meja belajarnya. Ia membuka buku-buku yang ia bawa dan ia kumpulkan.


"Daftar sihir ... daftar sihir ...." Telunjuk Reynald bergerak menyusuri nama-nama sihir yang ada.


Buku demi buku ia buka dan ia telusuri. Hingga akhirnya ....


"Tak ada, ya ..." ucap lemas Reynald menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia menutup buku terakhir yang ia pegang dan menaruhnya ke atas tumpukan buku yang telah dibuka sebelumnya.


"Sihir ... seandainya aku tahu bagaimana proses dari sebuah sihir ...." Reynald menghela napas. Reynald kemudian berpikir keras tentang bagaimana ia bisa mengeluarkan sihir di kala itu (merujuk ke waktu ia minta diajari sihir oleh Yebe).


Ia ingin mencoba untuk mempraktikannya lagi, namun ia takut ia akan mengeluarkan tembakan sihir yang sangat dahsyat seperti saat ia pertama kali menggunakan sihir.


"Oh!" Reynald teringat oleh seseorang.


Tok tok tok!


Suara pintu diketuk membangunkan Albert yang sedang tertidur di atas mejanya.


"Hoam ... rupanya aku ketiduran. Lalu, siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?" Albert beranjak dari kursinya menuju ke pintu kamarnya. "Ya, ada yang bisa saya ban ... Yang Terpilih?! A-ada keperluan apa hingga Anda mendatangi saya di tengah malam seperti ini?"


Reynald tersenyum.


Hari demi hari terus berlalu. Setiap malam setelah latihan tiada henti di pagi hingga sore harinya, Reynald memulihkan dirinya dengan bantuan Shelna. Ia kemudian melanjutkan untuk latihan pribadi secara diam-diam.


Ia yang telah mengerti mekanisme sihir dari Albert, mencoba untuk membuat sihirnya sendiri.


Hari-hari kembali berlanjut. Kekuatan Reynald yang sejak awal sudah kuat, kini menjadi tak tertandingi. Perkembangan yang begitu pesat membuat semua orang bertanya-tanya. Namun, mengingat Reynald adalah sosok yang dikirimkan oleh Para Dewa, maka tak ada yang berani meragukan dari mana kekuatan Reynald berasal.


Meski begitu, Grant merasa ada sesuatu yang tak wajar dengan kekuatan Reynald. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Reynald tentang rahasia dari kekuatan Reynald.


"La-latihan tanpa henti?!" ucap Grant terkejut di tengah sesi latihan pedang dengan Reynald.


"Ya." Reynald tersenyum dan kemudian mengayunkan pedangnya.


Grant yang sempat kehilangan konsentrasi, mengangkat pedangnya dengan kedua tangan. Namun, ia terdorong mundur oleh serangan Reynald yang coba ditahan olehnya.


"Bukankah Anda terlalu memaksakan diri?" tanya Grant.


"Hahaha, aku hanya ingin tugasku selesai lebih cepat. Toh, kita tidak akan tahu kapan musuh akan menyerang. Kita juga tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, kan?"


Grant tersenyum. Entah mengapa, ia merasa ada kebanggan yaang sangat besar meledak di dalam tubuhnya.


"Baiklah, kita akan latihan dengan lebih keras hingga Anda tak bisa latihan di malam hari!" ucap Grant mengayunkan pedangnya dari atas.


Reynald tersenyum sembari menahan serangan Grant. Selagi dirinya berlatih adu pedang dengan Grant, ia juga sedang melatih kemampuan sihir dan pengetahuannya. Alasan mengapa ia bisa melakukan tiga latihan sekaligus adalah dirinya telah berhasil menciptakan sebuah sihir yang mampu menggandakan dirinya.


Kloning ... benar-benar sihir yang sangat membantu!


Reynald menguatkan pegangan pedang pada tangan kirinya. Ia kemudian membuat sedikit celah dengan tujuan membuat Grant terpancing. Grant yang terpancing, mencoba melakukan serangan lurus ke depan. Reynald memutar tubuhnya ke samping, lalu dengan tangan yang diluruskan dan dirapatkan, ia memukul tengkuk Grant hingga membuat Grant lemas dan hampir pingsan. Tubuhnya akan terjatuh ke depan.


Grant kemudian menggigit bibirnya hingga berdarah guna mengembalikan kesadarannya. Kaki kanannya ia hentakkan ke depan, membuat sudut siku-siku. Ia kemudian memutar tubuhnya dengan kedua tangan yang siap mengayunkan kuat pedangnya.


Namun, ketika ia melihat ke arah Reynald, ujung pedang Reynald sudah berada tepat di depan dahinya.


Grant sempat syok dan terkejut. Ia melihat ke arah ujung pedang Reynald dengan napas yang terengah-engah.

__ADS_1


"Hahahaha ... saya mengaku kalah. Tuan Reynald, Anda memang luar biasa."


Reynald tersenyum dengan menutup kedua matanya.


Di mana aku ...?


Di dalam lautan yang gelap, Reynald membuka matanya pelan.


Laut?


Mulutnya ia buka. Tak ada gelembung udara. HIdungnya tak tersedak air.


Di mana ini ...? Surga? Tak mungkin ... sejak kapan surga segelap ini?


Ia kemudian mencoba menggerakkan tubuhnya, namun entah mengapa terasa sangat berat. Reynald melirik ke sekitarnya. Hanya kehampaan lautan yang ia temukan. Kosong, benar-benar kosong.


Ia akhirnya menyadari tentang sedang berada di mana dirinya.


Ini ... begitu rupanya. Keadaan dunia ini berdasarkan keadaanku.


Reynald berada di dunia yang merupakan milik dirinya. Sebuah dunia yang ia ciptakan. Sebuah dunia yang hanya dapat dimasuki olehnya. Dunia yang waktu berjalan sangat lambat di dalamnya. Dunia yang segala hal berputar pada dirinya.


Dan dunia itu pula, yang menjadi alasan dirinya mampu bertarung dengan Tujuh Dosa Besar.


"Wahai Yang Terpilih ...."


Suara misterius terdengar, menggema di seluruh lautan.


Suara siapa itu?


"Waktumu belum tiba. Tugasmu belum selesai. Belum saatnya aku mengantarmu ke perisirahatan terakhirmu."


Mendengar hal itu, Reynald menyimpulkan bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah sosok yang berkaitan dengan Dewi Kehidupan (Dewi Vida).


"Tidak. Kami memiliki kedudukan yang setingkat. Jikalau Dia adalah Dewi Kehidupan, maka aku adalah Dewi Kematian."


Dewi Kematian .... Ah, begitu rupanya batin Reynald. "Kalau sekarang bukanlah saatnya, lantas mengapa engkau menjumpaiku?"


"Aku akan membawamu kembali ke Dunia Atas, Thavma."


Reynald tak menjawab. Ia tak takut akan yang namanya kematian. Namun, ia merasa bahwa akan sangat sia-sia jikalau ia kembali dikirimkan ke Thavma. Kekuatan Tujuh Dosa Besar terlalu besar baginya. Seandainya mereka bertarung satu bulan lagi, tidak, satu pekan lagi, maka Reynald dapat kembali ke Thavma dan mengatasi Ketujuh Dosa Besar.


Namun, jikalau ia kembali dalam tujuh hari lagi, maka Thavma sudah hancur.


Menghadapi siksaan lalu bunuh diri, atau tetap berada di lautan yang dalam tanpa bisa melakukan apa-apa? Dua opsi yang muncul di kepala Reynald.


"Setelah kau mengirimku kembali, apa yang akan terjadi padaku?"


"Kau akan mati ..."


Ucapan frontal dan langsung dari Dewi Kematian tak mengejutkan Reynald. Ia yang tahu batasan dirinya, tak menolak fakta yang diucapkan oleh Dewi Kematian. Ia memejamkan kedua matanya dengan tersenyum menerima takdir kematiannya.


"... jikalau engkau bertarung sendiri."


Ucapan sang Dewi membuat Reynald membuka kedua matanya dengan cepat. Senyumannya pun langsung pudar.


"Apa ... maksud Anda?"


Di Dunia Atas, Thavma, Ketujuh Dosa Besar berjajar di langit. Sebuah cekungan yang sangat besar dan dalam muncul di tengah laut. Cekungan tersebut sangat besar hingga danau Toba pun kalah besarnya.


Kloning Reynald yang terjatuh ke dalam lautan pun tak kunjung kembali ke permukaan. Sedangkan tubuh Reynald yang asli, yang terkena serangan dari dua arah, tak dapat ditemukan.


Air laut perlahan-lahan mulai mengisi cekungan besar yang diciptakan oleh kombinasi serangan sihir Aptistia dan Avarus.

__ADS_1


"Ahahaha, aku pikir kau akan tetap berada di bawah sana dan ikut mati dengan si Pahlawan itu," ucap Aptistia dengan tertawa.


"Tentu saja tidak, Aptistia ... apa kau sebegitu inginnya melihatku mati?" jawab Avarus sedikit murung.


"Oh, bukan begitu Avarus kecilku. Aku hanya bercanda, ber-can-da! Mana mungkin aku ingin melihatmu mati, kan?" ucap Aptistia mencubit-cubit pipi gembul Avarus.


Sementara Ketujuh Dosa Besar berdiri sombong di langit dengan kemenangan yang sudah ada di genggaman tangan, Pasukan Para Raja dihantamkan dengan realita yang sangat menyakitkan.


Di tempat yang jauh, tepatnya di sebuah desa, Lacheln bersama dengan para penduduk desa lainnya berada di lapangan. Berlutut, menyatukan kedua tangan mereka, dan memanjatkan doa kepada Para Dewa.


Reynald ... aku mohon ... kembalilah dengan selamat! batin Lacheln yang berdoa dengan sangat khusyuk.


Sementara itu, kericuhan di kerajaan-kerajaan yang ada di Benua Sievaria tak kunjung mereda. Bahkan protes menjadi semakin keras tatkala langit yang hitam tak kunjung hilang dan berita mengenai terpojoknya Pasukan Aliansi Para Raja terdengar.


Protes menjadi semakin dan semakin keras tatkala para penduduk di Benua Sievaria merasakan aura yang sangat kuat dan mencekam dari arah Kerajaan Runtuh Vanidas.


"Yang Mulia! Jikalau Anda memang benar seorang raja, maka bergabunglah ke aliansi guna melawan sosok mengerikan itu!"


"Apa Anda tak malu dengan harga diri Anda?!"


"Di mana 'RAJA' yang kami butuhkan, yang kami inginkan?! Berikanlah perintah kepada kami maka kami akan turun langsung ke medan pertempuran!"


Mayoritas warga tak terima dengan keputusan para rajanya yang belum kunjung turun tangan untuk ikut membantu perang terbesar yang pernah ada di sepanjang sejarah umat manusia. Mereka tak ingin hanya diam dan menerima hasil, entah itu kemenangan atau kekalahan. Mereka ingin ikut berjuang. Memperjuangkan nasib umat manusia, mengangkat derajat mereka, dan membuat kisah tentang mereka yang dapat diceritakan kepada anak cucunya kelak.


"Yang Mulia!"


"Yang Mulia!"


"YANG MULIA!"


Di medan pertempuran, Pasukan Para Raja terjatuh dalam jurang keputusasaan. Air mata pecah. Teriakan tidak ingin menerima kenyataan menggelora. Tanah yang tak bersalah dihantam dengan depresi.


Raja Orgulla mengepalkan kuat tangannya dengan kepala yang menukuk. Apa tak ada yang bisa aku perbuat? Aku adalah seorang raja! Sosok yang dihormati oleh para rakyatnya. Sosok yang seharusnya mengangkat kepala para rakyat dan prajuritnya. Sosok yang tak pernah menyerah akan keadaan. Ya, aku memanglah sosok yang seperti itu. Lantas, mengapa aku menangis lemah tak berdaya?


"Karena engkau adalah seorang ayah. Kehilangan anak adalah kelemahan terbesar dari seorang ayah," ucap Raja Erdovarte menghampiri Raja Orgulla.


Raja Orgulla melihat ke arah Raja Erdovarte. Ia kemudian tersenyum dengan air mata yang terus mengalir.


"Ya, Anda benar. Anda memang benar ..." ucap Raja Orgulla.


Air laut tiba-tiba tenang. Angin ikut berembus pelan. Tanah secara perlahan mulai gemetar. Getaran tersebut semakin lama semakin kuat hingga membuat keseimbangan semua orang melemah lalu terjatuh.


Pasukan Para Raja yang tak tahu apalagi yang akan terjadi, melihat ke depan. Namun, mereka melihat Ketujuh Dosa Besar sedang kebingungan seperti halnya mereka.


Dari tengah laut, tiba-tiba air laut menjulang tinggi ke angkasa, seperti air mancur yang ditembakkan. Namun bedanya, air laut yang ditembakkan memiliki ukuran yang lebih besar dari cekungan yang diciptakan oleh sihir kombinasi Aptistia dan Avarus.


"Dia kembali ..." ucap Vanidas.


Air laut tak lagi menyemburkan dirinya ke langit.


Sinar cahaya sedikit demi sedikit menembus gelapnya awan.


Sesosok pria melayang di atas permukaan laut.


Dua sayap putih di punggung kanan dan dua sayap hitam di punggung kiri. Tangan kanan yang memegang pedang putih dan tangan kiri yang memegang pedang hitam. Aura putih dengan pinggiran hitam yang terus-menerus keluar, membuat air laut di sekitarnya bergerak mengitari dirinya.


Mata kanan yang sebiru langit dan mata kiri yang semerah darah. Rambut kanan yang seputih salju dan rambut kiri yang sehitam gagak. Pakaian yang setengah ke kanan berwarna putih emas dan setengahnya lagi berwarna hitam merah.


Sosok yang seperti gabungan dari iblis dan malaikat. Sosok yang dari hawa keberadannya saja dapat membuat musuhnya bertekuk lutut di hadapannya.


"Tujuh Dosa Besar ... mari kita mulai ronde ketiganya."


---

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mohon dukungannya. Semoga Author dapat konsisten dalam menulis dan menyelesaikan cerita ini, aamiin. Jangan lupa untuk Like dan Favorit, ya. Dan sekali lagi, terima kasih!


__ADS_2